Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Kamu tenang aja ya, ada aku disini


__ADS_3

Setelah turun dari pesawat, mobil anak buah Leon sudah menunggu ke datangan kami.


Aku dan Ferry naik dalam satu mobil sedangkan Leon naik mobil lain di belakang mobil kami.


tak berapa lama kami tiba di sebuah Villa dengan penjagaan super ketat, akses untuk masuk kedalam villa jauh lebih sulit ditembus dibandingkan kediaman nenek tua.


"Selamat datang tuan muda, kamar anda sudah kami siapakan seperti yang tuan muda minta"


Ucap seorang pria paruh baya dengan pakaian rapih seperti kepala pelayan di rumah nenek tua.


Ferry hanya mengangguk dan menggandeng tangan ku menuju lantai dua dimana kamar yang di maksud pria paruh baya tadi berada.


'Seberapa kaya sebenarnya suami ku ini?. Apa villa ini milik keluarga Goucher atau milik pribadinya? Hhhmm..melihat perlakuan para penjagang dan pelayan nampaknya villa ini milik Ferry'


Lia sibuk dengan pikirannya karena begitu takjub dengan kemegahan isi villa.


"Kamu dari tadi melamun apa?" suara lembut sang suami menggelitik daun telinga Lia


membuatnya tersadar dari lamunannya, namun Lia masih belum menyadari kalau tangan kekar Ferry sudah melingkar dipinggangnya, bahkan bibir Ferry mulai menjelajahi leher jenjang Lia membuat Lia bergidik mendapatkan perlakuan mesum dari sang suami.


"Suamiiii....ini masih siang, kamu jangan macam-macam. Aku kesini mau liburan bukan mau bermesraan dengan mu"


teriak Lia, lalu melepaskan tangan Ferry dan menjauh dari tubuh kekar sang suami.


Ferry yang terkejut tiba-tiba mainannya menghilang sedikit kesal dan hatinya terasa hampa.


'Aiishh....wanita ini kenapa begitu sulit diajak kerja sama' gumam Ferry dalam hati tak berdaya.


Ferry tak ingin memaksa Lia dia ingin semua dilakukan atas dasar mau sama mau tidak ada keterpaksaan walau kecewa, Ferry hanya menelan semuanya dalam hati.


"Baiklah nyonya muda mau pergi kemana? Hamba siap mengantar kemana pun nyonya muda ingin pergi"


Ucap sambil membungkukan badannya seperti pangeran berkuda putih dalam cerita dongeng, membuat senyuman terukir di bibir merah alami bak buah delima yang sudah merekah milik Lia saat melihat tingkah konyol sang suami.


"Saat dipesawat aku sempat melihat di internet beberapa tempat yang indah disini, Bagaimana kalau kita pergi ke Fisherman’s Wharf?"


Ferry yang melihat Lia begitu bersemangat, langsung mengangguk. "Kalau begitu kita pergi kesana"


Selepas bicara Ferry meminta Lia untuk bersiap-siapa agar mereka bisa cepat berangkat.


Lia pun bergegas mencari baju yang pas untuk dia kenakan jalan-jalan dengan Ferry ke Fisherman’s Wharf.


Suasana hati Lia begitu bagus hari ini karena senang akhirnya dia bisa menikmati Liburan di negara S dengan Ferry.


setelah setengah jam sibuk memilih baju akhirnya Lia keluar dari dalam walk in closed.


Ferry yang melihat Lia keluar dengan gaun biru muda berkerah gantung, dipadukan dengan mantel bulu, terlihat santai tapi tidak mengurangi keanggunanya sangat cocok untuk jalan-jalan.


apalagi make up Lia sangat natural dengan rambut panjang dibiarkan terurai dibelakang.


"Sudah siap berangkat nyonya muda?"


Ferry masih tetap dengan stelan jas hitamnya bertanya pada Lia sambil mengulurkan tangan untuk menggandeng tangan sang istri tercinta.


Mereka berdua berjalan keluar kamar lalu berpapasan dengan Leon yang sedang menaiki anak tangga, sepertinya akan datang ke kamar kami.


"Bos mau keluar?" tanya Leon dengan wajah khawatir.


"Ada apa?" tanya Ferry setelah mengangguk menjawab pertanyaan Leon sebelumnya.


