Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Please Maafin Aku


__ADS_3

Kami keluar bungalow sambil bergandengan tangan. para pekerja menyapa kami berdua dan wajah mereka seperti wajah Ferry saat menatapku pertama kali tadi.


"Apa aku begitu jelek ya biasanya?"


"Mana ada begitu"


"Trus kenapa mereka melihatku sepertinya aku berubah dari seekor itik buruk rupa jadi angsa?"


"hahahaa...sayang kamu terlalu berlebihan, mereka paling sama seperti ku tadi terpesona karena hari ini kamu terlihat sangat cantik bahkan menurut ku kecantikan mu hari ini tidak akan ada yang bisa mengalahkannya, semua itu memang pada dasarnya karena kamu cantik, cuma selama ini kamu tidak pernah berdandan ala selebritas makannya kecantikan mu tidak terpancar seperti hari ini".


"Hhhmmm....itu sama saja kamu bilang aku biasanya jelek".


"Sudah tidak usah dibahas lagi, aku tidak perduli kamu cantik atau jelek yang penting Ferry Goucher hanya mencintai mu Lia Putri Aghata".


Kalau Ferry sudah berkata begini selesai sudah, tidak bisa lagi aku berdebat dengannya, hanya bisa mencibikan bibirku karena kesal tak bisa membantahnya lagi, yang tentu saja langsung di kecup si bule begitu bibirku manyun.


"Sayang..." aku meneriaki Ferry sambil memukul pelan dadanya, si bule malah tertawa terbahak-bahak.


"Hahahahaaha...maaf sayang abis kamu ngegemesin banget sih"


"Dasar brondong nggak ada akhlaqnya kalau nyosor nggak pernah liat tempat sesuka hatinya saja" gerutuku kesal sambil meninggalkan Ferry menuju parkiran rumah utama, karena mami, papi dan Shella sudah berangkat lebih dulu ke hotel tempat perjamuan.


"Sayang, jangan ngambek lagi ya. Janji nggak godain kamu lagi dan sembarangan nyium lagi" ucap Ferry sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya seraya bersumpah. Tapi aku sengaja tak menggubrisnya, keenakan dia kalau cuma janji gitu duank langsung ku maafkan.


Lebih baik aku kerjain dia dulu. 'Hhhmmm..enaknya di apain ya biar dia kapok?' gumamku dalam hati.


Ferry terus saja merayu ku sampai di depan teras. Seorang supir berpakaian jas rapi sudah berdiri menunggu kami di depan mobil maybach warna navy. Saat melihatku yang setengah berlari diikuti Ferry dibelakang ku, sang supir bergegas membuka pintu mobil dan aku pun langsung masuk dan menutup pintu dengan keras.


"Sudah jangan hiraukan, nyonya muda sedang marah padaku". Ucap Ferry ketika melihat sang supir terkejut karena ulahku. Kemudian Ferry berjalan memutar dan duduk di sebalah ku. lalu memerintahkan supir untuk jalan.

__ADS_1


Aku masih dengan mode ngambek memalingkan wajahku ke arah jendela. Ferry menarik nafasnya dengan kasar seperti sedang menekan perasaannya yang mulai kesal karena sikap ku yang terbilang alay tidak seperti biasanya hanya ngambek sebentar, nggak sampai lima menit dan di rayu dengan kata 'maaf' langsung normal kembali.


"Sayang, aku benar-benar minta maaf karena selalu bikin kamu kesal dan tak pernah tau tempat jika ingin menunjukan perasaan cintaku pada mu..Please stop ignoring me and stop pretending that I don't exist, ini sangat membuat ku tidak nyaman".


Mendengar ucapan Ferry dengan nada rendah, terasa ada getaran ntah karena sedih atau kecewa akan sikap ku yang terlalu lebay. Akhirnya aku membalikan tubuhku menatap manik biru milik suamiku yang terlihat sendu dengan raut wajah yang nampak sedih, tangannya mengepal kuat hingga terlihat pucat seperti Ferry benar-benar menahan perasaan kesalnya pada ku. 'Apa aku sudah kelewatan mengerjainya?'. 'Ahh biar lah sekali-sekali dia belajar memohon, jangan orang terus yang memohon padanya' dalam hati aku tersenyum melihat kelakuan si bule yang memelas walau nampak diluar wajahku begitu datar.


