Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Kasmaran


__ADS_3

#POV Ferry#


Aku benar-benar merindukan mu, andai aku memiliki pintu kemana saja milik doraemon bahagianya hatiku bisa kapan saja dan dimana saja melihat wajahnya, senyum manisnya. "Ahhh...aku rindu kamu Lia" gumamku yang terdengar Jerry membuatnya menggelengkan kepala. Bodo amat mau dibilang alay, namanya juga orang lagi kasmaran, bebas lah. pikiran ku pun teralih saat ponselku bergetar. langsung ku rogoh kantong Jas ku untuk melihat notifikasi apa yang masuk.


"Ya Tuhan kamu memang jodohku, baru ku sebut nama mu, langsung muncul pesannya, hahahaaaha".Tawaku membuat alis Jerry mengerut dalam.


"Maaf aku ketiduran semalam, kamu sudah sampe rumah mu?" -Lia-


"Belum, masih di jalan. Beberapa jam lagi baru sampai rumah" "Ooh ya, hari ini libur kuliah kan, kamu punya rencana apa hari ini?" -Ferry-


"Aku mau menemani papa di RS XY, ini aku sedang sipa-siap" -Lia-


"Andai aku disana, aku pasti menemani mu". -Ferry-


"Siapa yang mau kamu temani?" -Lia-


"Lia Putri Aghata" -Ferry-


"Haahahahahhaaha" -Lia-


"Kamu pasti cantik banget kalau sering senyum, udah dulu ya aku ada urusan bentar". ucap Ferry sambil menyimpan ponselnya ke dalam saku, dan turun dari mobil bersama dengan Jerry menuju restoran. Yang langsung di sambut pramusaji dengan ramah.


"Meja atas nama tuan Ferry Goucher", ucap Jerry pada pramusaji yang lamgsung mempersilahkan aku dan Jerry untuk ngikutinya. Dua jam lebih perjamuan itu berlangsung dan syukurlah walaupun alot sekali pembicaraannya akhirnya ada kata sepakat. Tinggal tugas Jerry lah membuat draf kontrak perpanjangan kerja sama dengan orang kedutaan negara PKS. Usai makan malam itu pun aku diantar Jerry pulang ke apartement ku. "Buat apa pulang ke rumah kalau mereka juga akan pergi meninggalkan ku". Tak ku sangka begitu masuk apartement papi dan mami ada di sana.

__ADS_1


"Sudah mami dugakan kamu akan pulang ke apartemen bukan ke rumah" ucap mami sambil memeluk dan menciumi ku.


"Kamu ini tidak merindukan mami, Hah?", ucap mami yang ku balas hanya dengan gelengan dan helaaan nafas panjang.


"Mami ini anak baru pulang bukannya di suguhi minum atau apa gitu malah di omelin". "Mami nggak tau kan "Tua bangka itu menyiksa Ferry, baru juga pesawat landing Ferry sudah dikasih kerjaan" Keluh ku pada mami.


Spontan mata mami langsung mengarah pada papi. "Ehhh,,,bukan begitu mami sayang, kan semua gara-gara mami minta anter papi ke apartement Ferry jadi papi terpaksa kirim pesan pada Jerry untuk membawa Ferry menggantikan papi makan malam dengan orang kedutaan negra PKS, cuma itu mih" Jelas papi agar mami tidak marah.


"Maafin mami ya baby boy, mami nggak tau kalo si tua itu punya agenda malam ini. Dia pun tidak bilang apa pun saat mami mengajak kesini, langsung jawab oke" Ucap mami sambil memonyongka ke dua bibirnya ke arah papi.


Mereka berdua ini membuat ku makin merindukan Lia. "Huuuftt" Dengus ku saat mendudukan bokong ku do sofa yang terdengar mami.


"Ada apa baby boy?, kamu ada masalah?" tanya mami sambil mengelus kepalaku. Rasanya mulut ini gatal sekali ini bicara agar membatalkan kepergiannya ke negara SG. Tapi si tua bangka itu menatapku tajam, tanda aku tak boleh bicara apa pun pada mami. Akhirnya aku hanya menjawab dengan gelengan kepala sambil bangkit dari tempat duduk ku menuju kamar ku.


#POV Lia#


Suara ketukan pintu kamar membangunkan ku. Rasa mata ini masih ingin terpejam. "Siapa sih pagi-pagi gini udah ganggu tidur orang?" Dengan kesal pun aku bangkit membuka pintu kamar.


