Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Ibu dan anak Jago Akting


__ADS_3

"Bagus jam segini baru sarapan, nampaknya sejak menikahi wanita itu hidup mu tak beraturan"


Deng deng...jadi aku yang disalahin, jelas-jelas anaknya yang bikin gw nunggu...ckckckk. ini orang tua abis makan petasan cabe sekilo kaya. 'Sabar Lia...sabar' bathin ku sambil menatapnya nanar.


Mami yang di belakang papi memberi ku tatap yang seakan meminta ku diam dan tak bicara sepatah kata pun untuk membantah ucapan papi.


Padahal tanpa di suruh pun, aku tak berniat sedikit pun angkat suara untuk menjelaskan. Terlalu malas aku meladeni pria paruh baya yang masih tampan dan memiliki bentuk wajah, warna kulit dan bola mata sama dengan suamiku.


"Pagi-pagi udah ngedumel aja pi, nggak dikasih jatah sama mami ya tadi malem?" oceh Ferry ngelantur bikin mami langsung menggetok kepalanya dengan kipas ditangannya.


"Kalau ngomong sama orang tua pake filter sedikit" Ujar mami sambil mengedipkan mata. 'Ternyata ibu dan anak ini jago akting...ckxkck"


"Aduh mami, sakit ini kepala Ferry. Main getok aja...ckckckk" gerutu Ferry sambil ngelus-ngelus kepalanya


"Sayang elus-elus kepala ku dong, ini sakit banget sampe pusing rasanya kepala ku" rajuk Ferry sambil mengarahkan kepalanya kepada ku. Aku cuma bisa ikutan alur cerita mereka aja, aku pun ngelus-elus kepala Ferry seperti maunya.


"Cuma begitu aja kamu merengek, manja sekali kamu jadi laki-laki...ckckckck" Sindir papi melihat kelakuan Ferry.


"Papi kaya tidak pernah muda saja, memang dulu waktu lagi cinta-cintanya sama mami, papi tidak manja mi?" tanya Ferry membuat senyum di wajah mami mencuat.


"Lebih parah dari mu, tiap pulang kerja merengek minta di pijat lah...trus ujung-ujungnya kamu tau lah apa yang terjadi" Sahut mami dengan wajah merona, mungkin membayangkan romansa saat mereka awal-awal menikah.


'Tidak ku sangka ternyata pria dengan tampang angker dan tak pernah tersenyum itu bisa juga manja pada istrinya, pantas lah kalau begitu anaknya manja kaya gini...huuffft' bathinku saat mendengar mami mencurahkan isi hatinya.


"Hei kenapa malah melamun?" tanya Ferry sambil menjawil hidungku karena tangan ku berhenti mengelus-elus kepalanya.


Aku hanya menggeleng sambil tersenyum manis yang menampakan deretan gigi putih ku.


"Mami buat apa cerita ke mereka masalah rumah tangga kita" Sahut papi kesal karena aibnya di umbar mami.


"Memang ada ucapan mami yang salah?, kan memang kenyataannya seperti itu...ckckckk" sahut mami tak mau kalah.


"Sudah lupa kan saja, percuma bicara dengan mami" dengus papi kesal.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau bicara dengan papi, mami juga males" sahut mami tak juga mau mengalah.


"Sayang, bisa tidak kamu bebaskan aku pergi dari ruang makan ini secepatnya. Aku harus mendesign baju untuk nyonya Mahdalena". Bisik ku pada Ferry saat melihat papi dan mami malah jadi adu mulut.


"Tentu bisa sayang tapi ada syaratnya?" ucap Ferry membuatku ingin menggigit telinganya.


"Apa? cepat kata kan" ucap ku tak sabaran


"Cium aku di bibir saat kamu akan pergi dari sini"


Mataku langsung melotot mendengar pemintaan Ferry, dia malah senyum-senyum sendiri.


Aku berusaha mengkode mami tapi mami nampak tak mengerti maksud hati ku, karena aku tak mau melakukan permintaan gila Ferry. Mami terus asik adu mulut dengan papi.


"Papi tunggu kamu di ruang tamu sekarang!" ucap Papi sambil balik badan dan berjalan menuju ruang tamu, akhirnya aku bisa bernafas lega bisa pergi dari ke kacauan ini tanpa harus melakukan keinginan bule tengsum.


"Baik, Ferry selesaikan sarapan dulu ya pi" ujar Ferry santai lalu lanjut makan.


