
"Sayang bangun yuk" Ferry mengelus-elus punggungku dan menciumi puncak kepala ku. Mataku masih berat untuk ku buka jadi aku hanya bergumam menyahutin ucapan Ferry. "Hhhmm" gumamku sambil mengeratkan pelukan ku pada si bule. Rasanya malas sekali untuk beranjak dari ranjang, aku malah mengusel-usel di dada si bule.
"Sayang jangan salah kan aku, kamu yang memulainya" belum juga aku sadar sepenuhnya dari tidurku, tapi si bule menyerangku tanpa aba-aba, aku yang masih setengah sadar hanya mengikuti permainannya dan menikmati semuanya.
Melihat ku yang pasrah dan menurut Ferry tak ragu lagi melakukan serangan fajar padaku. Pergulatan diatas ranjang pagi itu pun terjadi berulang-ulang, ntah sudah berapakan kali kenikmatan itu ku raih, tapi si bule tak juga terpuaskan.
"Sayang udah dong aku cape" keluhku sambil terengah-engah.
"Dikit lagi yank, abis ini aku mandiin kamu biar seger" Ucap Ferry dan benar saja begitu dia selesai menjajah raga ku diatas ranjang, dia menggendongku menuju kamar mandi, dan pergulatan panas pun berlanjut sampai terkuras habis energiku melayani hasrat Ferry, baru si bule berhenti dan memandikan ku.
Badan ku rasanya pegal semua sampai ketulang-tulang, usai mandi lama aku terduduk di depan meja rias hanya dengan bathroob. Aku mengambil foundation untuk menutupi bekas kiss mark yang Ferry tinggalkan di area leher, bahu dan dada atas karena dress yang ada di paper bag semalam kerahnya model sabrina. 'Huuuffft' tarikan nafas panjangku membuat si bule bergeming dan beralih menatapku bingung.
"Kamu kenapa?" tanya si bule kaya orang nggak sadar abis bikin istri susah.
"Semua karena kamu" gerutuk ku lalu berdiri menuju walk in closed untuk mengganti baju.
Siapa yang sangka si bule melihatku ngambek dan menghentakan kaki saat meninggalkannya yang masih akan berbicara, langsung berjalan menyusul ku ke dalam walk in closed.
Saat aku menutup lemari usai mengambil paper bag, ku lihat si bule berdiri sambil bersandar di pintu masuk walk in closed. Membuatku terkejut melihatnya.
"Astaghfirullah, Kamu bisa tidak jangan buat orang jantungan. Muncul tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Memangnya kamu jalangkung, hah"
Dengan kesel aku meninggalkan walk in closed dan menabrak lengan Ferry saat berpapasan di depan pintu. Bukan ku sengaja tapi karena ukuran pintu hampir habis dimakan tubuh Ferry yang dengan santai berdiri bersandar disana.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk mengganti baju, betapa kagetnya aku saat menatap tubuh ku dipantulan cermin. 'gila si bule ini bener-bener kerasukan seluruh tubuhku jadi merah semua karena ulahnya'.
Selesai mengenakan baju aku memastikan kalau kiss marknya sudah tidak terlihat baru lah aku keluar dari kamar mandi untuk mengeringkan rambutku dengan hairdryer. Hari ini aku berniat menggerai rambutku tapi aku akan mengepang bagian kanan dan kiri rambutku lalu dijadikan pita dibagian belakang kepala ku, sehingga walaupun rambut ku tergerai tidak akan mengganggu ku saat bergerak.
Seperti biasa untuk hari-hari aku hanya akan berdandan natural tanpa eyeshadow, hanya pelembab, tabir surya, bedak, lipstik dan eyeliner biar mata yang kecil bisa terlihat..hehehehe
__ADS_1
Saat aku mau mengambil tas dan juga flatshoes. aku baru inget kalau semua ada di hotel. Terpaksa aku keluar hanya dengan sandal hotel.
Ferry yang melihatku keluar dari kamar bertanya dengan santai. "Sudah siap?, kesini lah kita sarapan dulu".
Aku jalan mendekati Ferry yang sudah duduk di meja makan lebih dulu.
