
Aku mulai mengambil satu persatu kertas yang berserakan dan melihat isi kertas-kertas itu. Betapa terkejutnya aku ternyata itu surat cinta yang Bimo untuk seorang gadis yang namanya tak asing ditelingaku tapi aku lupa siapa gadis ini 'Cyntia Bellarosa'. Ternyata adik kecil ku sedang jatuh cinta. Saat membaca surat cinta yang Bimo tulis tak kuasa bibirku membuat segaris senyuman. Rasanya tak percaya adik ku yang manja dan bossie ini sudah dewasa dan mulai jatuh cinta.
Padahal aku saja saat seumur Bimo tidak pernah satu kali pun jatuh cinta. Dulu saat dekat dengan Rendy saja aku tidak pernah salah tingkah atau pun deg-degan, padahal Rendy suka menggandeng ku, memeluk ku juga kadang malah kalau aku lagi nangis dia suka peluk sambil nyium keningku, 'apa mungkin karena perasaanku untuk Rendy dari dulu sebatas sahabat yang sepertj kakak bagi ku sedangkan Kalau sekarang tiap berdekatan dengan Ferry jantungku berdetak tak karuan padahal belum juga ada kontak fisik baru saling tatap, bawaannya salah tingkah trus. 'Kayanya aku telat banget pubernya...hahahahaa'. Aku jadi tertawa sendiri membayangkan masalah percintaan ku dengan Ferry. Cinta masa kecil yang berujung pernikahan setelah belasan tahun tak berjumpa.
Jodoh itu benar-benar tak bisa kita prediksi kapan datang kapan pergi.
Jadi nikmati saja masa-masa indah kebersamaan ini sebelum badai itu datang menerpa.
"Kak Lia" Teriak Bimo membuyar lamunan ku. "Kakak ngapain di kamarku?" Tanya Bimo panik melihatku memegang kertas-kertas yang berisi surat cinta miliknya.
"Iya kenapa Bim?" tanya ku karena tak mendengar kalimat Bimo sebelumnya.
"Kak Lia ngapain di kamar Bimo? Bimo mengulang pertanyaannya. "Dan itu ngapain kak Lia pegang-pegang barang pribadi aku tanpa izin?" tanya Bimo lagi sambil menunjuk kertas-kertas yang aku pegang.
"Owh ini, tadi kakak cari kamu karena kakak kira kamu itu kemana seharian nggak keliatan dikamar aja dekem kaya anak perawan lagi di pingit...hehehee" ujarku sambil nyengir.
"trusss..." ucap Bimo mengintrogasi ku, bikin aku jadi garuk-garuk kepala yang nggak gatel.
"Trus kakak liat kamar kamu berantakan dan banyak kertas berserakan, jadi kakak niat bantu beresin dan buang kertas-kertas ini ketempat sampah" aku coba menjelaskan sebaik mungkin biar Bimo percaya.
"Hhmmm...kak Lia baca isi kertas-kertas itu?" Tanya Bimo dengan wajah malu-malu.
"kasih tau nggak ya...hahahaha" tawa ku, lalu membuang kertas-kertas yang ada di tanganku ke dalam tong sampah. "Kalau sudah selesai dengan urusan mu cepat lah turun" ucapku sambil keluar dari kamar Bimo.
"Kak Lia tunggu, kakak belum jawab pertanyaan ku" Teriak Bimo melihatku ngeloyor keluar dari kamarnya.
Aku menggunakan langkah seribu keluar dari kamar Bimo dan menuju kamar ku.
"Kamu dari mana yank?" suara bariton Ferry mengagetkan ku. Dia sedang bertelanjang dada dengan hanya mengenakan boxer, sepertinya mau mandi.
"Kamu disini? bukannya lagi main catur sama om Pras di teras samping" tanyaku penasaran melihat dia yang sudah melepas kemeja dan celana panjangnya. 'Berarti dia udah lama naik keatas'.
