
"Ini kamar mantan mu, ingat hanya lima menit tidak lebih" ujar Ferry yang kembali memasang muka khas beruang kutubnya. "Ini bule ngegemesin banget sih bisa berubah mood dalam hitungan menit...ckckckck". Bathinku sambil senyum menantap suamiku yang lagi manyun.
Sebelum masuk aku berbalik badan dan melingkarkan tanganku dileher Ferry. "Kamu dengar baik-baik ya sayangku, Rendy bukan mantanku. Pria yang aku cintai cuma kamu, kamu Ferry Goucher pria pertama yang mencium dan menjamah tubuhku. Jadi Please jangan manyun kaya gini trus, ganteng mu jadi berkurang tau" ujarku sambil ku cium bibir Ferry awalnya dia tak membalas ciumanku tapi karena aku terus berusaha akhirnya benteng pertahanan Ferry luluh dan dia membalas ciumanku. Cukup lama kami berciuman sampai kehabisan nafas barulah Ferry melepas tautan bibirnya dengan ku.
"Janji ya kamu cuma akan mencintaiku, dan slamanya jadi milik ku. Apapun yang terjadi kamu nggak akan pernah ninggalin aku" pinta Ferry smbil memeluk ku erat sehingga tubuh kami menepel hanya bersekat kemeja dan dress saja.
"Janji" jawabku penuh keyakinan dan anggukan kepala. Ferry lalu mengecup bibirku kemudian menyuruhku masuk ke dalam sedangkan Ferry mengintili ku dibelakang.
"Siang, apa aku mengganggu kalian?" tanyaku saat ku lihat Mira sedang menyuapi Rendy makan dan mereka saling tertawa. pemandangan ini lebih pas dibilang sepasang kekasih, tapi mereka kan kemarin bertengkar trus. "Ahhh,,,lupakan saja lah buat apa aku terlalu pusing dengan urusan mereka, toh mereka sudah dewasa" bathinku
"Ehh...Lia, kamu sudah datang. Ngapain kamu bawa bule tengik ini kesini?" Ucap Rendy emosi saat melihat Ferry juga datang.
"Dia kan suamiku Ren, tentu saja dia akan datang menemani ku" ujarku sambil merangkul posesif lengan suamiku, membuat wajah tampan itu tersenyum manis.
"Tapi dia yang sudah membuatku seperti ini" Rendy makin ngotot bicaranya, sedangkan Mira hanya duduk manis mendengarkan sambil sesekali ku lihat dia mengelus-elus tangan Rendy.
"Kan semua karena salah mu, siapa suruh meluk-meluk dan nyium istri orang. Jelas saja Ferry marah kamu melecehkan istrinya seperti itu....ckckckck" Jelasku tak mau kalah dengan Rendy.
"itu..itu kan karena aku kecewa mendengar mu sudah menikah sedangkan aku selama ini menahan diriku dari godaan wanita" ujar Rendy kesal sekaligus terlihat penyesalannya karena selama ini menahan diri dari wanita-wanita di luar sana.
"Sudah lah Ren, jangan diperpanjang lagi semua kan memang berawal dari kamu, masih bagus suamiku merawat mu di rumah sakit terbaik dengan fasilitas terbaik juga ditemani gadis cantik lagi" ledek ku pada mereka berdua yang terlihat tidak seperti kucing dan anjing lagi.
"Hhhmmm...baiklah untuk masalah kali ini aku tidak akan memperpanjangnya, tapi kamu tetap harus ketemu mama dan papa ku karena mereka ikut datang kesini bersama ku karena ingin melamar mu, tapi aku ternyata kalah cepat dengan si bule tengik ini. Mungkin kamu memang bukan jodohku" Ucap Rendy sambil menatap Mira dengan tatapan yang tidak ku mengerti.
"Boleh saja tapi Ferry ikut bersama ku" ujarku tegas tak mau dibantah.
"Mana ada bertemu mama dan papa ku bawa-bawa bule tengik ini, yang ada aku ditertawakan mereka kalah dari bule tengik....tidak usah bawa Mira saja" pinta Rendy tiba-tiba.
