
"Suam...kamu" Lia menutup mulutnya begitu masuk kedalam ruang rawat Ferry.
"Sayang, kamu kenapa panik gitu?" tanya Ferry yang sedang mengganti balutan lukanya di bantu dokter cantik dan juga seorang suster. Sedangkan Leon menahan tawa karena dia melihat wajah panik Lia saat masuk lalu berubah merah merona karena malu.
"Kalian pergi lah dulu" ucap Ferry menghentikan dokter yang sedang membalut lukanya.
"Tapi ini harus segera dibalut lukannya" ujar sang dokter.
"Sudah dok, nanti biar saya yang balut lukanya. Sekarang dokter sama suster keluar dulu deh ya" ujar Leon memaksa dokter dan juga suster keluar.
'Siapa sih wanita itu? penting sekali dan tadi juga tuan muda Goucher memanggilnya sayang. Apa itu kekasihnya?' bathin sang dokter kesal karena kedatangan Lia dia jadi di usir keluar.
Sang dokter menatap tak suka pada Lia saat mereka berpapasan. "Kamu kenapa menyuruh dokternya keluar?" ucap Lia dengan wajah khawatir karena luka sang suami belum dibalut dengan benar.
"Biar kamu yang balut" sahut Ferry seenak hatinya membuat Lia mencibikan bibirnya sambil membalut luka Ferry.
"Luka ini sepertinya bukan luka akibat kecelakaan" ujar Lia sambil menatap manik mata biru sang suami.
"Memang bukan" jawab Ferry santai.
"Lalu? luka apa ini?" tanya Lia lagi
"Luka tembak" mendengar jawaban Lia tangannya berhenti membalut luka Ferry.
"Apa luka tembak? koq bisa?"
"Kamu tenang dulu, nanti aku ceritain sekarang balut dulu luka ku dengan benar" pinta Ferry dan Lia pun melakukannya.
Begitu balutannya sudah rapi, Lia membantu Ferry mengenakan baju pasien dan duduk bersandar di ranjang.
"Tadi kenapa kamu masuk panik sekali?" tanya Ferry, membuat Lia menatap tajam kearah Jerry yang baru saja masuk.
__ADS_1
Ferry melihat tatapan Lia yang tak biasa pada Jerry mulai memiliki tebakan dalam hatinya.
"Tuh, Jerry mengerjai ku" gerutu Lia sambil melotot ke arah Jerry, membuat sang suami langsung menatap Jerry lekat seraya meminta penjelasan.
"Maaf tuan muda, saya hanya berniat membantu nyonya muda biar nggak kena penyakit 3L 1K" ujar Jerry menahan tawa, Leon yang mendengar pernyataan Jerry pun menahan tawanya.
"3L 1K? maksud mu aku kena penyakit apa itu?" sahut Lia jadi sewot dibilang kena penyakit aneh
"Itu penyakit Lelah, Letih, Lunglai dan Ketakutan mengahadapi tuan muda" ujar Jerry sontak membuat Leon tertawa lepas karena tak kuat lagi menahan tawa sedari tadi.
"Kalian berdua keluar" perintah Ferry dengan nada agak tinggi membuat Jerry dan Leon tak berani membantah langsung keluar dari kamar rawat sang tuan muda.
"Gila kamu Jer, istri boss pun berani kamu kerjain...tapi sumpah ya muka nyonya muda lucu banget pas masuk panik tiba-tiba merona karena malu....itu imut banget" ujar Leon sambil merangkul Jerry saat keluar dari kamar rawat Ferry.
"Aku tadi tuh cuma iseng aja, abis tidak tega liat wajah nyonya muda yang ketakutan ditekuk dan tak bersemangat setelah tau kalau tuan muda tau kalau nyonya dateng kesini pakai pesawat jets tuan Arjun" jelas Jerry membuat Leon makin tertawa terbahak-bahak.
"Pelankan suara mu, nyonya muda dan tuan muda pasti bisa mendengarnya" ujar Jerry yang tak enak hati sudah mengerjai istri bossnya.
