
"Cemburu? pada mu dan Mira? mana mungkin, Rendy aku menganggap mu kakak dari dulu. Aku cuma sedang kecewa dengan sikap mu, Ferry yang tinggal di barat dan keturunan bule saja bisa menjaga dirinya hingga kami resmi menjadi suami istri sedang kamu...hhhuuuuffft"
Aku tak mampu lagi berkata-kata, aku kembali memutus sambungan telphon dan melanjutkan makan batagor sambil menikmati semilir angin tapi ponsel ku kembali bergetar, tanpa melihat siapa yang menelphon aku langsung memakinya.
"Jangan ganggu aku lagi, pria brengsek tak punya malu"
"Hei ini aku, kenapa marah-marah begitu? Siapa yang kamu maki?"
Suara Ferry terdengar membuat bola mataku langsung membulat dan menatap layar ponsel ternyata benar Suamiku yang menelphon bukan Rendy. 'Mati lah aku, jujur apa bohong ya?'
"Sayang, kamu baik-baik saja? apa ada yang mengganggu mu?"
"Aku baik-baik saja, sangat baik malahan. Aku bahkan hampir ketiduran di bawah pohon di taman belakang kampus karena hembusan angin, tau-tau ponsel ku bergetar jadi aku setengah sadar saat mengangkat telphon mu...heheheehe"
aku nyerocos panjang panjang lebar agar Ferry berhenti bertanya tapi tak berhasil, si bule tetap saja terus bertanya.
"Jadi makian tadi untuk ku?"
"Bukan yank, itu...itu"
"itu apa?" tanya Ferry mulai penasaran
"hehehee...jangan marah ya, itu tadi aku abis telphon Rendy untuk memastika kelakukannya pada Mir...."
"Sayang nanti kita lanjut lagi, aku sudah di panggil untuk melanjukan metting..love you...muuachh"
"Oke"
"cuma itu?"
"ehh...love you too...muaachchhh"
"Kurang-kurangi melamun tidak baik untuk kesehatan mu, aku tutup telphonnya ya"
"Iya aku mengerti"
Dan sambungan telphon pun di putus Ferry, aku pun bangkit berdiri untuk mengikuti kelas selanjutnya.
Dreeet ...Dreeet.....Dreeet
Sekali lagi ponsel ku bergetar, agar kejadian tadi tak terulang aku pun melihat siapa yang menelphon. ternyata Bimo.
"Kakak, kamu sudah kembali dari luar negri?" suara Bimo terdengar antusias.
"Iya sudah kemarin...ma.." Bimo memotong pembicaraan ku.
"Oleh-oleh untuk ku sudah kakak belikan?" tanya Bimo begitu penasaran.
"Maaf Bim..."
"Kakak jangan bilang tidak bawa oleh-oleh pesanan ku" nada suara Bimo mulai sendu.
__ADS_1
'Anak ini tidak pernah berubah jika punya mau harus dapat....aku akan mengerjainya kali ini' bathin ku mulai jahil.
"Kak Lia, jawab dong jangan permainan aku seperti ini" Bimo mulai merengek di ujung telphon.
"Maaf Bimo kakak benar-benar lupa m..."
"Kak Lia jahat ahh,, nyebelin"
Bimo pun mematikan sambungan telphonnya, aku langsung mengiriminya pesan. "Semua pesanan mu sudah kakak belikan, ambil lah ke rumah kakak ada oleh-oleh untuk mama juga"
Dreeet....Dreeeett...Dreeet
'Adik ku yang tampan menelphon lagi, pasti kalimat manis yang kali ini akan dia ucapkan'
"Hhhmmm.."
"Kak Lia, aku sayang kakak. Kakak memang yang terbaik. nanti malam aku ke rumah kakak sekarang aku masih ada urusan, bye"
Setelah nyerocos kaya petasan cabe rawit dia kembali memutus sambungan telphonnya...ckck, anak ini benar-benar.
aku hanya bisa geleng-geleng dengan tingkah adik ku satu-satunya ini, sudah akan jadi mahasiswa tetap saja kelakuan seperti anak kecil.
Saat tiba di kelas Mira terlihat sudah duduk dengan wajah cemberut. 'Kenapa dia pasang muka kaya gitu, harusnya kan aku yang marah..hufft'.
Sepanjang kuliah kedua aku dan Mira hanya diem-dieman fokus dengan dosen yang sedang menjelaskan materi di depan untuk persiapan ujian akhir.
Sampai kelas bubar dan kami kembali ke rumah pun kami tetap saja saling dia tak bicara. Aku langsung masuk ke kamar untuk mandi lalu menyiapkan makan malam karena Ferry akan makan malam di rumah.
"Lia, kamu kenapa mendiami ku trus?" tiba-tiba Mira muncul di pintu dapur dengan wajah memelas.
"itu karena aku kesel pada mu, kamu kenapa menelphon Rendy dan marah-marah padanya? dia jadi Marahin aku karena sudah mengatakan yang sebenarnya pada mu. Kamu mau merusak hubungan ku dengan Rendy? padahal kami sudah merencanakan akan menikah..kamu jahat sekali Lia...hiks"
Mira pun mulai menangis sampai terduduk dilantai dapur. 'Anak ini sedang berakting apa beneran nangis sih' bathin ku mulai galau sambil menyelesaikan menumis sayur, begitu matang aku langsung mematikan kompor dan membalik tubuhku menatap Mira yang masih menangis sambil terduduk di lantai dengan wajah menunduk.
