
Sesampainya di kampus, lima menit lagi perkuliahan akan di mulai aku. Aku dan Mira terpaksa agak berlari dan syukurlah kami sampai di depan kelas beberapa detik sebelum si dosen. Dengan nafas agak terengah-engah aku dan Mira menghempaskan bokong kami untuk duduk dan mengambil nafas. "Rasanya seperti abis dikejar-kejar anjing saja...Huufft" Gumamku yang mendapat balasan anggukan dari Mira yang juga sedang mengambil nafas karena berlari tadi. Tiba-tiba ada yang menyodorkan air mineral dari belakang ku, sambil mencolek-colek lengan ku. "Minum lah, agar lebih baik" Ucap seorang pria kulit putih, alis tebal dengan kaca mata tebalnya seperti kutu buku plus tompel lumayan besar di pipi kirinya. Aku tak ingat ada orang model planet sekelas dengan ku di mata kuliah Tektur Bahan. "Dari mana datangnya orang ini?," bathinku.
"Hei, kenapa malah melamun. Ini ambil lah? ucap si kutu buku sambil menyodorkan air mineralnya lagi. Belum sempat ku jawab Mira sudah mengambil air mineral itu dari tangan si kutu buku. Aku terpaksa hanya senyum saja dan menucapkan terima kasih, sedangkan Mira tanpa merasa bersalah menenggak air mineral itu.
"Haus bu, ledek ku pada Mira". yang dijawab dengan "Hooh, seger banget ini air, makasih ya" ucap Mira pada si kutu buku. Yang dijawab ketus oleh si kutu buku "Itu bukan untuk mu" dengan muka super juteknya. Aku hanya tertawa dalam hati lucu sekali wajah si kutu buku memberengut kesal sampai menggeretakan gigi. Padahal hanya perkara air mineral saja. Pikirku dalam hati, "Kenapa harus semarah itu toh sama saja kan mau di minum aku atau Mira". "Apa jangan-jangan dia salah satu penggemar ku", Ahh,,sudah lah buat apa repot-repot aku pikirkan.
"Kalian bertiga bisa tenang tidak?" tiba-tiba suara dosen killer itu terdengar mengarah kepada kami bertiba dan menstop pemikiranku. "Sialnya aku, kenapa jadi kebawa-bawa karena ulah mereka berdua". Bathinku sambil menundukan kepala karena semua mata kini menatap kami bertiga.
Spontan Mira langsung menutup mulutnya, sedangkan si kutu buku tak bergeming tetap dengam wajah dingin dan angkernya. Nampaknya amarahnya pada Mira belum tuntas. Pikir ku, ehh tapi apa peduliku tentang perasaan si kutu buku. "Ayo fokus Lia, ujian Akhir semester sebentar lagi". bathinku.
"Lia Putri Aghata, maju kedepan bawa tugas design mu kesini" ucap sang dosen sambil menunjukan jari telunjuknya kearahku.
"Hah, saya pak?" tanyaku tak percaya dengan apa yang ku dengar.
"iya, memang ada nama Lia Putri Aghata selain kamu?" jawab balik si dosen killer.
"Mati lah aku", gumamku dalam hati yang terdengar si kutu buku. "Kenapa? kamu belum membuat tugasnya? tanyanya sambil mengangkat alisnya sebelah membuat mimik wajahnya yang eksotis dengan tampang khawatir menjadi makin lucu.
__ADS_1
"Hahahaaha, tampang mu lucu sekali kalau seperti itu" ucapku sambil berdiri menuju dosen sambil mencubit pipi si kutu buku dengan gemas. "Kamu benar-benar lucu". ucapku sambil tersenyum.
"Cepat lah jangan malah bercanda kamu diatas sna" Gerutu si dosen killer dengan keras. Aku pun bergegas turun menuju si dosen dan memberikan sketsa gambar design setelan Jas dengan tema traditional modern.
"ini pak tugasnya" ucapku sambil menyerahkan beberapa lembar kertas gambar. Dosen itu menerimanya dan melihat hasil karyaku dalam diam, lama aku berdiri itu dosen hanya melihat gambarku lalu menatap ku lagi kemudian melihat sketsa gamabnya lagi. Aku benar-benar sudah nggak tahan lagi ini berdiri di depan orang banyak hanya diam saja.
"Huks..Huks" Aku berdehem agar si dosen tidak diam terus. Namun dia tetap tak bergeming. "Pak, anda baik-baik saja?, ada yang salah dengan design saya?" tanyaku mulai khawatir melihat ekspresi wajah si dosen yang sulit ku artikan.
