
"Kenapa kita makan di sini?" tanya Lia melihat restoran yang tidak biasa, bangunanya bernuasa melayu dari kayu dan sekelilingnya di tanami pohon-pohon pinus dan beragam bunga yang menebar keharumannya saat tertiup angin.
"Kenapa? kamu tidak suka?" tanya Ferry sambil melingkarkan tangannya di pinggang Lia yang tiba-tiba berhenti dan memandangi taman bunga.
"Suka, tempat ini sangat indah. Aku hanya tidak menyangka ini sebuah restoran" sahut Lia sambil memegang tangan Ferry.
"Hei kalian ke sini mau makan atau hanya untuk memandangin taman bunga ku?" Teriak seorang pria bule yang mengenakan baju koki membuat Lia jadi tak enak hati.
"Maaf, kami hanya..." ucap Lia tak selesai karena Ferry memotongnya.
"Tidak perlu minta maaf dia itu pemilik restoran ini sekaligus kokinya" bisik Ferry sambil menggandeng tangan Lia mendekati sang koki membuat Lia bingung mendengar apa yang Ferry bisikkan.
'Bukannya justru harus karena dia pemiliknya harus minta maaf...ckckckck' bathin Lia sambil mengikuti langkah Ferry.
"Kemana saja bro baru sekarang kesini" sapa sang pria berbaju koki pada Ferry sambil mereka mengadu kepalan tinjunya saat saling menyapa.
"Ets...siapa gadis cantik ini? kamu tak ingin mengenalkannya pada ku?" ujar sang pria berbaju koki mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Lia
"Kenalkan nama ku Leonard, aku ini sahat pria angker di samping mu" ujar Leon dangan senyum manis.
Leon merupakan kaki sahabat sekaligus orang kepercayaan Ferry, Leon menguasai bisnis bawah tanah atau mafia dia negara A. Ferry mengenalnya lima tahun lalu saat itu Leon terluka parah dan hampir mati dan Ferry lah yang menyelamatkannya dan membantu Leon menguasai wilayah bawah tanah.
"Dia Lia, istri ku" sahut Ferry sambil menepis lengan Leon agar tak menyentuh Lia.
"Wow bro, pelit sekali hanya kenalan juga tidak boleh...ckckck" Lia hanya tersenyum melihat interaksi mereka berdua.
"Sudah cepat siap kan makan siang, jangan sampai cacing ku kelaparan" ucap Ferry membuat tawa Leon pecah.
"Hahahaha...bos besar memang paling tak sabaran, baiklah kalian pilih lah sendiri mau duduk di mana. Aku akan segera siapkan makanan special untuk kalian berdua" ujar Leon berjalan menuju dapur dan memasak aneka makanan kesukaan bos besarnya.
"Suam, Kenapa Leon tak terlihat seperti koki? tangannya lebih cocok seperti petarung, kekar sekali"
Mendengar komen Lia, Ferry mematap Lia tajam. "Ehh,,,apa aku salah bicara? kenapa wajah mu angker begitu?" ujar Lia agak shock melihat wajah Ferry masam.
"Sejak kapan kamu begitu perhatian dengan pria lain?" sahut Ferry dengan nada ketus.
"Suam, spertinya ada bau cemburu dalam nada suara mu" Lia malah menggoda Ferry membuat wajah sang suami merona dan jadi salah tingkah.
"Siapa juga yang cemburu, jangan terlalu geer" sahut Ferry cepat
"Jadi benar tidak cemburu nih, baiklah" goda Lia yang diacuhkan Ferry karena dia takut terjebak dalam kata-katanya sendiri.
"Suam, kenapa kamu ajak makan aku di sini?" tanya Lia mengalihkan topik pembicaraan melihat Ferry sudah tak ingin membahas tadi.
"Ada yang mau aku bicarakan dengan Leon" sahut Ferry dengan suara yang masih agak serak karena menahan gejolak hatinya.