"Tidak ada hal mendesak, hanya apa yang bos peritahkan sebelumnya sudah dapat informasinya" ucap Leon hati-hati sambil melirik ke arah Lia dan Ferry takut salah bicara.

__ADS_1


"Sayang kamu tunggu aku di bawah, ada yang harus aku bicarakan dulu dengan Leon"


Lia hanya dia lalu pergi meninggalkan kedua pria diatas dengan hati kesal bercampur khawatir.


'Apa yang dirahasiakan Ferry dari ku? kenapa begitu misterius? pikir Lia tak karuan sambil menuruni anak tangga sampai dering ponsel memecah lamunannya.


Telphon dari orang yang Lia cari-cari sejak dibandara negara A akhirnya menghubungi dirinya.


"Akhirnya kamu menghubungi ku juga" ujar Lia dengan nada kesal mengawali pembicaraan.


"Maaf nyonya muda Goucher, ponsel ku mati dan aku lupa membawa charger ponsel ku. ini aku baru sampai villa kak Arjun baru bisa mengechas ponsel jadi baru menghubungi mu"


Mendengar penjelasan Jeni, kekesalan Lia sedikit berkurang tapi dia tetap tidak puas terus mencecar Jeni dengan banyak pertanyaan


"kamu tau kenapa Arjun mengajak mu ke perjamuan nanti malam?" "Ada hubungan apa Arjun dengan walikota negara S?" "Sekarang apa yang kamu dan Arjun akan lakukan?" "Apa kamu mau pergi bersama dengan ku dan Ferry?"


"Hei...hei nyonya muda Goucher kamu ini seorang designer apa polwan sih...kena gaya bertanya mu seperti intel"


"Wkkkwkwkwkk" mereka berdua akhirnya tertawa bersama karena ternyata Lia pun menyadari kalau dia sudah banyak bertanya tanpa memberi Jeni kesempatan menjawab.


Karena terlalu asik mengobrol dengan Jeni, Lia tak pernah sadar kalau Ferry sudah berdiri dibelakangnya.


"Mau pergi apa mau terus mengobrol?" Suara barito sang suami membuat tubuh Lia spontan berbalik dan hidung mancungnya langsung menabrak dada bidang sang suami.


"auuuchh...suam kamu ngapain berdiri dibelakang ku?" teriak Lia sambil memegang hidungnya yang kini agak memerah karena benturan dengan dada Ferry.


"Lia...Lia kamu baik-baik aja kan?" tanya Jeni yang khawatir tiba-tiba mendengar Lia berteriak.


"Aku baik-baik saja, cuma tiba-tiba ada gajah besar berdiri dibelakang ku dan hidungku menabraknya"


"Hahahaha...becanda mu tidak lucu" sahut Jeni dengan nada kesal, dia khawatir malah dibecandain.


"Hhhmm...sepertinya sekarang kamu makin berani ya? suami sendiri dibilang gajah"


Ferry mengucapkannya sambil berbisik di dekat telinga Lia sebelum berlalu memasuki mobil lebih dulu.


Lia yang mendengar ucapan sang suami langsung tersenyum senang karena Ferry tidak mempersoalkan apa yang dia bicarakan dengna Jeni.


Lia pun bergegas masuk kedalam mobil. "Sayang kamu nyetir mobil sendiri?"


"Hhmm" sahut Ferry yang mulai fokus menyetir mobil menuju Fisherman’s Wharf.


Setibanya mereka berdua di sana sudah ramai pengunjung terutama di dermaga pier 39 , dimana dermaga ini dibuat serupa hotel khusus anjing dan singa laut bersantai.


Lia melihat semua orang sibuk berfoto dengan para anjing dan singa laut, dia pun melirik ke arah sang suami yang berdiri diam dengan sangat menawan rasanya Lia juga ingin mengajak Ferry untuk berfoto bersama.


Namun kata-kata yang sudah diujung lidah tak mampu Lia ucapkan.


Lia menatap wajah sang suami yang begitu menawan dan dirinya yang sangat terhormat rasanya sangat tidak pantas jika mengajaknya berfoto bersama dipinggir jalan.


"Kenapa?"


Ferry merasakan tatapan Lia yang berbeda dari sang istri.


