
"Ya ampun liat jeng ada bule ganteng banget"
"itu siapanya jeng Miranti ya?"
"Ponakan kali jeng"
"udah punya pacar belom ya, dijadiin mantu kayana bisa ngerubah keturun ini mah"
Bisik-bisik ibu-ibu komplek saat melihat Ferry turun. Si bule yang di omongin jalan santai tanpa beban menuju ke arahku.
"Sayang" ucapnya sambil merangkul pinggangku.
"ada apa?" jawabku datar, karena semua mata kini menatap kami berdua.
"Koq jawabnya gitu...ckkkck" protes Ferry tak terima sambil menangkup kedua wajahku dan menyatukan jidatku dengan jidatnya.
"Nak Ferry bisa bantu mama sebentar" pinta mama membuat si bule mau tak mau melepasku dan mengikuti mama ke arah dapur. "Ahh...mama benar-benar Bidadari penyelamatku" bathinku lega karena si bule sudah menyingkir dari hadapanku, tapi justru membuat jiwa kepo ibu-ibu komplek makin menjadi-jadi.
"Jeng Miranti, kenalin dong ke kita itu bule siapanya jeng?"
"Iya jeng kenalin dong, masa punya kenalan bule ganteng gitu nggak dikenalin ke kita-kita"
Suara-suara itu membuat mama mau tak mau menghentikan langkahnya dan memeprkenalkan Ferry.
"Ehh....iya sampe lupa saya, ini kenali mantu saya, suaminya Lia...." ucapan mama belum selesai sudah dipotong pertanyaan beruntun dari ibu-ibu komplek.
"Kapan nikahnya jeng koq kita nggak diundang"
"iya nih jeng Miranti nikahin anak diem-diem aja"
"bukan nikah karena kecelakaan kan jeng"
"aduh batal deh jadiin itu bule mantu ku"
"Lia kan masih kuliah koq dinikahin si jeng"
Yang lagi di omgongin santai aja berdiri disamping mama dengan senyum manis. sedangkan mama diserang pertanyaan jadi keliatan pusing sendiri gimana jawabnya terpaksa lah aku maju mendatangi kerumunan.
"Nanyanya satu-satu tante, kasian itu mama sampe bingung mau jawab pertanyaan yang mana dulu" jawabku berusaha membuat suasana tak terlalu gaduh ulah ibu-ibu komplek.
__ADS_1
ehh,,mama bukannya bantuin aku jelasin begitu aku datang malah ninggalin aku sama si bule dikerumunin ibu-ibu kompleks.
"Beneran nak Lia, bule itu suaminya?" tanya salah satu ibu komplek
"iya tante, kenalin ini Ferry Gouche suami Liamkkami menikah baru beberapa hari yang lalu, karena papa masih dirawat di rumah sakit maka kami belum mengadakan pesta respsi besar, hanya keluarga saja" jelasku berharap tak ada pertanyaan lagi.
"Kenapa nikahnya buru-buru nak Lia, nggak nunggu pak Aghata pulih dulu" tanya ibu komplek yang lainnya.
"Lia bulan depan ke negara A karena dapet besiswa untuk melanjutkan kuliah disana, biar aman dan tentram di negara orang jadi saya dan suami memutuskan untuk menikah. Kebetulan suami kerja dan memang tinggal negara A" jelasku lagi.
Dak akhirnya jiwa kepo para ibu-ibu kompleks terpuaskan dengan penjelasan aku.
"ada yang mau ditanyain lagi gak bu ibu, kalau nggak silahkan dinikmati hidangannya dan kami tinggal dulu karena sebentar lagi bapak-bapak yang mengaji akan sampai dan juga anak-anak yatimnya.
"Iya nak Lia, kalian sibuk lah dulu kami akan menikmati makanan dulu kalau begitu" ucap salah seorang dari kerumunan ibu-ibu kompleks.
Aku pun dan Ferry akhirnya pergi meninggalkan keruman ibu-ibu menuju pintu depan.
"Om Pras, Lia titip Ferry ya buat nemenin om nyambut tamu" ucapku pada Om Pras yang langsung mendapat tatap tidak setuju dari mata Ferry dengan ide ku, tapi aku mengacuhkannya dan berlalu menuju dapur untuk mengeluarkan minuman kemasan dari dalam kulkas yang sengaja di dinginkan sebelum disajikan.
"Setelah selesai ku susun di nampan-nampak aku memanggil Bimo, Malika dan juga Aisyah untuk mengantarkan kepada tamu-tamu yang sudah hadir.
Malam itu pun pengajian dan santunan untuk yatim piatu dan dhuafa berjalan lancar dan wajah anak-anak sangat bahagia saat menerima bingkisan teruma saat si bule membagikan amplop pada mereka.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga, sekarang kalian bantu mang Ujang dan si Mbok beres-beres" Ucap mama begitu semuanya tamu pulang pada kami. Maka mulai lah Aku, Ferry, Bimo, Malika dab Aisyah membantu mang Ujang dan Si mbok beresin rumah jadi seperti sedia kala. Sedangkan Mama, Tante Linda dan Om Pras mereka sudah masuk kamar istirahat.
