
tok...tok...tok
"Apa aku mengganggu kalian berdua?" sapa kak Dhaniel saat memasukin kamar rawat Ferry.
"Sedikit" sahut Ferry tanpa ekspresi yang berbarengan dengan sahutan Lia. "Tidak sama sekali" ucap Lia.
"Adik ipar ku memang yang paling baik hati" ucap Dhaniel sambil senyum sumbringah pada Lia.
"Kapan kamu sampai sini Lia? kenapa si beruang kutub bisa mengizinkan mu kesini?" tanya Dhaniel beruntun membuat Lia senyum malu mendengar pertanyaan kakak sepupu iparnya yang nampaknya kenal sekali dengan sifat Ferry.
"Hehehehe...aku memaksa datang tanpa persetujuannya" sahut Lia sambil mengendikan dagunya mengarah pada Ferry membuat Dhaniel langsung tertawa.
"Hahahaha....kamu luar biasa Lia bisa sampai sini, aku yakin suami mu itu pasti sudah menutup akses mu untuk bisa datang. Ayo cerita kan pada ku bagaimana cara mu bisa datang?" tanya Dhaniel makin kepo setelah mendudukan bokongnya di sofa tepat menghadap Lia.
"Kamu datang mau mengintrogasi istri ku atau mau bicara bisnis dengan ku?" suara Ferry dengan nada dingin membuat Dhaniel makin tertawa.
"Lia suami mu benar-benar posesif, pasti sangat menyebalkan memiliki suami sepertinya...hahahaha" Dhaniel terus saja tertawa sedang wajah Ferry makin masam begitu mendengar jawab Lia.
"Kak Dhaniel benar sekali, dia memang sangat menyebalkan. Tiap hari membuat ku jengkel dan kesal"
Dhaniel makin tertawa mendengar curahan hati Lia, sedangkan Ferry sudah makin muram aura dingin pun makin menyeruak membuat Jerry dan Boy asisten Dhaniel tak berani berkutik takut salah-salah mereka yang terkena imbasnya
"Boy kamu bawa keluar bos mu ini dari ruang rawat ku, suara tawanya sangat mengganggu ku" suara barito Ferry yang terdengar berat menahan emosi yang hampir meledak.
"Boy kamu tidak usah dengar ucapan pria yang sedang cemburu, abaikan saja dan tetap diam di tempat mu?" ujar Dhaniel menatap tajam kearah Boy yang kini makin canggung berada diantara dua tuan muda yang sedang saling mengejek.
__ADS_1
"Jerry kamu panggil pengawal di luar suruh mereka bawa keluar perusuh ini" Jerry langsung keluar tapi tak pernah kembali kedalam, dia malas untuk ikut campur dalam pertengkaran para tuan muda.
Bukannya Dhaniel berhenti tertawa dia malah makin tertawa melihat tingkah Ferry dan Dhaniel juga yakin Jerry tidak akan masuk lagi membawa pengawal seperti perintah Ferry. "Aku tau pasti Arjun yang membantu mu kesini, iya kan Lia?"
Lia membulatkan mata menatap Dhaniel tak percaya, bagaimana mungkin tebakannya bisa begitu akurat. "Koq kak Dhaniel bisa tau?" sahut Lia dengan wajah polosnya.
"Jelas aku tau, melihat reaksi suami mu begitu kesal siapa lagi kalau bukan Arjun yang membantu mu, saingan cinta yang cukup berat tapi aslinya mudah dikalahkan asal kamu mau bilang ke Arjun kalau kamu istri Ferry. Sayangnya kamu tidak akan pernah mau bilang...hahahaha"
Lia jadi merasa bersalah dan dipojokan dalam kasus kecemburuan Ferry kali ini. Lia sontak langsung diam dan menundukan kepala sambil memainkan jari-jarinya.
"Ehhh....aku tidak bermaksud menyalakan mu, aduh mulut ku ini memang suka kelepasan bicara. Padahal niat ku meledek suami mu aduh kenapa jadi kamu yang sedih" Dhaniel jadi salah tingkah sendiri melihat adik sepupu iparnya itu murung mendengar ucapannya.
