
"Mam, bantu Lia simpan ini ya", pintaku pada mama sambil menyerahkan sertifikat villa, BPKB mobil dan kuncinya. "Apa ini sayang?" tanya mama heran.
"ini semua pemberian papa untuk Lia, mama tolong simpan ya. sebulan lagi kita pindah ke villa pemberian papa ya mam" jelasku pada mama. Mama hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum. "Papa mu dari dulu selalu saja jadi orang yang memiliki banyak option agar hidup orang-orang yang dia sayangi aman dan terjamin". gumam mama sambil tersenyum mengingat tingkah papa. melihatnya aku pun jadi ikut tersenyum.
"Mama mau lihat villa pemberian papa dulu nggak sebelum kita pindah?". tanyaku sambil menggenggam tangan mama.
"kaya nggak usah lah, nanti klo semua sudah selesai kita packing kita langsung pindah aja ke villa nggak usah nunggu satu bulan" pinta mama padaku.
"oke deh kalau itu mau mama, Lia ikut aja. owh iya ma, Lia ke kampus dulu ya, mama nggak apa-apa sendirian disini?" tanyaku sebelum pamit pada mama, yang dijawab gelengan kepala dan senyum manis mama. "pergilah, hati-hati nyetir mobilnya dan satu lagi, kuliah lah yang benar setidaknya selesaikan semester ini".
"siap ma" jawabku sigap ala militer saat menerima perintah atasan. Kemudian berjalan keluar menuju parkiran setelah mengecup pipi mama aku pun bergegas ke kampus karena satu jam lagi kuliah akan di mulai.
Setibanya aku dikampus, aku langsung menuju kelas dan mencari bangku yang masih kosong, karena untuk mata kuliah busana pria Mira, sahabatku tidak mengambil mata kuliah ini sehingga aku harus mencari tempat dudukku sendiri. Sisa satu kursi kosong saja terpaksa aku duduk disana walau tempatnya terlalu dipojok dan disebelahnya pria satu-satunya di dalam kelas. "Boleh aku duduk disini" tanyaku pada pria yang aku gak tau namanya padahal sudah hampir tiga bulan kami satu kelas di mata kuliah ini, konyol benar aku ini sampai nama-nama temanku saja aku bisa tidak tahu, tapi apa peduliku pada mereka. Sambil menaikan bahuku acuh tak acuh yang hanya mendapat anggukan dari si pria. Aku pun langsung mendudukan bokongku dikursi itu dan mengeluarkan peralatan gambar ku.
__ADS_1
Usai kuliah aku janjian dengan Mira di perpustakan karena kelas berikutnya kami akan satu kelas. Begitu sampai perpustakaan Mira belum datang aku pun melanjutkan tugas design Underware yang baru 80%.
"Hei Cantik, maaf aku sedang main truth or dare" ucap seorang pria yang tiba-tiba mencium pipi ku, kemudian tanpa rasa bersalah dia berlalu begitu saja. Aku yang terlalu shock dengan kejadian barusan hanya bengong saja, baru beberapa menit kemudian aku tersadarkan atas kejadian barusan.
"Sial, siapa pria tadi? kurang ajar betul dia berani mencium pipiku" gerutuku sambil berdiri mau mengejar pria tadi. "Akan ku beri dia pelajaran, berani sekali dia melecehkan ku di area kampus" aku dengan dongkol berjalan tanpa melihat dan menabrak Mira.
"Ya Tuhan, Lia apa yang sedang kamu kejar sampai aku lewat kamu tidak melihatnya malah menabrak ku seperti ini". "Jangan bilang ada pria tampan yang membuatmu tak bisa berpaling" seloroh Mira sambil mengedarkan pandangan mencari sosok pria tampan yang dia maksud.
"huahahahaha" tawa Mira cukup keras membuat kami berdua diusir dari perpustakaan. Tapi sebelum meninggalkan perpustakaan aku kembali ke meja ku untuk merapikan alat-alat gambarku. "Hari ini aku benar-benar sial". gumamku yang masih terdengar Mira.