Lia yang tersadar langsung menelan kembali apa yang ingin dia katakan sambil menggeleng dia menarik tangan sang suami


"Tidak apa, Ayo kita pergi lihat kesana sepertinya ada atraksi seru"


Ferry yang menyadari Lia sedikit berbeda lalu melihat kearah tempat Lia sebelumnya berdiri, dia pun memahami keinginan sang istri.


Lia yang merasakan pria yang ditarik tangannya tak bergeming lalu menoleh dan menatap penuh tanda tanya

__ADS_1


"Kamu.." belum juga selesai ucapan Lia langsung dipotong Ferry.


"Ayo ikut aku"


Setelah Ferry mengatakannya, dia langsung berbalik arah menuju ke dermaga pier 39


Ferry melihat sepasang kekasih yang bisa berbahasa inggris lalu menghampiri mereka


Lia terkejut mendengar permintaan Ferry yang meminta mereka untuk membantu Ferry mengambil Foto kami berdua di depan gerbang demaga yang bertuliskan pier 39 dan juga beberapa foto bersama anjing dan singa laut.


"Pacar mu sangat cantik"


puji pasangan kekasih itu saat melihat Lia dirangkul dalam pelukan Ferry


"Dia istri ku" sahut Ferry sambil mendaratkan sebuah kecupan dikening Lia membuat wajah Lia bersemu merah.


"Kamu" memukul dada Ferry manja, Lia tak mampu berkata-kata dia sangat malu ditambah lagi sepasang kekasih itu terus menggodanya.


"Kalian sangat manis, pasti pengantin baru"


Mendengar ucapan sepasang kekasih itu rasanya hati Lia dan Ferry berbunga-bunga, terasa manis dipenuhi gulali.


akhirnya sesi pemotretan pun selesai, sepasang kekasih itu memberikan kembali kamera milik Ferry dan Lia pun mengucapkan terima kasih.


Lia merasa puas melihat foto-fotonya, sebuah senyum terkembang sempurna diwajah sang istri membuat tanpa sadar bibir sang tuan muda ikut melengkung.


"Sekarang sudah senang kan?"


mendengar ucapan Ferry, Lia merasa tak enak hati dengan pikirannya yang sebelumnya.


"Mana ada" tapi Lia tetap tak mau mengakui isi hatinya


Dia buru-buru menarik tangan Ferry untuk bermain ketempat lain.


setelah berjam-jam bermain akhirnya Lia merasa kelelahan dan cacing diperutnya pun sudah mulai minta diberi makan.


Ferry lalu mengajak Lia ke salah satu restoran seafood terbaik yang menyajikan kepiting khas negara S.


Kepiting di negara S, sangat terkenal dengan kepiting berwarna birunya, dan cara memasaknya pun berbeda dari kebanyakan seafood yang biasa dimasak di negara IND atau asia.


Kepiting biru ini di masak dengan bumbu khas italian karena menurut ceritanya kepiting biru ini pertama kali ditemukan oleh orang itali yang menetap di negara S.


"Kepiting biru?" gumam Lia saat melihat menu yang disajikan diatas meja baru pertama kali dia lihat


"Kamu coba lah ini sangat enak"


mendengar ucapan Ferry liat langsung bersiap untuk menyantap kuliner yang disajikan


Setelah selesai makan tadinya Ferry ingin minum kopi dulu sebelum kembali ke villa tapi sekembalinya dia dari toilet, dia melihat ada tiga pria yang terus menatap Lia tanpa berkedip.


Ferry merasakan sesuatu yang berbeda, dia bergegas menghampiri Lia.


"Sayang kita langsung pulang yuk, nanti telat ke perjamuan" ajak Ferry sambil menggandeng tangan Lia


Lia yang melihat raut wajah Ferry tak seperti biasa yakin ada sesuatu yang tidak beres tapi dia pun tak bertanya apa yang terjadi


Lia terus mengikuti langkah Ferry menyusuri gang-gang kecil dan pasar berputar-putar sampai akhirnya tiba diparkiran tempat Ferry memarkir mobilnya.


"Ada apa sih suam?" tanya Lia begitu selesai Ferry sudah melajukan mobilnya menuju villa


"Kamu tenang aja ya, ada aku disini"

__ADS_1


__ADS_2