"Mana ada bawa-bawa aku, apa hubungannya urusan kalian dengan ku...ckckckk" celoteh Mira tak terima namanya dibawa-bawa.
"Kamu harus menyelamatkan ku dari rasa malu karena ulah sahabat mu itu" ucap Rendy sambil mengendikan dagunya ke arahku.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau ikut-ikut. Aku ini wanita beabs yang belum siap terikat secara resmi...aku masih mau menikmati hidupku" jelas Mira membuat wajah Rendy jadi murung.
"Sudah Mira kamu pergi saja, aku akan membayar mu dua kali lipat dari yang sekarang jika kamu ikut manusia itu bertemu orang tuanya tapi Lia tidak akan pergi tanpa aku" Ucap Ferry dengan aura tegas membuat siapa pun tak mampu membantahnya.
Mira mendengar tawaran menggiurkan dari Ferry tentu saja dia tak menolaknya, langsung dianggukan tanda dia setuju dengan ucapan Ferry.
"Dasar cewe matre, bener-bener nggak mau rugi" bathinku sambil melotot ke arah Mira yang dibalas dengan cibikan bibir dari Mira.
"Sayang, kita pulang sekarang? kita masih harus ke rumah mama kan". ujar Ferry yang langsung ku anggukan dengan mantap.
"Aku pulang dulu ya, kalian berdua baik-baiklah di sini...Mira sampai jumpa dikampus" ucapku sebelum meninggalkan kamar rawat Rendy.
"Hati-hati dijalan, tuan bule jangan ngebut-ngebut" ujar Mira saat kami pamit. Aku hanya mengangguk sedang Ferry tidak merespon sama sekali.
Kami pun keluar dari rumah sakit menuju parkiran, numun betapa terkejutnya Aku saat di lobby rumah sakit ada yang menyapaku.
"Lia, kamu Lia kan? kamu masih inget mama kan? mama Rita, mamanya Rendy" ucap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda padahal sudah berusia 40an tapi terlihat masih 30an.
Aku hanya bengong saja karena pertemuan ini diluar dugaanku, mental ku belum siap bertemu mama Rita sekarang apa lagi Rendy masih terkapar tak berdaya.
"Mama Rita, apa kabar ma?" ucapku sambil melepas tanganku dari lengan Ferry dan memeluk wanita paruh baya yang sudah merentangkan kedua tangannya.
"Mama baik sayang, cuma anak nakal itu benar-benar keterlaluan baru sampe sini satu hari sudah masuk rumah sakit karena patah tulang, ntah bertarung dengan preman mana mama juga nggak ngerti, anak nakal itu menutup mulutnya rapat sekali". jelas mama Rita saat pelukan kami terurai. Aku sedikit melirik wajah Ferry yang mulai masam karena aku cuekin.
"Mama kesini sama siapa?" tanyaku heran karena mama terlihat sendirian.
"Diantar supir mama sayang, Om mu nggak bisa nganter mama karena dia lagi ada metting penting dengan relasi bisnisnya" Jelas mama Rita melihat raut wajah ku bingung.
"Owh iya ma, kenalin ini Ferry, suami Lia" ucapku sambil menarik lengan Ferry mendekati mama Rita.
"Suami?" wajah mama Rita langsung murung dan masam mendengarku menyebut Ferry suamiku.
__ADS_1
"iya ma, Lia sudah menikah beberapa hari yang lalu" jelasku semakin membuat wajah mama Rita masam.
"Tapi Rendy bilang kalian..." Rendy itu akan melamar teman Lia ma, bukan Lia. Sanggahku cepat agar masalah ini nggak makin panjang.
"Ya Tuhan mama jadi pusing ini, karena sepanjang tiga tahun ini di Ausy dia sibuk sekali belajar agar bisa cepat merampungkan gelar sarjananya bahkan tiap liburan musim panas dia pake untuk ambil semester pendek. Dia benar-benar gila belajar sejak di Ausy" Jelas mama Rita lirik merenungi nasib anaknya yang akan patah hati.
