
Aku turun membawa nampan dengan piring kotor bekas sarapan ku. Aku memindai mini bar dan ruang. tamu mencari sosok suamiku tapi tak terlihat batang hidungnya.
"Neng Lia, nyari den Ferry ya? celingukan gitu" tanya si mbok sambil mengambil nampan dari tangan ku.
Aku hanya mengangguk. "Mbok yang lain pada kemana?" tanyaku heran karena rumah sepi sekali.
"Tuan Pras, den Bimo, den Malika dan Neng Aisyah pergi berenang di taman komplek. Nyonya dan adiknya pergi ke rumah sakit" Jelas si mbok.
"Suamiku?" tanyaku spontan karena dari rentetan nama yang diabsen si mbok tadi ada nama suamiku.
"Den Ferry diruang kerja tuan" mendengar penuturan si mbok, aku mengerenyitkan alisku. "Koq bisa disana mbok?" tanyaku heran.
"Disuruh nyonya tadi neng, saat liat den Ferry sibuk kerja di meja mini bar" Ujar si mbok menghilangkan penasaranku.
"oke deh kalau gitu Lia ke ruang kerja papa dulu" pamitku sambil berlalu meninggalkan si mbok yang mulai sibuk di dapur.
Aku mengetuk pintu ruang kerja papa lalu ku buka pintunya karena tak juga ada suara yang mempersilahkan ku masuk.
"Ada apa?" tanya Ferry menghentikan kerjanya dan menatapku sambil tersenyum.
"Emang aku kalau nemuin suami pas ada apa-apa aja ya bolehnya" tanyaku sambil memicingkan mataku. " Atau aku ganggu kerja kamu, Ya udah aku keluar aja" ucapku dengan nada ngambek dan berbalik badan menuju pintu keluar.
Tanganku sudah di handle pintu tapi si bule tak juga menghentikan langkah ku. 'iissshhh....nyebelin banget sih, koq dia nggak mencegahku sih' aku mulai menggerutu karena Ferry cuek aja aku mau keluar lagi.
Ferry tak mencegahku pergi, aku pun akhirnya keluar dari ruang kerja papa. Balik ke kamar ku, mendesign untuk membunuh rasa kesalku. Ntah sudah berapa lama aku menggambar sampai suara Aisyah mengetuk pintu kamarku barulah aku berhenti mendesign.
"Kak Lia sudah bangun belum?" tanya Aisya sambil mengetuk pintu.
"Sudah, ada apa?" ujarku saat membuka pintu
"Kak Lia abis makan siang nanti, ajarin aku menyulam ya" Pinta Aisyah yang ku setujui. Kami pun janjian di taman belakang kebetulan disana ada gazebo yang bisa digunakan untuk belajar menyulam sekaligus mencari inspirasi untuk melukis.
__ADS_1
"Ya udah sekarang Aisyah bawa semua peralatan yang kemarin kita beli ke gazebo taman belakang, nanti abis makan siang kita belajar menyulam". Perintahku pada Aisyah sambil menuruni anak tangga. Aisyah pergi ke kamar tamu yang iya tempati selama menginap disini sedangkan aku ke dapur berniat membantu si mbok menyiapkan makan siang.
"Mbok ada yang bisa Lia bantu?" tanyaku begitu melihat si mbok masih sibuk di depan wajan.
"Tolong bawakan makan yang sudah mateng aja ke meja neng sama tata mejanya, si mbok masih numis capcay dulu" ujar si mbok, yang ku oke kan dan langsung ku bawa satu persatu hidangan yang sudah di siapkan si mbok ke meja makan dan ku tata Meja makan sesuai jumlah orang yang saat ini ada di rumah.
"Mbok ikut makan di meja sama kita? biar Lia tambahin piringnya lagi?" tanyaku pada si mbok.
"Nggak usah neng si mbok makannya nanti aja di belakang biar santai, makan dimeja si mbok pegel nggak bisa pake tangan" jawab si mbok yang ku anggukan.
Saat semua hidangan siap. Aku mulai memanggil trio krucil, yang muncul pertama kali Malika.
