
Tok tok tok
Pintu kamar yang Lia dan Ferry tempati di ketuk. "Masuk" suara barito Ferry terdengar memberi izin masuk.
"Permisi tuan nyonya saya mau mengantar sarapan pagi untuk kalian berdua" ujar seorang pelayan sambil menyusun makanan yang dia bawa diatas meja.
"Dimana Musa?" tanya Ferry tiba-tiba sambil menatap tajam ke arah si pelayan membuat yang di tatap langsung menundukan kepala.
"Tuan sudah pergi, sehabis sarapan tadi langsung pergi. Saya tidak tau tuan Musa pergi kemana" jelas Si pelayan jujur apa adanya.
"Ada lagi yang bisa saya bantu? kalau tidak saya permisi dulu" pamit si pelayan
"Makasih ya mba buat sarapannya" ujar Lia ketika si pelayan melangkah menuju pintu untuk keluar.
"Sama-sama nyonya, salam menikmati sarapannya semoga anda berdua menyukainya"
Setelah mengatakannya si pelayan langsung keluar dari kamar dengan perasaan lega, dia takut sekali dengan tatapan mata Ferry yang seperti burung elang siap memangsa buruannya.
"Ganteng sih tapi serem" gumam si pelayan sambil berjalan menuju dapur yang tidak sengaja terdengar Anne.
"Siapa yang ganteng tapi serem" tanya Anne kepo.
"Itu tuan yang tinggal di kamar nona cantik...ehh,,,maaf nona Anne saya tidak bermaksud bergosip" ucap si pelayan takut karena sudah melanggar peraturan untuk tidak menggosip apapun yang terjadi di villa.
"Kamu tenang saja aku tidak akan menghukum mu, Sudah sana kembali bekerja" ucap Anne sambil melamun.
'Ternyata bukan dengan ku saja tuan muda Goucher itu dingin, angker dan menyeramkan. Nona Lia sepertinya satu-satunya wanita yang diperlukan dengan lembut dan penuh cinta oleh tuan muda Goucher, sungguh beruntung'
"Sudah lah buat apa juga aku memikirkannya tidak ada hubungannya dengan ku. Hari juga jadi harinterakhir mereka berdua disini" gumam Anne lalu berlalu dan kembali sibuk dengan urusannya sendiri.
Sedang Lia dan Ferry dikamar asik menikmati sarapan mereka berdua sambil mengobrol.
"Yank, hari ini kita keluar dari sini. Kamu mau langsung kembali ke negara A atau mau jalan-jalan di sini dulu?" tanya Ferry membuat Lia terdiam sejenak menimbang apa yang akan dia lakukan.
"Kamu masih akan di sini mengurus pekerjaan atau tidak?" bukannya menjawab Lia malah bertanya balik setelah terdiam lama.
"Aku sudah selesai disini, kalau kamu mau jalan-jalan disini aku temani tapi kalau mau pulang aku telphon Jerry agar mengatur kepulangan kita hari ini" jelas Ferry membuat Lia kembali terdiam
"Pulang saja, aku sudah bolos kuliah hari ini, kalau menundanya lagi aku akan makin lama bolos kuliah. Lagian gaun untuk mami aku masih belum selesai" ucap Lia sambil menghembuskan nafas berat.
"Baiklah sesuai keinginan nyonya muda Goucher, kita pulang hari ini" ucap Ferry sambil mengirim pesan pada Jerry.
Setelah mereka selesai sarapan mereka asik nonton tv sambil berpelukan di atas sofa.
'Andai bisa seperti ini selamanya, aku sudah puas' bathin Ferry menikmati kebersamaannya dengan Lia.
Musa dan asistennya serta sekertaris yang akan mempresentasikan proposal proyek yang Musa dapatkan dari Ferry.
"Bagaimana, kamu sudah pastikan kalau Goucher Corp dan Mananta group tidak mengirim utusan mereka untuk ikut tender ini?" tanya Musa pada asistennya yang baru saja masuk kedalam ruangan tunggu di mana Musa dan sekretarisnya berada untuk menunggu giliran presentasi.
"Sudah tuan, tidak ada satu utusan pun. Bahkan katanya Goucher Corp dua hari lalu tiba-tiba membatalkan keikut sertaannya pada tender karena ada urusan mendesak" jelas sang asisten membuat wajah Musa berseri-seri merasakan kemenangan pasti jadi miliknya.
Setelah beberapa waktu tiba giliran Musa dan tim-nya untuk presentasi.
Semua mata para juri yang akan mengambil keputusan untuk ku menentukan pemenangnya saling pandang saat mendengar presentasi dari tim Musa.
Musa dan tim-nya tak menyadari situasi yang terjadi, Musa pikir reaksi para juri itu karena terkagum-kagum pada presentasi yang sedang dilakukan sekretarisnya.
