Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Panggil Mami


__ADS_3

"Hai mam", ucap Ferry sambil mengecup pipi kanan dan kiri maminya, sedangkan aku berdiri dengan tenang dibelakang punggung kekar suamiku. Tanganku semakin dingin, rasanya menegangkan sekali bertemu dengan mertua...hiks.


"Mam, kenal kan ini istri Ferry", ucap Ferry tiba-tiba merangkul pinggangku, membuat tubuhku jadi maju beberapa langkah sehingga makin dekat dengan maminya.


"Hallo, Saya maminya anak nakal ini", ucap maminya Ferry sambil menjulukan tangannya.


"Lia, Lia Putri Aghata tante", ucapku gugup


"Koq tante, kamu kan menantu mami sekarang harusnya panggil mami dong. Dan tangan mu ini, kenapa dingin sekali?, jangan terlalu tegang mami nggak akan makan kamu koq", ucap mami sambil mengelus punggung tanganku. Rasanya kaya abis kena sinar mentari pagi, seketika saja semua ketegangan dan ketakutan ku sirna, tanganku pun mulai hangat setelah mendapat elusan dari mami.


"iy..iya mami, maaf" jawabku terbata-bata.


"Mami nggak akan makan kamu yank, tapi aku yang akan memakan mu" Mendengar ucapan Ferry aku langsung memelotkan mataku, dia malah tertawa.


"Sudah, jangan dengarkan Ferry, duduk deket mami sini" pinta mami sambil menepuk sofa disebelahnya, setelah mami melepas tangannya dariku dan mengecup pipi kanan kiri ku. Aku pun menurutinya, di ikuti Ferry yang duduk disofa di depanku.


"Mami nggak bisa lama-lama karena harus segera kembali ke negara SG sebelum papi selesai metting", jelas mami mengawali pembicaran dengan raut serius namun wajahnya terus tersenyum.


"Sebelumnya mami, mau bilang terima kasih karena kamu bersedia menikah dengan anak mami walau kami sebagai orang tua tidak bisa menghadiri pernikahan kalian, semuanya karena si tua bangka keras kepala itu belum mau melihat jagoannya menikah diusia yang sangat muda, papi punya banyak tuntutan pada suamimu dan menurut papi pernikahan akan menghalangi Ferry melangkah lebih maju dari papinya". Ucap mami sambil mengelus lenganku. Aku hanya diam mendengarkan.


"Mami harap kamu bisa membuat anak mami bahagia dan lebih berhasil dari sebelumnya, mami tau kamu bukan gadis manja yang akan menyusahkan suami mu", ucap mami sambil tersenyum dan merogoh tas kecil ditangannya seperti mencari sesuatu. "Kotak cincin, buat apa?", bathinku begtu melihat mami Ferry mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dari dalam tas tangannya.


"Sayang, ini untuk mu, simpanlah baik-baik. Cincin ini mami dapat dari nenek Ferry saat mami menikah dengan papinya, ini adalah cincin turun temurun keluarga Goucher, sekarang kamu istri dari anak mami Ferry Goucher jadi mami serahkan cincin ini padamu", jelas mami sambil menyodorkan kotak merah yang sudah mami buka tutupnya kearahku. "Ya tuhan cantik sekali, batu permatanya berwarna seperti rainbow", bathinku kagum melihat cincin keluarga Ferry.


"Sayang ambil lah, sini aku pakaikan di jari mu", sambar Ferry tiba-tiba sambil mengenakan cincin pemberian maminya.

__ADS_1


"Tuh kan pas, kamu tuh emang jodohku banget sayang, emang nggak salah deh aku cinta banget sama kamu", ucap Ferry dengan tampang mesum sambil menciumi punggung tanganku.


"Wah, anak mami sekarang sudah bisa menggombali anak gadis orang...kemajuan sekali", ucap mami sambil tertawa.


"Mami aku bukan ngegombali, itu kenyataan. Kami memang berjodoh, buktinya dari pertama kali melihatnya, Ferry sudah tidak bisa melupakannya dan selalu yakin kalau Lia akan jadi istri Ferry dan satu lagi Lia sudah bukan gadis, aku sudah memerawaninya tadi siang". Ucap Ferry sumbringah sambil ngotot tidak terima diledek mami. Pipiku sudah merona mendengar penuturan suamiku. "Benar-bener nih bule, urat malunya udah putus", bathinku sambil menundukan kepala.


"Lebih baik aku pesan makan", ucap Ferry merajuk sambil memanggil pelayan restoran meminta menu karena dia akan order makanan, sedangkan mami masih tertawa.


"Papi harus liat ini jagoannya yang slalu dibanggakan sudah benar-benar takluk ditangan seorang gadis...hahahahaha". Ucap mami sambil terus terkekeh.


