Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Rumah Mama (Part 2)


__ADS_3

"Aku saja yang bawa minumannya, itu pasti sangat berat, mau diletakan dimana" ujar Ferry sambil bersiap mengangkat termos esnya.


"Pas sekali, kita memang benar-benar soulmate" gumamku yang masih terdengar Ferry. Dia langsung tertawa mendengar gumamanku.


"Sayang, kita memang soulmate itu sebabnya aku mengejarmu dan menantimu sampai dua belas tahun. Jadi sekarang minumannya mau di letakan dimana?" tanya Ferry sambil menatapku dengan senyum manisnya.


"Aduh suamiku kalau kamu terus tersenyum seperti itu aku jadi pengen menciumi dan memeluk mu" gumamku yang ternyata terdengar Ferry.


"Maka lakukan saja" ucapnya sambil senyum makin manis.


"lakukan apa?" ucapku begitu tersadar.


"Mencium dan memeluku seperti yang kamu katakan tadi" ujar Ferry sambil menoel hidungku dan merentangkan kedua tangannya bersiap untuk dipeluk. Aku pun berhambur masuk dalam pelukannya.


Baru juga kami berpelukan, Malika, Aisya dan Bimo muncul bersamaan di dapur.


"Pantas saja minumannya nggak sampe-sampe garasi ditungguin tau-tau kokinya lagi asik pelukan disini" ledek Bimo yang langsung membuat dua bocah kecil disampingnya cekikikan ikutan meledek ku dan Ferry. Tapi si bule bukannya melepas pelukannya justru makin mengeratkan pelukannya, manciumi kepalaku.


"Kenapa kalian mau di peluk juga?, kemari lah" ucap Ferry santai. Tidak ku sangka Aisya mah maju mendekati Ferry dan minta dipeluk juga. Jadilah kamu bertiga berpelukan.


"Dek, kamu koq malah ikutan pelukan sih, kita kan tadi kesini mau minta bikinin minuman sama kak Lia" gerutu Malika melihat Aisyah berpelukan dengan ku dan Ferry.


"Itu minumannya sudah jadi, kalian berdua bawa lah ke garasi" ucap Ferry sambil menunjuk termos es dengan dagunya.


"Ayo Malika kita bawa ke garasi, dari pada kita terus disini melihat orang berpelukan kaya teletubbies" oceh Bimo sambil jalan dan mengajak Malika untuk mengambil termos es di atas meja kitchen set. Lalu mereka pergi meninggalkan kami bertiga.


"Sayang udah ahh pelukannya, aku mau ke mama dulu siapa tau mama butuh bantuan" ucapku sambil melepas pelukan ku pada Ferry, tapi Aisyah masih terus menempel sama Ferry. "Aisyah mau ikut kak Lia nggak?" tanyaku karena gerah juga Lia anak ABG itu melukin Ferry posesif banget.


"Nggak mau, Aisyah mau sama kak Ferry aja" ucapnya dengan nada manja sambil tetap berpelukan pada Ferry.


"Kak Ferry juga mau ikut kak Lia ke mama, siapa tau disana mereka butuh bantuan kita" ucap Ferry setelah melihat kode mataku yang menunjukan tak senang melihat mereka masih saja saling berpelukan.

__ADS_1


"kalau begitu Aisyah ikut" ucap Aisyah sumbringah. Ferry melepas pelukan mereka, baru saja aku akan tersenyum berhasil membuat anak itu melepas pelukannya dari Ferry tapi tiba-tiba Aisyah menarik lengan Ferry dengan posesifnya lalu bergelayutan manja di lengan Ferry. Si bule yang diperlalukan posesif sama Aisyah pasrah saja lagi bikin kesel liatnya. "Tapi kenapa juga aku kesel? apa aku cemburu dengan Aisyah? ahh yang benar saja...huh" bathinku langsung buyar begitu Ferry mencium pipiku dan melingkarkan tangannya dipinggangku.


"Kenapa melamun disini sayang?" Mendengar ucapan Ferry aku memutar tubuhku menghadapnya.


"Kamu ngapain disini?" tanyaku balik karena kaget tiba-tiba Ferry ada dibalkon kamarku padahal sebelum aku naik keatas masih terlihat jelas Aisyah yang terus melengket pada Ferry di sofa ruang TV.


"Mama memintaku menyusulmu kesini karena kata mama saat naik keatas wajah mu terlihat kesel. Ada apa?" jelas Ferry sambil menatapku penuh hasrat.


Jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya saat tatap ku tepat menatap manik biru milik suamiku. "Ahh rasanya makin hari aku makin jatuh cinta pada bule di depanku ini" bathinku sambil menangkup wajah Ferry lalu ku kecup bibirnya. Ferry yang mendapat angin syurga langsung tak menyia-nyiakan kesempat dia pun membalas kecupan ku menjadi ******* penuh gairah. suasana dibalkon kamarku di rumah mama makin panas kala tangan Ferry mulai menyusup menelusuri setiap inchi tubuhku.


"Sayang, hentikan" ucapku namun Glenyar-glenyar memabukan yang kurasakan disetiap setuhan Ferry mulai menghianati ku.