"Ayo ikut aku" ucapku sambil menarik tangan Mira menuju ruang CCTV, aku harus cari tahu siapa pria yang sembarangan menciumku. Berani benar dia menjadikan ku bahan tantangan Truth or Dare, dia pikir aku cewe apaan. gerutuku benar-benar dongkol atas pelecehan ini. "Hanya di cium di pipi, lebay sekali reaksimu" komen Mira membuatku memelotkan mata kearah Mira spontan membuat Mira menutup mulutnya sambil bergumam "Memang kalau sudah tahu orangnya dia bisa apa? gaya betul pake repot-repot mencari tahu".
"Aku mendengarnya Mira" ucapku sambil berhenti dan membalikan tubuh menghadap Mira yang dibelakangku. "Ups" reaksi Mira sambil membekap mulutnya sendiri.
__ADS_1
Setibanya di ruang CCTV kampus aku langsung menuju ke bagian keaman untuk minta izin melihat kejadian tadi.
"Permisi pak" sapaku pada begitu sampai di tempat security. "Ada yang bisa kami bantu nak?" ucap salah satu security paruh baya.
Lalu aku menceritakan kejadian di perpustakaan beberapa menit lalu. Syukurlah pihak security mengizinkan ku melihat rekaman CCTV di perpustakaan dan sekitar perpustakaan. Betapa terkejunya aku saat melihat lelaki blasteran yang mencium ku, tapi saat dia keluar dari perpustakaan pria itu tidak menemui siapa pun kecuali pergi menuju ruang dekan. "Wow, tampan sekali pria bule itu. Matanya biru seperti lautan, aku sepertinya jatuh cinta pada pandangan pertama, aku mau juga dicium pria itu" celoteh Mira melihat rekaman CCTV. satpam yang melihat reaksi Mira malah tertawa.
"Anak fakultas mana dia pak? Kenapa dia ke ruangan Dekan? tanyaku pada petugas CCTV.
"Namanya Ferry Goucher, Dia datang kesini tiap tahun sudah tiga tahun terakhir ini dia selalu ke kampus untuk memberikan kesempatan Mahasiswa dikampus ikut program beasiswa dari perusahan Goucher Corp, agar bisa kuliah di Pratt Institute yang kemudian setelah lulus akan mendapat kesempatan magang di Goucher Corp selama satu tahun" jelas petugas CCTV.
"Kenapa aku baru dengar soal beasiswa ini?" "trus kenapa dia menciumku?" gumam ku yang masih terdengar orang-orang di ruangan CCTV, membuat mereka semua menahan tawa, mau jawab takut kena semburku. Lalu aku mengucapkan terima kasih dan keluar dari ruang CCTV tanpa menghiraukan Mira karena dia dari tadi bukan membelaku malah memuja pria bule brengsek yang sungguh keterlaluan dia malah minta dicium pria bule itu. "Dasar cewe gatel, nggak bisa banget liat cowo ganteng langsung mupeng" gerutuku sambil jalan menuju kelas berikutnya yang diikuti Mira sambil berlari dan berteriak-teriak memintaku untuk jalan pelan sedikit tapi ku hiraukan, aku terus saja dengam cepat sambil meluapkan emosiku yang membuncah. Namun sialnya aku lagi-lagi menabrak orang karena tidak fokus dengan sekitarku.
"Maaf...Maaf aku nggak liat kamu" ucapku sambil menundung membungkukan kepala karena takut membuat orang yang ku tabrak marah. Tapi silanya malah yang ku dengar suara Mira yang setengah menjerit "Ya Tuhan dia lebih tanpa daripada direkaman CCTV tadi". sontak akupun terkejut mendengarnya. "Jangan-jangan yang ku tabrak bule sialan tadi" bathin ku sambil mengangkat kepalaku, dan ternyata benar, membuatku mundur beberapa langkah kebelakang.
__ADS_1