
"Eits...mau kemana?" Ferry menarik tangan Lia yang buru-buru berjalan menjauhi Ferry begitu pintu apartemen di tutup
"Mau ke ruang kerja ku suam, gaun Shella harus mulai ku cicil mengerjakannya kalau tidak nanti tidak akan selesai".
"Hhhmmm...tak bisakah dikerjakan lain waktu?" Ucap Ferry sambil memojokan tubuh Lia di dinding dekat pintu apartemen.
"Maaf ya suam, jadwal kuliah ku padat sekali tiap hari tiga sampai empat mata kuliah selama lima hari dalam sepekan belum lagi mulai senin depan aku mulai melapor ke YZ Collection untuk mulai magang" ujar Lia panjang lebar dalam kukungan Ferry.
'Sial Jantung ku berdegub kencang sekali, please bersahabatlah dengan ku wahai tubuh jangan tergoda si bule' bathin Lia melihat keadaan yang ujungnya akan berakhir di lahap Ferry.
"Baiklah, aku ke ruang kerja ku dulu kalau begitu" Ucap Ferry sambil melepas kukungannha dan berjalan meninggalkan Lia begitu saja menuju ruang kerjanya.
'Ehh...tumben' gumam Lia dalam hati tak percaya sang suami melepaskannya begitu saja.
"Tunggu suami" panggil Lia saat Ferry baru melangkahkan kakinya meninggalkan Lia.
"Tidak rela aku melepaskan mu?" goda Ferry membuat wajah Lia bersemu merah hingga telinga.
"Kamu mau aku buatkan coklat panas dan cemilan?" tanya Lia menutupi perasaannya yang malu.
"Tidak usah yank, aku tidak akan lama. Cuma ada beberapa berkas yang belum selesai ku tangani" ucap Ferry sambil mengelus kepala Lia dan berbalik pergi meninggalkan Lia yang masih berdiri termenung melihat tingkah suaminya yang tak biasanya.
'Apa tadi aku salah bicara ya?' pikir Lia merasa perubahan Ferry karena kata-kata dan sikapnya. 'Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan menanggapinya, mungkin memang benar Ferry ada berkas yang mendesak untuk ditangani' Pikiran Lia dibuyarkan dengan suara ponselnya yang berdering.
Lia berlari ke kamarnya untuk mengambil ponsel. 'Ada mami malam-malam begini telphon?' bathin Lia sambil menggeser icon hijau di ponselnya.
"Halo Mi, apa kabar?" sapa Lia mengawali pembicaraan.
"Mami baik-baik saja sayang, kamu sendiri gimana kabarnya? mami dengar hari ini sudah mulai kuliah"
"Iya mi, hari ini kuliah pertama Lia. Semuanya berjalan lancar dan aman tentram"
"Syukurlah mami senang mendengarnya. Mami telphon sebenarnya mau tanya apa Shella ke sana tadi?"
"Iya mi, pas Lia sampai apartemen Shella telphon mau kesini tapi setelah makan malam tadi Shella sudah pulang mi di antar Deni"
"Owh syukurlah, anak itu benar-benar keterlaluan keluar rumah tidak bilang siapa pun jadi saat mami sampai rumah dia tidak ada di kamarnya dan ponselnya masih ada di atas tempat tidur jadi mami tidak bisa menelphonnya"
"Mungkin sekarang masih di jalan mi, karena baru banget keluar dari apartemen.
"Ya sudah kalau gitu mami tidak ganggu kamu lagi. Nanti suami mu yang overprotektif protes lagi mami ganggu jam kebersamaan kalian".
"Tidak koq mi, Ferry sedang di ruang kerjanya"
__ADS_1
"Wah, hebat sekali anak itu istri cantiknya sudah sehat dia malah sibuk bekerja. Kalian tidak sedang bertengkar kan?"
