Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Kebenaran


__ADS_3

"Jadi dong" sahut Lia sambil duduk tegak dan melepas pelukan Ferry, membuat alis si bule sudah mengerut erat.


"Oke tanyakan lah, aku akan menjawab sejujur mungkin"


"Jadi sebenarnya Apa penyakit Ferry?". Tanya Lia to the poin.


"Owh itu, dia tidak sakit. Dia hanya memiliki gangguan Psikis traumatik aja sejak dua belas tahun lalu".


Lia langsung diam terpaku, dia tidak percaya ternyata yang Ferry ceritakan benar.


"Maksudnya gimana dok?" Jantung Lia berdebar memastikan prasangkanya setelah mendengar sepenggal cerita dokter Gavin, ternyata apa yang Ferry ceritakan padanya merupakan kebenaran.


"Jadi dua belas tahun lalu Ferry mengalami kejadian menyedihkan dia tenggelam di kolam renang, konyol memang seorang juara renang malah tenggelam, bahkan mengalami koma selama beberapa hari. Setelah sadar baru lah Ferry menceritakan kalau dia mengalami kram pada kakinya saat dia terjatuh ke dalam kolam renang sehingga dia tidak bisa menggerakan kakinya sama sekali alhasil dia pun tenggelam. Tapi ternyata setelah di selidiki bukan seperti itu kejadiannya, Ferry berbohong. Aslinya dia bukan terjatuh tapi ada seorang gadis yang mendorong tubuhnya ke dalam kolam renang dengan sengaja. Nah akibat di dorong itu posisi kaki Ferry tidak stabil dan mengalami cidera benturan menyebabkan kram dan tak bisa digerakan akibatnya Ferry tenggelam. Untung saja gadis itu mencari bantuan untuk menolong Ferry kalau tidak mungkin dia kan mati tenggelam"


Lia menatap mata biru suaminya, dia jadi merasa bersalah karena ulahnya Ferry sampai mengalami penyakit aneh begitu.


Ferry yang melihat wajah istrinya penuh rasa bersalah, dia memeluk Lia dan membisikan "Aku malah bahagia kamu mendorong ku saat itu, karena aku jadi makin yakin kalau aku mencintai mu dan sangat menginginkan mu".


Ucap Ferry di telinga Lia, sambil menghujani Lia dengan banyak kecupan di wajah Lia membuat dokter Gavin jengah melihat kemesraan mereka berdua.


"Woi...masih ada orang low ini, parah banget sih beruang kutub kalau udah bucin nggak kenal tempat waktu....ckckckck".


Wajah Lia langsung merona karena malu diledek dokter Gavin, dia juga pake terbawa perasaan hingga Lia lupa kalau masih ada Gavin di sebelahnya.


"Siapa suruh jadi jomblo terus, jadi ngeneskan liat suami istri mesra-mesraan menunjukan kasih sayang.....hahahahaha" tawa Ferry dengan tidak tau malunya.


Sedang Lia sudah menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang Ferry menutupi wajahnya yang sudah memerah.


"Lia kamu masih mau dengar cerita ku tidak?" tanya dokter Gavin dengan kesal usai di ledek dan di tertawakan Ferry.


"Mau..mau" sahut Lia masih dalam pelukan Ferry karena saat Lia mau melepas pelukannya pada Ferry, bule itu menahannya. Jadi lah Lia ttp dalam pelukan Ferry.


"Hhuuffft...untung saja kamu kaya raya, kalau tidak aku malas berurusan dengan orang tak tau malu macam mu". Gerutu dokter Gavin melihat tingkah Ferry.


"Udah deh tidak usah iri begitu, kamu mau cerita, ya cerita saja, tidak usah usil dengan kami". Sahut Ferry yang mendengar gerutuan dokter Gavin.


"Jadi Ferry sejak kejadian itu slalu mengalami mimpi buruk tapi anehnya bukan dia yang tenggelam dalam mimpinya tapi justru gadis yang mendorong Ferry lah yang slalu dia mimpikan. Ferry selalu merasa cemas setiap hari takut mimpinya jadi kenyataan. Akhirnya ketakutan ini membuat Ferry menjadi Fobia terhadap genangan air dalam jumlah banyak termasuk air bathtub...."


"Tapi kami sering mandi berendam bersama di dalam bathtub dan aku tidak pernah melihat Ferry ketakutan". Lia merasa heran sendiri setelah mendengar lanjutan cerita Gavin.

__ADS_1


"Nah itu juga yang mau aku tanyakan pada suami mu karena sejak sebulan lalu orang ini tidak pernah menghubungi ku untuk konsultasi atau minta resep obat untuk menjalani harinya, padahal harusnya obatnya sudah habis dua bulan lalu. Akhirnya aku menelphon Jerry. Jerry memberi tahu ku kalau tuan muda Goucher sudah menikah dengan gadis dari negara IND. Awalnya aku tidak percaya sampai Jerry mengirimi ku foto buku nikah dan foto pernikahan kalian. Tidak di sangka ada juga wanita cantik yang baik hati mau dengan beruang kutub ini".