"Owh, kamu sudah lama kenal Leon? Dia tidak terlihat seperti teman-teman mu yang lainnya" tanya Lia penasaran, walau Leon bertampang lembut dan tidak terlihat sangar dan bisa dibilang cukup tampan tapi auranya berbeda membuat Lia yakin Leon bukan hanya sekedar koki.
__ADS_1
"Sudah sejak lima tahun lalu, kenapa kamu terdengar begitu penasaran dengan Leon?" aura masam Ferry kembali lagi padahal dia sudah susah payah menekan rasa cemburunya karena malas digoda Lia.
"Wah ternyata sudah lama, hanya penasaran aja suam karena aku merasakan aura yang berbeda dari Leon"
"Maks..." belum selesai Ferry bicara Leon sudah muncul dengan beberapa pelayan membawa hidangan untuk disajikan diatas meja.
"Ayo silahkan dinikmati, aku kembali sibuk dulu. Nanti aku kembali lagi" ucap Leon yang merasakan atmosfir dingin antara Lia dan Ferry.
"Suam, ada yang mau kamu katakan?" tanya Lia karena tadi sang suami belum selesai bicara terpotong Leon datang.
"Tidak, sudah ayo nikmati makanannya. Masakan Leon sangat enak kamu tidak akan menyesal datang kesini"
"Baiklah, mari makan jangan lupa doa" ujar Lia sambil tersenyum manis.
'Wanita ini senyumnya mengalihkan dunia ku' rasa kesal di hati Ferry perlahan sirna melihat Lia terus tersenyum dan terlihat bahagia menikmati makanan apa lagi Lia juga berkali-kali menyuapi Ferry makanan dengan riang.
"Gimana suka makanan di sini?" tanya Ferry merasa puas melihat istrinya bahagia.
"Suka, sangat suka. Tapi masakan Leon masih kalah nikmat sama masakan suami ku tercinta" ujar Lia membuat senyum di wajah Ferry terkembang sempurna.
"Manis sekali mulut istri ku, habis makan gulali ya?" ujar Ferry penuh senyum.
"itu modus biar tiap hari kamu yang siapin sarapan...hehehehe" sahut Lia sambil cengengesan.
"Buat istri ku apa sih yang tidak aku lakukan?" ujar Ferry jumawa.
"Suami Lia Putri Aghata" sahut Ferry cepat. "Yank, kamu makan pelan-pelan aku bicara dulu dengan Leon" ucap Ferry saat melihat Leon menuju tempat duduknya.
"Oke, Jangan lama-lama kita masih harus ke acara ulang tahun hotel nyonya Magdalena"
"Iya sayang ku, aku inget koq" jawab Ferry langsung berdiri dan menghampiri Leon dan berjalan menuju ruang istirahat Leon.
'Sebenarnya siapa Leon? apa yang mau mereka bicarakan? kenapa begitu rahasia?' Lia benar-benar kepo, tapi dia juga tak menemukan apa pun tentang Leon di internet.
Lia yang kepo akhirnya menyerah mencari tau tentang Leon karena tak ada satu informasi pun yang Lia peroleh dari internet. Lia yang sudah tak nafsu untuk melanjutkan makan siangnya pun meminta pelayan merapikan meja dan memberinya teh hijau.
Pikiran Lia terus saja mempertanyakan 'Siapa Leon? Kenapa bisa tak ada info satu pun tentangnya? Kenapa selama ini Ferry tak pernah menyebut namanya dan saat ditanya bukannya menjawab malah memutar pembicaran, sungguh mencurigakan'
sementara Ferry dan Leon baru tiba ruang Istriahat Leon.
"Kamu sudah baca email dari ku?" ujar Ferry mengawali pembicaraan begitu dia mendudukan bokongnya di atas sofa.
"Sudah bos, orang yang menipu ayah kakak ipar terjerat hutang milyaran dollar dengan jaringan macan tutul. Mereka lah yang mengatur siasat penipuan pada ayah kakak ipar itu sebabnya semuanya begitu sempurna tanpa celah di mata hukum"
"Lalu kemana orang itu menghilang? apa kamu sudah menemukan jejaknya? Karena hasil penyelidikan Jerry perusahan papa dikelola orang lain yang tak ada kaitannya dengan sahabat papa Lia sama sekali, semua asset sudah berpindah tangan, rekening bank penerima dana jual beli perusahaan pun tak bisa dilacak karena anonim. Bisakah kamu cari celah untuk mencari info ini lebih dalam?"
