
Beberapa hari kemudian...
Lia dan Mira sibuk Ujian, Ferry tak banyak mengirimi Lia pesan hanya sesekali dalam beberapa jam karena tak ingin mengganggu fokus Lia dalam menghadapi ujian. Dan Ferry sendiri pun sibuk dengan tumpukan pekerjaan presdir yang di alihkan padanya. Belum lagi dateline tesisnya yang harus rampung dalam dua bulan ini. Ferry benar-benar super sibuk.
Ferry benar-benar super sibuk seminggu ini. Selain tak ingin mengganggu Lia yang sedang fokus ujian, Ferry juga sedang berusaha keras merampungkan semua pekerjaan kantor yang datelinenya dalam dua minggu ini, Ferry buat rampungkan semuanya dalam sepekan walau dia hampir tiap malam tidur di kantor sepekan ini semua Ferry lakukan karena dia ingin membuat surprise untuk istri tercintanya.
Di tengah kesibukan Ferry, Merry selalu berusaha curi-curi kesempatan untuk bisa berkomunikasi secara pribadi dengan Ferry tapi selalu saja gagal karena Ferry memberi jarak begitu jelas dan juga Jerry sudah mengantisipasi setiap gerak gerik Merry saat metting dengan YZ Collection.
Sedangkan Rendy sibuk sendiri mengurus pesta pernikahannya dengan Mira karena tak ingin mengganggu fokus Mira dalam ujian.
Tak terasa sudah seminggu ini Lia dan Mira benar-benar menghabiskan waktunya hanya berkutat dengan pelajaran, cat, alat sulam dan alat lukis belum lagi materi-materi yang harus di hafal untuk menyelesaikan soal ujian.
"Lia ini kenapa susah sekali membuat sulaman secantik sulaman mu...hiks" Mira mulai frustasi karena berkali-kali mencoba terus saja hasilnya kasar dan tak beraturan warna pada sulamannya.
"Coba ku lihat" Lia memperhatikan hasil sulaman Mira dan mencari di mana kesalahan yang dibuat Mira sehingga saat mencampurkan warna sulamannya jadi tak beraturan.
"Hhhmm...ini kamu di sini seharusnya tidak mengarahkan sulaman mu ke atas, harusnya ke arah sini. Sebaiknya kamu ulang lagi dari awal, saat sudah di posisi ini aku akan mengajari mu"
"Huuuffft...tangan ku bisa keriting kalau terus-terusan membuat sulaman seperti ini" gerutu Mira sambil menarik nafas panjang. Lia hanya tersenyum pasrah melihat sahabatnya yang mengambil jurusan design cuma agar bisa memiliki butik sendiri tapi sangat tidak pandai menjahit, memotong, menyulam. Dia hanya bisa menggambar design baju sesuai arahan orang, jika di suruh berimajinasi makan hasilnya akan benar-benar absurd modelnya. Lia kembali tersenyum saat mengingat hasil design Mira saat ujian semester lalu.
"Apa kamu senyum-senyum terus?" Mira kesal melihat Lia malah senyum-senyum di saat dia sangat menderita.
"Hehehehe....tidak apa-apa, sudah kamu lanjutkan. Aku mau minta mba Narti untuk membawakan cemilan dan minuman untuk kita"
Ujar Lia sambil bangkit dari duduknya. Belum juga Lia melangkah ponselnya berdering dengan nada khusus untuk sang suami tercinta.
Lia langsung menyambar dengan cepat ponselnya dan menggeser icon hijau di layar ponselnya lalu berlalu meninggalkan Mira. Bukan memanggil mba Narti seperti tujuan awalnya melaikan masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya karena tak ingin privasinya saat bersama sang suami di usik orang.
"Hei sayang, lagi apa?" Tanya Ferry sambil jalan keluar dari bandara dengan tangan satunya sibuk menggeret sebuah koper menuju lobby kedatangan, di mana sang supir hotel sudah bersiap menyambut Ferry.
"Kamu di mana? tumben pagi-pagi bisa telphon aku? di sana bukannya masih malam?" tanya Lia beruntun karena heran, tidak biasanya Ferry telphon di jam segini.
"Karena aku kangen sama kamu?" jawab Ferry sekenanya.
__ADS_1
"Biar saya bantu tuan" ucap sang supir melihat Ferry yang menarik kopernya sendiri. Ferry hanya menganggung dan membiarkan sang supir mengambil kopernya untuk di letakan di bagasi mobil. Dia pun langsung masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka kan oleh sang supir sesaat sebelum dia mengambil alih koper Ferry.
"Antar saya ke rumah ya pak" ucap Ferry saat melihat sang supir sudah duduk di depan kemudi.
"Baik" sahut sang supir sopan.
"Sayang kamu bicara dengan siapa? koq dia pake bahasa IND?" tanya Lia bingung karena Lia tidak tau kalau Ferry saat ini baru saja mendarat di bandara internasional Negara IND.
"Supir yank, dia memang bisa berbahasa IND. Sudah ahh jangan bahas itu. Aku menelphon istri ku mau kangen-kangenan tau"
Ujar Ferry berusaha mengalihkan pembicaraan. Agar usahanya membuat surprise untuk istri tercintanya tak sia-sia.
"Hehehehe...baiklah. Kamu sudah mandi belum?". 'ehh...aku nanya apa ini? ada-ada aja kenapa pertanyaan ku jadi soal mandi di jam tidur..huufft' Lia menepok jidatnya sendiri.