Jam menunjukkan jam 01.15 kami baru selesai merapikan semuanya. Tapi mata bocil tiga itu masih on aja.
"Enak nih kita sekarang makan bakso beranak atau bakso jeletot juara di pengkolan" celoteh Bimo yang langsung disambut bahagian Duo bocil Malika dan Aisyah.
"Emang jam segini masih buka?" sahut Ferry tiba-tiba.
"Masih kak, memang dia bukannya Malem buat anak-anak nongkrong gitu deh" sambut Bimo antusias.
"Ayo lah kita kesana kalau begitu" ajak Ferry yang langsung membuat wajah ketiga bocil berbinar penuh kebahagian.
"Sayang, ini udah pagi. Pesen online aja deh nggak usah kesana" ucap ku tidak setuju sambil memasang muka cemberut karen si bule malah ikut-ikutan gelo sama trio bocil.
"Mana seru kak" suara trio bocil kompak.
__ADS_1
"Udah lah yank, sekali-sekali toh besok mereka nggak pada sekolah" ucap Ferry yang memang gatel juga mau keluar. "Kamu mau ikut nggak?" tanyanya padaku.
"Aku mau tidur aja kalian saja yang pergi, besok aku juga harus kuliah" ujarku lalu berlalu meninggalkan mereka menuju kamar ku.
Mereka berempat pun pergi beneran begitu aku naik. si Bule rese itu bener-bener nggak takut aku ambekin. "Liat aja nanti aku cuekin baru rasa, pagi buta gini masih pada niat kelayapan. Emang sih nggak terlalu jauh dari rumah tapi tetep aja ini tuh udah hampir pagi" gerutuku sambil naik keatas tanpa menoleh lagi walaupun Ferry memanggilku.
"Sayang kamu mau aku bawain baksonya nggak?" tanya Ferry yang hanya ku jawab dengan lambaian tangan, walau dalam hati aku pengen banget makan bakso keju beranaknya dengan bakso gorengš¤¤. Cuma kan udah malem mana capek juga kan jadi aku pilih tidur.
Selesai membersihkan makeup di wajahku, aku pun masuk ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka lalu ganti baju dengan baju tidur paling seksi yang ku miliki. "Biar si bule mupeng dan nyesel ninggalin aku sendirian" gumamku saat selesai mengganti baju tidur.
Aku pun merebahkan tubuhku yang lelah diatas ranjang ternyaman yang slalu menemani hari-hariku, tak menunggu lama aku pun terlelap.
"Sayang bangun dong, lihat aku bawain kamu bakso beranak keju dan bakso goreng kesukaan kamu nih kata Bimo". Mendengar ucapan Ferry mataku yang mengantuk langsung terbuka dan duduk karena aroma baksonya tercium dirongga hidungku membuat cacing diperutku mulai berokestra tanpa malu-malu.
"Makan lah" ucap Ferry sambil menyerahkan semangkok bakso beranak dan beberapa butir bakso goreng di piring dengan sambel, kecap dan saos diplastik kecil-kecil lalu masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Saat pintu kamar mandi tertutup dan suara keran mulai terdengar aku pun tanpa malu-malu melahap bakso beranak keju dan menggigit bakso goreng dengann cocolan sambel...nyam...nyam banget deh pokoknya. Steaknya Abbujanda mah kalah nikmat sama ini..hahahaha.
"Enak yank?" tanya Ferry begitu keluar kamar mandi.
"Enak, terima kasih" ucapku sambil menikmati bakso yang baru setengah porsi kulahap. "Kamu mau?" tanyaku karena sepertinya aku nggak sanggup ngabisinnya sendirian.
"Aku sudah kenyang yank, tadi disana aku makan bakso wagyu dan urat merecon" ujar Ferry sambil berjalan menuju walk in closed mengganti bajunya dengan piyama.
Saat Ferry sudah duduk di ranjang sambil mainan ponselnya.
"Sayang, aku nggak akan sanggup makan ini semua sendiri" rengek ku membuat Ferry menghadapku dan membuka mulutnya minta di suapin.
"Suamiku yang terbaik" ujarku sambil senyum manis menyuapinya.
"Nggak ada yang gratis istriku sayang" ucapnya dengan tampang mesum, malas menggubris ucapan si bule aku menyuapi mulutnya lagi agar dia berhenti bicara menjurus ke arah yang tak ku harapkan.
Sambil ku suapin Ferry terus melihat ponselnya tanpa berkedip.
"Sayang, kamu liat apa serius sekali?" tanyaku penasaran.
"Baca email yang dikirim Jerry" jawabnya tanpa menoleh padaku, yang ku jawab hanya dengan O.
Selesai makan, aku gosok gigi lagi kemudian aku membaca majalah fasion sambil menemani Ferry yang masih asik dengan ponselnya. Sehabis subuh kami berdua baru terlelap.
__ADS_1