"Tidak ada...tidak ada yang salah, saya akan kirim hasil karya kamu untuk ikut lomba design international yang diadakan bulan depan, design mu sangat indah dan amazing. Saya tidak mengira kamu bisa membuat karya seindah ini, ya saya tau kamu memang beberapa kali menjuara lomba design dan saya sudah lihat design-design mu semuanya memiliki ciri khas berbau etnik kontemporer, saya tidak sangka bahkan kamu bisa membuat sesuatu yang indah dengan menggabungkan gaya modern dengan sentuhan traditional. Luar biasa ini benar-benar luar biasa". Oceh si dosen memujiku.
"Terima kasih pujiannya pak, boleh saya kembali duduk pak?" tanyaku karena kakiku mulai lelah berdiri dengan menggunakan high heels dan males juga ditatap puluhan mata.
"Kenapa kamu tidak senang kuliah cepat selesia? tiba-tiba si kutu buku komen. "Hah, kamu siapa yang mengajak mu bicara?, Jangan sok akrab". Ucapku sambil membuang muka dan berdiri dari kursi untuk menuju parkiran. Mending aku ke rumah sakit saja menemui mama" gumamku dalam hati.
"Ehhh...Lia kamu mau kemana? tunggu aku, kenapa buru-buru sekali sih?". Ucap Mira sambil mengejarku. Ternyata tak hanya Mira yang mengejar ku si kutu buku pun ikutan.
"Ehh jelek, kamu ngapaind ngikutin aku" tiba-tiba suara keras Mira terdengar seperti memarahi orang, dan benar saja dia sedang bertengkar dengan si kutu buku. "Jadi orang itu jangan terlalu pede, siapa juga yang sudi mengikuti mu. Aku mau mengejar teman mu Lia". ucap si kutu buku, yang dibalas tawa keras oleh Mira. "Huaahaahahaaha, kamu itu jelek sedangkan Lia sangat cantik, pintar dan kaya". (mantan orang kaya kali sekarang mah, bathinku). "Memang kamu merasa pantas mendekatinya?". celoteh Mira lagi menghina si kutu buku. Baru aku ingin buka suara ehh keduluan sama si kutu buku. "Kau buta bilang aku jelek". mendengar ucapan si kutu buku sontak membuatku tertawa terbahak-bahak. Namun ku hentikan ketikan mata tajam dibalik kaca mata tebal itu menatapku. "ups" aku menutup mulutku agar tak lagi tertawa.
__ADS_1
saat Mira akan buka suara lagi, langsung ku hentikan. "Sudah Mira cukup", ucapku tegas pada Mira sambil menarik tangannya hendak meninggalkan si kutu buku.
"Tunggu" ucap si kutu buku membuatku berhenti dan berbalik melihatnya. "Ada apa lagi, Hah?".
"Boleh aku minta nomer telphone mu?" ucap si kuti buku sambil menyodorkan handphonenya. Melihat wajahnya aku benar-benar gak tega menolaknya. akhirnya aku pun mengambil Hanphonenya dan mengetik angka-angka pada handphone milik si kutu buku. "ini sudah, boleh aku pergi sekarang?" pintaku sambil menyerahkan handphonenya ke si kutu buku. "Boleh, terima kasih". balas si kutu buku dengan malu-malu. Aku pun berjalan santai bersama Mira menuju parkiran.
"Lia, kamu sudah gila memberi nomer telphone mu pada si jelek buruk rupa itu?" tanya Mira dengan nada kesal. "Tentu saja tidak, aku hanya asal menekan angka-angka saja tadi" jelasku. "Sungguhkah?,kasian sekali si kutu buku sudah bahagia mengira mendapat nomer telphone mu tau-tau zonk". "hahahahaa" tawa Mira pecah.
Tiba-tiba ponselku berbunyi notifikasi ada pesan masuk. Aku mengeluarkan ponselku dan membuka pesan yang masuk dari nomer tak dikenal. "Save nomerku juga ya, namaku Ferry". "What?", "bagaimana bisa dia mengirimi aku pesan. tadi aku sangat yakin hanya asal memberi nomer telphon" gumamku yang membuat Mira bertanya, "Ada apa? kenapa wajah mu seperti habis melihat setan?". tanya Mira penasaran. "Dia mengirimi ku pesan" jawabku bingung.
"Siapa?"
"Si kutu buku"
"Hah, bagaimana bisa? katamu tadi hanya asal menekan angka".
"iya memang benar seperti itu, aku yakin sekali kau tidak memberinya nomer ponselku".
__ADS_1
"Jangan-jangan kamu memang memberikannya", karena kamu terlalu hafal nomer mu sambil asal ketik pun kamu tetap menekan nomer mu" Mira coba ngenalisa. "entah lah, sudah lah aku kita pulang, aku mau ke rumah sakit menemani mama" sambungku lagi. sebelum kemudian kami berpisah diparkiran.