
Anggur merah yang memabukan.....
Ringtone ponsel Lia berdering, saat ku lihat dilayar muncul "Mama ku tersayang", aku pun menggeser icon hijau keatas.
"Sayang kamu dimana?" tanya mama mengawali pembicaraan.
"Ma, ini Ferry. Lia ketiduran kaya kecapean ma, soalnya tadi siang kita ke rumah sakit buat jenguk papa dan juga Rendy teman Lia" Jelasku agar mama tak mendesak kami untuk ke rumahnya sekarang juga, karena aku pun masih harus metting.
"Owh begitu, trus kalian dimana sekarang?" tanya mama dengan nada selidik membuatku mengerutkan alis.
"Dirumah pondok indah ma, kami sampai saat mama sudah berangkat ke rumah Kemang satu setengah jaman kata pak Umar...Karena Ferry ada metting jadi kami disini dulu sambil Lia istirahat" jelasku.
"Ya sudah kalian kesininya besok saja" ujar mama yang langsung ku sambut dengan suka cita.
"oke ma" jawabku singkat
"kalau tidak ada lagi Ferry tutup telphonnya ya ma" pintaku undur diri yang di sambut "oke, selamat bersenang-senang" ucap mama sebelum mematikan telphonnya.
Aku melihat banyak pesan masuk dan juga misscall dari Mira. "Astaga, aku baru ingat Lia ada kuliah jam 5 sore tadi, habis lah aku"...kalau Lia bangun pasti akan ngambek karena ulah ku membuatnya tidak kuliah hari ini. Aku pun tidak jadi membangunkan Lia dan kembali ke ruang makan untuk lihat dan memilih gambar design yang akan dipasarkan pada musim panas nanti.
Berkali-kali ku pandangi design baju, celana, dres musim panas yang disajikan tak ada satupun yang sesuai dengan hatiku. akhirnya saat metting dilanjutkan aku meminta para designer membuat design ulang dari design yang ada aku memeberi catatan-catatan agar mereka memperbaiknya sesuai dengna arahan yang aku berikan.
Saat jam menunjuk pukul 9.48 Lia keluar dari kamar hanya dengan bathrobe dan handung kecil yang menggulung diatas kepalanya.
"Sayang kamu masih kerja?" tanya Lia saat melihatku masih menekuri laptop dengan bungkusan makanan dan botol air mineral kosong masih berserakan dimeja.
"Masih yank, ini makanan untuk mu tapi harus kamu angetin dulu di microwave sebelum dimakan karena sudah dingin" ucapku sambil menyodorkan dua buah kotak makanan ke depan Lia yang langsung disambutnya dengan senyum manis.
"Makasih suamiku" ucapnya sambil berlalu menuju dapur. Aku pun kembali melihat hasil design yang dikirim setelah mereka memperbaikinya sesuai dengan note yang aku berikan.
"Sayang, kamu sedang liat apa?" ucap Lia sambil merangkul ku dan meletakan dagunya di bahuku.
"Ini design untuk musim panas tahun ini, tapi aku merasa ada yang kurang pas dengan design mereka...bagaimana menurut mu?" tanyaku pada Lia karena dia kan anak Fasion Design.
__ADS_1
"Aku boleh merubah designnya?" tanya Lia tiba-tiba, membuat ku jadi penasaran.
"Boleh" jawab Ferry dengan antusias
"Bawa laptop mu ke kamar biar ku print design-design itu agar aku lebih mudah merubahnya" ujarku melihat Ferry nampak bingung.
"Owh...begitu" ucap Ferry sambil mengkat laptopnya menuju kamar.
Lalu aku menyambungkan colokan laptoo ke printer yang ada di meja belajarku dan mencetak delapan gambar design.
"Benar tidak apa-apa aku merubah design mereka?" tanyaku sekali lagi.
"Tidak apa, semua karya design ini sepenuhnya milik perusahan jd kamu bebas merubahnya sesuka hati mu". mendengar ucapan Ferry tanpa ragu aku pun mengambil alat gambarku.
Kami pun kembali ke ruang makan, Ferry sibuk metting, aku sibuk makan. Selesai makan dan merapikan sampah-sampah dimeja bekas makan Ferry aku menggoreng risoles dan membuat susu coklat kesukaan Ferry.
"Ini buat teman metting" ucapku sambil meletakan risoles dan juga susu coklat panas di meja makan.
"Wah istriku memang terbaik, tau aja kalau cacing diperutku mulai lapar. Makasih ya sayang" ujar Ferry sambil memeluk pinggangku dengan posesifnya.
Ferrya pun melonggarkan pelukannya tapi dia tidak melapaskan ku sebelum aku mencium bibirnya yang sudah dia monyongkan. Bayi besarku ini benar-benar kalau sudah datang manjanya. Setelah aku mwngecup bibirnya, Ferry pun melepasku baru abis itu aku duduk santai di sofa panjang dekat jendela yang tak jauh dari meja makan tempat Ferry berada.