"Malika bisa tolong kak Lia panggil papa dan juga kak Bimo dan Aisyah untuk makan siang" pintaku begitu ku lihat Malika mendekat.
"Aku sudah disini kak" sahut Aisyah sambil dari arah taman belakang.
"Berarti tinggal papa dan Kak Bimo, Bisa Malika?" tanyaku memastikan.
Tiba-tiba ada sebuah tangan besar melingkar di pinggangku, dengan aroma tubuh yang familiar, membuatku memutar tubuhku.
"Koq ada disini?" tanyaku heran melihat si bule tiba-tiba ada di ruang makan.
"Denger suara kamu memanggil untuk makan siang, jadi langsung kesini setelah merapikan berkas-berkas ku" jelas Ferry dengan tangan masih melingkar ditubuhku.
"Kalau begitu duduk lah yang manis di meja" ucapku sambil melepas pelukan Ferry dan menggandengnya duduk di meja makan sambil menunggu yang lainnya.
Tak menunggu lama satu persatu datang dan duduk di meja makan. Kami pun makan siang dengan begitu harmonis diselingi obrolan-obrolan ringan dan juga canda tawa karena ulah Bimo dan Malika yang saling menjatuhkan dalam candaannya. Aku banyak diam dan jadi pendengar saja membuat si bule berkali-kali bertanya.
"Ada apa?, ada yang mengganggu pikiran mu?" ujar Ferry sambil berbisik.
Aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Aku sendiri juga tidak tau apa yang terjadi padaku, rasanya malas sekali bicara, mungkin karena masih lelah karena semalam, ntah lah.
__ADS_1
"Makan lah yang banyak" ucap Ferry sambil mengambil potongan daging dan meletakannya di piringku.
"Terima kasih" ujarku sambil tersenyum manis.
Akhirnya makan siang punya berakhir, semuanya kembali ke aktivitasnya masing-masing termasuk Ferry, Sedangkan Malika dan Aisyah masih di ruang makan mereka menunggu ku mengajari mereka melukis dan menyulam.
"Malika kamu siapkan lah peralatan melukis di gazebo taman belakang" pintaku pada Bimo yang diangukinnya.
"Aisyah bantu kak Lia merapikan meja makan, kasian si mbok sudah capek masak, ikut makan pun tidak masih harus dipake bersih-bersih". jelasku panjang lebar agar Aisyah mau melakukannya.
Aku bersama Aisyah membersihkan meja dan si mbok yang mencuci piring.
Selesai bersih-bersih meja makan, aku dan Aisyah pergi ke gazebo taman belakang.
Suasana alam terbuka membangkitkan gairah untuk melukis, rasanya nyaman sekali disini. Udara segar karena di taman belakang ditanamin pohon pinus dan beberapa pohon buah seperti alpukat, durian dan mangga ada juga bunga-bunga cantik berwarna warni menambah suasana ceria penuh semangat ditambah lagi ada gemericik aliran air terjun buatan dari kolam ikan. Benar-benar menenangkan. Sudah lama aku tidak duduk di gazebo sambil melukis.
Dreeet....dreeett....dreeett
Ponsel dalam saku hot pants yang ku kenakan. Ehh,,,si bule yang telphon.
"Ada apa?" tanyaku dengan nada heran.
"Kamu ngapain di taman belakang?" bukannya memjawab pertanyaanku dia malah balik nanya...dasar bule tengil gtu, superior banget.
"Aku mau ngajarin Aisyah merajut dan mengajari Malika melukis disini, biar dapet fillnya" ujarku sekenanya.
"Ooh...sayang, kapan-kapan sepertinya sangat romantis jika kita bercinta di gazebo itu". Mendengar ucapan Ferry aku tak mampu berkata-kata benar-benar diluar nalarku imajinasi dan fantasi ini bule.
"Sayang kamu denger tidak?" Ferry bertanya lagi dengan tidak sabaran ingin mendengar jawaban dari ku.
"in Your Dream beb" jawabku dan langsung ku matikan handpohone ku, males di telphon si bule tengil itu lagi.
__ADS_1
Aku duduk di gazebo sambil menunggu Aisyah dan Malika.