Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Rumah Sakit


__ADS_3

Tok...tok...tok


"Aku masuk ya suam" teriak Lia usai menggetuk pintu ruang kerja Ferry.


Terlihat sang suami sibuk di depan meja kerjanya. 'Jadi terlihat makin tampan kalau pasang muka serius begitu' bathin Lia menatap sang suami.


"Mau menatap ku sampai kapan?" tiba-tiba suara bariton sang suami terdengar menyadarkan Lia dari lamunannya.


"Ehh....Mana ada aku menatap mu?" kilah Lia sambil berjalan mendekati sang suami.


"Hhhmmm..kamu kesini ada perlu apa?" tanya Ferry dingin dan malas berdebat dengan Lia.


Lia yang melihat suaminya begitu dingin jadi usil. Lia berdiri di samping kursi Ferry dan memutar kursinya kearah Lia sehingga sang suami kini menatapnya.


"Kamu mau apa?" tanya Ferry masih dengan nada dingin.


"Aiisshhh ....suami kamu tau nggak kalau kamu kaya gini aku tuh jadi gemes banget" ucap Lia sambil duduk di pangkuan Ferry dan mengalungkan lengannya di leher.


'Kamu mencoba menggoda ku, tidak mempan' bathin Ferry sambil mengabaikan tingkah Lia dan kembali memeriksa berkas walau kini agak sulit dengan Lia di pangkuannya.


Lia mulai tertantang melihat sang suami yang begitu dingin dan mengacuhkannya. 'Hhhmm...tuan muda Goucher, aku mau lihat berapa lama kamu akan tahan godaan ku?' ujar Lia dalam hati sambil mulai menciumi leher sang suami dan Lia melepaskan kancing kemeja Ferry, tanganya mulai menyentuh kulit Ferry.


'Tahan Junior, kamu jangan mempermalukan ku. Biar dia usaha lebih keras sedikit' Ferry berusaha menahan godaan Lia sekuat tenaga.


Lia yang melihat Ferry menahan diri makin tertantang. 'Kita lihat mau sampai kapan kamu menahan diri?' bathin Lia makin agresif menggoda Ferry membuat Ferry tak bisa fokus memeriksa berkasnya.


Lia yang mulai tak sabaran karena aksinya tak membuahkan hasil akhirnya memegang kedua pipi sang suami, Ferry agak terkejut tak mengira Lia akan jadi begitu agresif memaksanya untuk bersitatap. 'Sial kenapa Lia terlihat imut banget banget dengan senyum nakal' bathin Ferry mulai gelisah.


"Sayang kamu tau nggak? kamu yang ngambek karena cemburu dengan Shella itu imut banget tau, apa lagi bibir mu yang memberengut begitu bikin aku ingin menciu..." belum juga selesai ucapan Lia Ferry langsung menutup mulut Lia dengan menciumnya sangat lembut dan penuh hasrat.


"Kamu yang memancingnya, jangan salahkan aku jika memakan mu lagi sekarang" ucap Ferry menggendong Lia menuju kamar mereka.


"Suam, tunggu dulu Lia menahan tubuh Ferry saat akan memakannya begitu sudah terbaring di atas ranjang".


"Apa lagi sekarang?" tanya Ferry tak sabaran.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang, apa kata dokter nanti kalau kamu mangkir datang dan minta jadwal ulang"


"Dokter tidak akan berani berkata apapun" sahut Ferry mulai melancarkan aksinya. Lia pun hanya bisa pasrah dan menikmati setiap sentuhan yang dilakukan Ferry walau dia masih lelah akibat ulah Ferry semalam tapi ini semua Lia sendiri yang memancing hasrat Ferry.


Saat suasana makin panas dan Ferry hampir membuat lepas seluruh pakaian yang Lia kenakan


ting tong....ting tong


"Sayang lihat siapa yang datang dulu" ucap Lia merasa ada malaikat penyelamat.


'Ahhhggghh...sial merusak hari bahagia ku saja' rutuk Ferry sambil mengenakan kembali kemejanya dan keluar dari kamar. Lia pun buru-buru bangkit dan berjalan ke walk in closed untuk mengambil pakaian dan bersiap ke rumah sakit selagi Ferry membuka pintu.