"Tante sama Mama pulang jadi kita udahan mainnya, lagian aku gerah mau mandi, ditambah lagi si mbok bawain makanan lumayan pedas tapi enak sih cuma bikin makin gerah. Untung aja ada juice berry seger banget deh pas neguknya, rasanya juga pas banget sama selera ku. Makasih ya sayang ku" seloroh Ferry membuatku membelalakkan mata.
"Kok makasih sama aku?" tanyaku pura-pura nggak ngerti arah pembicaraan Ferry.
"Karena kata si mbok istriku yang cantik dan mungil ini yang bikinin juicenya" ucap Ferry yang ntah sejak kapan berjalan mengikis jaraknya dengan ku.
__ADS_1
"Sudah sana mandi, katanya gerah" aku berusaha mengalihkan pembicaraan agar si bule nggak macem-macem.
"Kamu jawab dulu pertanyaan ku diawal, kamu dari mana?" tanya Ferry sekali lagi.
"Kepo banget sih suamiku" jawab ku santai sambil melangkah ke sofa diikuti si bule.
"Jawab dong yank, jangan bikin aku penasaran atau kamu mau aku memakan mu saat ini juga" mendengar ancaman Ferry aku langsung membelalakkan mataku. Si bule malah tertawa melihat reaksi ku.
"Makanya cepat katakan kamu dari mana?" Ferry terus mendesak ku.
"Dari kamar Bimo, aku tuh heran aja sama tuh anak seharian ini banyak mengurung diri di kamar, pas aku masuk kamarnya berantakan banget, banyak kertas berserakkan di lantai yang sudah di remas jadi bola. Karena penasaran aku buka dan baca isi tulisan di kertas itu ternyata semuanya surat cinta" Cerita ku penuh antusias
"Bimo nulis surat cinta, kenapa kamu yang terlihat bersemangat?" tanya Ferry sambil menaikan satu alisnya.
"udah aku jawab kan pertanyaan mu, udah sana mandi-mandi, bau asem" ujarku mengalihkan pembicaraan.
Masa iya aku harus bilang kalau aku tuh juga sering dapet surat cinta dari para penggemar ku tapi nggak satu pun yang pernah aku baca, bahkan hadiah-hadiah dari mereka aja nggak ada yang aku pernah ambil. Bisa bertanduk nanti si bule dengernya.
"Kita mandi bareng yuk" ucap Ferry langsung menggendongku ala bridal menuju kamar mandi, saat aku sedang melamun.
"Turunin aku yank, aku nggak mau mandi bareng kamu" teriak ku sambil meronta minta di turunin begitu sadar tubuhku sudah melayang.
"Aaa..." teriak ku saat masuk dalam bathtub...sebenernya sih nggak sakit cuma efek kaget aja dari di gendong tiba-tiba di ceburin.
Belum sempat aku pulih dari keterkejutan ku, si bule sudah bikin jantungku lari-lari karena tiba-tiba dia sudah ikutan masuk dalam bathtub tanpa sehelai benang pun. Yang bikin makin shock tangannya sudah kemana-mana membuka hot pants yang ku kenakan dan juga t-shirt yang ku pakai.
Acara berendam yang harusnya memberiku relaxasi pada tubuhku yang lelah kini justru membuat tubuhku makin kelelahan akibat olah raga penuh kenikmatan.
"Sayang kamu mau apa lagi?" teriak ku melihat Ferry kembali mengangkat tubuhku menuju shower.
"Aku cuma mau mandiin kamu, nggak akan macem-macem lagi koq" ucapnya sambil menggosokan sabun pada tubuhku. Aku hanya diam mematung, membiarkan Ferry melakukan apa yang dia inginkan pada tubuhku, aku takut kalau aku bergerak atau bersuara akan membanggunkan junior Ferry lagi.
"Sayang, kamu kenapa tegang banget sih?" tanya Ferry sambil menyabuni tubuh bagian depan ku membuatku gelisah menahan hasrat.
