
Begitu duduk dalam mobil dan Ferry mulai melajukan mobil menuju restoran untuk makan malam.
"Suami" panggil Lia manja
"Hhhmm" Ferry yang sedang fokus menyetir hanya bergumam menjawab panggilan Lia.
"Suami" panggil Lia lagi membuat Ferry menoleh ke arah Lia. "Iya sayang ku ada apa?"
"Jadi apa yang tidak bisa kamu lakukan?" tanya Lia dengan nada tak terima suaminya begitu sempurna tanpa celah.
"Memaksa mu hamil anak ku" sahut Ferry asal.
"Suami...iissshh,,,nyebelin" sahut Lia sambil menghentakan kakinya dan memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Hehehe...becanda yank, tapi kan memang benar apa yang barusan aku katakan" kilah Ferry tak ingin Lia ngambek lagi.
"Jadi kamu aslinya juga ingin aku hamil seperti yang lainnya?" tanya Lia masih memalingkan wajah ke jendela karena tak sanggup menatap wajah sang suami.
"Kalau mau jujur aku sangat menginginkan buah cinta kita hadir secepatnya bukan karena ingin dapat restu papi tapi lebih karena aku tak ingin kehilangan mu, aku pikir keberadaan anak akan membuat mu selamanya di sisi ku" sahut Ferry sambil mencari tempat untuk menghentikan mobil karena Ferry melihat tubuh Lia yang bergetar menahan tangis.
Begitu mobil berhenti dia melepaskan safety belt agar bisa memeluk sang istri yang benar saja sedang menahan tangis.
"Kamu jahat" ucap Lia begitu tangisnya pecah dalam pelukan Ferry.
"Sayang maaf, aku hanya berusaha jujur dengan mu. Tapi aku tidak akan memaksa mu, aku ingin kamu hamil karena kamu juga menginginkannya. Selamanya aku tidak akan memaksa mu, soal hamil aku benar-benar menyerahkan sepenuhnya pada mu. Jadi jangan sedih lagi"
"Kalau kamu menangis begini bagaimana kita mau makan di restoran?"
"Tidak usah pergi makan" sahut Lia dengan nada kesal.
"Baik, tidak pergi" sahut Ferry sambil mengirimi chat Jerry meminta koki di restoran terbaik untuk menyiapkan makan malam dan mengantarkannya ke apartemen Ferry.
"Suam, kamu yakin?"
"Soal?"
"Hamil"
"Yakin istri ku, toh kita masih muda aku juga baru mau dua puluh tahun beberapa bulan lagi. Memiliki anak sekarang, tahun depan atau lima tahun lagi pun tidak masalah bagi ku selama anak itu lahir dari rahim mu"
__ADS_1
Mendengar jawaban Ferry Lia mengeratkan pelukannya, dadanya berdesir perih ada rasa tak adil untuk suami tercintanya tapi Lia sendiri masih ragu untuk mengambil keputusan hamil saat ini, Melihat beberapa hari kuliah dengan jadwal yang padat padahal belum mulai aktif di YZ Collection saja rasanya sudah lelah apa lagi nanti sudah aktif akan sangat payah kalau harus hamil juga.
"Jadi kamu tidak masalah jika aku terus mengkonsumsi pil kontrasepsi?" tanya Lia pelan.
"Tidak sayang ku, selama itu kamu meminumnya anjuran dokter bukan sembarangan minum pil pencegah hamil aku setuju"
"Oke, besok kamu temani aku ke dokter Spesialis Obstetri dan genekologi
untuk konsultasi"
"Siap nyonya Goucher" ucap Ferry sambil memegang dagu Lia dan mengecup bibirnya.
"Sekarang sudah tenang? kita pulang yuk?" ajak Ferry yang di angguki Lia.
Setelah mengenakan safety belt Ferry kembali melajukan mobilnya. Mereka berdua saling diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Ferry sudah membulatkan tekatnya jika memang Lia belum siap hamil mulai hari ini Ferry tidak akan mengizinkan satu orang pun termasuk nenek tua untuk menekan Lia agar mau hamil.
Sejak kejadian di Castle Veenew, Lia begitu sensitif setiap membahas soal hamil atau mendengar soal hamil benar-benar membuat Lia tidak nyaman dan Ferry tak ingin lagi Lia terbebani lagi soal hamil.
"Kita sudah sampai, turun yuk" ajak Ferry sambil mengilurkan tangannya pada Lia saat membukakan pintu mobil untuk sang istri tercinta.
