
Sepanjang jalan Lia mengagumi kampusnya. 'Luar biasa pantas saja Pratt institute disebut kampus terbaik di Negara A, bangunan begitu megah dan bernilai seni. Kelihatannya yang kuliah di sini hanya anak pintar atau kaya raya saja' bathin Lia sepanjang jalan melihat mahasiswa berseliweran mereka semua terlihat mengenakan barang-barang yang tak murah.
'Kenapa juga aku harus perduli, aku datang kuliah untuk menjadi designer yang terkenal begitu aku lulus' bathin Lia dan kembali fokus mencari ruang kelasnya mengikuti petunjuk arah.
'Ini dia kelasnya, syukurlah aku belum terlambat masih ada sepuluh menit tersisa' gumam Lia sambil mendorong pintu ruang kelas.
Begitu pintu ruang kelas terbuka semua mata langsung melihat ke arah Lia dan mulai berbisik.
"Gila cantik banget nih cewe asal mana nih dia keliatannya bukan asli negara A"
"Iya wajah mungilnya lagi bengong gitu gemesin banget"
"Lihat baju yang dikenakannya semua brand ternama semua walau modelnya sederhana"
"Anak orang kaya mana nih?"
Lia mulai sadar dari bengongnya karena melihat respon isi kelas yang menatapnya sambil bergosip tentang dirinya. 'Benar-benar menyebalkan' bathin Lia sambil memindai di mana dia akan duduk.
"Maaf apa bangku ini kosong?" tanya Lia saat melihat seorang gadis dengan rambut bondol tapi cantik dengan wajah eksotik latin.
"Kosong, kalau kamu mau boleh duduk di situ" sahutnya dengan senyum manis pada Lia.
"Terima kasih, nama ku Lia"
"Hai Lia, nama ku Jenifer Shark. Kamu panggil aku Jeni saja"
"Oke, aku boleh tidak meminjam buku catatan mu beberapa hari lalu"
"Tentu saja boleh, tapi aku tidak membawanya hari ini, memangnya ini Hari pertama mu kuliah?" tanya Jeni agak bingung kuliah baru masuk beberapa hari lalu dan Lia sudah bolos kuliah.
"Hehehe...iya ini hari pertama masuk kuliah, dua minggu lalu aku mengalami kecelakaan jadi baru bisa ikut kuliah hari ini" jelas Lia sambil tertawa canggung.
"Pantas saja aku baru melihat wajah mu hari ini" gumam Jeni yang terdengar Lia
Kreeekkk...suara pintu ruang kelas di buka, semua mata mengarah ke pintu kali ini tidak ada yang bersuara karena wajah yang muncul adalah dosen killer yang tak pernah berbelas kasih pada mahasiswanya.
Selesai sang dosen yang bernama Gadam Smith menyapa para mahasiswa dia pun mengabsen satu persatu siswa agar tidak ada yang bisa titip absen di kelasnya.
Giliran nama Lia di panggil. "Lia Putri Aghata" Lia mengangkat tangannya sambil mengatakan "Hadir" tapi tidak seperti siswa lainnya begitu mendengar jawaban dari sang mahasiswa sang dosen akan melanjutkan ke urutan berikutnya.
"Ternyata kamu designer yang sedang di gandrungi dan populer karena berhasil menjuarai lomba design international di Milan menjadi mahasiswa pertukaran di Pratt institute, aku sangat menantikan hasil karya mu yang lainnya nona Lia"
__ADS_1
"Master terlalu memuji, saya tidak sehebat itu. Hanya sedang beruntung" kilah Lia berusaha merendah.
"Bagaimana bisa keberuntung terjadi berkali-kali nona Lia, kamu jangan terlalu merendah, karena aku juga mendengar kamu menjuarai lomba couple antar kampus sebenua" puji sang dosen membuat pro dan kontra antara menyukai dan membenci Lia.
"Oke, saya lanjut absen berikutnya" akhirnya sang dosen melanjutkan pembelajaran di kelas setelah membuat Lia jadi terekspos di kelas, banyak mahasiswi yang cemburu karena kini mata para mahasiswa memandangi dan mengagumi Lia.
Buat Lia ini beban, artinya dia tidak akan bisa dengan tenang kuliah padahal dia sudah mengambil mata kuliah Full dan juga berniat itu kelas semester pendek agar cepat lulus kuliah.
"Lia abis mata kuliah ini kamu ikut mata kuliah selanjutnya tidak?" tanya Jeni usai kuliah dengan Mr Smith selesai.
"Iya aku hari ini ada tiga jadwal mata kuliah" sahut Lia sambil merapikan bukunya karena harus pindah kelas.
"Wow, kamu ambil mata kuliah Full semester ini?" Lia mengangguk, kamu luar biasa itu akan jadi maraton kamu lihat sendiri saja baru pertemuan pertama sudah dapet tugas belum lagi mata kuliah lain" keluh Jeni.
"Hehehe...mau bagaimana lagi, aku di kejar harus bisa lulus secepat atau masa depan ku jadi taruhannya" sahut Lia sekenanya malah membuat Jeni merinding.