"Mama?, ini masih pagi ma, Lia nggak ada jadwal kuliah pagi". Ucapku sambil mengucek kedua mataku yang masih mau menempel.


"Kamu tidur jam berapa semalem kenapa terlihat masih mengantuk begini? ya sudah mama saja yang ke RS XY untuk menjaga papa, kamu tidur lah dulu nanti agak siangan baru ke rumah sakit" ucap mami yang melihatku masih mengantuk.


"Jangan ma, Lia aja", "Lia siap-siap dulu ya, mama tunggu di ruang makan aja ya". pintaku pada mama sebelum jalan menuju toilet untuk mandi dan siap-siap ke RS XY menggantikan Bimo menjaga papa.

__ADS_1


Saat Selesai mandi aku melihat ponselku diatas tempat tidur. "Astaga semalam aku ketiduran saat chat dengan si kutu buku" bathinku kemudian bergegas membuka notifikasi chat. Banyak chat masuk dari Mira dan Juga si kutu buku. Aku pun membuka chat dari Mira, dia menawarkan diri menemaniku di RS XY karena hari ini dia tidak ada kegiatan apapun yang aku setujui. "Lebih baik kan jd aku nggak borring sendirian di RS XY" pikirku dalam hati. Kemudian beralih membuka pesan si kutu buku. saat membacanya tanpa sadar bibirku ketarik ke atas membentuk senyuman. "Aiiisssh, aku ini kenapa? cuma mendapat pesan saja bahagia banget gini", "apa mungkin aku sedang kasmaran?" bathin ku yang buru-buru ku tolak dengan banyak pembantahan logis dan membalas pesan si kutu buku yang langsung mendapat balasan, tak selang beberapa lama Dia pamit ada urusan. "Aneh banget bukannya dia dalam perjalan pulang ke rumah lalu urusan apa lagi yang mau dia kerjakan padahal masih dalam perjalanan belum sampai rumah" pikiran ku kemana-mana, karena penasaran lebih baik aku tanya langsung pada orangnya.


"Urusan apa sepertinya penting sekali" -Lia-


Namun tak ada balasan, yang ada chat ku hanya ceklist satu. Karena tak lagi mendapat balasan dari si kutu buku aku pun segera siap-siap dan turun ke bawah untuk menemui mama dan pamit ke RS XY. karena Bimo pasti sudah menungguku untuk sarapan dan berangkat ke sekolah.


"Lia berangkat ya ma" sambil mencium pipi mama dan mengambil tiga buah ransum yang mama berikan untuk aku, Bimo dan mang Ujang.


Lalu naek ke mobil dan melajukannya dengan cepat karena jalan masih sangat lengang. Hanya 20 menit aku sudah sampe di RS XY, biasanya memakan waktu satu jam lebih.


Sesampainya di RS XY aku langsung menuju ruang tunggu pasien ICU, ku lihat Bimo sudah rapi dan asik membaca buku.


"Pagi" sapaku sambil mengelus kepala Bimo, membuatnya menoleh ke arah ku.


"Lama banget sih?" keluh Bimo saat melihatku, lalu mengambil dua buah ransum dari tangan ku kemudian melangkah keluar dari ruang ICU, tanpa pamit dengan ku.


Lalu aku melihat ke arah mang Ujang. seperti mengerti arti tatapanku mang Ujang menceritakan keluhan Bimo karena aku datang terlambat sedangkan dia ada kelas tambahan untuk persiapan Ujian Nasional. Setelah menjelaskan mang Ujang pun bergegas mengejar Bimo setelah pamit pada ku.


Koridor ruang tunggu ICU kembali sepi, hening tanpa suara apa pun. "Untung aku membawa alat gambarku" gumamku sambil mengeluarkan alat gambar dan bersiap menggambar namun belum juga mulai menggambar ponsel ku bergetar lama tand ada telphon masuk.


"Kutu Buku" ucapku saat membaca nama yang tertera di layar ponsel. "ehh...kenapa dia menelphoneku pagi-pagi begini apa dia ada masalah" bukannya mengangkat telphony aaku malah melamun memikirkan alasan dia menelphon ku sampai akhirnya getarannya mati. "Ahh sial kenpa tadi nggak langsung ku angkat" gerutuku dalam hati.


"Dreeet ...Dreeeet....Dreeet" getaran ponselku kembali tanpa membaca siapa yang menelphon karena yakin pasti dia yang telphone lagi.

__ADS_1


__ADS_2