
Selepas subuh Lia dan Ferry tidur lagi karena mereka baru selesai bermain jam tiga.
tok...tok...tok...tok
"Sayang, bangun ada yang mengetuk pintu kamar" Lia menyentuh wajah sang suami.
"Aku males banget bangun, itu pasti kepala pelayan yang minta kita turun untuk sarapan" ucap Ferry dengan mata masih terpejam.
"Kalau begitu aku aja yang bukain" sahut Liat bersiap untuk bangkit yang ditahan Ferry. "Aku aja" Ferry langsung bangkit menuju pintu.
"Tuan muda, nyonya tua sudah menunggu di bawah untuk sarapan bersama dan ini pakaian ganti untuk nyonya muda" ucap kepala pelayan sambil menyerahkan paper bag.
"Bilang nenek Kami segera turun" sahut Ferry datar.
"Baik saya permisi dulu kalau begitu" pamit kepala pelayan.
Ferry naik keatas ranjang, menciumi dan memeluk Lia. "Aku masih ngantuk, males turun mau peluk kamu kaya gini trus" rengek manja Ferry pada Lia.
"Sayang, ayo cepet bangun. Nanti kita jadi perbincangan para tetua kalau turun kelamaan" Lia membujuk Ferry, yang di bujuk malah kembali terlelap.
Akhirnya Lia pelan-pelan keluar dari pelukan Ferry untuk mandi dan bersiap, andai Ferry memang tidak mau turun minimal dia turun dari pada dua-duanya nggak turun pikir Lia.
Beberapa menit kemudian Lia siap untuk turun menuju ruang makan, Lia berpapas dengan Clara dan Willy di tangga.
"Pagi kakak ipar, dimana kak Ferry?" tanya Clara dan Willy bersamaan.
"Kalian kompak banget sih" kedua terkekeh. "Clara emang folower aku yang terbaik, hahahaha" celoteh Willy yang langsung mendapat cibikan bibir dari Clara.
"Ferry masih tidur kayanya kecapean, ayo kita turun nggak enak sama nenek tua kalau nunggu kelamaan" ajak Lia yang diangguki Clara dan Willy.
Di meja makan benar saja para tetua sudah duduk menunggu anak-anak muda yang pada kesiangan kecuali kak Margaret dan anaknya Terry sudah duduk manis.
"Kalian pada tidur jam berapa semalam?
bangun kesiangan semuanya, sampai kami harus nunggu selama ini?" ucap Juan papi Ferry dengan wajah kesal karena dia harusnya sudah pergi ke kantor karena Ferry tidak masuk itu artinya semua perkerjaan yang urgent akan dia handle sendiri hari ini.
Lia dan Clara tak berani buka suara, akhirnya Willy lah yang menjawab pertanyaan Juan.
"Maaf semuanya kami kesiangan semalam keasikan ngobrol dan main sampai jam tiga pagi kami baru bubar, jadi kesiangan deh"
"Sudah...sudah duduk dulu" ujar Nenek tua. "Lia, mana suami mu? kenapa dia tidak turun?" lanjut nenek tua heran melihat Lia turun sendirian.
"Ferry masih tidur nek, katanya masih ngantuk dan malas ikut sarapan" sahut Lia.
__ADS_1
"Nanti selesai sarapan kamu bawakan Ferry sarapan" ucap Nenek, yang diangguki Lia. "Baik nek"
"Sepertinya Dhaniel dan Shella pun tidak akan turun untuk ikut sarapan, kalau gitu kita sarapan duluan saja"
Mendengar ucapan Nenek tua, semuanya memulai aktivitas makan dengan tenang dan sesekali mengobrol. Juan makan dengan terburu-buru karena dia berniat segera pergi ke kantor.
"Bu, aku sudah selesai. Aku pamit ke kantor sekarang ya" pamit Juan pada nenek tua.
"Kamu buru-buru mau apa?" sahut nenek dengan tenang.
"Ada banyak pekerjaan hari ini, karena ibu memberi Ferry izin untuk cuti hari ini itu artinya semuanya akan Juan yang handle" gerutu Juan dengan suara tenang.
"Kamu menyalahkan ku memberi cucu ku cuti untuk istirahat?" sahut nenek tua dengan mengangkat wajahnya menatap Juan.
"Bukan begitu bu, aku coba menjelaskan alasan kenapa aku buru-buru" jawab Juan setenang mungkin walau dalam hati sudah kesal setengah mati.
"Ya sudah kamu pergi lah, hati-hati di jalan" ucap nenek tua memberi izin juan pergi.
