Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Pesan Mira


__ADS_3

Sepanjang malam hanya kami habis kan mengobrol dan saling terbuka agar lebih mengenal satu sama lain. Ferry memang hampir mengetahui semua hal tentang ku, itu karena dia mencari tau semuanya dibelakangku, sedangkan banyak hal yang tak ku ketahui tentang suamiku ini. Termasuk bagaimana perjuangannya mencari tau keberadaanku yang memang sengaja di tutup papa segala akses informasi tentang ku dan keluargaku. Papa takut keluarga Goucher menuntut ku karena sudah menyelakai anak mereka, sampai akhirnya Jerry menemukan jejak ku tiga tahun lalu saat masuk kuliah dengan nilai ujian nasional tertinggi tapi justru memilih jurusan fashion desig**n, banyak orang menyayangkan keputusan ku tapi tidak dengan papa dan mama mereka mendukung setiap hal yang ku lakukan. kejadian ini lah membuatku terekspos ke publik dan membuat Jerry menemukan ku.


Takdir memang lucu, Kami memang saling mengenal jauh sebelum memutuskan menikah, tapi kami tidak pernah dekat satu sama lain, kami justru bermusuhan, lebih sering bertengkar dan saling menyakiti satu sama lain sampai akhirnya aku membuat nyawa Ferry hampir melayang saat membalas ulah Ferry padaku, namun justru hal-hal itu yang malah menautkan hati kami berdua, mungkin benar kata pepatah, jangan terlalu membenci, nanti kamu jadi jatuh cinta. Pepatah itu nampaknya terjadi pada kami. Ntah kapan dan bagaimana cinta itu datang dan terbentuk di hati kami, yang aku tau dari kecil aku tidak tertarik bergaul dengan laki-laki, mau setampan atau sekaya apapun dia. Aku benar-benar tidak memiliki ketertarikan sama sekali. Sedangkan dengan bule tengil ini sudah bikin ulah mencium ku dua kali tanpa aba-aba justru malah ku nikahi dan kini aku tidur dalam dekapannya.


Cinta memang buta dan tak pernah pandang bulu, jika hati sudah saling bertaut tak ada lagi logika, itu lah kenapa banyak gadis tercebak rayuan pria saat mereka jatuh cinta, sampai merelakan segalanya termasuk kehormatannya untuk si pria, seperti halnya aku kemarin hampir saja aku gagal mempertahankan kesucian ku untuk suamiku, ya walaupun pria itu kelak yang akan ku nikahi tetap saja berbeda memberi kesucian saat sebelum ijab qobul atau sesudahnya...sensasinya berbeda, cinta yang di sematkan Tuhan pun jadi berbada. Pernikahan ini jadi benar-benar pernikahan suci walau pun tak sempurna karena papi Ferry sampai kini belum juga merestui kami.


"Sayang, kamu udah tidur?" Suara serak khas bangun tidur Ferry menyadarkan ku dari lamunan.


"Belum, kenapa?" tanyaku karena tiba-tiba si bule terbangun.


"Boleh aku bangun sebentar, aku butuh ke toilet sekarang...ada panggilan alam" ucapnya menahan hasrat ingin BAB...hihihihi


Aku pun langsung bangun dari pelukan Ferry, bagitu lepas dari ku Ferry langsung berlari ke toilet. "Hahahahaa,,,ada-ada aja kelakuan ini bule" bathinku sambil geleng-geleng melihatnya berlari hanya dengan boxernya.


Sambil menunggu Ferry kembali dari toilet aku mengambil ponselku di meja nakas samping ranjang sisiku. "Aku belum sempat membaca dan membalas pesan dari Mira dan juga Jerry, sebaiknya aku lakukan sekarang mumpung si bule di toilet" bathinku sambil membuka simbol akses masuk ponselku.


Benar saja bukan hanya satu pesan dari Mira tapi puluhan pesan unfaedah karena hanya bertuliskan "Ping" berkali-kali dan juga "woi bales bini bule". yang penting hanya dua pesan dari puluhan pesan, membuatku geleng-geleng dan berdesis tak habis fikir dengan kelakuan sahabatku satu-satunya ini.


"Lia, jangan lupa besok ada kuliah pagi dan dateline mengumpulkan sketsa gambar perhiasan tugas Mr Killer" -Mira-


"ping"


"ping"


"ping"


"ping"


"woi"


"hallo"


"woi bales"


"Bini bule sibuk banget? lagi digarap sepanjang hari apa sama si bule".-Mira-


"Ping"


"ping"

__ADS_1


"ping"


"woi"


"bales woi"


"Bini buleeeee"


"woi bini bule baleeeeessss"


"ping"


"ping"


"ping"


"Dan satu lagi besok itu juga hari terakhir kamu menyerahkan berkas-berkas untuk mengurus beasiswa mu di Pratt Institute". -Mira-


"Ping"


"ping"


"Lia kamu menyebalkan"


"ping"


"ping"


"Lia Putri Aghata"


"kamu menyebalkan"


"ping"


"woi"


"bye"


"Hahahahaahaa", anak ini bener-benar pantang menyarah. tawaku saat melihat isi pesan Mira berbarengan dengan Ferry keluar dari toilet.

