Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Maaf Aku nggak Denger


__ADS_3

#POV Lia#


"Sayang ayo bangun, tumben kamu bangun kesiangan dan sudah naik matahari masih malas-malasan diatas ranjang" ocehku usai membukan gorden dan membiarkan matahari menyeruak masuk memancarkan cahayanya ke arah Ferry.


"Sayang...tak bisa kah sekali ini saja kamu biar kan aku tidur lebih lama, aku sedang tak ingin jadi kaum rebahan hari ini" gerutu Ferry sambil menarik selimut menutupi wajahnya agar tak silau oleh sinar mentari.


Melihat tingkah Ferry akhirnya aku mengalah dan membiarkannya untuk kembali tidur, saat pelayan datang mengingatkan untuk sarapan aku pun terpaksa bilang Ferry masih tidur dan meminta agar sarapan di kamar saja pagi ini. 'Ntah akan marah atau kesal papinya Ferry padaku bomat lah, orang anaknya yang masih tertidur pulas'. Bathin ku sambil menatap ke pergian sang pelayan.


Aku pun mengambil alat gambar yang semalam sudah dibelikan orang suruhan Ferry. Aku harus fokus menggambar tujuh design lagi agar lusa bisa ku serahkan pada nyonya Mahdalena dan Ami.


'Ayo semangat Lia, kamu pasti bisa'. gumamku penuh semangat, kemudian mendudukan bokong ku di kursi malas teras depan kamar dan mulai mendesign model baju pria pasangan baju yang sudah di setujui nyonya Mahdalena dan Ami. Tak membutuhkan waktu lama aku membuatnya karena tingga meniru design yang untuk wanitanya lalu merubah sedikit agar jadi keren saat di kenakan karyawan pria.


"Done, sisa enam lagi. Aku pasti bisa" Ucapku menyemangati diri sendiri.


Saat sedang asik menggambar design kedua riba-tiba tangan kekar Ferry melinggar di bahuku dan dagunya sudah menempel dikepala ku, membuatku menghentikan kegiatan mendesign lalu mendongakan kepala.


"Sudah bangun?" tanyaku pada pria yang tetap tampan walau baru bangun tidur cuma pake boxer dan belum mandi.


"Aku terbangun karena pelayan mengetuk pintu kamar untuk mengantar kan sarapan" Jelas Ferry sambing nguap karena efek kantuk dan belum bangun dengan sempurna.


"Maaf aku nggak denger" ucapku.


"Ya gimana mau denger kamu pake ini" Ucap Ferry sambil mengangkat ears phone yang sudah kulepas saat Ferry datang.


"Hehehehe ... biar aku bisa fokus mendesign dan tidak terganggu suara-suara memanggil" sahutku sambil cengengesan.


"Sudah dapat berapa design dari tadi?" tanya Ferry sambil matanya memindai tumpukan kertas di meja.


"Baru satu, ini yang kedua belum selesai sudah diganggu kamu" ucapku sambil mencibikan bibirku yang tentu saja langsung dikecup Ferry.


"Ya sudah kamu lanjutkan dulu, aku mandi dulu habis itu kita sarapan bersama" titah Ferry yang kemudia berlalu meninggalkan ku setelah mengecep keningku.

__ADS_1


Setelah Ferry berlalu aku kembali memasang ears phone dan melanjutkan design ku yang sempat terhenti karena kehadiran Ferry.


"Akhirnya selesai, maaf ya cacing kamu jadi harus terlambat mendapatkan jatah makan mu" gumamku sambil mengelus perutku begitu design kedua ku selesai.


Saat aku sudah merapikan peralatan design dan draft design ku. Ferry yang ntah sejak kapan berdiri mematung bersandar di daun pintu teras membuatku terkejut pasalnya aku tak tau ada Ferry disana.


"Ya Tuhan suamiku, membuatku terkejut saja. Aku pikir makhluk astral yang tiba-tiba muncul" gerutuku pada Ferry membuat si bule memeluk ku.


"Aku pasti akan sangat merindukan kebawelan mu ini" ucap Ferry sambil memeluk ku erat membuatku tak bisa marah lagi.


'Kenapa lagi si bule ini?' gumamku dalam hati.


Saat kami masih berpelukan, cacing di perut ku berbunyi, membuat Ferry melepaskan pelukannya. "Kamu sudah lapar ya, aku kita sarapan" ajak Ferry sambil menggandeng tangan ku menuju meja kecil yang sudah tertata sarapan untuk kami berdua.


"Sayang, kamu jadi lusa ke negara A?" tanya ku disela-sela kami sarapan.


"Jadi sayang, Jerry bilang aku harus kesana tidak bisa tidak. Dia tidak mampu memecahkan mister penggelapan dana yang terjadi, orang ini melakukannya terlalu rapi" Jelas Ferry membuat jantung ku berdetak lebih cepat karen menahan kesedihan akan berpisah dengan suamiku untuk waktu yang tak jelas sampai kapan.


"Hampir saja aku lupa, efek memikirkan akan berpisah dengan mu. sebagian otak ku seperti tak berfungsi dengan baik...huuffft" ucap Ferry sambil menghembuskan nafas beratnya.