"Bu, aku antar Juan kedepan dulu" pamit mami mengikuti langkah papi.
"Kalian kenapa diam, lanjut sarapannya. Lia makan lah yang banyak badan mu itu terlalu kurus. Bagaimana bisa cepat hamil kalau kurus begitu" ucap nenek sambil meletakan lauk ke piring makan Lia.
"Terima kasih nek" ucap Lia menerima lauk pemberian nenek dan memakannya.
"Nanti aku tanya sama Ferry dulu ya" sahut Lia dengan senyum manis.
"Bibi Lia ikut aja Terry juga ikut low jadi kita bisa jalan-jalan sama-sama" bujuk Terry agar Lia mau ikut.
"Bibi Lia harus tanya paman Ferry dulu" sahut Lia sambil mengelus kepala Terry.
"Terry bantu bibi Lia bujuk paman Ferry kalau begitu"
"Boleh, sekarang kita habiskan sarapan dulu setelah itu Terry ikut bibi Lia ke atas untuk membujuk paman Ferry"
"Oke, ayu mom suapin Terry makannya biar cepat selesai" Margaret pun menyuapi Terry makan, dia sendiri terpaksa menghentikan makannya.
"Maaf aku terlambat" suara barito Ferry terdengar membuat Lia mendongak untuk memastikannya.
"Duduk lah, cepat sarapan" pinta nenek tua dengan senyum manis pada cucu kesayangannya.
"Pagi sayang" sapa Ferry pada Lia sambil mencium pipinya.
Lia menghentikan makannya dan menyiapkan nasi dan lauk ke piring Ferry. Lia dengan telaten mengupas kulit udang kesukaan suaminya.
__ADS_1
"Makasih" sahut Ferry saat Lia selesai mengupas sepiring kecil udang dan meletakannya untuk Ferry.
"Terry juga mau bibi udang" pinta Terry pada Lia.
"Mommy yang ambilkan udangnya untuk Terry ya, jangan merepotkan tante" ujar Margaret dan dengan cepat dia mengupas udang untuk Terry.
"Pagi semuanya, maaf ya Shella kesiangan" sapa Shella begitu muncul di meja makan.
"Duduk lah Cepat sarapan" sahut Nenek sambil geleng kepala melihat cucu perempuan yang manja.
"Mi, papi udah berangkat kerja ya?" tanya Shella melihat kursi papinya kosong.
"Iya sudah ke kantor, kamu itu anak gaida mau sampai kapan begini trus?" ucap mami tiba-tiba.
"Ehh...apa yang salah dengan ku?" ujar Shella bingung.
"Pakaian mu itu low nggak ada yang lebih sopan apa masa iya pake hot pan dan kaos pres body gantung" sahut Willy.
"Hhehehehe...ini musim panas kak, di luar akan banyak yang lebih seksi dari ini" Sahut Shella santai.
"Kami itu, ada aja jawabannya" mami memukul kepala Shella dengan kipas tangannya.
"Aduh mami, gimana aku bisa secerdas kak Ferry kalau tiap hari mami pukul pake kipas" gerutu Shella
"Hahahaa...kamu memang tidak akan pernah bisa secerdas kakak mu, biar pun tidak dipukul. Sudah terima nasib saja" sahut Willy sambil tertawa.
"Willy jaga bicara mu" ucap Bibi Hanny tak suka anaknya mentertawakan orang lain pasalnya Willy juga tak sehebat Ferry bahkan Dhaniel sekali pun tak mampu menyaingi Ferry, walau pun anak-anaknya tergolong cerdas dan slalu juara.
Ruang makan kembali tenang dab semuanya fokus menghabiskan sarapannya masing-masing.
"Nenek tua sudah selesai, kalian lanjut lah makannya. Lia dan Ferry selesai sarapan kalian ke kamar nenek" pinta nenek sebelum beranjak pergi meninggalkan ruang makan.
Lia dan Ferry saling pandang, seakan mengerti isi hati sang istri Ferry mengelus lengan Lia sambil berbisik. "Tidak usah terlalu di pikir, aku akan slalu di samping mu". Lia hanya tersenyum.
"Cantik" gumam Ferry
"Heemm.." gumam Lia saat samar-samar mendengar ucapan Ferry.
"Sudah lanjut makannya" pinta Ferry pada Lia.
"Kak Ferry ada rencana apa hari ini?" tanya Clara.
"Belum ku pikirkan" sahut Ferry santai
__ADS_1
"ikut kita ke pantai aja yuk" ajak Willy.