
"Sayang, kita makan di Wilshire Senopati? tanyaku meyakinkan diri kalau aku nggak salah denger.
"iya, kenapa? kamu nggak suka menu western?", kita ganti restoran kalau gitu" ucapnya santai.
"Bukan gitu, aku cuma mau mastiin aja koq" ujarku sambil membuang wajahku menatap keluar jendela, takut Ferry melihat bahwa wajahku mulai merona membayangkan makan malam romantis sama cowo ganteng yang berstatus suamiku. Senyum di wajahku pun tak lagi bisa ku sembunyikan, rasanya sulit dipercaya. Aku kini sudah menjadi istri orang, bukan sembarang orang lagi, anak sultan gaes. Kebayangkan berapa banyak wanita yang memimpikan menikah sama cowo ganteng, cinta banget sama kita plus duitnya nggak berseri alias tajiiiir abis?. (Author pun memimpikan hal itu, tapi apa mau dikata jauh panggang dari api..hehehe).
"Sayang ini tadi aku liat di toko baju ada perhiasan kayanya cocok buat kamu gunakan dengan gaun itu biar leher mu tidak kosong" ujar Ferry sambil menyodorkan sebuah kotak perhiasan. Aku tidak mengambil kotak itu, akhirnya Ferry membuka kotak itu dan mengambil kalung bermata biru senada dengan gaun yang ku gunakan. Dan mengalungkannya dileherku.
"Cantik banget kalungnya, pasti mahal deh" Bathinku sambil menyentuh kalung pemberian Ferry yang kini sudah melingkar dileherku. Dasar orang kaya kelakuannya bener-bener nggak bisa ditebak. Aku juga dari orang yang terbilang kaya tapi kalau dibandingan Ferry nampaknya harta kekayaan papa nggak ada seujung kuku kekayaan keluarga Goucher, mungkin itu alasan papi Ferry tidak setuju dengan pernikahan kami" pikirku membuat raut wajahku jadi sendu.
"Hei, kenapa? tidak suka dengan kalungnya?", ucap Ferry sambil memegang daguku dan mengangkatnya agar aku menatapnya. Aku hanya menggelengkan kepala.
"Lalu, kenapa wajahmu jadi sendu?" ujarnya sambil merangkul ku dalam pelukannya.
"Andai papi dan mami mu menyetujui pernikahan kita, maka lengkap sudah kebahagian ku memiliki mu" ucapku yang langsung mendapatkan hujan kecupan di kepala dari si bule yang sekarang sudah sah jadi suamiku walau tanpa restu orang tuanya.
"Siapa yang bilang mami ku tidak setuju, hah?" ujar Ferry sambil mengelus rambut kepala ku.
Aku langsung mendongakan kepala menatap mata birunya yang menenangkan. "Mami setuju koq, buktinya saat ini mami sedang menunggu kita di restoran" ujar Ferry santai, yang membuatku langsung menegakan tubuhku. "Aku akan ketemu mertua ku, apa yang harus aku lakukan?" Bathin ku panik, yang langsung mendapat elusan dipunggung tanganku.
__ADS_1
"Santai sayang, mami asli IND jadi dia mengerti sekali budaya negara kalian, bahkan mami tanya padaku tadi gimana rasanya dapat istri masih di segel?.....heheheheehe" ucap Ferry sambil terkekeh dan mengelus tanganku membuatku merona membayangkan siang pertama kami.
"Mami asli IND? tapi kena kamu bule bgt cuma rambut aja yang hitam" ucapku sambil mengacak-acak rambutnya.
"Papi asli Negara A dengan mata biru, jadi ketampanan ku genetik kuat dari papi .... dari mami aku dapat warna rambut dan sifatnya saja". jelas Ferry
"Jadi mami tengil kaya kamu?" gumamku yang langsung mendapat jitakan di dahiku
"Sembarangan aja kalau ngomong, mami itu sekarang mami mu juga...hormati lah mami sedikit kalau bicara". ucap Ferry dengan nada tegasnya
"ehhh...kan tadi kamu yang bilang sifat mu itu dapat dari mami ..... kenapa jadi jidatku yang kena jitak....ckckckkk" gerutu ku.
"Kamu nilai sendiri saja lah nanti, bagaimana mami menurut mu, bicara dengan mu slalu saja ujung-ujungnya bikin emosi" jawab Ferry mulai kesal. walau masih merangkul dan mengusap-usap punggung tanganku.