"Tidak mi, tadi Lia yang duluan mau menyulam gaun Shella jadi Ferry pun menyibukan dirinya di ruang kerja"
"Owh pantas saja kalau begitu, Harusnya sih Ferry memang sibuk karena tiga hari ini Papi sedang keluar kota ada proyek di kota C tadi mau nyuruh Ferry tapi mengingat kamu sakit papi tak ingin bertengkar dengan Ferry akhirnya papi yang berangkat"
"Maaf ya Mi, jadi mami yang ditinggal dinas papi sekarang" ujar Lia dengan nada sedih dan tak enak hati.
"Ehh...tidak apa-apa sayang itu memang kewajiban papi, cuma sejak Ferry menjadi Vice President papi selalu menyiksa anak itu. Hampir semua hal papi serahkan ke Ferry untuk mengerjakannya". Jelas mami cepat agar Lia tak salah paham dengan ucapannya.
"Kamu jangan merasa bersalah ya sayang, mami bicara sama sekali tidak berniat menyindir mu atau pun menyalahkan mu" ucap Mami menenagkan Lia.
"Iya mi, maafin Lia ya"
"kamu kenapa minta maaf lagi? kamu nggak salah apapun sayang. Pokoknya kamu nggak boleh sedih, nanti kalau baperan mami kapan punya cucunya...hehehe" Goda mami mengalihkan pembicaraan.
"Mami...Lia belum mau hamil sekarang" ucap Lia dengan wajah sudah memerah.
"Hamilnya belum mau tapi bikinnya mau dong...hehehehe" mendengar ucapan mami otak Lia sudah melalang buana mengingat kejadian di atas ranjang bersama Ferry.
"Mami...iihhh" Lia sudah tak mampu berkata-kata lagi"
"Hahaha...sudah mami tidak menggoda mu lagi, kamu memang gadis baik-baik yang belum tercemar mami tak ingin merusak mu, bye" ucap Mami lalu memutus sambungan telphonnya.
Lia menutup wajahnya karena malu sendiri dengan otaknya yang piktor. 'Tidak boleh...tidak boleh, kenapa aku jadi mesum gini sih. Ayo bangun Lia kerjaan menunggu mu' ujar Lia dalam hati membuang jauh-jauh pikiran kotornya
Tok..tok..tok
Ferry mengetuk pintu ruang kerja Lia setelah dia ke kamar mereka tapi snag istri belum ada di kamar.
Tak mendengar suara dari dalam ruang kerja Lia, Ferry pun membuka pintu ruang kerja Lia. 'Wanita ini kebiasaan bekerja pun menggunkan earphon...ckckck' gumam Ferry.
"Masih lama yank?" tanya Ferry sambil mengecup puncak kepala Lia.
Lia yang tak mendengar pertanyaan Ferry mendongakan kepala karena merasakan seseorang mencium kepalanya dan bau Familyar menyeruak ke dalam rongga hidungnya.
"Suami, kamu sudah lama di sini?" tanya Lia sambil melepas earphonenya khawatir sang suami dari tadi menunggu responnya tapi dia tak mendengar karena menggunakan earphone.
"Belum yank, baru koq. Aku boleh minta sesuatu tidak?" tanya Ferry membuat Lia agak bingung.
"Boleh tidak?" tanya Ferry lagi karena Lia tidak merespon pertanyaannya.
"Boleh suam, kamu mau minta apa memangnya?" sahut Lia dengan menahan nafas agak takut melihat sang suami yang nampak serius.
__ADS_1
"Boleh tidak jangan gunakan earphone tiap kali kamu bekerja atau mengerjakan tugas kuliah ataupun mandi berendam" pinta Ferry dengan wajah serius.
"Tap..." sahut Lia langsung dipotong Ferry. "Dengarkan aku dulu jangan langsung ingin membantah ku" mendengar ucapan Ferry, Lia menundukan kepalanya ada rasa sesak di dadanya tiap kali Ferry bersikap begitu tegas.