Lia dan Gavin langsung menatap Ferry seakan meminta penjelasan, membuat Ferry jadi salah tingkah.


"Kenapa kalian menatap ku seperti itu? apa salah ku, jika berada di dekat istri ku aku jadi nyaman dan tak pernah mengalami kecemasan seperti biasanya. Sampai aku juga lupa kalau aku takut dengan genangan air. Fokus ku hanya pada Lia"


Mendengar penjelasan Ferry jiwa kedokteran Gavin meronta tak sabar ingin mengajukan pertanyaan.


"Apa saat berjauhan dengan Lia kamu masih tetap bisa mandi berendam dalam bathtub?"


Ferry hanya menggeleng kepala. "Aku tidak tau, saat jauh dengan Lia aku hanya melakukan rutinitas harian ku seperti dulu cuma obat dari mu sudab tidak ku minum lagi sampai sekarang masih belum habis.


"Apa Lia gadis yang mendorong mu ke dalam kolam renang?"


"Iya memang dia orangnya" Jawab Ferry sambil mengeratkan pelukannya.


"Hhhhmm...pantas lah kalau begitu, nampaknya kecemasan mu hilang karena orang yang kamu khawatirkan selama ini sudah ada di depan mata mu".


"Jadi aku sudah sembuh?"


"untuk kepastian hal itu diperlukan beberapa tes untuk memastikannya"


"Nantinlah aku akan bicara dengan Jerry soal jadwalnya"


"Sok sibuk banget" gumam Ferry


"Memang hanya kamu yang sibuk, gini-gini aku juga merupaka dokter ahli neorologi sekaligus trapis kejiwaan termuda dan masuk majalah juga...hahaha"


Dokter Gavin mulai narsis dan membanggakan dirinya sendiri lagi.


Lia dan Ferry hanya saling pandang dan tak memperdulikan gavin yang sedang asik ngoceh membanggakan dirinya.


"Kamu sudah tidak dibutuhkan lagi disini, cepat sana sibuk lah dengan urusan mu. Jangan jadi nymauk di sini" usir Ferry pada dokter Gavin yang langsung mendapat pukulan kecil pada lengannya dari Lia.


"Hhmm...kalau begitu aku pergi dulu. Kalian lanjut lah bermesraan aku tidak mengganggu lagi"


Usai bicara dokter Gavin langsung pergi dari ruang tunggu ICU menuju ruangannya lagi untuk mempersiapkan diri menemani operasi tempurung kepala pada korban kecelakaan mobil beberapa jam lalu.


"Sayang, kapan-kapan kita ke pantai atau laut yuk?"

__ADS_1


"Ngapain?"


"Mastiin kamu akan baik-baik aja kalau lihat lautan"


"Owh, boleh. Nanti kita atur jadwalnya ya"


"Oke"


Lalu mereka berdua kembali hening dan menikmati kebersama masih saling berpelukan. Sampai Bimo dan Ujang datang.


"Hai kak Lia, kak Ferry. Kalau kalian lelah kalian pulang lah. Bimo yang jaga papa malam ini di temanin mang Ujang". Ucap Bimo sambil menunjuk mang Ujang yang baru masuk ke dalam ruang tunggu ICU.


"Mama, nggak kesini lagi Bim? tanya Lia sambil duduk dengan tegak.


"Aku larang kak, kasian mama nampak Lelah banget kurang tidur"


"Tapi mama baik-baik aja kan?"


"Sepanjang perjalanan dan sampai aku tinggal kesini sih mama terlihat normal dan tenang. Terlebih setelah mendengar penuturan dokter Gavin. Mama jadi jauh lebih tenang"


"Syukur lah, aku hanya cemas mama kembali drop lagi"


"Insyallah nggak kak, karena sekarang mama ikutan banyak kegiatan sosilaita jadi banyak temen yang slalu menguatkan dan menghibur mama"


Mendengar penjelasan Bimo, Lia pun merasa tenang dan tak khawatir lagi.


"Kalau begitu kakak pulang dulu ya Bim, kalau ada kabar apapun langsung telphon kakak" Bimo bingung harus jawab apa karena di belakang Lia kakak iparnya memberi kode untuk tidak melakukan permintaan Lia.


"Kamu denger nggak? kenapa malah diem aja?" Tanya Lia agak kesal karena Bimo diem aja nggak jawab pesannya.


"Iya kak, iya denger. Nanti Bimo akan kabarin oke"


sahut Bimo sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Oke kakak pamit kalau gitu" Lia pun memeluk dan mencium pipi adik sematawayangnya.


"ingat hubungin kakak, jangan Lia." pesan Ferry pada Bimo saat memeluk Bimo untuk pamit. Bimo hanya mengangguk menyetujui permintaan kakak iparnya.


Lia dan Ferry pun meninggalkan rumah sakit dan langsung kembali ke kediaman mereka.

__ADS_1


jangan Lupa like and komennya ya readers tericntah


__ADS_2