"Sayang, kamu tau nggak. Kamu tuh kalau lagi ngambek gini ngegemesin banget, pengen aku gigit....hehehehehe". ucapku sambil mainin bulu halus yang mulai tumbuh di dagu Ferry.
"Gigit aja, aku nggak masalah di gigit dagunya asal kamu happy". ucapnya sambil menoel hidungku dengan hidungnya membuat jarak wajah kami jadi dekat sekali, dan rona wajahku muncul perlahan serta degup irama jantungku tak karuan.
"I Love You Lia Putri Aghatan, I really...really love you". Ucapnya yang kemudian memagut bibirku mesra membuat ku tak kuasa menahan gejolak dalam dada dan tak rela melepas tautan bibir Ferry...lama kelamaan suasana di dalam mobil jadi makin panas, kami jadi terbawa suasana sampai tiba-tiba sang supir menghentikan mobilnya.
__ADS_1
"Kita sudah sampai di restore Wilshire Senopati pak, bu?" ucap si sopir tanpa menoleh kebelakang karena ada skat pembatas antara kursi supir dan penumpang.
Suara sang sopir membuat kami melepaskan tautan bibir kami. Aku merapikan dress ku dibantu Ferry, karena tadi dia sempat menurunkan resleting dressku agar dia mudah bermain dengan gundukan kembar ku.
"Maaf ya sayang, aku terbawa suasana...hehehe" ucap Ferry sambil terkekeh melihatku manyun.
"Kamu tuh kebiasaan, nggak pernah liat-liat tempat dan waktu...main sosor aja" gerutuku.
"Kamu sih malah nikmatin dan bales serangan ku...ya jadinya gitu deh" ucap Ferry sambil menarik resleting dress ku.
Aku males menjawab ucapan Ferry lanjut merapikan riasan ku dan juga menambah lipstik yang habis dilumat Ferry, dan mengelap bibir dan pipi Ferry dengan wipes karena banyak bekas lipstik ku di hampir seluruh wajahnya. "Ternyata benar juga, aku nggak bisa nyalahin sepenuhnya kejadian barusan sama si bule aja, klo liat hasil perbuatan ku pada wajahnya ya aku juga memang cukup membuat andil bikin suasana makin hot" bathinku sambil membersihkan wajah Ferry.
"Done" ucapku melihat wajah Ferry sudah bersih dari lipstik ku.
"Maaci sayang" ujar Ferry sambil mengecup keningku, membuat rona merah di pipiku menyeruak.
"Udah yuuk keluar sekarang, nanti keburu mami mu kelamaan nungguin kita" ucapku mengajak Ferry keluar dari mobil karena penampilanku dan Ferry sudah rapi kembali. Ferry langsung bergegas keluar dari mobil dan membuka pintu untuk ku.
"Ayo sayang" ucapnya sambil mengulurkan tangan saat pintu mobil terbuka. "Suamiku memang romantis banget kalau nggak lagi ngambek....hahahaaha". Bathinku sambil tersenyum melihat si bule ganteng tersenyum manis banget kaya dikasih gula sekilo. Akupun meraih uluran tangan Ferry yang kemudian bergelayut manja dilengannya agar si bule nggak jalan cepet-cepet dan inget kalau punya istri imut langkahnya cepet tapi kan kecil karena apa kakiku tidak sepanjang si bule tingginya menjulang jauh meninggalkan ku.
__ADS_1
Kami pun masuk ke dalam restoran mewah dengan suasana romantis dan view yang indah terlihat dari jendela. Pantas saja harga makanan di resto ini menguras isi dompet, selain memang koki yang mereka gunakan asli koki dari negara menara eifel yang sudah terkenal masakannya wenaaak tempat yang mereka sediakan benar-benar berkelas international. Sambil berjalan aku terus mengagumi restoran ini sampai akhirnya mataku tertuju pada sosok wanita paruh baya dengan dandanan elegan dan memancarkan kekuatan dan kelembutan seorang ibu tersenyum kearah kami. "Apa jangan-jangan itu maminya Ferry" bathiku diikutin dengan kembali tak beraturan irama jantungku. Semakin dekat jarak ku dengan wanita itu degup jantungku makin cepat.
"Santai aja sayang, mami nggak gigit koq", ucap Ferry sambil mengelus punggung tanganku berhasil mengurangi kegelisahan ku.