'Gila ini bule kurang ajar banget, dia emang nggak niat macem-macem tapi kalau gini terus aku yang bisa minta dimacem-macemin'. Aku menahan nafasku tiap Ferry menyentuhku.
"Jangan ditahan yank, lepasin aja" bisik Ferry tiba-tiba kemudian tertawa melihatku yang menderita menahan hasrat karena ulahnya.
__ADS_1
Aku langsung melayangkan bukulan pada dadanya, Ferry hanya pasrah ku pukuli, dia memutar keran shower agar air mengguyur tubuhku yang penuh sabun.
"Sebenernya aku mau memakan mu sampai habis cuma sayang pesawat kita ke Negara M malam ini, jadi kamu ku lepaskan"
Mendengar ocehan Ferry membuat aku shock setengah mati karena aku benar-benar lupa belum packing dan juga dress kemarin belum aku bawa ke dryclean. 'Astaga' aku langsung keluar dari area shower menyampar bathroob keluar kamar mandi dengan tergesa-gesa agak sedikit berlari.
"Sayang, pelan-pelan licin lantainya" teriak Ferry tak ku hiraukan lagi, aku langsung menuju walk in closed hanya mengenakan bathroob dengan rambut basah terurai bernatakan.
'Koq bisa semua sudah rapi, dan ini juga dress sudah dari dryclean' Siapa yang melakukannya? di saat aku sedang bingung Ferry muncul di walk in closed dengan handuk ditangannya diletakan dikepalaku.
"Keringkan dulu rambut mu nanti flu kalau dibiarkan basa lama-lama"
Aku mendongakkan kepalaku sambil melilitkan handuk di kepalaku. Mataku seakan meminta penjelasan pada Ferry tentang keajaiban yang terpampang di depan mata saat ini.
"Aku yang packing baju mu pagi tadi, aku juga yang minta mang Ujang mampir ke dryclean saat mengantar mama dan tante ke rumah sakit. Dan memintanya memastikan bahwa dress ini selesai sebelum jam 7pm, karena kita harus pergi ke Negara M malam ini"
Mendengar penjelasan Ferry aku langsung menghabur dalam pelukannya.
"You're my hero, the best husband in the world" pujiku membuat senyuman terukir manis diwajah tampan suamiku.
"Kamu terlalu memujiku yank, yang kulakukan semua kan untuk ku sendiri"
aku mendongakan wajahku menatap netra biru Ferry dengan wajah bingung.
"Bagaimana bisa untuk dirimu sendiri?" tanyaku polos.
"Karena aku yang menginginkan kamu ikut dengan ku ke negara M, jadi aku memastikan semua yang kamu butuhkan untuk pergi sudah siap, jadi kamu nggak punya alesan untuk nggak ikut dengan ku"
"Kamu berkata begitu seakan-akan aku nggak mau ikut pergi dengan mu....ckckckkck"
Ucapku dengan nada ngambek sambil melepas pelukan ku pada Ferry dan mengambil dress warna peach press body, berleher halter tanpa lengan dengan seruluh pundak dan punggung tertutup. Aku sengaja memilih dress ini untuk menutupi kiss mark yang ditinggalkan Ferry.
"Sayang kamu kenapa berdiri disitu ngeliat aku kaya gitu?" tanyaku heran melihat ekspresi Ferry yang aneh saat menatapku.
'Apa ada yang aneh?' aku langsung menatap kaca di depan ku memutar tubuhku memastikan tidak ada yang aneh, bahkan aku terlihat fresh, cantik dan seksi apa lagi rambutku masih setengah basah.
Yang ditanya hanya menggelengkan kepala kemudia ngeloyor keluar kamar.
__ADS_1
'Apa lagi salah ku?' aduh ini bule kenapa susah banget ditebak sih. Dan kaya cewe lagi PMS moodiiiann banget, bikin gregetan.
jangan lupa like, komennya ya readers tersayang, syukur-syukur mau bagi vote....hehehe ngarep bgt ya