"Please...maafin aku ya" Ferry memohon sambil menarik-narik tangan ku seperti anak kecil yang merengek pada ibunya. "Hhhhmm" aku menghela nafas panjang seakan sedang terhimpit beban yang sangat berat.


"Baiklaah aku maafkan, tapi ini terakhir kalinya. Kalau kamu ulangi lagi aku janji tidak akan pernah bicara dengan mu lagi seumur hidup ku".


"Ya Tuhan istriku kamu kejam sekali memberi ultimatumnya...ckckckck. Aku tidak terima!" sahut Ferry kemudian melipat kedua tangannya di dada dengan wajah ditekuk dia menatap lurus kejalanan dan tidak lagi memperdulikan ku.


'Oke Fine, kau jual aku beli bule tengil. Siapa diantara kita yang akan tahan lebih lama untuk tak bertegur sapa?' bathin ku tertantang melihat si bule yang mulai menggunakan mode ngambek sebagai balasan.


Sang Supir terlihat canggung saat melihat kami yang perang dingin, sesekali aku melihatnya melirik kami dibelakang melalui kaca spion.


'Semoga saja ini supir bukan tipe embeee yang akan mengadukan kelakuan kami pada tuan besarnya atau menjadikan pertengkaran kami bahan gosip sesama pekerja dirumah keluarga Ferry'


Aku tetap di dalam mobil karena menunggu dibukakan pintu oleh si bule seperti biasanya tapi aku malah melihat si bule malah ngeloyor gitu aja nggak membukakan ku pintu malah si supir yang membukakan pintu mobil untuk ku.


"Terima kasih"


"Tidak masalah, nyonya muda silahkan langsung menuju lobby hotel disana Nona Shella sudah menunggu nyonya muda".


"Baik" sahutku sambil langsung berjalan menuju lobby.


Aku pun melangkahkan kaki ku dengan anggun menuju lobby hotel seperti pesan si supir, Ferry sudah lumayan jauh di depan ku tapi aku tak memperdulikannya seperti dia tak memperdulikan ku.


"Kak Lia" suara teriakan Shella memanggil namaku sambil melampaikan tangannya.

__ADS_1


Aku pun tanpa pikir panjang langsung mendekati Shella.


"Shella, kamu sudah lama sampai?"


"Lumayan lah kak, namanya juga panitia harus datang lebih awal untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana".


"By the way, kenapa kakak jalan sendiri-sendiri dengan kak Ferry?" tanya Shella penasaran karena beberapa hari ini tiap Shella melihat ku dan Ferry, kami sudah seperti prangko dan amplop nempel terus sedangkan saat ini kami seperti tom and jerry tak mau saling berdekatan sedikit pun.


"Biar saja dia sedang ngambek, karena aku marah saat dia sembarangan nyiumin aku di depan umum bikin malu" Ucapku berapi-api karena kesal, aku yang sedang ngambek kenapa dia malah serang balik ngambek...huuuffft


"Hahahahaa...sudah cuekin saja dia, paling kak Ferry hanya akan tahan sebentar saja nyuekin kak Lia"


"Belum tentu" sanggahku cepat.


"Aku yakin 100%" sahut Shella optimis.


"Hhhmmmm....mana mungkin" gumamku yang masih terdengar Shella.


"Kak Ferry itu bucin parah sama kak Lia mana mungkin dia akan biarkan kak Lia malam ini sendirian lepas dari pengawasannya"


"Sebentar, kak Lia tunggu disini" selesai berkata Shella langsung masuk ke dalam kerumunan dan tidak sampai 10 menit dia sudah kembali bersama seorang pria bule tampan.


"Kak Lia kenal kan ini Dion dia ini kakaknya sahabat baik ku sekaligus kekasih teman ku"


Mendengar penjelasan Shella aku mengerutkan dahi ku tak mengerti tujuan Shella memperkenalkan Dion padaku itu apa?.


"Dia akan membantu kak Lia membuat kakak Ferry cemburu" Mendengar penjelasan Shella aku langsung menutup mulutku tak percaya adik suamiku ingin mengerjai kakaknya sendiri, nampaknya mereka berdua memang sama tengilnya.


"Bagaimana deal?" tanya Lia yang langsung ku angkukan kepala, karena aku memang ingin sekali mengerjai si bule.

__ADS_1


"Tunggu dulu, kakak mu itu punya tempramen buruk jadi sebaiknya jangan buat adegan kontak fisik yang akan memancing emosinya"


"oke" ucap mereka berdua kompak


__ADS_2