__ADS_1


"Apa yang kamu baca? sampai tertawa happy sekali" tanya Ferry kepo sambil mendudukan bokongnya di sebelahku dan meletakan kepalanya di bahuku.


"Ini pesan dari Mira sejak sore tadi belum sempat kubuka dan baca, dia menyerangku dengan boom ping...hehehehe" kekeh ku sambil membalas pesan dari Mira.


"Terima kasih sudah mengingatkan ku cintah...i lophe you full" -Lia-. balasku singkat.


"Owh...kalau gitu kamu sibuk lah dulu dengan teman mu itu, aku ada kerjaan yang harus ku selesaikan untuk meeting besok". ujar Ferry yang kemudian mengambil kaos dari lemari menuju meja dimana laptop, tas kerjanya dan juga tumpukan berkas menantinya.


"oke, aku juga ada tugas kuliah yang belum selsai untung Mira mengingatkan ku" jawabku sambil mengacungkan jempolku.


"Astaga" teriak ku histeris sambil menepok jidatku sendiri, membuat Ferry yang baru mendaratkan bokongnya dikursi bangkit berdiri menghampiriku.


"Kenapa sayang?" ucap Ferry sambil menangkup kedua pipiku, agar aku menatapnya.


"Aku...anu... aaaahhhggghh...alat gambarku dan juga perabotan lenongku untuk kuliah besok...bisa-bisanya aku lupa, semuanya ada di rumah mama...huaahahahaa", teriak ku frustasi karena tugas kuliah belum ku kerjakan sedangkan hari sudah jam 11.35, aku pun belum tidur sama sekali karena sibuk melamun sambil memandangi wajah tampan suamiku.


"Ya sudah kamu siap-siap kita kerumah mama sekarang. Aku akan menelphon resepsionis hotel untuk menyiapkan mobil dan juga drivernya" ujar Ferry berlalu menuju meja kerjanya dan aku bergegas bersiap-siap. Begitu sudah siap, Ferry malah asik menekuri berkas-berkas kerjanya.


aku memberikan celana pendek, kaos dan underware pada Ferry karena dia masih dengan boxer dan kaos oblongnya.


"Kamu cepat lah ganti baju? memang kamu tidak menemaniku ke rumah mama?" ucapku karena melihat Ferry tak bergeming saat mu sodorkan celana pendek, kaos dan underwarenya.


Ucapan ku tak digubrisnya, Ferry terus asik dengan kerjaannya, akhirnya aku pun bergelayutan manja di bahunya, baru lah yang sedari tadi diajak bicara mendongakan wajahnya dengan senyum termanisnya.


"Sayang, ganti lah baju mu, memang kamu akan membiarkan ku pergi malam-malam begini sendirian hanya dengan driver hotel, hah?" ucapku sambil memainkan anak rambut di tengkuk Ferry.


"Maaf sayang kalau sudah berkutat dengan semua ini aku bisa lupa diri" ucapnya sambil merapikan berkas dan juga laptopnya. Lalu menyambar pakaian yang sedari tadi ku pegang, tanda rasa malu dia mengganti bajunya di depanku.


"Sayaaaang, kamu benar-benar tidak tau malu" ucapku sambil mencubit perutnya dan berlalu meninggal Ferry yang kesakitan karena ku cubit.


"Adduuuuuhhh....sayang ini KDRT namanya" teriak Ferry kesakitan.


"Rasain siapa suruh jadi suami tak tau malu sekali...aurat di umbar-umbar dimana-mana" ucapku sambil mencibikan bibir ku.


"ralat ucapan mu, aku hanya mengumbarya di depan istriku, apa yang salah dengan itu...ckckcxkk" ucap Ferry sambil berdecik tak terima dicubit dengan ku.


"Baiklaah, maaf ya sayangku" ucapku sambil berjinjit dan mengalungkan lenganku dilehernya serta menghujaninya dengan kecupan. "Jangan ngambek ya, nanti gantengnya berkurang" lanjutku sambil mencium bibir suamiku yang masih manyun aja sejak ku cubit perutnya.


Tak menyia-nyiakan kesempatan Ferry tak membiarkan pagutan bibir kami lepas secepat niatku. Ciuman kami makin dalam, tangan Ferry sudah mulai tak terkontrol, menyusuri setiap inchi tubuhku dan menyusup masuk kedalam dress yang ku kenakan. Desahan disela-sela ciuman saat tangan Ferry meremas gundukan kembarku dari balik bra. Suasana jadi makin panas, logika ku terus menyuruh ku menghentikan kenikmatan yang diberikan suamiku, tapi tubuhku tak rela kehilangan kenikmatan ini.

__ADS_1


__ADS_2