Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Ruang Rawat (part 3)


__ADS_3

Sudah tiga hari Lia di rawat di rumah sakit di temani Ferry. Ferry hanya akan pergi dari ruang rawat Lia jika ada klien yang harus ditemui secara langsung dan agenda pertemuan tidak bisa ditunda. Untung saja Stella dan mama setiap hari selalu stand by di rumah sakit jadi saat Ferry pergi Lia selalu ada yang menemani.


"Jadi kapan aku boleh pulang Dok?" tanya Lia sesaat setelah David melakukan pemeriksaan.


"Panggil saja aku David, kamu memberi jarak terlalu jauh pada ku" Sahut David membuat Lia agak canggung karena baru mengenal David selama di rumah sakit.


"Memang kalian begitu dekat sampai istri ku tidak boleh memberi jarak pada hubungan kalian" timpal Ferry dengan posesif duduk di tepi ranjang Lia sambil menatap tajam David.


"Ya Tuhan, tuan muda Goucher anda sangat posesif sampai teman mu sekaligus dokter pribadi mu masih harus memiliki jarak sejauh itu dengan istri mu...ckckck" David berdecak tak berdaya melihat ke posesivan sahabatnya.


"Haduuuh kenapa jadi kalian yang ribut sih, pertanyaan aku belum di jawab. Kapan aku boleh pulang dokter David?" Lia mengulangi pertanyaannya dengan penekanan.


"Hhehee...besok kamu sudah boleh pulang tapi saat di rumah kamu tidak boleh berjalan terlalu jauh atau berdiri terlalu lama" Ujar David membuat Lia dan Ferry saling pandang.


"Sebenarnya gimana kondisi kaki Lia saat ini?" tanya Ferry penasaran mendengar David masih melarang Lia untuk menggunakan kakinya terlalu lama.


"Sudah Jauh lebih baik tapi masih tidak boleh digunakan untuk berjalan jauh atau berdiri terlalu lama atau otot-ototnya akan menegang kembali dan itu akan sangat menyakitkan untuk Lia" ujar David membuat alis Ferry mengerut dalam.


"Berapa lama lagi baru benar-benar pulih?" tanya Lia spontan dengan wajah masam.


"Paling lama lima hari lagi kaki mu akan kembali normal, sudah jangan manyun lagi" sahut David sambil senyum manis.


"Kenapa kamu senyum pada istri ku, tidak usah sok manis. Lia tidak butuh perhatian pria lain" gerutu Ferry sebel liat David senyum manis pada Lia.


"Aiishh...kamu jadi suami kaku sekali...cckkck" David berdecak kesal sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah jangan sedih lagi besok kamu sudah bisa pulang dan tidak perlu liat muka jelek bule mata empat ini lagi" Ferry membujuk Lia sambil menghina David


"Aduh..kenapa aku kena lagi? sial banget nasib ku jadi dokter pribadi mu?" gumam David dengan wajah pura-pura sedih.


"Sepertinya kamu sudah siap dikirim ke rumah sakit di pulau terpencil ya?" sahut Ferry membuat David malas menanggapinya lagi.


"Pokoknya saran ku tiga hari ini Lia pakai kursi roda dulu saat beraktivitas. atau jangan beranjak dari ranjang jika tidak terlalu urgent" ucap David membuat wajah Lia makin memberengut.


"Kenapa wajah mu jadi jelek begini, hah? apa yang mengganggu mu?" tanya Ferry khawatir melihat wajah Lia yang makin murung.


"Itu artinya awal masuk kuliah aku harus pakai kursi roda?" gumam Lia sedih membayangkan ke kampus pake kursi roda.


"Aku akan urus soal izin kuliah mu sampai kamu benar-benar pulih baru masuk kuliah" ucap Ferry tegas tak mau di bantah.


"Memangnya bisa seperti itu? apa kata dosen nanti?" sahut Lia cemas dosen akan memblacklist dirinya.