"Siapa yang memberi mu target cepat lulus kejam sekali?"
"Seseorang yang berkuasa atas hidup ku...hehehe" jawab Lia sambil terkekeh.
"jangan-jangan kekasih mu yang tidak sanggup LDRan ya?" goda Jeni sambil menyikut lengan Lia pelan.
Lia segera bangkit dan menuju ruang kelas lainnya untuk ikut mata kuliah yang berbeda.
Saat Lia masuk kelas dia langsung di sambut oleh seorang wanita yang dia kenal dan paling tak ingin dia temui.
"Hai designer Lia, akhirnya kita bisa satu kelas. Sepertinya kamu mengambil mata kuliah Full ya, luar biasa sangat berdedikasi sekali kamu jadi mahasiswi pertukaran" Ujar Merry begitu melihat Lia masuk kedalam kelas.
"Designer Merry sungguh tidak ku duga bisa bertemu dengan mu di dunia nyata" sahut Lia acuh tak acuh.
'Sial sekali aku, kenapa bisa sekelas sama makhluk ini. Sepertinya untuk mata kuliah ini aku harus ganti kelas kalau tidak selama satu semester ini hidup ku akan sangat tidak nyaman' gumam Lia dalam hati.
Begitu kelas sore selesai, sebelum pulang Lia langsung pergi menuju ruang administrasi dia berencana untuk ganti kelas tapi ternyata kelas lain sudah Full.
'Sungguh sial, semoga Merry tidak merusuh hidup ku selama di kampus' bathin Lia sambil menuju keluar area kampus untuk menunggu Deni menjemputnya.
"Nyonya muda saya di sini" teriak seorang pemuda dengna tubuh tegap dan mengenakan seragam hitam hitam.
Lia pun berjalan mendekati orang yang meneriakinya. "Kamu?" tanya Lia
"Saya Deni, nyonya muda. Tuan muda menugaskan saya untuk menjadi supir nyonya muda jika tuan muda tidak bisa mengantar"
__ADS_1
Lia hanya mengangguk tanda paham dengan ucapan Deni karena sesuai dengan yang diinstruksinya Ferry.
Saat Lia baru duduk, Deni kembali bicara. "Nyonya muda maaf, apa ponsel nyonya muda di mode senyap?"
"Iya, kenapa?" tanya Lia heran.
"Anu nyonya muda, tuan muda meminta anda menjawab telphonnya"
'Astaga seharian ini aku sibuk pindah-pindah kelas cuma jeda sholat dan makan siang, sampai lupa lihat ponsel' gumam Lia dalam hati sambil mengeluarkan ponselnya yang sedang berkedip-kedip.
Belum juga Lia menjawab suara sang suami yang kesal sudah terdengar begitu dingin "Buang saja ponsel mu itu jika tak ingin digunakan, baru Hari pertama kuliah aku sudah dicuekin"
"Hehehe...maaf ya suam, aku benar-benar sibuk seharian ini pindah-pindah kelas mana sial banget ada satu mata kuliah yang sekelas dengan Merry" Mendengar suara Lia yang lelah dan penuh keluhan Ferry tak tega mau lanjut marah.
"Pindah kelas saja kalau begitu, biasanya tiap dosen pegang beberapa kelas yang sama?"
"Aku juga niat begitu tapi semua kelas yang lainnya Full tidak bisa tuker kelas" ujar Lia lemas.
"Hhmm...coba kamu kirim lembar KRS mi biar aku bantu istri ku agar tidak ada yang satu kelas dengannya"
"Memangnya suami ku bisa melakukannya?" goda Lia di balas dengan nada kesal yang di buat-buat oleh Ferry.
"Kamu meragukan kemampuan suami mu sayang?"
"Tidak berani..tidak berani, suami ku yang terbaik" ujar Lia sambil tertawa karena diujung telphon Ferry sudah tertawa duluan mendengar suara Lia yang meledeknya.
"Aku tau kamu sengaja bilang pada ku memang kamu tau kan aku pasti bisa membuat kamu pindah kelas?"
"Hehehehe ... akhirnya ketawan juga niat ku"
"Kalau suami mu berhasil menolong mu, imbalan apa yang akan kamu berikan?" goda Ferry membuat pipi Lia bersemu merah karena merasa arah pembicaraan Ferry menjurus ke hal itu.
"Tuan muda, kita sudah sampai" ucap supir Ferry yang terdengar Lia.
"sayang kita lanjut nanti ya....aku harus turun untuk ketemu pa walikota"
"Oke suam, semangat"
"Love you muuuaacch" ucap Ferry sebelum turun dan sambil keluar dari mobil dia belum mematikan sambungan telponnya menunggu Lia membalas pernyataan cintanya dan memberinya ciuman. Tapi penantiannya sia-sia karena Lia langsung memutus sambungan telphonnya.
'Dasar rubah betina, lihat bagaimana nanti aku menghukum mu' gumam Ferry sambil senyum sendiri dan berjalan ke dalam ruangan sang walikota.
__ADS_1