Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Nomer Lima


__ADS_3

"Sayang sebenarnya ini acara apa?" tanyaku masih dalam pelukan Ferry.


"Ini acara mami dan group sosialitanya, mereka sedang mencari dana untuk kegiatan sosial mereka. Jadi hari ini mereka akan melelang beberapa barang sumbangan dari group mereka kepada para pengusaha yang hari ini di undang"


"owh pantas saja ku lihat wanita-wanita paruh baya seusia mami banyak yang sibuk dari tadi"


"Sepertinya acaranya akan di mulai ayo kita masuk, siapa tau ada sesuatu yang kamu suka dipelelangan ini, dengan senang hati akan aku belikan untuk mu"


"Hhhmmm...kamu tidak usah terlalu royal padaku"


"kenapa? kamu kan istriku jika bukan untuk mu maka uang yang ku cari untuk siapa?"


"Iya juga ya...baiklah aku akan membantu mu menghabiskannya....hahahaa" kami pun tertawa bersama, kemudian berjalan menuju acara lelang berlangsung.


"Ferry menunjukan undangannya lalu dia mendapatkan nomer lima dan kami pun diarahkan untuk duduk sesuai dengan nomer yang diberikan oleh panitia acara".


"Kenapa kamu dapat nomer lima, papi dapat nomer tiga sedangkan Shella yang sudah ada disini duluan jauh sekali disana posisi duduknya" tanya ku bingung karena posisi duduk mereka yang berbeda-beda.


"Itu semua sesuai jumlah uang dalam rekening pribadi tiap individu peserta lelang yang di undang sayangku"


"owh....ehhb,,apa katamu? sesuai jumlah uang dalam rekening pribadi?" tanyaku mengulang pernyataan Ferry karena itu artinya Ferry masuk lima besar orang dengan uang di rekening pribadi terbanyak yang hadir hari ini.


"iya sayang, kenapa? kamu kecewa aku bukan nomer satu?" sahutnya dengan wajah jahil sambil mencubit hidungku.


"Bukan...bukan begitu maksudku"


"Lalu maksud mu apa?" tanya Ferry dengan nada jahil.


"Aku tidak menyangka ternyata suamiku punya uang sebanyak itu? Sampai bisa masuk urutan kelima...Aku lagi berfikir Bagaimana cara aku menghabiskan uang mu?...hahahahaa"


Mendengar ucapanku Ferry malah ikut tertawa. "Kamu tidak akan mampu menghabiskannya sayang karena saat aku tertidur pun uang bekerja untuk ku...wkkwkwkwkwkk"

__ADS_1


"Gaya mu sudah seperti marketer MLM saja"


"Hahahahahaa....iya juga ya, quote itu biasanya dipakai para marketer MLM" ucap Ferry sambil kembali mengusel-gusel kepala ku. Baru aku akan ngambek pembawa acara lelang bicara diatas panggung untuk mengumumkan kalau acara lelang di mulai.


Aku pun sangat antusias menyaksikan acara lelang tersebut, karena ini pertama kalinya bagiku menghadiri acara lelang.


Ada lima belas barang yang akan di lelang hari ini, ada baju dari artis ternama yang baru dia gunakan satu kali diacara penerimaan penghargaaan, ada guci-guci antik, ada lukisan-lukisan langka, ada pula mobil antik, sebuah kalung berlian yang di design sangat cantik dan merupakan model satu-satunya yang ada di dunia dibandrol dengan harga fantastis membuatku sangat terkejut karena tak pernah membayangkan di dunia ini ada sebuah kalung yang bisa mencapai harga jutaan dollar. Walaupun kalung itu sangat cantik tapi saat mendengar harganya aku pun jadi tak berharap memilikinya. Dan yang paling menggoda adalah sebuah Villa yang berada dikawasan elite di negara A dengan view pegunungan, dimana model rumah tersebut hampir 80% kaca sehingga menampilkan view yang sempurna dari berbagai sudut pandang dibandol dengan harga yang membuat lututku lemas.


"Sayang kamu mau aku belikan kalungnya tidak?" tanya Ferry tiba-tiba langsung ku gelengkan kepala ku kuat-kuat "Tidak perlu, aku tidak membutuhkannya" jawabku cepat tanpa ragu-ragu.


"Hhmmm...lalu kamu mau aku belikan apa dari barang-barang yang disebutkan?, karena mami pasti akan memukulku jika aku tidak membeli satupun barang dari pelelangan ini" lanjut Ferry.


"Bagaimana kalau villa saja, bukan kah kamu sedang mencari rumah untuk kita tinggali dinegara A?" ujarku sambil tersenyum jahil karena harga Villa yang sangat Fantastik, aku yakin Ferry tidak memiliki uang sebanyak itu.


"Tapi itu jauh dari pusat kota, untuk sampai ke kampus mu saja memakan waktu dua jam perjalanan, kamu yakin mau villa itu? tanya Ferry dengan wajah bingung, ku pikir Ferry sedang mencari alasan saja aslinya dia tidak mampu belinya...hihiihihi


"Tapi aku dari dulu sangat menyukai rumah model seperti villa itu...aku mau villa itu" pintaku mulai merengek.


"Sayang tapi villa itu benar-benar jauh, dia memang berada di kawasan elite dengan sistem keamanan yang luar biasa sehingga aku tidak perlu khawatir jika kamu aku tinggal bekerja dan tetap berada di villa, tapi masalahnya dinegara besok kamu kuliah bukan hanya jadi IRT yang tiap hari di rumah menunggu suami pulang kerja. Aku tidak bisa membiarkan mu bepergian dengan jarak sejauh itu berkendaraan sendirian"


"Oke aku setuju membelikan mu villa itu dengan syarat selama kamu keluar dari villa kamu akan menggunakan mobil dan supir yang aku siapkan, bagaimana deal?" ucap Ferry setelah menarik nafas panjang.