Ferry sendiri jadi serba salah mau bersikap tegas sama Lia, Ferry tak tega saat melihat wajah sang istri yang langsung murung penuh rasa bersalah kaya bocil yang ketawan habis jajan pakai duit tabungan yang di kasih sama ibunya sebelum berangkat ke sekolah.
Lama mereka berdua saling diam memikirkan sikap apa yang harus diambil menghadapi pasangannya masing-masing agar tidak perlu ada pertengkaran karena jauh dilubuk hati masing-masing mereka saling merindukan satu sama lain.
"Suam"
"Sayang"
Ucap Lia dan Ferry bersamaan membuat senyum canggung menghiasi wajah mereka.
"Kamu dulu deh yank" ujar Ferry
"Kamu aja suam, sepertinya lebih penting" sahut Lia salah tingkah.
__ADS_1
"Kenapa pilih Arjun untuk mengantar mu kesini? apa hubungan kalian sudah sedekat itu?" tanya Ferry dengan nada selembut mungkin sambil mengepal kuat genggaman tangannya di balik selimut.
"Itu karena aku dekat dengan adik sepupu Arjun, kamu ingat tidak teman di kampus ku yang namanya Jeni, nah dia ternyata adik sepupu Arjun" Ferry mengangguk pelan ingat dengan wanita yang Lia bicarakan dan Ferry pun mulai paham alasan Lia bisa sampai ke negara S di antar Arjun.
"Alas apa yang kamu gunakan sampai dia mau mengantar mu ke sini?" tanya Ferry penuh selidik.
"Jeni yang memohon pada Arjun karena Jeni tau hubungan kita, sejak muncul rumor kamu sama Sandra" Lia pun mulai menceritakan segalanya sampai akhirnya Arjun setuju mengantarnya dan Jeni pun ikut menemani Lia ke negara S.
Wajah suram sang suami perlahan berubah menjadi lebih ramah dan sebuah senyum sempat menghiasi wajah sang tuan muda yang dingin dan arogan walau hanya sekilas.
"Trus kenapa kamu ngotot mau kesini?" tanya Ferry sambil menarik tangan sang istri agar naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi yang tidak ada luka.
"Karena khawatir sama kamu, aku yakin luka mu tidak sesederhana seperti yang kamu bilang di telphon, ditambah lagi kamu melarang ku begitu keras agar tidak kesini. itu membuat ku makin mencemaskan mu dan ingin kesini. Selain itu aku juga kangen tidur dipelukan suami ku"
"Kalau begitu kamu tidur lah, ini juga sudah malam" ucap Ferry menarik selimut dan mulai menurunkan posisi ranjang pada posisi tidur.
"Aku bersih-bersih dulu, kamu istirahat lah lebih dulu" ucap Lia kemudian bangkit dan turun dari atas ranjang.
Saat Lia keluar dari kamar mandi bukan Ferry istirahat tapi justru pria itu sedang sibuk di depan macbooknya.
"Suami" panggil Lia dengan nada lumayan tinggi karena kesal melihat suaminya yang sudah jadi pasien tapi masih sibuk kerja padahal ini sudah malam juga, kaya nggak bisa dikerjain besok aja.
Ferry yang mendengar suara melengking Lia langsung mengangkat wajahnya dan menatap wajah sang istri dengan rasa tak bersalah dan bingung.
"Kamu tau nggak sih kalau kamu itu seorang pasien harus banyak istirahat ini sudah malam bukan waktunya untuk kerja" Lia berjalan mendekat pada sang suami lalu mengambil macbook dan meletakannya di dalam laci meja sebelah ranjang Ferry.
"Sayang lima menit lagi deh itu tanggung banget, please" rajuk Ferry membuat Lia mengalah. "Bener ya lima menit?" Ferry langsung mengangguk agar Lia mengembalikan macbooknya.
"Terima kasih istri ku" ujar Ferry sambil tersenyum manis saat menerima macbook dari Lia.
Lia hanya bisa menghembuskan nafas beratnya kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Jeni.
__ADS_1
Jangan lupa Like, komen dan jadikan novel ini Favorite kalian yess. tks.