Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Sesampainya di bungalow


"Sayang mau memberiku malam yang tak mampu aku lupakan sekarang atau kita mandi dulu?" tanya Ferry menggodaku dengan senyum jahilnya.


"Mandi dulu, aku tak mungkin melakukannya dengan gaun ini. Yang ada nanti kamu merusak gaun ini, sayang mubazir" sahutku yang dianggukan oleh Ferry.


"Baik aku mandi duluan kalau begitu" usai berkata Ferry pun berlalu meninggalkan ku yang masih terdiam terpaku di ruang tamu bungalow karena pusing membayangkan malam ini akan dimakan habis oleh Ferry.


'ini yang namanya senjata makan tuan, niat menggoda Ferry minta dibelikan villa malah berujung aku sendiri yang menumbalkan diri untuk membatalakannya...benar-benar sial' gerutu ku sambil akhirnya berjalan menuju kamar kami dilantai dua.


Saat masih membersihkan wajah dan melepaskan pernak pernik yang menancap di rambutku juga melepas perhiasan yang ku kenakan Ferry keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuknya sebatas perut membuat dada bidangnya yang berotot terpampang nyata dengan air yang menetes dari rambutnya yang masih basah membuat Ferry nampak makin seksi.


"Masih tidak puas sudah setiap hari menatapnya dan juga menyentuhnya..Apa aku begitu mempesona mu?" goda Ferry saat melihatku terdiam menatapnya tanpa berkedip sambil jalan mendekati ku.


Lalu Ferry meniup belakang telingaku membuat bulu kuduk ku meremang dan tersadar dari keterposonaanku pada suamiku.


"Sayang, kamu..." belum selesai ucapan ku Ferry sudah membungkamku dengan bibirnya dan melepasku begitu aku kelihatan kehabisan nafas.


"Masih belum terbiasa juga sampai selama ini?" ucap Ferry sambil berjalan menuju walk in closed.


"Tentu saja tidak terbiasa, kamu melakukannya begitu mendadak bagus aku tidak kena serangan jantung" gerutuku sambil berjalan ke kamar mandi.


Saat hendak melepas gaun yang ku kenakan, karena terlalu pres body membuatku kesulitan menggapai resleting untuk membuka gaun ini.


'Ahh...sial bagaimana ini? kalau mengizinkannya masuk bisa gawat. aku bisa dimakannya saat ini juga, tapi bagaimana aku membuka gaun ini kalau tidak meminta tolong padanya'


"Sayang, kamu dimana?" aku membuka pintu kamar mandi lagi meneriki Ferry karena batang hidungnya tak terlihat di dalam kamar.


Ferry berlari dari luar dengan tergesa-gesa. "Ada apa yank, kamu memanggilku berteriak-teriak seperti itu?" tanya Ferry setelah dia menghela nafas panjang, mungkin dia berfikir terjadi sesuatu pada ku sampai dia tergesa-gesa ke kamar lalu melihatku baik-baik saja membuat wajah tampan suamiku agak kesal. ehhh bukan kesal karena aku baik-baik saja tapi karena dia sedang online dengan Jerry terkait pekerjaan di ruang baca di lantai bawah harus berlari secepat kilat memenuhi panggilanku yang sambil berteriak-teriak.


"Hehehehe ... maaf membuat mu khawatir, ini aku...aku tidak bisa membuka resleting gaun ini. sudah ku coba berkali-kali tapi tetap tidak bisa" ucapku terbata karena malu sekaligus tidak enak hati membuat si bule khawatir.


Ferry berjalan ke arah ku, berdiri tepat di depan ku dengan jarak sangat dekat sehingga aroma tubuhnya yang maskulin dan menenangkan membuatku terlena.

__ADS_1


"Done" ucap Ferry setelah menurunkan resleting gaun ku tanpa membalik badan ku membuat ku jadi canggung karena sekarang pungguku sudah terbuka sedang Ferry masih berdiri tak berjarak di depan ku.


"Terima kasih, kamu pergi lah sibuk sana" usirku membuat si bule mengerutkan kening.


"Sudah punya keberanian mengusirku sekarang?" tanya Ferry sambil menatapku dengan mata elangnya.


"Tidak berani, tidak berani....hehehee,,itu kan tadi kamu pasti sedang sibuk kan, jadi sekarang kamu kembali sibuk aku mandi dulu" jelasku dengan muka paling manis berharap Ferry mau keluar dari kamar.


Tapi harapanku sepertinya akan sirna, karena tubuh Ferry justru makin condong mendekat padaku Jatung ku sudah berpacu tak beraturan. wajahku sudah terasa panas, saat Ferry menghembuskan nafasnya dicengkuk leher dan telingaku sambil merangkul pinggangku, bulu kuduk ku meremang. Hasratku mulai tergoda oleh tinggah Ferry.


"Sudah tidak bercanda lagi" tiba-tiba Ferry melepasku dan meninggalkan ku sendirian di kamar dan berlalu pergi sambil senyum-senyum sendiri karena berhasil menjahiliku.