"Aku tidak tidak mau tau alasan mu apa menggunakan earphon. kalau alasan mu untuk fokus kerja agar tidak terganggu dengan kebisingan diluar kamu tenang saja ruang di apartemen ini kedap suara jadi apapun yang terjadi di balik pintu tidak akan pernah terdengar keluar. Kalau alasan mu untuk mendapat ketenangan dengan mendengarkan lagu kamu bisa menyetel musik dari ponsel mu dan menyambungkannya dengan Bluetooth speaker disana maka kamu bisa mendengarkan lagu apapun"
"Saat mandi aku sudah tidak pernah menggunakan earphone" gumam Lia pelan dengan suara menahan tangis.
Ferry menghembuskan nafas berat. 'Wanita ini pasti mau menangis sekarang, Ferry kamu lupa kalau istri mu ini baperan' bathin Ferry sambil berjongkok di depan Lia.
"Maaf ya yank, kalau cara ku menyampaikan isi hati ku membuat mu sedih. Tapi kebiasaan mu ini, benar-benar tidak baik sayang ku, apa lagi kalau kamu sudah mulai bekerja di kantor nanti ada orang yang masuk ke kantor mu kamu tidak sadar akan sangat merepotkan diri mu sendiri kalau yang masuk orang jahat" ucap Ferry sambil menatap sang istri yang terus menundukan kepala.
"Iya suam, next time nggak akan gitu lagi" ucap Lia masih dengan wajah menunduk
Perasaan Ferry jadi tidak karuan melihat Lia yang terus menundukan kelapa tak bersedia menatapnya padahal Ferry sudah berjongkok di depan Lia agar bisa menatap wajah sang istri.
Akhirnya Ferry tak kuasa menahan diri lagi, dia pun menggendong tubuh Lia dan membawanya ke kamar mereka.
"Aaaa..." teriak Lia ketika tubuhnya tiba-tiba melayang
"Kita lanjut bicara di kamar" mendengar ucapan Ferry membuat Lia membenakan wajahnya di dalam dada Ferry dia tak ingin Ferry melihat matanya yang memerah menahan tangis.
Ferry membaringkan tubuh Lia diatas ranjang, lalu dia duduk di samping dengan kaki masih menjuntai dilantau namun kedua tangannya mengukup tubuh Lia, dan wajahnya menatap wajah sang istri dengan tatapan penuh cinta yang penuh rasa bersalah ketika melihat manik mata sang istri memerah.
"Maafin aku ya sayang, aku tidak bermaksud membuat mu bersedih" ucap Ferry sambil mengecup kedua mata sang istri.
"Iya suam nggak pa-pa, itu memang salah ku" ucap Lia pelan
"Iya tapi seharusnya aku lebih lembut saat menegur mu. padahal aku sudah menekan sekuat mungkin emosi ku" ujar Ferry merasa bersalah.
"Next lebih lembut lagi ya suam, aku beneran takut kamu yang seperti itu" ujar Lia merendahkan suaranya agar tak memancing amarah sang suami.
"Maaf ya sayang, tempramen ku memang buruk, tidak akan pernah ada lain kali. Aku janji ini yang terakhir"
Lia memangkup kedua pipi sang suami. "Jangan menjanjikan sesuatu yang belum pasti mampu kamu wujudkan"
"Kamu meragukan kesungguhan ku?" ucap Ferry dengan nada sedih.
"Bukan, aku hanya tak ingin lebih kecewa ketika kamu melakukannya diluar kendali mu dan membuat ku menyesal karena telah mempercayai janji mu"
"Kamu cukup berusaha keras saja, semarah apapun kamu pada ku jangan naikan intonasi mu. Itu sudah cukup untuk ku"
"Baiklah, semua sesuai mau istri ku. Sekarang kita bersih-bersih, sholat dan tidur. Agar besok bugar untuk melakukan aktivitas yang padat.
__ADS_1
Malam indah mereka habiskan dengan tenang dan damai tanpa keringat.
jangan lupa like and komen