Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Siapa Merry


__ADS_3

"Aku tidak bermaksud apa-apa koq, hanya ingin menolong mu menjawab pertanyaan mereka yang menuduh boss ku pecinta sesama jenis....ckckkxkckckkk". -Jerry-


"Jerry, apa kamu pikir Lia ada hubungan khusus dengan si beruang kutub?" -Luna-


"Iya Jerry dari kata-kata mu tadi seperti menunjukan kalau Lia menjalin hubungan dengan Tuan Muda Goucher". -Mario-


"Jangan membuatku patah hati, kenapa kalian semua komen seperti itu?" -Merry-


"Merry sepertinya sudah saatnya kamu melupakan obsesimu pada tuan Goucher"- Mario-


"Iya Merry benar lupa kan saja dia, kamu tidak akan bisa memilikinya" -Karenina-


Group Designer masih terus ramai membahas tetang Aku dan Ferry gara-gara ulah Jerry. Tapi bukan itu yang menggangguku tapi justru komen mereka tetang Merry yang sepertinya menyukai suamiku. "Siapa Merry?, Kenapa dia bisa terobsesi dengan Ferry?" banyak pertanya muncul dibenakku.


" Sayang, kamu kenapa?, masih terganggu dengan ulah Jerry?" Ucap Ferry sambil menarik ku dalam pelukannya, hingga tubuhku jadi ikut berbaring di atas sofa ruang TV.


"Siapa Merry", bukannya menjawab pertanyaan Ferry aku malah balik bertanya padanya.


"Merry?" gumam Ferry sambil mengendikan bahunya.


"Iya Merry kamu mengenalnya tidak?" cecarku lagi, karena penasaran sekali siapa wanita yang mencintai suamiku.


"Aku tidak ingat sayang, apa aku mengenalnya atau tidak. Kamu kan tau aku tidak terlalu tertarik berhubungan dengan wanita" Jelas Ferry tak memuaskan ku.


"Memangnya ada apa sih yank sama si Merry?, Kenapa kamu terlihat penasaran sekali" tanya Ferry sambil memaikan rambutku.


"Saingan cinta" jawabku sekenanya.


"huahahaaha...saingan cinta?" ucap Ferry sambil tertawa. "Jadi istriku sedang cemburu, senengnya dicemburi istri...hahahaha". Ferry terus tertawa sambil menggodaku. Aku pun akhirnya mendaratkan cubitan di pinggangnya.

__ADS_1


"Aaauuuu...sakit yank, cukup...cukup...cukup jangan cubit lagi" mohon Ferry sambil memegang tanganku dan mendekapku agar tak bisa lagi mencubitnya.


"Kamu nyebelin" ucapku sambil melepas pelukan Ferry dan bangkit pergi ke kamar.


"Nyebeliiiiin....dasar bule kamfreeet, orang serius nanya dia malah ngeledekin, ngeselin banget" gerutuku sambil mendudukan tubuhku di sofa dekat jendela.


Tak lama berselang yang bikin aku ngambek datang mendudukan bokongnya di sebelahku, memutar tubuhku agar menghadap dirinya.


"Yank jangan ngambek dunk, aku minta maaf ya. Aku nggak maksud bikin kamu kesel, cuma aku happy banget kamu cemburuin, itu artinya kamu beneran cinta sama aku" ucap Ferry dengan wajah menggemaskan bikin aku jadi pengen ketawa saat dia memaksaku menatapnya dengan memegang kedua pipiku.


"Maafin aku ya sayang, Please maafin aku" mohon Ferry saat aku menepis tangannya dari kedua pipi ku. Sebenernya bukan karena aku masih marah tapi karena aku udah nggak kuat nahan ketawa melihat wajah memelasnya yang menggemaskan.


Aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju ranjang. "Ahh...jangan ke ranjang, nanti ujung-ujungnya dia malah memakan ku", gumamku dalam hati. akhirnya aku keluar dari kamar menuju balkon dekat ruang tv.


"Sayang, udahan dong ngambeknya...aku beneran minta maaf", teriak Ferry saat melihatku pergi keluar.


"Tadi bilangnya nggak kenal...ckckk" ucapku sambil berbalik kearah Ferry dan melipat kedua tanganku di dada dengan wajah angker.