"Sayang, yang pipi ku sebelah iri minta di cium juga" ujar Ferry manja sambil menyodorkan pipinya dan Lia pun menciumnya.
"Bibirnya juga iri yank" ucap Ferry sambil memonyongkan bibirnya minta di cium, tapi bukan di cium malah di kasih lima jari Lia.
"Dasar belanda minta tanah, nggak tau diri. Di kasih hati minta jantung" Gerutu Lia sambil berjalan meninggalkan sang suami yang malah tertawa karena bisa-bisanya dia bertingkah konyol setiap bersama Lia.
'Wanita ini benar-benar membuat ku tak berdaya. Bisa-bisa aku merusak image ku dengan tingkah makin hari makin konyol dan mensum' bathin Ferry sambil geleng kepala dan mengejar Lia yang sudah di depan lift.
"Sayang tunggu" teriak Ferry saat Lia sudah masuk ke dalam lift tapi bukannya Lia tahan pintu liftnya Lia justru menekan tombol closed dan meninggalkan Ferry naik lift duluan.
'Aiiishh...wanita ini benar-benar minta di hukum, Jangan panggil aku Ferry Goucher kalau malam ini aku tidak memakan mu sampai habis' gumam Ferry geram karena Lia terus saja memancing batas kesabarannya.
Lia yang sudah sampai unit apartemennya buru-buru masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ferry yang masih di bawah mendapat telphon dari Jerry bahwa sebentar lagi sampai apartemen. Akhirnya Ferry tak jadi naik ke atas, Dia memilih menunggu Jerry saja sekalian minum kopi susu di coffeeshop lantai dasar apartemen.
tak sampai sepuluh menit Jerry tiba dengan dua membawa dua godiebag berisi makan malam untuk Lia dan Ferry.
__ADS_1
"Tuan muda ini pesanan anda" ujar Jerry begitu tiba di depan Ferry yang sedang asik menikmati kopi susu sambil main games di ponselnya.
Ya Ferry mulai ketularan Lia yang kadang suka maen games saat bosan dengan rutinitas dan tak tau mau melakukan apa untuk membunuh kesepian.
"Kamu tidak mau minum kopi dulu bersama ku Jer?". "Kamu mau sampai kapan terus saja kaku memanggil ku tuan muda?" gumam Ferry malas
"Maaf tuan muda, saya agak tidak nyaman memanggil anda dengan nama saja" sahut Jerry tegas.
"Terserah kamu saja lah" ucap Ferry sambil bangkit dan membawa godiebag meninggalkan Jerry.
"Tuan jangan pergi dulu, kopi anda belum di bayar" teriak seorang pelayan saat melihat Ferry meninggalkan coffee shopnya.
"Dia yang bayar" sahut Ferry dingin dengan lirikan tajam.
"Eh...ka..." belum juga selesai pelayan itu hendak meneriaki Ferry tangannya sudah di tarik Jerry.
"Berapa semuanya?" tanya Ferry sambil menyerahkan kartu hitam milik Ferry dengan limit terbatas yang memang Jerry pegang untuk kondisi-kondisi seperti ini.
"tiga puluh lima dollar, tunggu sebentar saya buatkan notanya" ucap sang pelayan ramah.
"Memang anda kenal dengan pria tadi? kenapa mau saja membayarkan minumannya?"
"Kamu tidak perlu tau" jawab Jerry acuh tak acuh.
"Hhhhmm...iya juga bukan urusan ku, yang penting minuman yang keluar di bayar tak perlu perduli siapa yang bayar" oceh sang pelayan saat memberikan nota dan juga mengambalikan kartu hitam yang Jerry berikan.
"Silahkan datang lagi" ucap pelayan yang lainnya melihat Jerry meninggalkan coffee shop.
Jerry yang naik ke atas menuju lobby untuk keluar dari apartemen Ferry tak menyangka akan bertemu dengan bosnya lagi.
"Lama sekali kamu naiknya?" ucap Ferry saat melihat Jerry mendekatinya.
"Tuan muda, masih ada hal lain yang membutuhkan bantuan ku?"
"Tolong buatkan janji konsultasi untuk besok jam sepuluh pagi dengan dokter Spesialis Obstetri dan genekologi terbaik di rumah sakit pusat"
"Baik" sahut Jerry singkat walau dalam hati begitu penasaran ingin tahu lebih, tapi semuanya hanya dia simpan dalam hati.
"Ya sudah itu saja, kamu bisa kembali dan istirahat" ucap Ferry kemudian menuju lift tanpa menunggu Jerry menjawab.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan jadiin favorite kalian ya novel suamiku brondong 😘😘