"Aku pergi keatas sekarang, bye" ucapku saat papi menghilang dari ruang makan sambil bergegas lari tanpa sempat Ferry menghentikan ku.


"Lia sayang, boleh mami masuk?" suara mami sambil mengetok pintu, membuat ku bangkit dan membukakan pintu untuk mami.


"Iya mi, ada apa?" tanya ku heran dengan kemunculan mami tiba-tiba.


"Mami mengganggu mu?" tanya mami dengan raut kecewa mendengar pertanyaan ku


"Tidak mi, Lia cuma mau melanjutkan mendesign pakaian untuk nyonya Mahdalena, masih kurang tiga design lagi" Jelas ku agar mami tak salah sangka.


"Owh begitu, sebenarnya ada yang mami mau bicarakan dengan mu. Tapi sepertinya kamu sibuk, nanti saja kalau begitu" ucap mami dengan raut wajah kecewa, sedih atau marah aku juga nggak paham.


"Mi, bukan maksud Lia menolak mami tapi ..." aku mencoba menjelaskan tapi dihentikan mami.


"Tidak apa-apa Lia, mami turun dulu kalau begitu kamu lanjut sibuk" ucap mami langsung membalik badan turun tanpa menghiraukan ku lagi.

__ADS_1


Ya Tuhan, aku tidak bermaksud menyakiti hati mami dari suamiku. Tapi aku dikejar-kejar dateline aku pun tak berdaya.


Aku pun kembali ke posisi ku, duduk di atas kursi malas di gazebo depan kamar dengan headphone menyala cukup keras agar tak terganggu dengan suara-suara yang memecah konsemtrasiku. Aku asik dengan dunia ku. Melukis design ke lima, ke enam dan ke tujuh akhirnya saat matahari hampir mulai turun aku berhasil menyelesaikan 8 design tinggal design untuk gaun pesta permintaan Ami aku belum membuatnya karena aku belum menanyakan detail keinginan Ami.


Usai merapikan draft design dan meletakannya di laci nakas samping tempat tidur ku. Aku membaringkan tubuh ku diatas ranjang sambil mencari nama Ami dalam ponselku.


"Hai designer Lia, apa ada kabar gembira yang ingin kamu sampaikan?" tanya Ami to the poin saat mengangkat telphon dari ku.


"Aku baru saja menyelesaikan draft design untuk seragam hotel milik kalian, hanya saja aku belum membuat design gaun untuk mu, karena kamu belum mengatakan detail gaun macam apa yang kamu ingin kan?" jelasku panjang lebar.


Akhirnya Ami mengatakan tiap detail keinginanya pada gaun pesta yang dia minta aku untuk mendesignnya. Aku pun mencatat tiap keinginan Ami agar design ku tak sia-sia apa lagi jika sampai dibuang...ckckckk


selesai telphonan dengan Ami aku terlelap, belum juga lama aku terlelap Ferry sudah datang untuk membangunkan ku.


"Sayang...ayo bangun" pinta Ferry sambil menciumi setiap inchi wajah ku membuatku kegelian.


"Ada apa sih yank, aku masih ngantuk. Jahat banget sih kamu aku baru juga terlelap" gerutu ku kesal dibangunin lagi ngantuk-ngantuknya.


"Maaf Sayang, nyonya Mahdalena menelphone ku dia bertanya apa kita bisa bertemu dengannya malam ini?"


"Design ku sudah selesai semuanya...tapi proposal mu kan belum selesai, memangnya keburu?" tanyaku balik pada Ferry.


"Di mana kamu simpan draft designnya?" tanya Ferry sambil memindai isi kamar.


"Di laci nakas yank" ucapku sambil menunjuk laci nakas.


Ferry langsung mengambil draft design ku lalu membolak balik draft design ku, sambil bergumam tapi tak begitu jelas karena terlalu pelan.


"Oke aku bawa dulu draft design mu agar sebelum makan malam nanti proposal dan kontrak kerja samanya bisa aku selesaikan"


Ucap Ferry sambil bangkit dan mencium keningku, lalu keluar dari kamar, tapi saat di depan pintu Ferry berbalik badan hendak mengucapkan sesuatu tapi tidak jadi.


"Sayang, ada yang mau kamu sampaikan?" tanyaku saat Ferry kembali berjalan menuju pintu.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan ku, membuat Ferry berbalik badan. Dan melangkah lagi mengikis jarak dengan ku dan duduk di sisi ranjang tempat aku berbaring.


"Apa yang kamu lakukan pada mami?" tanya Ferry.


__ADS_2