"Akan aku coba yang terbaik untuk mendapatkan informasinya"
__ADS_1
"Aku tunggu kabar baik dari mu sesegera mungkin dan satu lagi bisa kamu mulai kirim orang ke negara IND untuk mengali wilayah bawah tanah di negara IND"
"Bos mau melebarkan sayap ke negara IND?" tanya Leon tak percaya bosnya yang masih begitu muda memiliki ambisi menguasai negara lain.
"Apa ada masalah?" tanya Ferry dingin dengan wajah tenang tanpa ekspresi.
"Tidak ada, hanya tak menyangka bos akan melakukan hal besar seperti ini lagi, rasanya sudah lama sekali bos tidak terjun langsung di dunia bawah".
"Bahkan bisnis pun hampir semua bos rubah menjadi bisnis legal, yang ilegal tinggal tarung bebas bawah tanah saja yang bos izinkan terus bertahan, itu pun bos lakukan untuk mencari bibit-bibir petarung berbakat guna di rekrut jadi anak buah jika lulus tes"
"Kamu sedang mengeluh?" ucap Ferry dengan wajah angker
"Bukan bos, aku hanya tidak pernah menyangka akan ada hari seperti sekarang dalam dunia ku yang gelap"
"Tarung bebas pun akan aku hilangkan, begitu aku menemukan seorang petarung yang jago bela diri"
"Maksud bos?"
"Aku akan melakukan perektutan lewat cara lain bukan tarung bebas"
"Tapi bos, pemasukan dari acara tarung bebas lumayan besar. Sayang kalau mau bos tutup pasti pesajng kita akan segera mendirikan acara tarung bebas deh"
"Kita bahas ini nanti, itu baru wacana tidak tau kapan akan ku lakukan juga" ujar Ferry membuat Leon menghembuskan nafas lega karena dia agak kurang ikhlas menutup acara tarung bebas.
"Oke aku pulang dulu, Lia pasti sudah gelisah menunggu ku terlalu lama" Ferry bangkit dan keluar dari ruangan Leon diikuti Leon.
Mereka berdua menghampiri Lia yang sibuk dengan ponselnya untuk membunuh rasa sepi.
"Maaf membuat mu menunggu lama?" ujar Ferry sambil menyentuh bahu Lia, membuat Lia mendongak menatap sang suami.
"Tidak masalah, apa sudah selesai bicaranya" tanya Lia dengan senyum manis
"Sudah yank, ayo kita pulang" ajak Ferry sambil mengulurkan tangannya untuk menggandeng Lia.
"Kakak ipar sering-sering lah ajak si bos ini makan ke sini, karena cuma saat bersama kakak ipar aku bisa melihat bos tersenyum bahagia"
"Bos sudah mencari keberadaan kakak ipar bertahun-tahun-tahun sampai tak pernah memperdulikan wanita lain"
"Ehh...kamu juga tau soal ini?" sahut Lia kaget karena tak menyangka Ferry akan menceritakan tentang dirinya pada Leon.
'Ternyata mereka begitu dekat' gumam Lia dalam hati semakin curiga tentang Leon.
"Hehehe...tentu saja aku tau, aku kan yang membantu Jerry mencari mu" Leon yang keceplosan pun berusaha mengalihkan pembicaraan. "Sudah kalian pulang lah, lain kali kesini lagi kita cerita-cerita, sekarang lihat tamu berdatangan.
Mendengar jawab Leon wajah Ferry jadi masam. 'Leon bodoh, ucapannya hanya akan membuat Lia makin curiga' bathin Ferry makin cemas. Pasalnya Ferry tidak ingin mengatakan pada Lia apa yang sedang dia lakukan saat ini.
Ditunggu like and komennya
__ADS_1