"Belum yank, aku kangen mau mandi bareng kamu jadi sengaja belum mandi" Sahut Ferry sumbringah membayangkan hari-hari indah bersama sang istri tercinta setelah dua pekan berjauhan.
"Aiissshhh...kamu jangan aneh-aneh ahh, di sana sudah malam banget, cepat mandi sana biar bisa istirahat abis itu. aku di sini udah mandi yank".
Lia menjawab serius ucapan Ferry yang menjurus pada pelepasan rindu dua insan yang saling berjauhan. Sedangkan si bule hanya senyum-senyum sumbringah mendengar jawaban Lia.
Sahut Ferry dengan wajah sudah full mesum penuh bahagia tanpa Lia pernah sadari ucapan Ferry tertuju pada dirinya yang akan dijadikan santapan bergizi pagi hari ini oleh Ferry.
"Pekerjaan memang penting, tapi istirahat juga penting suami ku. Kamu jangan capek-capek jaga kesehatan di sana".
Hati Ferry menghangat mendengar ke khawatiran dari nada bicara Lia yang penuh perhatian.
"Jadi pengen cepet-cepet peluk kamu kalau gini...heheheehe"
"Kesini lah, aku akan peluk kamu sangat erat dan tak akan aku lepaskan sampai besok pagi"
Ucap Lia asal karena hal itu Lia pikir tidak akan mungkin terjadi. Di ujung telphon sana Ferry semakin tertawa bahagia mendengar ucapan Lia.
"Kamu ingat ucapan mu ya sayang, jangan mangkir jika aku bisa muncul di hadapan mu hari ini" Tantang Ferry yang langsung tanpa berfikir Lia setujui.
__ADS_1
"Tidak akan aku ingkari apa yang sudah aku ucapkan" Sahut Lia santai, dia benar-benar tak tau bahaya apa yang akan mengancam dirinya.
"Oke deal, kita sepakat ya. Aku akan pastikan hari ini tiba di negara IND" mendengar ucapan Ferry membuat Lia terdiam cukup lama.
Dan sang supir juga keheranan pasalnya sekarang tuannya memang sudah tiba di negara IND. 'Apa jangan-jangan nyonya muda tidak tau kalau tuan muda datang hari ini?' Bathin sang supir saat tak sengaja mendengar pembicaraan majikannya.
Ferry dan Lia terus asik mengobrol di telphon sampai mobil yang di kendarai Ferry pun mulai masuk ke dalam komplek perumahan menuju rumah yang tidak terlalu besar tapi cukup luas dan asri karena Lia suka sekali dengan bunga. Jadi Ferry sengaja memilih rumah dengan halaman cukup luas untuk dibuat taman bunga dan kolam ikan kecil agar Lia betah tinggal di rumah.
"Tuan kita sudah sampai" ujar sang supir membuat Ferry menoleh ke arah kaca jendela melihat rumah yang di tinggali istrinya selama dua pekan tanpa dirinya membuat senyum di wajah Ferry begitu sempurna.
"Sayang aku sudah sampai rumah, aku tutup dulu ya lanjut lagi nanti".
Ferry memutus sambungan telphon dengan Lia kemudian keluar dari mobil saat sang supir membukakan pintu. Ferry langsung bergegas menuju pintu masuk rumahnya tapi sebelum masuk dia berbalik ke arah sang supir.
"Kamu boleh kembali ke hotel sekarang dan ini untuk mu, maaf saya belum sempat menukar uang tadi jadi kamu tukar sendiri"
Ucap Ferry saat memberikan beberapa lembar mata uang negara A pada sang supir yang nilainya sangat besar kalau di tukar ke mata uang negara IND.
"Terima kasih tuan" sahut sang supir bahagia mendapatkan rezki berlimpah pagi-pagi.
Ferry langsung masuk ke dalam rumah saat ART dan Mira mau berteriak karena kaget tiba-tiba melihat Ferry muncul dihadapannya. Namun teriakannya tertahan di tenggorokan karena Ferry meletakan jari telunjuknya di bibir menandakan mereka semua harus diam dan jangan bikin keributan.
Ferry langsung menuju kamarnya namun saat akan membuka pintu ternyata terkunci. Ferry menggetuk pintu beberapa kali tapi belum juga di buka pintunya. Lia yang telphonnya di tutup secara sepihak oleh Ferry tanpa menunggunya bicara sedang kesal dan tidak mood untuk bergerak dari atas ranjang. Jadi sia tidak memperdulikan suara ketukan pintu.
Ferry yang mulai kesal karena Lia tak juga membuka pintu kamar akhirnya meminta ART untuk mengambil kunci cadangan agar dia bisa masuk ke dalam kamar, Ferry sudah tidak sabar untuk memeluk dan menciumi istri tercintanya.
Ferry berhasil membuka pintu kamarnya dengan kunci cadangan. Lia yang mendengar suara kunci terbuka langsung menoleh ke arah pintu, Lia tidak percaya ada yang berani membuka pintu kamarnya tanpa seizin darinya.
"Kamu..." ucap Lia saat tertahan saat sosok yang muncul dari balik pintu adalah pria yang sangat dia rindukan.
"Surprises" ucap Ferry sumbringah.
kira-kira apa yang akan terjadi ya?
__ADS_1
tks ya readers kalian masih mau baca novel gabut mimi. semoga gk bosen ya? jangan lupa like dab komen, kalian bebas koq mau kasih kritikan atau pun masukan siapa tau bisa jadi ide mimi buat nulis