
Malam kian larut, sepi mulai menggelayuti sang rembulan, hawa dingin menyeruak masuk menyelimuti ruang rawat Ferry membuat Lia yang sedang terlelap menggigil merasakan hawa dingin karena selimut yang tersibak.
Ferry yang merasakan pergerakan Lia yang gelisah terbangun dan melihat sang istri yang kedinginan karena selimut yang terbuka
Ferry mendekatkan tubuhnya pada Lia dan memasukan Lia dalam pelukannya, memberi kehangatan pada sang istri agar mendapatkan kembali posisi ternyaman sehingga Lia dapat tidur dengan lelap
Musim dingin memang selalu saja membuat kemunculan sang fajar terasa lebih lama. Sang surya dengan malu-malu menampakan wujudnya memberi secercah cahaya dan kehangatan di sela-sela jendela kaca.
Dua pasang insan yang terlelap sambil berpelukan diatas ranjang pesakitan tak terganggu dengan sinar mentari yang mulai menerobos masuk menerangi kamar rawat Ferry sampai Jerry masuk dan membangunkan sang tuan muda karena alarm di ponselnya terus berbunyi dengan nada adzan yang tak Jerry mengerti.
"Tuan muda, ponsel anda terus berbunyi" ucap Jerry sambil menyolek bahu sang tuan muda agar terbangun.
perlahan Ferry mengerjapkan matanya namun sinar mentari menghalau penglihatannya yang baru saja tersadar dari tidur nyenyaknya
Lia masih belum terusik walau sang suami mulai mulai terjaga karena Jerry membangunkannya dengan mencolek lengan Ferry sambil bicara pelan di telinga sang tuan muda
Ferry mulai terbangun sepenuhnya, begitu dia melihat Jerry yang berdiri tak jauh dari ranjangnya langsung memberi perintah agar Jerry segera keluar dari kamarnya dengan lambaian tangannya mengusir Jerry keluar
Ferry tak ingin jerry terlalu lama dalam kamar rawatnya saat ini karena Lia hanya mengenakan pakaian tidur walaupun saat ini tubuhnya masih berbalut selimut. Tetap saja Ferry jengah jika ada pria lain yang melihat kemolekan tubuh mungil istrinya.
Jerry yang mendapat isyarat tangan Ferry mengusirnya keluar, walau dalam hati kesal tapi tetap saja melangkahkan kakinya dengan gontai keluar dari kamar rawat sang tuan muda.
'Huh, sudah dibangunin bukan makasih malah ngusir...ckckk' Gerutu Jerry dalam hati namun raut wajahnya tak menampakan sedikit pun kekesalannya pada kelakuan sang tuan muda.
"Sayang bangun yuk, sudah subuh" Ferry mengelus lembut pipi Lia, Lia yang merasa terganggu dengan keusilan Ferry langsung membuka matanya dan memasang wajah kesal.
"Apa sih yank, rese banget orang lagi enak-enak tidur juga, huh" gerutu Lia kesal tidurnya terusik.
Ferry yang melihat istri tercintanya nyerocos kaya petasan cabe rawit dan tidak ada titik komanya saat bicara hanya bisa tersenyum karena buat Ferry, Lia yang seperti ini sangat menggemaskan.
"issshh...diomelin malah senyum-senyum nggak jelas, huh" dengus Lia kesal lalu turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Jangan lupa wudhu sekalian, sudah masuk subuh" teriak Ferry saat melihat sang istri hendak masuk ke dalam kamar mandi.
Lia tak bergeming dan terus berjalan tanpa menyahuti ucapan Ferry.
__ADS_1
'Wanita ini, kapan kamu bisa ku taklukan sepenuhnya?' gumam Ferry sambil memandangi pintu kamar mandi dimana tubuh sang istri sudah menghilang dibalik pintu.
Sedang Lia yang sudah di dalam kamar mandi dengan cepat membersihkan diri dan gosok gigi bersiap melakukan ritual paginya bersama sang suami tercinta.
tok...tok...tok
"Tuan muda, nyonya muda, ini sarapan kalian berdua" ujar Jerry saat memasukin kamar pesakitan sang tuan muda sambil membawa goodie bag.
"Letak saja di sana Jer, nanti biar aku yang menyiapkan sendiri" sahut Lia sambil menunjuk nakas disamping ranjang Ferry.
Jerry hanya menganggu lalu melakukan apa yang Lia perintahkan kemudian kembali melangkahkan kaki untuk keluar.
"Kamu tidak sarapan disini Jer?" suara sang tuan muda membuat Jerry menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan sebelum keluar dari kamar sang majikan.
"Aku sarapan diluar saja bersama Leon dan lainnya"
mendengar sahutan Jerry, Ferry tak bergeming lagi hanya menatap aneh pada tingkah Jerry yang terasa tak seperti bisanya.
"Kenapa suam?" tanya Lia membuyar pikiran Ferry tentang Jerry
"Aku koq merasa Jerry hari ini menghindari ku ya?" gumam Ferry yang masih terdengar Lia.