"Kenapa manyun gitu mukanya?, masih kesal dengan ku?" tanyanya membuatku shock. 'tumben dia sadar kalau aku kesel sama dia, biasanya pura-pura cuek aja'
"Ya masih kesal, cuma bukan karena itu..." ucap ku terjeda bingung gimana ngomongnya.
"Trus..." Ferry meletakan kembali sendok dan garpunya lalu menatapku, mencari kebenaran dari kata-kata ku.
"Hhhmmmm...masa aku jalan-jalan pake heels nikah kemarin"
"Cuma karena itu?" aku hanya mengangguk.
"Nih, tadi malam aku minta pegawai resort untuk membelikan ini untuk mu di toko terdekat dan mengantarkannya pagi-pagi kesini". ucap Ferry yang sudah berdiri di depanku.
Penjelasan Ferry membuatku manggut-manggut karena nggak percaya si bule sedetail ini memperhatikan segala kebutuhannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
'Wow, beneran flatshoes'. Mataku sontak berbinar-binar menatap si bule yg masih berdiri di depan ku dengan senyum manis dan tatap lembutnya.
"Makasih sayang" ucapku sambil mengenakan flatshoesnya.
"Kembali kasih, anggap hadiah buat rasa lelah dan obat kesal mu"
Mendengar ucapan Ferry jadi menyadarkan ku, 'Owh iya aku kan lagi ngambek sama ini bule'. bathin ku. 'Sekarang kalau aku melanjutkan ngambek lagi akan sangat aneh sepertinya'. Ya sudah lupakan saja, mana seru ngambek sekarang, nanti yang ada jalan-jalannya jadi nggak seru.
"Siapa yang ngambek, itu hanya perasaan dek Fery saja" ucapku santai dengan nada meledek Ferry. Si bule yang dipanggil ade langsung melotot.
__ADS_1
"Sekali lagi kamu berani memanggilku seperti itu, akan aku buat kamu nggak bisa keluar dari kamar hotel selama seminggu".
Mendengar Ancaman Ferry membuatku melotot dan bergidik ngeri membayangkan seminggu tidak keluar kamar. Bisa hancur tubuhku dilahap olehnya, sangat mengerikan.
Aku pura-pura tak mendengar ucapannya, langsung berjalan menuju meja makan. Duduk manis makan sarapan yang sudah pesan si bule. Kami makan dengan santai tanpa obrolan sama sekali.
"Aku sudah selesai" ucapku sambil merapikan alat makan ku dan bangkit berdiri. Aku kembali ke kamar untuk merapikan barang-barangkan karena sepertinya kami akan langsung cek out.
"Udah selesai belum?, jadi jalan-jalan tidak?"
Ferry berdiri di pintu kamar sambil melihatku yang sedang merapikan pakai kotor kami dan juga sepatu ku.
"Sedikit lagi, tentu saja jadi" Ujarku dengan cepat
"Butuh bantuan tidak?" basa basi sekali pria ini, kalau memang niat bantu ya bantu jangan hanya bicara dan berdiri saja apa gunanya.
Tentu saja semua itu hanya di pikiran ku, yang ku keluar dari mulutku hanya "tidak perlu" dan sebuah gelengan kepala.
"Aku tunggu kamu di depan kalau begitu" ujar Ferry sambil berlalu.
'Tunggu ya tunggu saja buat apa lapor, dasar tidak berperasaan' gumamku.
"Kamu bilang apa?" tiba-tiba suara bariton Ferry terdengar. 'Dia belum pergi ternyata'
"Tidak, aku tidak bilang apa-apa..sudah keluar sana" aku bicara dengan suara rendah berusaha untuk tidak terdengar panik karena ketawan abis ngatain dia tidak berperasaan.
"Kalau butuh bantuan, apa salahnya beritahu aku dari pada menggerutu dibelakan ku. Ucapan ku benar tidak?"
"Benar...benar, kamu memang slalu benar" sahutku dengan cepat agar masalah ini tidak makin panjang, dan kami bisa secepatnya pergi jalan-jalan.
__ADS_1