Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Kalau begitu Sentuhlah


__ADS_3

"Kamu masuk lah lebih dulu biar mereka aku yang gendong masuk ke dalam" ujar Ferry begitu aku keluar dari mobil di ikuti Malika yang turun dan langsung ngeloyor masuk rumah.


"Di bangunin aja Bimo sama Aisyahnya nggak usah digendong, kebiasaan nanti" ucapku tak suka dengan ide Ferry.


Aku langsung membuka pintu belakang mobil dan membangunkan Bimo dan Aisyah. Mereka pun langsung terbangun tanpa ada drama sedangkan si bule hanya berdiri mematung sambil mengereyitkan dahinya.


Mungkin dia bingung kali ya, kenapa juga aku tega bangunin orang lagi enak-enak tidur?, hello kalau nggak aku bangunin ntar itu ABG makin nempel sama suamiku, biar bagaimana pun mereka kan bukan muhrim, gerah juga aku liatnya kalau suamiku digelayutin ABG labil gitu. Apa lagi sampe gendong. Tidak akan aku biar kamu melakukan hal itu Fernando.


Ehh...tunggu dulu deh, aku kenapa jadi posesif gini? apa jangan-jangan aku mulai cemburu. 'Cemburu?' tidak mungkin. Masa aku cemburu dengan Aisyah anak baru gede yang baru ganti seragam dari putih merah jadi putih biru...tidak mungkin itu.


Trus kenapa juga aku jadi ikutan over gini? Aku cuma menjaga agar tidak timbul perasaan-perasaan yang lain karena usia Aisyah ini lagi labil-labilnya soal perasaan dengan lawan jenis.


Iya benar alas ini lah yang benar, mana ada dalam kamus Lia Putri Aghata Cemburu, itu tidak mungkin.


Pikiran ku jadi kemana-mana sejak kemarin saat melihat Aisyah sumbringah banget gelayutan manja dilenggan Ferry dan bersandar di lengannya saat duduk di sofa. Rasanya jengkel aku melihatnya tapi aku juga nggak bisa marah.


"Sayang, Bimo dan Aisyah sudah turun kamu ngapain masih duduk diam di dalam mobil?"


Teguran Ferry sambil mengelus pipiku membuyarkan lamunanku.


"A..aku.." ucapku terbata karena agak kaget, jadi bingung sendiri.


"Kamu kenapa?" tanya Ferry dengan wajah khawatir dan sorot mati teduh penuh cinta. Hati ku terasa hangat melihat tatapannya.


"Aku kaget kamu tiba-tiba ada disebelahku padahal tadi diluar. Kilahku, untung Ferry tadi lagi mempermasalahkan alasanku melamun di dalam mobil.


"Ya sudah, kita masuk yuk" Ajak Ferry sambil menggandeng tanganku.

__ADS_1


Kami pun turun dari mobil, langsung masuk ke dalam kamar karena di ruang tamu dan juga ruang makan yang kami lalui tidak ada seorang pun.


Ferry langsung masuk ke kamar mandi, sedangkan aku merapikan barang belanjaan di walk-in closed dan membiarkan gaunnya tetap di dalam paper bag karena besok aku niat bawa ke laundry biar di dry clean dulu agar lusa aku bisa mengenakannya saat menemani Ferry perjamuan bisnis.


Aku pun sekalian mengambil baju tidur Ferry, aku berniat meletakannya di atas ranjang tapi siapa sangka saat aku keluar dari walk-in closed berpapasan dengan Ferry yang baru keluar dari kamar mandi.


Ferry keluar hanya berbalut handuk dipinggangnya sedangkan dada bidangnya yang terbentuk roti sobek bikin gemes dan bikin pengen menyentuhnya. dada bidang itu dibiarkannya terbuka bebas dengan air yang menetes dari rambut membuat suamiku makin seksi dan menggemaskan.


Makin lama aku menatapnya makin panas pipi ku hingga kupingku pun memerah, rasanya jika lebih lama lagi aku memandangnya bisa hamil mata ku ini...hehehehe.


"Kenapa? tertarik untuk menyentuhnya?"


"Sangat" jawabku tanpa sadar saat Fery mengajukan pertanyaan.