"Kamu tenang ya sayang, semuanya biar aku yang urus kamu fokus pada pemulihan kaki mu saja" ucap Ferry lembut sambil mengelus kepala Lia dan menghunjani Lia banyak kecupan.


"Aku kembali ke ruangan ku" ucap David tiba-tiba.


"Kenapa buru-buru" tanya Ferry tanpa menoleh ke arah David, Ferry masih asik merangkul Lia sambil memainkan rambut Lia.

__ADS_1


"Aku tidak sanggup lebih lama melihat kemesraan kalian. Jiwa jomblo ku meronta-ronta melihatnya" gumam David sambil keluar dari kamar rawat Lia tanpa menoleh lagi.


"Sudah kamu kembali sibuk sana" ucap Lia membuat Ferry tak senang.


"Kenapa kamu senang sekali mengusir ku?" ucap Ferry dengan wajah sedih.


"Bukan begitu suam, Liat ponsel mu dari tadi selalu berkedip pasti banyak telphon masuk dan juga email dari Jerry tapi kamu terus mengabaikan ponsel mu". Sahut Lia cepat.


"Tetap aja, kamu kaya tidak senang banget deket-deket aku" rengek Ferry manja.


'Hhhmm...mulai lagi dia, lupa apa kalau istrinya seorang pasien' gumam Lia dalam hati melihat tingkah manja suaminya yang mengusel wajahnya di cengkuk lehernya.


"Kak Lia, aku bawain cream sup ayam jagung buat mama" ucap Shella begitu masuk ke kamar rawat Lia.


'Aduh perusuh datang, alamat bentar lagi aku disuruh menyingkir dari sisi istri ku...huuffft' gumam Ferry dalam hati sambil menarik nafas panjang.


"Wah, pasti sedap sekali kebetulan cacing di perut kakak sudah demo nih" Sahut Lia agar Ferry beranjak dari ranjang, karena si bule dari tadi nempel trus kaya prangko.


"Kak Ferry tuh ponsel mu berkedip, papi yang telphon tuh" Shella menyodorkan ponsel ke depan Ferry.


Walau malas mau tak mau Ferry pun mengangkat panggilan telphon dari papi dan turun dari ranjang menuju sofa.


"Iya Pi, ada apa?"


"Kamu dari tadi dihubungi Jerry kenapa tidak diangkat?"


"Tadi ada dokter yang sedang melakukan kontrol pada Lia aku harus menanyakan detail kondisi kesehatan istri ku"


"oke" begitu mendengar jawaban Ferry, sambungan telphon pun di matikan papi.


'Aish...kenapa jadi anak bos aku rasanya tersiksa begini tidak bisa menikmati hidup ku seperti anak lain walau uang ku berlimpah' gerutu Ferry sambil menyiapkan laptop dan earphonenya untuk metting lalu membuka email yang berisi materi presentasi pengajuan kerjasama dengan PT Angkasa Tama.


Ferry pun mulai sibuk dengan pekerjaannya sedang Lia mulai makan cream soup ayam jagung yang di bawa Shella.


"Gimana enak tidak?" tanya Shella penasaran


"Enak banget, sampaikan terima kasih ku pada mama ya Shel" ujar Lia penuh rasa syukur memiliki mama mertua yang begitu perhatian dan penyayang.


"Sebentar lagi mama juga kesini, kak Lia bilang sendiri saja" sahut Shella santai.


"Ehh...mama ikut kesini juga?" tanya Lia penasaran.


"Iya, tapi mama pergi arisan dulu mungkin agak sore baru kesini" sahut Shella.


"Oh begitu"


"Kak Lia teman ku ada yang minta di buatkan design baju untuk acara prom-nite. Bisa tidak kak?" tanya Shella penuh harap.

__ADS_1


"Buat kapan? karena gaun mu aja belum selesai kakak buat, takutnya tidak sempat.