"Tidak lama kan, cuma sepuluh hari paling lama. Jika kami tidak datang aku yang akan datang menyusul mi ke negara A begitu ujian ku selesai".


"Tetap saja itu terasa lama buat ku" rengek Ferry membuat ku ingin tertawa tapi takut dosa menertawakan suami sendiri.


'Aduh bule nggak banget sih dia pasak muka kaya bocah lima tahun lagi merajuk nggak dapat mainan yang dia mau....wkwkwkwkkwk'


Tawa ku dalam hati, mana berani aku menertawakan Kesedihan Ferry, bisa-bisa dia ngambek sepanjang hari bisa runyam rencana ku menyelesaikan design pesanan nyonya Mahdalena.


"Trus mau mu bagaimana?"


"Kamu ikut aku ke negara A, aku nggak mau pisah sama kamu lama-lama. Lia aku nggak akan sanggup, aku pasti akan sangat merindukan mu".

__ADS_1


"Sayang, cepat selesaikan sarapan mu. Aku masih harus mendesign lima lagi" Ucapku mengalihkan arah pembicaraan karena kalau dilanjutkan juga percuma cuma akan muter-muter dengan ending kami tetap harus LDRan untuk sementara waktu.


Lalu kami pun menghabiskan sarapan tanpa suara lagi, keheningan sampai sarapan kami sama-sama habis. Lalu Ferry pergi ke ruang baca setelah mencium kening ku, aku kembali asik dengan mendesign baju-baju sesuai keinginan Ami pada ku.


Aku dan Ferry melewatkan makan siang kami karena sibuk dengan kegiatan kami masing-masing. Sampai saat matahari mulai tenggelam aku baru sadar kalau aku sudah terlalu lama di duduk untuk mendesign sampai saat aku hendak berdiri kaki dan pinggang ku agak kaku, sudah sampai begitu pun aku cuma menyelesaikan empat design dari tujuh.


Saat aku masuk ke dalam kamar Ferry belum kembali ke kamar kami, dan cacing diperutku mulai bergrilya memanggil untuk diisi. Setelah menutup tirai jendela dan pintu aku keluar dari kamar dan turun kelantai satu mencari dapur agar aku bisa memasak sesuatu untuk mengisi perutku yang sudah mulai kelaparan. 'Semoga saja ada sesuatu yang bisa ku masak' do'a ku sambil berjalan menuju dapur.


Tapi sayang doa ku tidak di kabulkan tuhan karena kulkas hanya berisi air mineral dan es batu. tidak ada bahan makanan atau buah sedikit pun di dalam kulkas, aku memeriksa setiap bagian kabin berharap ada makanan instant di dalam kabin dapur tapi lagi-lagi zonk. Saat aku sudah putus asa tangan kekar itu memeluk pinggang ku.


"Kamu cari apa disini? dapur ini tidak pernah digunakan untuk memasak jadi tidak akan ada apapun disini"


Mendengar ucapan Ferry aku baru paham kenapa tidak ada apapun di dapur bungalow ini.


"Aku sudah minta pelayan kesini untuk membawakan makanan untuk kita makan malam"


"Kamu tau dari mana aku disini?" tanyaku heran karena Ferry tiba-tiba ada di dapur.


"Saat aku kembali ke kamar kamu tidak ada, lalu aku turun dan mendengar sesuatu di arah dapur jadi aku kesini dan melihat mu sedang memeriksa kabin satu persatu, aku yakin kamu pasti lapar karena perutku pun sudah lapar jadi sebelum menemui mu aku menelphon pelayan untuk kesini membawakan makanan untuk kita makan malam" Jelas Ferry panjang lebar sambil tetap memeluk ku.


"Owh begitu, trus sudah selesai proposal pengajuan kerja sama dengan nyonya Mahdalena?"


"Sudah tinggal memasukan perhitungan saja, aku menunggu mu menjabarkan padaku berapa banyak bahan yang diperlukan untuk setiap pakaian agar aku bisa mengajukan harga yang sesuai pada Nyonya Mahdalena" Jelas Ferry membuat ku sedikit menyesal kan pekerjaannya akan tertunda karena aku belum merampungkan design ku.


"Maaf ya aku baru bisa menyelesaikan empat design dari tujuh semua sudah ku tulis jelas pada draf masing masing design bahan apa yang di gunakan, berapa ukurannya. Mungkin kamu bisa memulai menghitung lima design itu nanti pelan-pelan menambah lagi dengan design lain yang berhasil ku selesaikan, bagaimana?"


"Ide bagus, tapi kita makan malam dulu baru lanjut lagi" ajak Ferry saat melihat beberapa pelayan mulai menyiap kan makanan diatas meja makan tak jauh dari dapur.


Kami pun makan dengan nikmat karena tadi melewatkan makan siang sambil mengobrol diluar pekerjaan. Lalu Mandi dan Ferry mengajak ku menonton tv, aku tak bisa menolaknya. Alhasil tiga design ku tak dapat ku kerjakan malam ini.


Kami menghabiskan malam ini dengan tenang tanpa keringat.

__ADS_1


__ADS_2