"Kalau begitu sentuhlah, aku mengizinkannya"


"Sayang, kamu...." Ucapku kesal karena dipermainkan Ferry sambil menghentakan kaki aku melangkah ke kamar mandi. Dan suara tawa Ferry masih terdengar membahana.


Ahhhgggghhhh ...sebeeel, bodoh....bodoh...bodoh. Benar-benar memalukan. Membayangkan kejadian tadi rasanya aku nggak sanggup kalau harus bertatap muka dengan Ferry.


Untuk menghilangkan ketegangan dan menetralisi kegundahan aku langsung mandi dengan air dingin dibawah shower, ternyata airnya dingin banget saudara..bbbrrrrr.


Selesai mandi aku keluar mengenakan bathroob menuju walk-in closed berharap si bule nggak ada di kamar karena rasanya masih malu sekali kalau ketemu Ferry saat ini. Dengan jantung berdebar aku memindai isi kamar.


Ferry benar nggak ada di kamar aku buru-buru menuju walk in closed, tapi betapa terkejutnya aku ternyata orangnya ada di dalam walk in closed.


"Sayang, kamu ngapain disini?" tanyaku spontan, membuat alisnya Ferry mengkerut dalam kemudian tersenyum manis setelah menatapku. 'kenapa dia jadi senyum manis? apa ada yang salah dengan ku?'.

__ADS_1


Ferry mendekatiku dan menarik pinggangku. "Aku disini itu lagi nyiapin baju buat besok sore kita berangkat ke Negara M, dan aku tersenyum itu karena liat wajah istriku yang bersemu seperti buah persik, membuatku ingin menggit dan memakan mu sampai habis".


mendengar apa yang Ferry tuturkan tubuhku menegang sesaat kemudian kembali normal dengan bulu kuduk yang meremang karena si bule songong menghembuskan nafasnya di cengkuk leher ku dan menggit-gigit kecil caping daun telingaku.


Belum sempat kembali sadar bibir ku sudah di ***** Ferry dengan lembut membuatku terhanyut dalam permainannya. Dengan mudah Ferry melepas semua yang ku kenakan dan menggendongku ke atas ranjang.Pergulatan penuh gairah pun terjadi membuat suara jangkrik pun malu-malu untuk menyaingi suara desahan yang terlontar dari mulutku.


Sudah hampir pingsan rasanya aku mengimbangi hasrat Ferry yang tak ada puasnya. Makin kesini si bule makin tak pernah puas menikmati tubuhku. Saat aku terlihat sudah tak berdaya, baru lah dia melepasku. Aku sudah tak sanggup lagi untuk bangun dan mandi, aku langsung terlelap.


Keesokan paginya aku bangun kesiangan dan sebelahku sudah kosong dan terasa dingin, sepertinya Ferry sudah lama bangun, kenapa dia nggak bangunin aku subuh tadi...hufft.


Aku pun bangkit dari tempat tidur, rasanya badanku pegal semua seperti habis nguli panggul di pasar, tapi di bagian intiku terasa nyaman. 'Apa si bule membersihkannya semalam saat aku sudah terlelap?'.


Saat aku sedang berusaha untuk bangkit dari atas ranjang, suara pintu terbuka dan wajah tampan suamiku dengan senyuman manisnya menyapaku.


"Sudah bangun, cepat mandi lalu sarapan"


Ucap Ferry sambil membawa nampan yang berisi makanan. Aku hanya mengangguk dan bangkit lalu menuju kamar mandi dengan berbalut selimut.


"Sayang, sarapannya aku taro di meja ya" jangan sampai tidak dimakan. Aku mau turun dulu ke bawah kerjaanku belum selesai"


Selesai berucap Ferry berlalu meninggalkan kamar. Aku pun membersihkan diriku. Betapa kaget saat ku tatap tubuhku di pantulan cermin, jejak kepemilikan yang Ferry tinggalkan ada dihampir setiap bagian tubuhku. Untung saja bagian leher tidak dia tinggalkan jejak itu kalau tidak, aku akan kesulitan mencari baju untuk menutupinya.


Makasih ya readers udah mau mampir baca karya ku...semoga kalian menikmatinya ya.


Ditunggu Like, coment dan Votenya ya.


makasih

__ADS_1


__ADS_2