'Dasar bule tengil, bodohnya aku dikerjainya' gumamku dalam hati. Lalu menuju kamar mandi melanjutkan aktivitas yang tadi tertunda karena kesulitan membuka gaun ku.


Aku mandi berendam dengan aroma bunga lavender membuat tubuh lelahku fresh kembali.


"Akhirnya selesai juga mandi mu yank" suara serak Ferry mengejutkan ku, saat baru keluar dari kamar mandi.


"Ya Tuhan suamiku, kamu mau membuatku kena serangan jantung" teriak ku karena kaget tiba-tiba Ferry dari belakang muncul dengan suara seraknya.


"Ehhh...kamu kenapa?" tanyaku melihat Ferry yang terlihat lelah seperti ada yang mengganggu pikirannya.


"Biar seperti ini sebentar" ucapnya sambil memeluk ku makin erat dan mengedus cengkuk leher ku.


"Sayang, kamu ada masalah?" tanyaku berusaha mencari tau apa yang terjadi


"Sedikit" jawabnya singkat.


"Mau cerita dengan ku?" tawar ku pada Ferry, lalu dia menggelengkan kepalanya.


"Yasudah kalau begitu aku pakai baju dulu kamu tunggu aku sebentar" pintaku pada Ferry, yang lagi-lagi dia menggelengkan kepalanya


Aku menarik nafasku dalam-dalam agar bersabar menghadapi suamiku yang moodyan. Perasaannya seperti cuaca yang tak bisa ditebak kapan panas kapan hujan. Masih mending cuaca bisa diprediksi menggunakan alat-alat canggih, tapi soal isi hati siapa yang biasa tau?.

__ADS_1


Lama kami dalam posisi seperti ini. Rasanya kaki ku mulai pegal terus berdiri menahan tubuh Ferry yang jauh lebih besar dari ku. Sampai akhirnya Ferry melepasku. "Terima kasih" ucapnya membuat alisku mengerenyit bingung.


"buat?" tanyaku spontn karena bingung mwndengar ucapa terima kasih Ferry.


"Karena bersedia mendampingi ku dan berada disisiku" sahutnya dengan senyum manis yang menyejukan mata saat memandangnya.


"Kembali kasih suamiku" ucapku sambil ngeloyor menuju walk in closed untuk mengambil baju tidur dan mengeringkan rambutku.


Siapa sangka tiba-tiba si bule masuk walk in closed. "Sini aku bantu mengeringkan rambut" ucapnya sambil mengambil headryer dan sisir dari tangan ku. Aku sih seneng banget di bantuin ngeringin rambut, karena memang aslinya repot ngeringin rambut panjangku sendirian, 'kalau kaya gini kan lumayan jadi berasa kaya di salon'. gumamku dalam hati.


"Sayang, kamu sebenarnya kenapa? cerita please" pintaku pada Ferry karena aku tak nyaman melihat raut wajahnya tersenyum tapi sorot mata birunya sendu.


"Nanti lah kita bahas, sekarang aku bantu kami keringkan rambut dulu" ujarnya cepat mengalihkan pembicaraan.


Jadilah selama mengeringkan rambut ku, kami hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


Baru lah saat diatas ranjang dengan posisi ternyaman kami, Ferry mulai menceritaka apa yang terjadi sambil sesekali dia mendaratkan kecupan dipuncak kepala ku.


Ternyata lagi-lagi ada masalah dengan perusahan, dia nampak lelah dan banyak pikiran. Seperti ada ganjalan yang masih dia sembunyikan dariku.


"Aku tidak tau kenapa belakang banyak sekali masalah pada perusahan, dan selalu saja mengharuskan ku datang langsung" ujar Ferry dengan hebusan nafas panjang melepaskan kepenatannya.


"Memang kali ini di perusahaan dimana?" tanyaku dengan hati-hati.


"Di Negara A, besok kita kembali ke negara IND dan lusa aku langsung terbang ke negara A. Kamu baik-baik di negara IND tunggu aku selesaikan masalah disana aku akan datang lagi menemui mu"


Mendengar ucapan Ferry membuatku langsung keluar dari pelukan Ferry dan duduk menatap matanya yang sendu dan tak berdaya dengan keadaan tapi bibirnya tetap tersenyum menutupi kesedihannya.


Aku yang tadinya mau complain pun terpaksa kembali menelan kata-kata ku. Dan jadi ragu-ragu mau mengungkapkan perasaanku saat ini.


"Sayang...." Belum juga selesai aku bicara Ferry membungkap mulutku dengan bibirnya dengan lembut dan penuh gairah.


"Aku menagih janji mu" ucap Ferry dengan seringai mesumnya disela-sela tautan bibir kami. Aku tak menghilaukannya karena kini gairah mulai menjalar keseluruh tubuhku karena ulah Ferry.

__ADS_1


Malam yang harusnya berakhir sendu justru jadi berakhir dengan peluh ujar kenikmatan kami rengkuh bersama. Aku pun tertidur pulas usai percintaan panas nan panjang, menguras seluruh energiku.


__ADS_2