
"Makasih ya Jeni, kamu sudah membela dan mempercayai ku walau kita baru saja kenal" ucap Lia tulus pada Jeni.
"Aku ini tidak buta Lia, aku bisa lihat kalau kamu bukan wanita seperti yang mereka semua tuduhkan"
"Aku kasih tau kamu ya, si Merry itu suka banget loh sama tuan muda Goucher jadi kamu harus hati-hati sama dia karena aku yakin kamu pasti punya hubungan dengan si tuan muda Goucher dari reaksi yang kamu tunjukan saat melihat foto dia dan wanita lain "tadi"
Lia mengerenyitkan dahinya hingga kedua alisnya menyatu. "Kalau kamu tidak mau cerita apa hubungan kalian berdua aku tidak memaksa koq, kamu jangan marah dong" ujar Jeni melihat wajah Lia yang jadi masam.
"Hahahahaha...Jeni kamu ternyata gadis pintar dan pengamat yang baik" ucap Lia sambil tertawa ketika melihat raut wajah Jeni yang bersalah karena terlalu banyak bicara.
"Lia, kamu tidak marah pada ku?" tanya Jeni yang melihat Lia tiba-tiba saja tertawa.
"Kenapa aku harus marah dengan wonder woman yang membela ku" ujar Lia sambil menyenggol lengan Jeni yang nampak bingung.
"Jadi apa hubungan mu dengan tuan muda Goucher?" jiwa kepo Jeni belum selesai ternyata.
Lia yang tak ingin membohongi wanita yang sudah tulus padanya mengangkat jarinya menunjukan cincin pernikahannya dengan Ferry.
"What?" teriak Jeni sambil membekap mulutnya sangking shocknya, Jeni tak mampu mempercayai apa yang dia lihat saat ini. "Kamu dengan tuan muda Goucher beneran memiliki hubungan sedekat itu?" gumam Jeni yang diangguki pelan oleh Lia.
"Ya tuhan Lia kamu kenapa menyembunyikan status kalian dari public, itu cuma akan membuat mu jadi dicemooh banyak orang sebagai pelakor" celoteh Jeni begitu melihat cincin berlian melingkar dijari manis Lia tanda mereka berdua setidaknya sudah berstatus bertunangan pikir Jeni pasti belum sampai pernikahan karena tidak mungkin kan tuan muda pewaris perusahaan raksaksa multiinternational menikah tanpa perayaan besar-besaran.
"Karena aku ingin berkarier dengan tenang tanpa tuduhan mendapatkan posisi ku karena hubungan ku dengan sang tuan muda" tutur Lia mambuat Jeni makin bingung
"Bukan kah justru itu justru membuat mu tidak tenang karena banyak mata yang akan memperhatikan gerakan mu saat di perusahaan?" tanya Jeni penuh rasa penasaran
"Tidak, karena kami berdua meminimalisir bertemu saat di perusahaan"
"Serius? aku benar tidak mengerti jalan pikiran mu Lia" ujar Jeni tak berdaya
"Banyak orang diluaran justru berusaha mati-matian agar terlihat mesra dan memiliki hubungan lebih dekat dengan tuan muda Goucher tapi kamu punya hubungan beneran malah menutupinya. Kamu ingin seluruh dunia terus memuja kekasih m, Hah"
"Sudah ahh, tidak usah dibahas lagi. Sebaiknya sekarang kita masuk kelas atau nanti tidak dapat tempat duduk dengan posisi terbaik" ajak Lia sambil menarik tangan Jeni agar mengikutinya.
"Apa kamu tidak takut kehilangan tuan muda? karena banyak nona muda cantik, kaya dan
memiliki kedudukan yang setiap saat rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk hanya bisa naik keatas ranjang tuan muda Goucher"
__ADS_1
Mendengar penuturan Jeni, Lia terlihat berfikir keras. Lia baru sadar apa yang diucapkan Jeni benar itu sebabnya mami dan nenek selalu ingin aku cepat hamil agar posisi ku tidak tergoyahkan dan mereka mendapatkan keturunan Goucher selanjutnya.
"Kenapa diam? baru sadar kalau kekasih mu itu begitu mempesona" gumam Jeni membuat Lia tersenyum dan mencubit pipi cubby Jeni yang menggemaskan.
"Iya baru sadar kalau kamu ternyata sangat cerewet" sahut Lia yang membuat bibir Jeni monyong karena pipinya dicubit lumayan sakit rasanya.
"Ups....sory Jeni aku kelepasan mencubit pipi mu" ucap Lia yang tersadar akan tindakannya begitu melihat bibir manyun Jeni.
"Terlambat, sudah terlanjur sakit" gerutu Jeni ngambek.
"Maaf...maaf aku tidak sengaja. Gimana kalau pulang kuliah nanti aku traktir kamu makan hot pot di pecinaan?" rayu Lia membuat kedua mata Jeni berbinar.
"Kamu janji ya, awas ingkar" ancam Jeni pada Lia sambil senyum.
"Murahan sekali nona Jeni, hanya dengan hot pot sudah tidak marah" gumam Lia meledek Jeni.
"Kamu tidak tau aja harga makanan di pecinaan itu mahal dari pada harga makanan di restoran biasa kamu siapkan saja uang mu karena aku akan makan banyak nanti" ucap Jeni bahagia karena dia sudah lama tidak main ke pecinaan di negara A yang jaraknya lumayan jauh.
"siap, kamu boleh makan sepuasnya. tapi kamu harus bersabar ya karena habis mata kuliah ini aku masih ada satu mata kuliah lagi" sahut Lia membuat bola mata Jeni ingin keluar karena itu artinya mereka baru akan keluar dari kampus jam lima sore dan pecinaan buka hanya sampai jam sembilan malam.