"Jangan menolak ku sayang, saat tubuhmu begitu menginginkannya" ucap Ferry membuatku akhirnya pasrah menerima serangan memabukan nan penuh gairah.


Merasakan aku sudah pasrah dan menyerahkan diri sepenuhnya Ferry pun menggangkat tubuhku, menggendongku seperti anak koala tanpa melepas pagutannya. Entah bagaimana Ferry melakukannya kini kain yang melekat pada tubuhku tinggal CD yang itu pun ditarik turun saat Ferry membaringkan tubuhku. Dengan cepar dia pun sudah polos diatas tubuhku. Pergulanan untuk saling memuaskan satu sama lainpun terjadi dengan begitu intens.


"Sayang...ahhhh" desahan panjang penuh kenikmatan ntah untuk keberapa kalinya kuteriakan yang disusul lenguhan panjang dari mulut Ferry tanda akhir sesi panas kami selesai.


"Sayang, kamu cepat lah mandi" ucapku saat ku lihat si bule masih asik malas-malasan diatas ranjang.


"Sayang,,,ayo dong cepat mandi. Satu setengah jam lagi acaranya akan dimulai" ucapku sambil memunguti pakaian kami yang berserakan di kamar. Tapi Ferry tak juga bergeming dia terus santai berbaring diatas ranjang.


"Sayang, bangun dan mandi dulu yuk" pintaku kesekian kalinya pada Ferry sambil duduk ditepi ranjang agar bisa menbangunkan Ferry yang ternyata terlelap.


"Sebentar lagi ya, aku ngantuk banget" mendengar ucapannya akhirnya aku pun menyerah dan meninggalkan Ferry yang terlelap dirajang menuju walk in closed mencari baju yang pas untuk ku kenakan pengajian. Aku pun mengambil sebuah dress panjang warna putih tulang model kerut di bagian dada dengan banyak mutiara membuat baju yang longgar itu sedikit memberi bentuk pada tubuhku. Dan sebuah selendang putih tulang yang pinggirannya di rajut dengan batu swarovski.


"Perfect" ucapku di depan cermin saat selesai memoles wajahku dengan makeup natural dan warna lipstik soft pink berbarengan dengan suara ketukan pintu kamar ku.


"Kak Lia, Kak Ferry di panggi bude. katanya disuruh cepet turun karena sebentar lagi tamu akan datang" terdengar suara teriakan Malika dibalik pintu kamarku.


"iya sayang sebentar lagi kakak turun ya" ucapku saat membuka pintu kamar.

__ADS_1


"Wiiiiihhh....kak Lia cantik banget" komen spontan Malika saat melihatku membuka pintu untuknya.


"Terima kasih pujiannya, tolong Mama sebentar lagi kakak turun ya" ucapku sekali lagi yang di 'oke' kan Malika sebelum dia berlalu meninggalkan ku turun ke lantai satu.


"Sayang, bangun please" aku menggoyang-goyang tubuh Ferry agar mau bangun tapi bule ini tetap tak bergeming, karena kesal akhirnya aku pun mencubit perutnya.


"Aaaauuuuu....sakit banget yank" keluh Ferry langsung terduduk dan mengusap perutnya yang kucubit.


"Siapa suruh kebo banget, dari tadi dibangunin nggak gerak-gerak" keluh ku sambil bangkit dari ranjang menuju walk in closed menyiapkan baju Ferry yang masih tersimpan di dalam koper.


"Sayang, peluk dong" kata Ferry manja saat melihatku berlalu.


"Cepet mandi!" teriak ku dari dalam walk in closed.


"Kamu lagi nyari apa cantik?" goda Ferry di ujung pintu masuk walk in closed membuatku melotot karena dia belum juga bergegas mandi.


"Ferry Goucher" teriak ku dengan nada tinggi


"yes honey" jawab Ferry dengan senyum manis dan suara seperti petikan selo yang yang memabukan.


"Ya Tuhan suamiku, mandi please" pintaku dengan nada pasrah dan menyerah karena nggak tau lagi harus meminta pria bule ini untuk mandi dengan cara apa.


"Kan dari tadi ku bilang, peluk dulu baru aku mandi" ujar Ferry santai sambil melipat tangannya berdiri di pintu hanya dengan boxer dan bertelanjang dada.


Aku pun akhirnya menyerah dan berjalan mendekati Ferry lalu memeluknya.


"Dari tadi gini kan selesai" seloroh Ferry yang kemudian melepas pelukannya dan mencium kening ku sebelum berlalu ke kamar mandi. Aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil melihat punggungnya menghilang.


Aku mengeluarkan kemeja Putih tulang dengan list hitam di samping kancingnya dan celana panjang hitam. "ini saja lah, toh dia pakai baju model apapun akan tetap terlihat sangat tampan" gumamku sambil merapikan kembali koper milik Ferry ke dalam lemari


Aku meletakan Kemeja Putih, celana panjang hitam dan juga underware Ferry diatas ranjang sebelum aku keluar meninggalkan kamar untuk turun kebawah.

__ADS_1


Ditunggu like, komennya ya readers, karena kritik dan saran dari kalian bisa memberi author angin segar untuk menulis. kalau mau ngasih vote juga mimi mah happy banget🤭


__ADS_2