"Terserah aku tidak perduli mami dan papi mau ngomong apa, yang penting aku bahagia dengan pilihanku". Ucap Ferry sambil berdiri dan memintaku duduk disebelahnya. Aku hanya menurut saja dalam diam melihat ibu dan anak ini adu mulut.


"Ehhh,,,kenapa menantu mami disuruh pindah. Pelit sekali mami cuma sebentar disini masa kamu nggak biarin mami deket menantu mami...ckckck. Jangan terlalu posesiflah nanti Lia kabur dari mu...bukan begitu Lia?" ucap mami mengagetkan ku.


"Iy..iya mami" jawab ku spontan.


"Bukan belain suamiku, tapi mami benar kamu jangan terlalu posesif dengan ku...nanti aku kabur", Jelasku coba sambil menangkup kedua pipinya Ferry.


"Udah jangan ngambek lagi ya, nanti gantengnya ilang low", ucapku sambil mengecup bibir suamiku yang masih memberengut kesal, seketika wajah kesal itu berubah dan balik mengecup seluruh wajahku.


"Sayang ada mami disini", bisikku pelan.


"Biarin aja, udah sah ini", ucap Ferry malah sambil merangkul ku dan meletakan dagunya di cengku leherku.


"Mami seneng liat kalian seperti ini, sepertinya papi saja yang terlalu khawatir jagoannya ini tidak bahagia, nyatanya anak mami kelihatan happy banget disisi kamu, sudah kalian cepatlah buat cucu untuk mami, biar makin mudah mami membujuk papi merestui kalian", ucap mami membuatku tersedak padahal nggak lagi makan atau minum apapun.

__ADS_1


"Soal bikin anak mah gampang mi, masalahnya Lia belum mau hamil. Dia mau menyelesaikab kuliahnya dulu baru memiliki anak", ucap Ferry santai. "Lagian kita masih muda mau nikmatin masa-masa berdua dulu". lanjutnya Ferry lagi sambil mengeratkan pelukkannya pada ku.


"ta..." ucap mami terpotong saat pelayan datang membawa pesanan makanan yang dibuat Ferry. "keren juga nih bule, Ada menu kesukaan ku, kesukaannya dan sepertinya juga kesukaan maminya yang di order dia tadi" gumamku dalam hati.


"Silahkan dinikmati tuan, nyonya" ucap pelayan ramah saat selesai menyajikan hidangan diatas meja. Kami hanya mengangguk dan tersenyum.


"Ada lagi yang bisa saya bantu? kalau tidak saya permisi, jika ada yang mau diorder atau butuh apapun silahkan panggil kami jangan sungkan-sungkan", ucapnya lagi sambil curi-curi pandang pada suamiku, yang dipandangi malah sudah mulai sibuk bersiap menikmati makan yang tersaji tanpa memperdulikan sekitarnya.


"Tidak ada mba, makasih ya". Ucapku sambil tersenyum menatap si pelayan.


Setelah si pelayan pergi kami tak lagi melanjutkan diskusi melainkan sibuk dengan makanan yang sudah tersaji dengan penampilan menggugah selera.


"Sayang, kenapa tidak di makan makanan mu?, tidak suka makanannya?". Tegur Ferry yang melihatku tak juga makan malah cuma ku acak-acak.


"Suka koq", ucapku sambil menyuapkan makanan ke mulutku, agar tak makin panjang masalahnya.


"Lia sayang, kamu sekarang kuliah semester berapa?", tanya mami disela-sela makan.


"Semester lima tinggal UAS abis itu naek semester 6 mi" jawabku.


"Brarti semester 6 sampai lulus kamu akan di negara A?" tanya mami lagi. Aku hanya mengangguk.


"Disana kalian niat tinggal bersama? atau sendiri-sendiri? karena papi belum tau kalau kalian sudah resmi menikah disini". jelas mami membuatku kali ini terbatuk-batuk karena makanan yang ku telan nampaknya nyasar ke tenggorokan akibat shock mendengar pernyataan mami, soal papi Ferry yang belum tau kami sudah menikah secara resmi. "Tapi kenapa mami bisa tau?", bathin ku


"Pelan-pelan dunk sayang makannya" ucap Ferry sambil menepuk-nepuk punggung ku dan menyodorkan air putih.

__ADS_1


"Makasih ya yank" sambil menenggak air yang diberikan Ferry lalu mengelap mulutku.


"Ma, kita bahas itu nanti aja ya, yang pasti Ferry nggak akan biarin Lia tinggal sendiri di negara A. soal tinggal dimana Ferry akan carikan tempat terbaik dan aman dari jangkauan papi". Ucap Ferry membuat kedua alisku mengerut dalam. "Aman dari jangakuan papi? apa maksdunya ini? tanyaku dalam hati. "Aku harus memperjelas semua ini nanti". gumamku.


__ADS_2