"Maaf aku tidak bermaksud merusak hubungan mu dengan Rendy, jujur aku bahagia sahabat ku akan menikah dengan laki-laki yang slama ini ku anggap kakak ku, tapi aku sangat kecewa dengan kalian. Terutama Rendy, kalau kamu memang sudah biasa melakukannya tapi Rendy itu pria baik-baik dan tidak pernah aneh-aneh sepanjang aku mengenalnya. Tapi kamu merusaknya, kamu tau laki-laki kalau sudah merasakan kenikmatan dunia dia akan ketagihan padahal dia belum memiliki istri itu sangat berbahaya"
Mira hanya dia menunduk menatap ku yang sedang ngomel-ngomel kaya emak lagi ngomelin anaknya yang ketawan pacaran melebihi batasnya.
"Iya aku salah, tapi Rendy yang memulainya" ucap Mira sambil memainkan ujung jarinya.
"Mana mungkin jika kamu tidak memancingnya".
"Iya aku salah. Aku janji itu pertama dan terakhir kami melakukannya sampai pernikahan berlangsung" ucap Mira sambil menatap ku dengan penuh keyakinan.
"Kamu yakin sanggup?" tanya ku menggoda Mira.
"Ya..yakin" jawab Mira terbata-bata, nampaknya keyakinannya mulai runtuh.
"We will see" ucap ku kemudian kembali melanjutkan masak.
"Aku bantu kamu masak boleh?" tanya Mira malu-malu karena dia cuma bisa masak mie instant dan telor ceplok.
__ADS_1
Ting tong....Ting tong
"Tidak usah kamu lebih baik bantu aku lihat siapa yang datang karena biasanya tamu yang tak terdaftar namanya tidak bisa masuk kesini"
"Baiklaaah" Mira pun pergi meninggal kan ku untuk membuka pintu, aku kembali melanjutkan masak ku.
"Kak Lia....mana oleh-olehnya" suara cempreng Bimo berkumandang membuat ku geleng-geleng. 'Bocah ini kapan berubahnya...ckckck'
"Kak Lia kamu dimana?" tanya Bimo yang tak berhasil menemukan ku.
"Kakak mu di dapur, makanya nanya jangan langsung ngeloyor aja" gerutu Mira, tapi Bimo cuek aja dan langsung jalan menuju dapur.
"Kak Lia sedang apa? butuh bantuan ku tidak" Bimo bermanis-manis karena ada maunya. 'Mumpung dia menawarkan diri aku kerjain sekalian deh'
"Tuh bantu kakak cuci piring" aslinya bukan piring sih Tapi peralatan masak yang habis ku gunakan. Mata Bimo langsung membelalak saat melihat wajan, panci dan perabotan lainnya menumpuk di sink.
'OMG banyak banget, tau gitu tadi aku nggak usaha sok nawarin bantuan..huufft' gerutu Bimo tapi terpaksa dia tetap mencuci perabotan kotor itu. Lia tertawa dalam hati melihat wajah tampan adiknya yang memberengut menahan kesal.
"Wajah mu kenapa Bim?" tanya Lia pura-pura tak mengerti kekesalan adiknya
"Memang kenapa wajah ku" Bimo pun memasang senyum manis saat melihat Lia yang sudah selesai memasak tiga buah menu untuk hidangan makan malam.
"Syukur lah kalau kamu tidak apa-apa, kakak cuma khawatir kamu sedang ada masalah"
"Aku baik-baik aja kak, kamu tidak usah khawatir" ucap Bimo dengan senyum termanisnya.
"Kalau kamu baik-baik saja tolong wajan ini dan dapurnya dibersihkan sekalian ya...kakak mau bawa ini ke ruang makan dan masak nasi untuk makan malam"
Bimo hanya bisa mengangguk pasrah, Lia pun memberi senyum termanisnya. "Adik ku satu ini memang the best" ucap Lia sambil keluar membawa dua piring saji yang berisi cap cay seafood dan ayam fillet crispy saos asam manis.
Saat Lia kembali ke dapur Bimo sedang menggerutu, Lia hanya tertawa dalam hati melihat adiknya yang sedang mencuci wajan terakhir dan juga spatulanya.
"Kak Lia keterlaluan sekali, jangan-jangan dia sengaja mengerjai ku, kalau bukan karena oleh-oleh aku nggak akan mau melakukan ini semua...huffft"
"Owh jadi begitu ya, baru menolong kakak sebentar saja kamu sudah menggerutu...ckckk. Ternyata adik kakak seperti itu".
Ucap ku sambil mengambil satu piring saja lagi untuk dibawa ke meja makan. betapa terkejutnya dia saat balik badan tau-tau si bule sudah berdiri di depan pintu masuk dapur masih dengan baju tadi pagi dan terlihat lelah tapi tetap tampan.
"Kamu sudah pulang, bikin kaget saja tiba-tiba muncul"
"Kamu aja yang terlalu asik melihat penderitaan Bimo sampai tak sadar aku berdiri di belakang mu" ucap Ferry sambil berjalan mendekati ku dan mengecup kening ku.
"Mandi dulu gih, abis itu kita makan malam"
"Aku mau makan kamu aja" bisik Ferry ditelinga Lia membuat bulu kuduk ku merinding. lalu Ferry menggigit pelan daun telinga Lia kemudian berlalu pergi tanpa dosa.
"hhhuuufff" Lia menghembuskan nafas lega terbebas dari si bule yang kalau tidak ada Bimo di dapur pasti sudah di makannya aku hidup-hidup.
"Kak Lia kenapa senyum-senyum sambil geleng-geleng gitu, apa dia sudah tidak waras karena cinta" gumam Bimo melihat tingkah Lia yang aneh menurut Bimo karena dulu kakak nya tidak pernah seperti itu.
*************************************
__ADS_1
Happy reading ya reader
semoga kalian nggak bosen ya bacanya, ditunggu like, komen/sarannya syukur-syukur dibagi vote