"Masih lama koq kak, tiga bulan lagi. Gimana bisa tidak?"


"Gimana ya, kakak akan mulai kuliah dan juga kerja di YZ Collection. Kakak khawatir tidak akan sempat membuatnya" gumam Lia penuh perhitungan.


"Kalau buat designnya aja lalu dia minta orang lain yang membuat gaunnya bisa tidak?" Shella terus usaha agar Lia bersedia.


"Kalau hanya membuat designnya saja kak Lia insyallah bisa" jawab Lia penuh keyakinan.


"Sungguh?" wajah Shella berseri-seri.


"Kenapa kamu begitu bersemangat?" Lia jadi penasaran.


"Karena yang minta di buatkan design gaun sama kak Lia itu sahabat baik ku di sekolah, dia baru saja punya kekasih jadi ribut terus mau mengenakan gaun tercantik saat prome-nite tapi dia sudah mondar mandir ke beberapa butik langgananya tidak ada satu gaun pun yang cocok di hatinya. Dia terus-terusan uring-uringan padahal saat ini dia sedang liburan bareng kekasihnya dan meninggalkan ku liburan musim panas sendirian" Cerita Shella penuh semangat dan kekesalan diakhir.


"Maaf ya kak Lia jadi menghabiskan waktu liburan mu di sini menemani kakak" ucap Lia merasa tak enak hati pada adik iparnya.


"Ini jauh lebih baik dari pada aku harus di rumah sendiri" sahut Shella cepat dan memeluk Lia manja.


"Maafin aku ya kak?" ucap Shella tiba-tiba membuat Lia bingung. "Untuk apa?"


"Karena ninggalin kakak sendirian saat itu jadi kakak harus mengalami kecelakan ini" gumam Shella merasa bersalah.


"Sudah kak Lia bilang semua bukan salah mu. Kakak ya g cerobh dan tidak hati-hati, tapi bagus juga kakak jatuh dari pada di patuk ular....heeheehe"


"Kak Lia sudah celaka begini masih bisa tertawa dan bersyukur...cckkck" Shella berdecak tak berdaya melihat kakak iparnya yang baik hati bak peri.


Mereka berdua terus mengobrol sepanjang siang sambil berangkulan di atas ranjang sampai tanpa sadar keduanya tertidur pulas. Sedang Ferry sibuk dengan tumpukan pekerjaan sampai tak ingat waktu dan juga tak sadar kalau kedua wanita yang tadi asik mengobrol sudah terlelap sampai mama masuk ke dalam ruang rawat Lia.


"Sayang kamu pasti belum makan siang? ini mama bawakan bebek panggang dan tumis sayur kamu makan lah dulu jangan kerja terus". ucap mama sambil menyodorkan bungkusan berisi makanan.


"Mami memang yang terbaik" ucap Ferry sambil berdiri dan mencium pipi maminya


"Mereka berdua sejak kapan tertidur?" tanya mami sambil melirik kearah ranjang Lia.


"Tidur?" Ferry justru kaget mendengar ucapan mama dan langsung menoleh ke arah ranjang Lia. "Aku tidak tau, dari tadi aku sibuk dengan pekerjaan dan dicuekin Lia. Meka berdua sibuk mengobrol dan tertawa"


"Kasian banget sih anak mami, tidak ada yang merhatiin...hahahaa". ledek mami membuat Ferry mencibikan bibirnya.


"Mami suka Lia kamu yang sekarang?" gumam Mami yang terdengar Ferry.


"Maksud mami?" tanya Ferry bingung


"Sudah lupakan saja, cepat makan. Mami ambilkan minum dulu"


"Tidak usah mi, nanti aku ambil sendiri. Mami duduk lah" Ferry menahan tangan maminya dia tak enak hati cuma air minum aja bikin susah mami.

__ADS_1


"Ya sudah makan lah pelan-pelan"


Jangan lupa like and komen ya maacih muaaahhh.


__ADS_2