"Kalau begitu kita akan pulang malam hari ini, baiklah nanti aku akan bilang supir untuk mengantar kita ke pecinaan" sambung Lia lagi
"oke deal" Lia main setuju saja karena dia juga bosan kemana-mana diantar Deni dan tak pernah main sesuka hati dengan teman.
mereka berdua pun mengikut pembelajaran hingga kuliah berakhir. Jeni menunggu Lia di depan kelasnya sedang Lia masih sibuk memperhatikan pembelajaran dengan serius.
Seharian ini Lia tidak menyentuh ponselnya dan notifikasinya sengaja Lia buat senyap tanpa getar karena Lia sedang malas berurusan dengan Ferry dan Lia sengaja mengajak Jeni keluar dan setuju untuk pergi dengan mobil Jeni tanpa niat memberi tahu Deni dan Ferry.
Biar si bule sedikit degdegkan kehilangannya, hitung-hitung memberi pelajaran pada sang suami yang seenaknya saja melarang dirinya berdekatan dengan pria lain tapi dia sendiri dekat-dekat dengan wanita sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaannya.
Selesai kelas Lia mengikuti langkah Jeni menuju parkiran, untung saja Jeni memarkir mobil di tempat yang berbeda dengan Deni kalau tidak Lia akan sulit menghindar dari pandangan Deni.
Begitu mereka berdua masuk kedalam mobil, Jeni langsung melajukan mobilnya menuju pecinaan setelah memperhatikan map dab memilih jalan yang tidak terlalu padat agar tidak terjebak macet.
Deni yang menunggu Lia mulai gelisah karena tidak biasanya nyonya mudanya tidak langsung muncul saat jadwal kuliah sudah selesai. Deni mencoba menelphon sang majikan tapi tak diangkat. Deni pun masuk kedalam kampus menuji kelas terakhir Lia tapi disana sudag sepi tak ada satu orang pun lagi berlalu lalang.
"Gawat, kalau sampai nyonya kenapa-kenapa habis aku sama tuan muda" gerutu Deni kesal dan langsung menuju ke tempat keamanan kampus untuk minta izin melihat CCTV agar Deni tau apa yang terjadi dengan majikannya.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Deni saat melihat nyonya mudanya melenggang dengan santai bersama temannya menuju ke mobilnya. 'Aissh...nyonya muda mau kemana mereka? kenapa tidak mengabari ku?'.
Setelah mengucapkan terima kasih Deni bergegas menuju mobil dan menelphon Leon meminta bantuannya untuk mengecek keberadaan mobil yang dikendarai temannya Lia melalui CCTV di jalur timur.
Tidak butuh waktu lama Leon mengabarkan posisi mobil Jeni yang masih on the way menuju pecinaan.
Namun sialnya ditengah jalan ban mobil Deni tiba-tiba melutus dan dia terpaksa berhenti mengejar mobil Jeni dan mengganti ban dulu.
'Sepertinya hari ini hari sial ku' bathin Deni dengan cepat mengganti ban mobil dan kembali mengejar nyonya muda.
Ditengah pengejaran mobil Jeni, telphon Deni berbunyi dan nama sang tuan muda muncul di layar ponselnya.
"Hallo tuan muda" ucap Deni menahan nafas agar tidak ketawaan terlalu gugup.
"Nyonya muda dimana? kenapa seharian ini chat dan telphon ku tidak satu pun diangkat?" tanya Ferry beruntun pada Deni membuat Bola mata Deni membulat.
'Hello, boss istrinya yang tidak bales chat dan angkat telphon kenapa ngomelnya ke saya.Nasib anak buah kalau suasana hati bos burjk nasib anak buah juga ikut buruk'
"Kamu kenapa malah diam, jawab!" suara Ferty mulai meninggi.
"Nyonya muda sedang main di pecinaan dengan teman kampusnya sejak pulang kuliah tadi" sahut Deni pelan.
"Kenapa kamu tidak lapor pada ku?" tanya Ferry penuh selidik karena tidak biasanya Lia pergi tanpa memberi tahu dirinya. 'pasti ada yang tidak beres'
"itu karena saya juga baru tau setelah menyelidiki keberadaan nyonya muda. ini saya baru akan menyusul nyonya kesana"
"Apa?" teriak Ferry membuat buluk kuduk Deni berdiri ketakutan.
"Maaf tuan muda ini kelalaian saya, saya akan membawa nyonya muda pulang secepatnya" ujar Deni dengan suara gemetar.
"Tidak perlu bawa nyonya pulang, kalau kamu sudah menemukan posisinya lapor pada ku. biar kan dia main sesuka hatinya hari ini"
"Baik tuan muda" panggilan telphon pun diputus Ferry.
Deni tidak percaya dengan apa yang dia dengar pria yang arogan ini mengalah pada nyonya muda begitu saja. 'Apa dia masih bos yang dingin dan menakukan itu?' bathin Deni sambil melajukan mobilnya dengan cepat menuju pecinaan.
Lia dan Jeni dipecinaan makan dengan gembira usai belanja bahan-bahan masakan menu asia yang Lia rindukan selama di negara A.
__ADS_1
Usai makan hot pot mereka berdua berjalan dengan gembira menuju mobil Jeni parkir tapi betapa terkejutnya Lia saat melihat pria yang berdiri tak jauh dari mobil Jeni.
jangan lupa like and komen yess....dan jadikan novel karya ku sebagai favorite kalian. makasih readres.