__ADS_1
Setengah jam sudah berlalu, Musa dan tim-nya sudah meninggalkan ruangan presentasi.
"Kalian liat deh, designnya sangat mirip dengan yang diajukan Megantara Group"
"Mirip, tapi bagus design Megantara Group lebih hidup dan terlihat sangat nyaman"
"Aku setuju dengan pendapat mu dan juga kalian lihat budget yang dianggarkan juga Megantara Group lebih murah"
"Benar, tapi masalahnya apa kalian yakin Megantara Group sanggup melaksanakan tender ini sesuai dengan tenggat waktunya?"
Mereka berlima saling pandang dan berfikir. "Iya juga, Megantara Group ini bukan perusahaan besar takutnya dia tidak sanggup"
"Soal itu kalian tenang saja, lihat pasal ini" ucap salah satu juri menunjuk salah satu pasal dalam proposal.
"Wah, dia berani menjamin mengembalikan semua uang yang sudah diterima apa bilang gagal menjalankan semua kewajibannya. Berani sekali dia?"
"Aku dengar yang tadi presentasi dari Megantara Group itu presdirnya langsung dan dia baru saja mengakuisisi Megantara Group ini beberapa hari tapi berhasil menaikan tingkat sahamnya 5%. Aku rasa tidak ada salahnya kita memberikan dia kesempatan, bagaimana menurut kalian?"
"Sudah kita istirahat dulu, bahas lagi nanti. Sudah waktunya makan siang cacing di perut ku sudah konser ini" ujar salah seorang juri bertubuh gembul.
"Oke" sahut yang lainnya bersamaan mereka pun mengumumkan kepada semua peserta kalau presentasi tender hari ini sudah selesai dan di tutup, pengumuman akan dilakukan minggu depan.
"Jadi sampai jumpa minggu depan di acara perjamuan walikota akan mengumumkan secara langsung siapa yang mendapatkan tender resort dan kota wisata'
Setelah memberi pengumuman para juri meninggalkan ruangan diikuti para peserta tender termasuk Musa dan tim-nya.
Begitu di dalam mobil, Musa yang akan menuju ke perusahaannya menelphon Ferry.
Ferry yang sedang asik memeluk Lia sambil menonton film box office langsung bangkit untuk menerima panggilan telphonnya begitu melihat nama Musa dilayar ponselnya.
"Jadi apa aku dan istri ku sudah bisa pergi dari sini sekarang?" ucap Ferry dengan nada mengejek membuat Musa tertawa.
Ferry yang mendengar ucapan Musa merasa jijik tapi juga malas menanggapinya.
"Kalau sudah tidak ada yang mau kamu sampaikan lagi aku tutup sekarang karena aku harus pergi masih ada urusan" tanpa menunggu jawaban dari Musa telphon pun sudah di putus oleh Ferry.
"Benar-benar arogan, tapi tidak apa karena kamu sudah mengalah aku maafkan kelakuan kasar mu" gumam Musa yang kesal tidak dianggap oleh Ferry.
"Ada apa suam?" wajah mu koq nggak enak banget diliatnya
"Ayo kita pulang" ucap Ferry sambil mengulurkan tangannya pada Lia yang masih duduk malas diatas sofa.
"ehh..Kita sudah bisa pergi. ayolah, aku juga sudah bosan disini" ujar Lia sumbringah menyambut tangan Ferry.
Mereka berjalan bergandengan tangan keluar dari kamar membuat mata menatap iri pasangan penuh cinta ini. Anne memberanikan diri bicara pada Lia dan Ferry.
"Nona Lia, kalian sudah akan pergi?" tanya Anne yang sudah diberi tahunMusa untuk melepas mereka berdua.
"Iya, terima kasih sudah menjaga ku dengan baik selama aku disini" ucap Lia tulus sambil tersenyum, membuat Anne malu hati sendiri karena dia kan yang menculik Lia.
"Semoga kamu tidak dendam dengan ku ya nona Lia, aku tidak bermaksud menyakiti mu aku hanya ingin membantu tuan Musa saja"
"Iya aku tau, kamu tidak usaha khawatir karena kamu sudah menjaga ku dengan baik aku anggap kita impas" ucap Lia sambil mengedipkan satu matanya lalu kembali berjalan menggandeng tangan Ferry.
"Aku antar kalian ke depan" ucap Anne sambil mengikuti langkah mereka berdua.
Leon yang sudah gelisah menunggu sang majikan keluar dari sepuluh menit lalu tapi belum juga muncul.
__ADS_1
"Kata sudah bisa pulang mana orangnya tidak keluar-keluar" gumam Leon sambil mondar mandir depan mobil.
Saat Ferry keluar melihat Leon berjalan mondar mandir tak tentu arah langsung berdehem, membuat Leon menghentikan langkahnya dan berbalik melihat asal suara.