Satu persatu aku memandangi design baju, rok, celana dan dress dengan suka cita membayangkan akan merubah mereka semua jadi lebih indah dari sebelumnya, menutupi setiap kekurangan yang ada rasanya senang sekali setiap aku bisa melakukan ini semua apa lagi kalau si bule sampai suka dengan karya ku.
"Sudah ada yang jadi belum designnya?" Suara bariton suamiku membuatku mendongakan kepala dan mataku langsung bertemu dengan mata biru milik suamiku. Dalam sekian detik aku terpesona dan tak bergeming.
"Sudah, coba kamu lihat ini" ucapku saat sudah mulai tersadar sambil menyerahkan 2 lembar design pada Ferry.
Lama Ferry menekuri gambar design yang telah ku rubah. Lalu tiba-tiba dia mengelus kepalaku. "Kerja bagus sayang, aku suka design mu ini". Pujian Ferry langsung membuaf binar bahagia di wajahku.
"Kamu lanjut sibuk lagi, aku juga masih ada kerjaan" ujar Ferry sambil berlalu kembali kedepan laptopnya dan membawa dua lembar design yang sudah ku ubah.
Sayup-sayup ku dengar suara Ferry menelphon, membuatku melihat ke arahnya dan ternyata dia benar sedang bicara di telphon sepertinya dengan Jerry Apa yang mereka bicarakan nampaknya serius sekali.
__ADS_1
Karena jiwa kepoku meronta-ronta akhirnya aku pura-pura kedapur untuk ambil air minum, agar bisa mendengar pembicaraan Ferry dengan Jerry sang asisten pribadi.
"berapa pun harga beli saja, karena aku akan minta Lia merubah design itu"
"Kamu yakin tidak perlu dibeli?"
"Benar sudah jadi hak perusahaaan tiap x mereka mendesign, kamu yakin?"
"Owh semua tertuang dalam kontrak kerja mereka, baiklah kalau begitu"
Ternya mereka sedang membicarakan soal design yang aku rubah. Ferry sedang memastikan keabsahan kepemilikan design agar safety kalau aku rubah-rubah. padahal tadi aku tanya, dia jawab dengan penuh keyakinan kalau tidak apa-apa sudah milik perusahaan kenapa sekarang keliatan dia yang ragu....ckckckck dasar bule tengil.
"Sayang, kamu ngapain berdiri disitu?" sapa Ferry mebuyar lamunanku.
"Ehh..itu, aku sedang ambil minum" ucapku terbata-bata sambil menunjukkan botol air mineral yang aku pegang.
"Kasini lah, ada yang mau aku beri tahu" ucap Ferry membuatku melangkah mendekatinya. Ferry memutar kursi kearah luar sehingga kakinya tidak lagi berada dibawah meja.
"Duduk sini" Dia menepuk pahanya memintaku duduk dipangkuannya, melihat permintaanya alisku langsung mengerenyit, "mau apa lagi ini si bule mesum...huh" bathin ku tapi tetap saja ku turuti permintaannya.
"Aku tadi abis telphon Jerry memastikan kepemilikkan design yang sedang kamu rubah. sekarang kamu bisa tenang merubahnya karena benar seperti ucapanku sebelumnya design-design itu 100% sudah jadi milik perusahaan jadi perusahaan bebas merubahnya" Ujar Ferry sambil memeluk ku dan membenamkan wajahnya dicengkuk leherku. Membuatku harus menahan nafas karena hembusan nafas Ferry dileherku membuat bulu kuduk ku merinding.
"Owh bgtu...ya sudah kalau begitu aku lanjut mendesign lagi" ucapku sambil melepas pelukan Ferry dan berusaha jauh-jauh darinya.
"Nanti saja lah, biar begini dulu sebentar" ucap Ferry santai.
"Sayang bukannya kamu masih akan metting?".
"Masih break koq, kenapa kamu nggak nyaman?"
aku langsung mengangguk. "Kenapa?, takut aku memakan mu lagi?" aku kembali mengangguk.
"Aku tidak sekejam itu sayang, aku tau kamu kelelahan menghadapiku tadi. Aku cuma sedang suntuk dan butuh kamu untuk memberiku semangat" . Mendengar ucapannya aku memutar tubuhku dan menangkup wajahnya lalu menciumi wajahnya membuat Ferry cekikikan karena geli aku menciuminya seperti anak kucing. "Hentikan sayang, kalau kamu lanjutkan aku khawatir si singa kembali lapar". ucapan Ferry langsung membuatku berhenti dan tak bergerak sama sekali dan tawa Ferry pun pecah lalu melepaskan pelukannya dan mengizinkan ku pergi.
__ADS_1
"Habis manis sepah dibuang" gerutuku sambil jalan menuju sofa.
diTunggu komen, like dan votenya ya kakak semua...happy reading