"Sudah lah lupakan saja, lebih baik kita sarapan aja daripada memikirkan kelakuan Jerry" ujar Ferry saat melihat Lia sudah memegang dua mangkok bubur untuk sarapan meraka berdua pagi ini.
Lia tak menggubris lagi ucapan Ferry, Lia menyodorkan semangkok bubur pada Ferry yang disambut sang suami dengan senyuman.
"Makasih sayang ku"
"Harusnya kamu bilang makasihnya sama Jerry bukan dengan ku"
Mendengar sahutan sang istri, Ferry baru ingat dia tadi memang tidak mengucapkan terima kasih saat Jerry membawakannya sarapan. 'apa karena hal ini Jerry terlihat berbeda pagi ini?' gumam Ferry dalam hati.
"Kemarin ayam tetangga mati loh karena kebanyakan melamun"
"Ayam?" sahut Ferry yang bingung mendengar ucapan sang istri "tetangga mana yang punya ayam?" sambung Ferry lagi terlihat semakin bingung.
__ADS_1
"Hahahaha" Lia bukannya menjawab malah tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan sang suami.
"Kenapa malah tertawa? aku nanya serius ini" sahut Ferry dengan wajah bingung membuat Lia makin gemesh dengan wajah tampan sang suami
"Aaauu, sakit yank" teriak Ferry saat Lia mencubiti pipinya dengan gemesh.
cup...cup...cup. Lia mendaratkan banyak kecupan di pipi sang suami yang sebelumnya Lia cubit karena terlalu gemesh lihat wajah oon sang suami yang tetep tamfan pake banget.
"Hhhmmm...disakiti dulu baru di sayang, cuma kamu, satu-satunya wanita yang memperlakukan ku sekejam ini" ujar Ferry dengan wajah yang sedih dibuat-buat membuat liat mengecup bibir Ferry yang lagi manyum.
Mendapat serangan kenikmatan dadakan dari sang istri tentu saja tidak disia-siakan sang suami.
Ferry menahan tengkuk Lia agar tak bisa melepas pagutan yang Ferry lakukan. 'Siapa suruh kamu main-main dengan ku sayang' bathin Ferry sambil menyesap lembut bibir mungil sang istri yang slalu membuatnya candu.
Lia mulai kehabisan nafas karena serangan tiba-tiba Ferry. 'Sial, kenapa aku tadi pake iseng ngecup bibirnya sih. Jadi susah sendiri kan' gerutu Lia dalam hati karena sesaat Ferry melepas pagutanya, benar-benar hanya sesaat Ferry memberi Lia jeda untuk menarik nafas lalu kembali memagut lembut bibir sang istri sambil
tangan Ferry mulai menyusup masuk kedalam dress yang Lia gunakan, tangan itu mulai menjelajahi setiap inchi lekuk tubuh sang istri membuat Lia terbawa suasana dan gairahnya pun mulai terpancing oleh sentuhan yang Ferry lakukan.
Apalagi saat Ferry mencium lehernya sambil meremat gunung kembar miliknya, Lia tak kuasa lagi menahan gemuruh di dadanya.
"Aaaa..." akhirnya desah-an pun terlontar dari mulut mungil Lia
Mendengar ******* sang istri membuat Ferry makin lupa diri kalau saat ini dia seorang pasien dan sedang berada di rumah sakit.
Saat suasana makin panas, pintu kamar Ferry tetiba dibuka dari luar membuat dua sejoli yang sedang dimabuk asmara menghentikan aktivitasnya. Lia pun buru-buru turun dan merapikan dress yang dia kenakan.
'Sial kenapa mereka harus muncul saat ini sih?, sabar ya junior nanti malam aku akan berikan hak mu dengan sangat baik' gumam Ferry dalam hati sambil menarik selimut menutupi sang junior yang sudah terbangun sempurna
"Pagi boss, ini aku mengantar dokter Bella untuk mengecek kondisi boss pagi ini"
ucap Jerry santai tanpa menyadari situasi di dalam kamar sebelum dia membuka pintu.
'Eh, kenapa wajah si boss angker banget' gumam Jerry saat langkahnya makin dekat dengan ranjang sang tuan muda.
"Pagi tuan muda Goucher, apa yang anda rasakan pagi ini?" tanya dokter Bella ramah.
__ADS_1
"Lakukan saja tugas mu jangan banyak tanya" sahut Ferry ketus membuat dokter Bella dan Jerry menelan saliva-nya
jangan lupa like and komen ya readers maaf ya author lama gk update baru keluar dari rumah sakit, 14 hari kemaren terbaring di ranjang pesakitan karena harus perut tiba-tiba sakit setelah dilakukan banyak tes darah, rongen dan usg akhirnya ditemukan batu empedu dan kantongnya yang sudah bolong jadi harus menjalani operasi pengangkatan kantong empedu dan batunya.