__ADS_1


"Maaf tuan muda Goucher mengganggu anda, ini ada paket yang dikirim dari Mozard Boutique" ucap seseorang berseragam rapi nampaknya salah satu karyawan yang mengelola apartemen.


"Hhhmm, kamu letakan disana dan kamu tunggu sebentar" ucap Ferry berjalan ke arah kamar mengambil dompetnya dan mengeluarkan selembar uang lima puluh dollar untuk tips sang karyawan yang mengantarkan pakaiannya.


"Terima kasih tuan muda, kalau begtu saya permisi dulu" Ucap sang karyawan begitu Ferry memberinya uang tips dan Ferry hanya melambaikan tangannya dan bergegas kembali ke kamar untuk melanjutkan apa yang belum dia selesaikan.


'Kemana perginya Lia?' gumam Ferry tak melihat sang istri di atas ranjang namun pakaiannya masih berserakan di lantai.


Ferry melihat lampu walk in closed menyala 'Apa Lia di sana?' bathin Ferry sambil melangkah menuju walk in closed.


"Sayang kenapa kamu di sini?" Ferry memeluk Lia dari belakang saat Lia akan mengambil tas slempang kecil untuk dia kenakan dia ke rumah sakit.


"Bersiap ke rumah sakit suam, ayo cepat kamu juga bersiap" ucap Lia sambil melepaskan pelukannya dan mendorong Ferry menuju ke cabin di mana baju Ferry berjejer rapi.


"Kamu saja yang pilih" sahut Ferry malas karena dia gagal memakan Lia siang itu.


"Oke tuan muda" ucap Lia sambil mengambil sebuah kemeja dengan warna senada dengan dress yang Lia kenakan.


Ferry langsung mengganti bajunya sementara Lia memoles wajahnya dengan riasan natural tipis dan mengikat rambutnya kuncir kuda dengan membiarkan beberapa anak rambut jatuh tergerai di bagian kedua telinganya.


"Cantik" gumam Ferry saat keluar dari walk in closed dan melihat Lia yang sudah rapi.


"Ayo cepat kita pergi, jangan menggombal lagi" Ucap Lia sambil menarik lengan sang suami keluar dari kamar. Ferry menyambar cepat dompet dan ponselnya dari atas nakas karena Lia terus menarik lengannya tak memberinya waktu untuk menolak atau berhenti.


"Kamu buru-buru mau kemana sih yank?"


"Iya, tadi karyawan apartemen yang antar"


"Owh, nanti malam acaranya kan? kamu yakin kita harus datang bersamaan?" tanya Lia ragu-ragu


"Maksud mu?" alis Ferry mengerut dalam mendengar pertanyaan Lia yang dia yakin arahnya ke status pernikahan yang dirahasiakan.


"Hehehee...tidak jadi" ucap Lia sambil nyengir karena wajah sang suami sudah muram dan tak bersahabat.


"Bagus, ayo jalan" kini Ferry lah yang mengaitkan lengan Lia di lengannya agar kembali jalan.


Tak butuh waktu lama mobil Ferry sudah berhenti di depan rumah sakit pusat kota Negara A, rumah sakit yang sebagian besar sahamnya merupakan milik Goucher Corp.


Begitu Ferry mulai melangkahkan kaki memasuki rumah sakit semua mata terus memandangnya dengan tatapan terpesona.


"Silahkan tuan muda, Dokter Fransisca sudah menunggu anda di ruangannya" ucap suster yang bergegas menyambut Ferry begitu memasuki poli obstetri ginekologi.


"Nona Lia silahkan berbaring di sini" pinta seorang suster.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ferry melihat sang suster mulai menaikan baju liat hingga perutnya terlihat.


"Tenanglah sedikit tuan muda, kamu terlalu berisik. Bukakah kamu mau aku memeriksa kesehatan kandungan istri mu? Dan memastikan apakah ada efek dari minum pil kontrasepsi selama beberapa bulan ini?"