"Sayang aku tadi bilangnya, aku tidak ingat mengenalnya atau tidak. Nah pas kamu ke kamar tadi aku telphon Jerry nanya soal Merry. Jadi sekarang aku ingat siapa orang itu, mau dengar ceritaku tetang Merry tidak?". Ucap Ferry sambil jalan mendekatiku mengikis jarak diantara kami.


"Hhhmmm...ceritakan" ucapku ketus masih dengan posisi yang sama.


"Sayang udah dong ngambeknya dan wajah apa ini angker sekali seperti kuburan". ucap Ferry sambil menangkup kedua pipiku dan mengecup bibirku yang memberengut.


"Kamu...." ucapku tertahan saat kecupuan itu berubah jadi ciuman mesra dan memabukan yang membuatku tak rela jika harus melepas pagutannya. Aku mulai terbuai dengan ciuman panas yang Ferry layangkan.


"Aaaa.." teriak ku karena tiba-tiba tubuhku melayang di gendong suamiku, Aku pun dengan sigap mengalungkan tanganku dilehernya.


"Mau bawa aku kemana?" tanyaku sambil menatap kedua bola mata biru suamiku.

__ADS_1


"Kita bicaranya dikamar aja ya, biar suasanyanya nggak tegang dan lebih santai.


"Yakin cuma bicara?", ucap ku menggoda Ferry.


"Memang istriku mau lebih dari bicara...hhhmmm,,akan aku kabulkan" ucap Ferry sambil menggoyang-goyangkan hidungnya dengan hidungku.Begitu tiba di kamar Ferry mendudukanku di ranjang dan dia dengan cepat menyandarkan tubuhnya duduk disampingku. Seperti biasa langsung menarik ku dalam pelukannya. Posisi paling nyaman untuk ku.


"Jadi cepat ceritakan siapa Merry itu". ucapku to the poin.


"Memang sepenasaran itu kamu sama Merry?". jawab Ferry bertele-tele, membuatku gemessshhh.


"Sayang, kamu mau cerita apa nggak?", ucapku sambil berusaha keluar dari pelukan Ferry.


"Iya aku cerita ya, tapi kamu jangan berfikiran negatif atau menyembunyikan perasaan mu setelah mendengar ceritanya, kalau ada yang mengganjal dihati mu langsung tanyakan padaku". jelas Ferry sebelum memulai bicaranya.


Ternyata Merry itu adalah tetangganya sekaligus mereka sempat sekolah sama-sama saat di Kindergarten dan Primary school walau hanya empat tahun , karena Ferry masuk kelas percepatan jadi lulus lebih dulu.


Merry Bramesware nama lengkapnya, anak dari CEO Bramesware Group yaitu Thomas Bramesware. Dia saat ini kuliah ambil jurusan design semester dua di pratt institute. Kampus yang nantinya akan jadi kampusku. Sungguh suatu kebetulan yang sangat tidak menyenangkan, satu kampus dan juga jurusan dengan saingan cinta. Papi Ferry dan juga ayah Merry, mereka bersahabat dan juga merupakan patner bisnis.


"Merry memang dari kecil selalu menempel pada ku, tapi aku tidak suka ditempeli dia, itu lah sebabnya saat aku mulai kuliah, moment itu ku gunakan untuk bisa keluar dari rumah dan mulai tinggal sendiri di apartemen. Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu dengan Merry". Cerita Ferry membuatku terdiam dan pikiranku jadi melayang kemana-mana.


"Sayang, Jangan satu kali pun kamu meragukan cintaku, karena bagiku, cuma kamu satu-satunya wanita yang aku inginkan, kamu itu soulmate aku. Aku lebih baik mat...." aku membungkam mulut Ferry dengan bibirku, males mendengar kelanjutan ucapannya, hanya akan membuatku merinding dan ketakutan saja membicarakanya.


"Aku suka kalau kamu agresif kaya gini" ucap Ferry sambil tersenyum membuat pipiku merona karena malu.


"Berhenti menggodaku" ucapku mulai jengkel karena malu akan tindakan ku sendiri.


"Jadi benar Merry menyukai mu?" tanyaku spontan.


"Sepertinya sih begitu" ucap Ferry sambil mengendikan bahunya keatas. Dia nampak cuek banget ada cewe menyukainya, "apa jangan-jangan emang slama ini banyak cewe yang naksir Ferry?" gumamku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2