'Ahhh...paling ini hanya akal-akalan Ferry biar aku menolak syaratnya dan dia tidak perlu malu karena tidak bisa membelikan villa itu untuk ku'.


"Bagaimana sayang, setuju tidak dengan syaratku?" tanya Ferry lagi sambil menatap ku dalam.


"Hhmm...oke deal" ucapku tanpa berfikir bahwa Ferry benar-benar menaikan papan nomernya dan menuliskan angka penawaran.


"Sayang hentikan, aku tidak jadi mau villa itu. aku tadi hanya bercanda dengan mu" ucap ku begitu melihat Ferry terus menaikan harga villa itu karena nampaknya orang yang duduk di nomer satu juga menginginkan villa itu, sehingga Ferry perang harga dengannya.


Melihat harga villa yang terus naik dan semakin menggila harganya membuatku langsung menahan tangan Ferry kuat-kuat agar tidak menaikan papannya lagi.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Ferry dengan wajah tidak suka dengan sikap ku.


"Kalau kamu tidak menaikan papan nomer mu lagi, aku janji malam ini aku akan memberikan mu malam indah yang tak akan mampu kamu lupakan" bisik ku membuat tangan Ferry yang tadinya tegang dan bertenaga untuk tetap mengangkat nomer papan itu, kini mulai relax dan tak lagi ada niat dia angkat.


"Kamu ingat dengan ucapan mu barusan, kalau kamu ingkar. Hukuman untuk mu akan lebih parah dari sebelumnya" Ancam Ferry sambil menatap ku lekat.


"Baik, aku mengerti" sahut ku cepat.


Dan senyuman di wajah si bule pun mengembang saat mendengar jawaban ku, lalu dia membisikan sesuatu yang membuatku manyun.


"Terima kasih menghentikan ku, kalau tidak besok pagi aku akan jatuh miskin karena semua uang ku habis membeli villa tadi...hehehee"


"Tau begitu aku tidak menghentikan mu tadi" gerutu ku, karena nampaknya Ferry sudah memprediksi aku akan menghentikannya.


"Hehehehe...sebenarnya harga tadi sangat diluar nalar dan jauh dari harga pasaran sebagai pengusaha jika tadi aku tetap membelinya itu akan sangat merugikan dari sisi bisnis namun dari sisi sosial itu akan menaikan kelas ku di posisi puncak" Jelas Ferry membuatku mengerenyitkan alis karena tidak paham kearah mana pembicaraan ini


"Jadi alasan ku membelinya cuma karena kamu menginginkannya, jadi saat ku liat sorot mata mu penuh keyakinan tak menginginkan villa itu aku ikuti mau mu untuk menghentikan pertarungan harga ditambah lagi bonus tawaran menggiurkan dari istri kecil ku yang paling cantik dan seksi, mana mungkin aku menolaknya".


'Ahhh...sial kenapa jadi aku yang kena batu dari lemparan ku sendiri' gerutu ku dalam hati saat mendengar penjelasan Ferry.


"Tapi kamu jangan khawatir aku akan membangunkan villa seperti itu di tanah yang ku beli enam bulan lalu. kebetulan lokasinya kalau ke kampus mu hanya setengah jam, tapi itu akan butuh waktu beberapa bulan. selama menunggu kita tinggal di apartemen dulu, bagaimana?" tanya Ferry sambil menatap ku penuh cinta dan menggenggam tangan ku.


'Ya Tuhan, gimana nggak makin cinta sama nih bule kalau dia tiap saat manis begini terus, ehh kadang nyebelin juga deh' bathin ku sambil senyum-senyum dan geleng kepala sendiri.


"Hey istriku, kamu sedang melamun jorok ya?". Goda Ferry saat melihat ku terdiam.


"Mana ada, memangnya aku kamu" ucap ku sambil membuang muka ke arah lain, yang ternyata pandangan ku bertemu dengan Pria arab yang memegang papan nomer satu, dia tersenyum pada ku sambil menganggukan kepala.


"Awas kalau kamu balas senyum si arab itu?" tiba-tiba suara serak Ferry menggelitik telingaku sambil dia meletakan dagunya dibahuku, membuatku mendongakan kepala melihat tingkahnya yang ingin menunjukan pada semua orang aku milikinya tidak ada yang berhak menyentuhku selain dia.


'Dia sedang cemburu?' Bule ini kenapa bisa posesif dan pencemburu begini banget ya...bikin pusing kepala kalau terus-terusan begini, bathin ku.

__ADS_1


"Sayang acara lelang ya sudah selesaikan, kita pulang nyuk?" pintaku sebelum Ferry melakukan sesuatu yang lebih gila.


"Aku kirim pesan ke mami dulu, kita pulang duluan" ucap Ferry kemudian mengetik sesuatu di layar ponselnya sedangkan pria keturan arab itu terus memandangi ku sambil tersenyum membuatku tak enak hati jika tak membalas senyumnya, tapi jika ku balas Ferry pasti akan bikin keributan. Akhirnya aku pun mengabaikan pria keturunan arab itu dan keluar dari ruangan bersama Ferry sambil bergandengan tangan. Karena acara belum seutuhnya selesai begitu melihat kami berdiri semua mata tertuju pada kami dan bisik-bisik mulai terdengar. Aku dan Ferry mengabaikan itu semua.


__ADS_2