__ADS_1


"Baiklah, lakukan pelan-pelan jangan menyakitinya" mendengar ucapan Ferry dokter dan suster tak kuasa menahan tawanya membuat Lia menutup wajahnya karena malu.


"Nona Lia benar-benar beruntung, tuan muda sangat menyayangi mu" ucap sang suster sambil mengoleskan gel di atas perut Lia.


Lia hanya tersenyum mendengar komentar sang suster. "Jadi sudah berapa lama kamu mengkonsumsi pil kontrasepsinya? dan merk apa yang kamu minum?" Tanya dokter sambil mulai menjalankan alat USG. "Semua terlihat baik dan tidak ada masalah, suster kamu ambil darah nona Lia kita lakukan tes darah untuk memastikan semuanya" perintah sang dokter.


"Jadi bagaimana?" tanya Ferry mulai cemas.


"Istri mu sehat, untuk memastikan ada tidak efeknya terhadap kesehatan istri mu kita tes darah nona Lia dulu".


Ferry mendengarkan ucapan dokter dengan baik dan memberikan kursi pada Lia saat mulai duduk mendekati meja sang dokter, Lia mengeluarkan satu strip pil kontrasepsi yang biasa Lia konsumsi.


"Ini dok, obat yang biasa saya konsumsi" ucap Lia menunjukan obat kontrasepsi pada sang dokter.


"Apa kamu mengalami mual, pusing, flek kram saat menstruasi atau efek samping lain saat mengkonsumsinya" tanya dokter Fransisca pada Lia.


"Tidak, hanya frekuensi menstruasi agak berkurang biasa tujuh hari sekarang empat atau lima hari sudah bersih. Dan waktunya agak acak sejak saya mulai mengkonsumsi pil kontrasepsi ini"


"Kalau begitu kamu boleh terus melanjutkan konsumsi pil ini tapi saat sudah ingin hamil maka berhentilah mengkonsumsinya"


"Apa begitu berhenti akan langsung hamil?" tanya Ferry antusias.


"itu tidak pasti, pada umumnya butuh waktu dua sampai tiga bulan untuk memulihkan hormon estrogen dan progesterone agar kembali kekeadaan normal hingga siap dibuahi dan hamil"


"Ingat jangan mengkonsumsinya terlalu lama maksimal dua tahun atau akan sulit mengembalikan hormon mu pada kondisi normal".


"Tidak lama, hanya satu tahun" sahut Ferry sambil melihat ke arah Lia.


Lia Mendengar penjelasan dokter sangat merasa lega. 'Bagus lah itu artinya jika setelah enam bulan aku berhenti minum belum tentu akan langsung hamil masih ada dua sampai tiga bulan artinya aku bisa ikut kuliah semester pendek dan segera menyelesaikan kuliah ku dan mendapatkan gelar sarjana ku' senyum Lia terkembang saat memikirkannya membuat Ferry yang melihatnya jadi agak bingung.


'Apa yang dipikirkan wanita ini?' bathin Ferry 'Kenapa dia tersenyum?'.


"Bagaimana, apa kalian ada pertanyaan lagi?" dokter Fransisca memecah kebisuan karena kedua orang di depannya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Kenapa dok?" sahut Lia dan Ferry bersamaan.


"Masih ada yang mau kalian tanyakan?" dokter Fransisca mengulangi pertanyaannya.


"Tidak ada dok" ujar Ferry dan Lia bersamaan, membuat mereka berdua bersitatap sambil tersenyum


"Sudah...sudah kalian keluar dari ruangan ku jangan membuat ku ingin pulang menemui suami ku...Hasil laporan cek darahnya akan di kirim ke apartemen mu"


Lia dan Ferry pun meninggalkan rumah sakit dengan perasaan lega. Mereka bisa tenang sekarang setelah mendengar penjelasan dokter.


Mereka berdua tidak langsung kembali ke apartemen melainkan pergi makan di salah satu restoran yang lumayan jauh jaraknya dari rumah sakit.


Jangan Lupa like and komen ya ditunggu

__ADS_1


__ADS_2