Tapi tidak dengan Ferry dia malah bahagia akhirnya Dhaniel mengucapkan kalimat yang selalu ingin dia ucapkan tapi selalu ditahannya karena tak ingin Lia ngambek padanya.
"Sudah ku bilang berhenti bicara dan keluar dari ruangan ku kamu malah terus bicara unfaedah disana" ucap Ferry meledek Dhaniel yang sedang salah tingkah.
"Kamu yang bicara kenapa sekarang malah menyalahkan ku" sahut Ferry tak terima ingin dijadikan kambing hitam.
"Sudah kalian tidak usah ribut lagi, katanya ingin bicara bisnis. Sudah kerjakan urusan kalian, aku mau keluar dulu bertemu dengan Jeni" ucap Lia bangkit dari duduknya dan bersiap berdiri mengambil tas slempang kecilnya di atas nakas samping brankar Ferry.
"Jerry, masuk lah buat apa kamu berdiri di luar terus" Teriak Ferry meminta Jerry masuk
"Hehehe..." Jerry masuk sambil nyengir canggung dan mengusap tengkuknya terasa kaku karena tegang
"Minta Leon temani nyonya muda keluar, pastikan keselamatannya" Perintah Ferry yang langsung dilakukan Jerry dengan cepat Leon sudah masuk kedalam ruang rawat Ferry.
__ADS_1
"Sayang jangan keluar dari rumah sakit terlalu jauh, dan pastikan slalu berada di dekat Leon" Lia hanya mengangguk menyetuju semua perintah suaminya
"Aku cuma mau ketemu Jeni di lobby rumah sakit koq, tidak akan pergi keluar jauh-jauh dari rumah sakit" Jelas Lia menatap manik mata sang suami yang terlihat khawatir.
"Oke, hati-hati" ucap Ferry mengelus sayang kepala Lia.
"Leon aku titip istri ku, jangan biarkan sehelai rambutnya pun berkurang" ucap Ferry penuh penekanan membuat Leon menelan slavinanya karena merasakan nada ancaman dalam ucapan Ferry.
"Aku akan jaga nyawa nyonya muda dengan nyawa ku, tuan muda jangan terlalu khawatir" ujar Leon lalu melangkah mengikuti Lia.
Lia pikir hanya Leon yang akan menemaninya ternyata puluhan pengawal mengelilingi Lia walau mereka berpakaian biasa namun auranya jelas sekali mereka bukan orang biasa.
"Leon apa harus seperti ini?" tanya Lia merasa tidak nyaman dengan penjagaan terlampau ketat.
"Harus nyonya muda, saya tidak berani ambil resiko. Nyawa saya taruhannya" sahut Leon santai berjalan disisi Lia.
Di kamar rawat Ferry nampak cemas melepas Lia keluar walau sudah dijaga Leon dan puluhan pengawal.
"Wajah mu tegang sekali? kalau begitu khawatir kenapa tadi diizinkan pergi?" ucap Dhaniel melihat wajah adik sepupunya yang khawatir menatap kepergian sang istri.
"Memangnya Lia bisa dilarang? andai bisa dia tidak akan ada disini" gumam Ferry tak berdaya menghadapi istrinya yang keras kepala.
"Hahahaha....Lia memang wanita hebat bahkan seorang tuan muda yang terkenal arogan berhati dingin tak dapat berkutik atas tiap tindakan istrinya. Lia memang pantas menjadi menantu keluarga Goucher" puji Dhaniel membuat wajah Ferry makin masam.
"Lia slalu ada saja akalnya saat dia memiliki keinginan, aku akan sangat tak berdaya melarang keinginannya. Pola pikirnya kadang diluar nalar ku. Lia memang benar-benar pantas menjadi nyonya muda Gaoucher" sahut Ferry dengan hembusan nafas berat sambil menggelengkan kepala ketika wajah sang istri yang tersenyum manis terlintas dibenaknya.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu tidak perlu terlalu khawatir dia akan baik-baik saja. Kita bisa bahas bisnis sekarang?" lanjut Dhaniel mengalihkan topik agar suasana tak lagi mendung.
jangan lupa like and komennya yess