"Maafin Lia ya ma" ucapku pait mendengar kenyataan ternyata Rendy benar-benar menahan diri seperti yang dia ucapkan.
"Kamu nggak salah sayang, mungkin kalian memang tidak berjodoh walau sebetulnya mama senang sekali kalau kamu yang jadi menantu mama". Ujar mama Rita sambil mengelus tanganku. aku hanya mengangguk.
"Sayang, kita sudah bisa pergi sekarang?" tanya Ferry dengan nada datarnya.
"Owh kalian sedang buru-buru ya, ya sudah pergilah lain kali kita ngobrol lagi. Sekarang mama juga mau liat Rendy" ujar mama Lia yang paham ketidaj sukaan melihat hubunganku dengan mama Rita begitu dekat.
"Lia pamit ya ma" ucapku sambil mencium pipi mama Rita.
"Sampai jumpa lagi ya sayang" ucap mama Rita sambil menciumi wajahku dan memeluk ku. Mama Rita memang menyayangiku dari dulu seperti putrinya karena dia hanya memiliki Rendy sebagai anak sematawayangnya.
"Mama titip Lia ya nak Ferry, Lia ini sudah seperti putri mama, mama melihatnya tumbuh dari kecil hingga jd gadis remaja". pinta mama Rita tulus pada Ferry.
"Tante tidak usah khawatir tanpa tante minta pun saya akan menjaga Lia dengan jiwa raga saya" ucap Ferry dingin.
"Mama percaya, hati-hati dijalan" ucap mama Rita sambil tersenyum.
Kami pun kembali melangkah menuju parkiran, aku pun kembali bergelayut manja dilengan Ferry walau si bule sudah dengan mood berung kutubnya.
"Sayang, kamu kenapa pasang wajah begitu sih, aku salah apa lagi?" celotehku saat mulai duduk di jok samping supir. Ferry hanya menatapku lama dengan tatapan mematikan membuat bulu kuduk ku meremang.
Akhirnya aku melepas seftybelt yang sudah Ferry pasangkan tadi. "Ehh...kenapa dilepas?" tanya Ferry tak ku gubris, setelah itu aku melepas highheels yang ku kenakan lalu menekan pengait kursi Ferry untuk mendorongnya mundur, bule itu hanya diam memperhatikan setiap tindakan ku.
Aku bangkit dari duduk ku dan duduk di pangkuan Ferry dan mengalungkan tanganku pada lehernya. "Wow, istri ku yang polos sudah jadi begitu liar sekarang...tapi aku suka" goda Ferry membuat wajahku makin panas hingga leher untuk menutupi rasa malu ku dan menghentikan bule ini melanjutakn ledekannya padaku aku pun mencium bibirnya yang tentu saja tidak disia-siakan Ferry, dia langsung membalas ciumanku.
__ADS_1
Tangan Ferry pun langsung menjelajahi setiap inchi tubuhku dari dalam dress yang ku kenakan, melepas pengait bra dan mulai meremat gundukan kembar ku membuat desahan keluar dari mulutku. Suasana makin panas, adik kecil Ferry pun sudah kurasakan bangun dari tidur lelapnya. Adegan panas pun terjadi di dalam mobil dengan cepat karena sebenarnya jantungku dan Ferry berdetak sangat cepat kami berdua khawatir ketawan pengunjung rumah sakit karena ini masih siang bolong. erangan panjang Ferry pun akhirnya bergema ditelingaku. Ferry memberiku tissue untuk membersihkan bagian intiku baru kembali mengenakan CD ku dan merapikan penampilanku. Lalu kamu saling tatap dan tertawa, rasa plong sekali melihat senyum merekah pada wajah suamiku yang dari tadi lebih banyak murung.
"Besok-besok aku mau sering-sering ngambek ahh" ucap Ferry sambil menyalakan mesin mobil dan melajukannya ke rumah mama. Aku hanya memelototinya dan dia malah tertawa terbahak-bahak.