Betapa terkejutnya Leon, bukan karena melihat Ferry dan Lia keluar tapi Leon terkejut saat melihat gadis disamping Lia berdiri
"Anne, ini benar kamu kan?" Leon berlari mendekati Anne dan memeluknya secara spontan, membuat Lia dan Ferry saling pandang.
"Tunggu kamu, siapa?" tanya Anne tak mengenali Leon, membuat Leon mengurai pelukannya.
"Aku Leon, kamu sudah melupakan ku? Adik macam apa kamu ini...ckckck" gerutu Leon sambil menyentil pelan jidat Anne.
"Siapa suruh kakak sekarang pakai abji perlente gini, dan juga rambut gondrong dan kriwil mu berubah bahkan warna kulit mu yang hitam dekil tak terawat saja sekarang bersih dan kakak jadi ganteng jauh"
Lia dan Ferry hanya diam tak ingin mengganggu interaksi antara Anne dan juga Leon, tapi Ferry mulai tak sabar melihat mereka terlalu bertele-tele.
"Kalian tukeran nomer telphon kapan janjian ketemuan, sekarang kita pergi dari sini" suara bariton Ferry terdengar berat menahan kesal karena menunggu Leon yang malah asik nostagia dengan Anne.
"Oke Anne, ini kartu nama ku. Hubungi aku secepatnya kita bertemu lagi"
Anne menerima kartu yang diberikan Leon tapi tak sedikit pun ada niatan dalam hatinya untuk menghubungi Leon.
Akhirnya mobil Ferry melaju dengan Cepat meninggalkan Villa Musa. Lia yang merasa situasi di dalam mobil agak kaku karena sang suami nampak masih kesal akibat berdiri terlalu lama menunggu Leon yang bercengkrama dengan Anne.
"Suam, tas sama ponsel ku gimana kabarnya?" tanya Lia memecah kesunyian sambil bergelayut manja pada Ferry, Lia berharap suasana hati sang suami segera mencair.
Melihat tingkah Lia, Ferry berusaha keras menekan kekesalannya pada Leon dan berkata dengan lembut pada Lia. "Ada di villa Luxury, takut sekali kehilangan ponsel mu?"
"Hehehehe...bukan takut suam tapi takut sekali...hahahahaha" ucap Lia sambil tertawa membuat senyuman pun melengkung di wajah dingin Ferry.
"Hhmmm...cinta banget sama ponsel...ckckck"
"Tapi aku lebih cinta sama yang kasih pnselnya sih" ujar Lia menggoda Ferry.
"Manis betul mulut mu, pasti ada maunya" sahut Ferry mengejek Lia
"Hehehehe...kebaca ya kalau aku ada maunya" ucap Lia tak tau malu.
"Emang istri ku mau apa?" tanya Ferry sambil memeluk Lia dan mengendus cengkuk leher Lia mencari kedamaian disana.
"Mau jalan-jalan ke pusat kota, aku dengar disana ada Mall termegah dan juga dunia belanja paling memanjakan pembelinya" ujar Lia penasaran dengan Mall yang memberikan layanan spa gratis kepada setiap pengunjung yang datang berbelanja minimal seratus ribu dollar.
Ferry melihat jam ditangannya. "Maaf sayang ku, tidak akan sempat. Minggu depan kita kesini lagi untuk menghadiri perjamuan walikota negara S sekali mendengar pengumuman pemenang tender"
"Memang kenapa tidak sempat?" tanya Lia sambil menatap manik sang suami yang sedang menunduk menatapnya.
"Jerry sudah terlanjur menjadwal kan penerbangan kita tiga setengah jam lagi kita sudah harus sampai bandara"
"owh..." sahut Lia tak terlalu memperhatikan ucapan Ferry
"Tas ku, ponsel ku, koper ku?" teriak Lia begitu sadar apa yang Ferry barusan katakan.
"Jerry sudah mengatur semuanya sayang, kita ketemu dia di bandara. Jangan panik gitu dong". Ucap Ferry sambil mengelus lembut kepala Lia
"Hhmm..bikin kaget aja. Janji ya week end besok aja aku kesini lagi" ucap Lia sambil mengulurkan jari kelingkingnya untuk mengikat janji dengan Ferry.
"Janji yank" Ferry menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Lia.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun menikmati perjalanan panjang menuju bandara dengan suasana penuh cinta membuat Leon jengah menyaksikan Ferry dan Lia yang penuh cinta, sedangkan dia sendirian di depan jadi supir. 'Nasib banget deh jadi nyamuk kesepian dapat tontonan sepasang suami istri tak berperasaan mesra-mesraan.... huh' bathin Leon sambil tetap Fokus menyetir
jangan lupa like, komen dan jadikan novel "Suamiku brondong favorite kalian biar nggak ketinggalan updatenya. yang baik bisa kali bagi vote dan hadiahnya...hehehehe