
Maaf ya readers author agak slow nih update ceritanya. abis Vaksin agar pusing kepala, sedikit demam, bahkan hari ini nyerang lambung (author emang punya riwayat aslam menuju gerd) alhasil hari ini tepar muntah-muntah dan mata berkunang-kunang, sampe nggak sanggup berdiri. terbaring aja diranjang seharian...alhamdulillah sekarang udah enakan. Efek Vaksin ini beda-beda tiap individu, cuma karena author banyak penyakitnya jadi fisik author kurang kuat buat ngadepin virus yang disuntikin (vaksin) biar anti body author makin stragel. Soalnya pas suami yang vaksin dia enjoy aja gk ngalamin apa-apa...cuma pas vaksin kedua ngeluh pegel-pegel aja. #tetepjagaprotokolkesehatan ya dimana pun readers berada, makin banyak yang zona red nih.
****************************************************
Usai percintaan panas, Ferry membantuku mengeringkan rambut dan kami berdua tertidur lelap sambil berpelukan.
Tok...tok...tok
"Tuan Muda, nyonya muda".
"Kak Ferry, kak Lia kalian tidur apa mati di dalam?, kenapa tidak menyahut di panggil dari tadi, benar-benar menyebalkan?"
"Apa sih Shel, berisik sekali"
"Waktunya makan malam, papi dan mami sudah menunggu dari tadi"
"Ya sebentar kami turun"
"Kalian habis melakukan apa sampai tidur seperti orang mati kelelahan?"
"Anak kecil tidak usah berisik"
"Kakak..."
Ferry kembali masuk kamar dan menutup pintu tanpa memperdulikan Shella yang teriak kesal karena rambutnya diacak-acak Ferry.
"Kamu bisa tidak jangan ribut terus dengan Shella?, kalian itu seperti kucing dan anjing saja tiap bertemu ribut terus".
"Hahahaha....tidak bisa sayang, mintalah yang lain"
Selesai berkata dia ngeloyor ke kamar mandi tanpa memperdulikan ku yang masih ingin bicara. 'Dasar suami nggak ada akhlaq, istri belum selesai ngomong udah kabur aja'.
Aku pun mengganti baju ku untuk turun makan malam dengan keluarga Ferry, walau males karena sudah pasti aku harus melihat wajah tak ramah papi seperti siang tadi. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa canggung dalam hatiku
"kamu kenapa?"
"Apa?" tanya ku pura-pura tak mengerti
__ADS_1
"Kenapa menarik nafas seperti itu?"
"Hanya kesal sama kamu, liat ulah mu. membuatku harus menggunakan Foundation untuk menutupi semua merah-merah ini"
"Heheheehehe....maaf ya tadi aku benar-benar lupa. Next tidak lagi"
'next?' astaga ini bule sudah niat menggarapku lagi?'. Aku mengerenyitkan alisku ketika mendengar ucapan Ferry.
"Tidak malam ini sayang, jangan tegang gitu deh...hahahaha"
Goda Ferry sambil berjalan ke walk in closed untuk mengganti bajunya. Setelah kami siap, kami pun turun menuju ruang makan. Aku lihat wajah papi sudah terlihat sangat tak bersahabat.
'Sepertinya aku dan Ferry membuatnya kesel karena menunggu kedatangan kami yang terlalu lama'. Aku pun pasrah saja menerima apapun yang akan terjadi karena memang kami salah.
"Hebat sekali kalian membuat orang tua menunggu" Suara ketus papi langsung menggema di ruang makan begitu melihat kami.
"Sudah abaikan saja perkataan tua bangka ini, dia memang kalau sudah buka suara selalu tidak enak untuk di dengar".
Sahut mami membuat wajah papi memerah ntah menahan marah pada kami atau pada mami atau malah menahan malu karena dipermalukan istrinya. Ntah lah aku bukan cenayang yang mampu membaca isi hatinya. 'Yang pasti mendengar kalimat mami aku ingin tertawa karena melihat ekspresi papi yang tak mampu lagi berkata-kata, sangat tidak menyangka pria arogan ini masuk dalam ISTI alias ikatan suami takut istri.
"Sayang, mami dengar permasalahan kantor hari ini sudah selesai. Anak mami makin hari makin luar biasa saja kinerjanya. Baru sampai permasalahan langsung selesai, luar biasa".
"Ini semua karena Lia mi, karena ide yang Lia berikan makanya permasalahan ini selesai dengan cepat tanpa harus membayar ganti rugi".
Puji Ferry dengan antusias, membuat hatiku hangat merasa berarti. Aku pikir mami tak akan dengan mudah mempercayai cerita Ferry tapi ternyata dugaan ku salah.
"Sejak mami pertama kali bertemu dengan Lia, mami sudah yakin kamu akan makin sukses dengan keberadaan Lia. Ditambah lagi saat mami mencari tau tentang Lia mami cukup terkejut ternyata Lia sangat berbakat di dunia design seperti yang kemarin Shella katakan, mami pun membacanya di majalah-majalah fasion"
Mendengar penuturan mami aku sempat kaget karena tidak ku duga wanita paruh baya ini akan mencari tau tentang ku.
"Kamu jangan marah ya Lia, mami cari tau tentang kamu itu bukan karena mami tidak setuju kamu jadi menantu mami justru karena mami setuju sekali saat mami lihat binar bahagia dari wajah putra semata wayang mami saat menatap mu, saat berada disisi mu, binar bahagia yang tak pernah mami Lihat 15 tahun terakhir ini. Mami butuh bahan untuk meyakinkan tua bangka ini merestui pernikahan kalian, tapi nyatanya sampai sekarang dia masih keras kepala".
Papi tetap tak bergeming, hanya fokus dengan makanan di depannya. Tak satu patah kata pun keluar dari mulut papi saat di meja makan. Bahkan saat mami menyindirnya pun, papi tetap tak bergeming.
'Apa yang harus aku lakukan agar papinya Ferry merestui kami?'. 'Apa seperti saran mami, aku hamil saja?'.'tau ahh, pusing. jalanin aja lah ikuti saja alurnya biar angin mengarahkan jalannya'.
"kenapa?" tanya Ferry saat melihatku melamun. Aku hanya menggeleng sambil melanjutkan makan ku, Ferry pun melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Kak Lia, aku punya homework tentang kesenian gitu. Bisa bantu aku ngerjainnya tidak?" tanya Shella dengan wajah poppy eyes, membuatku tak tega menolaknya.
"Tentu saja dengan senang hati" jawabku dengan senyum termanis.
"Kak Lia memang terbaik" ucap Shella langsung berhambur memeluk ku karena kami duduk bersebelahan.
"Kita bahas selesai makan malam nanti ya"
"oke" sahut Shella sambil mengangkat kedua jempolnya.
Akhirnya makan malam hari ini berakhir dengan damai tanpa pertengkaran, adu mulut atau keributan dengan nada-nada tak bersahabat.
"Fer, kamu kapan balik ke negara A?" Tanya mama saat kami mulai duduk santai di ruang keluarga. Aku tidak bermaksud menguping pembicaraan mereka hanya saja saat itu aku sedang berada disana juga mengajari Shella menyulam.
"Abis Lia selesai ujian mi, paling lama dua minggu lagi, kenapa memangnya mi?" Sahut Ferry santai.
"Mami hanya takut kamu betah tinggal di Negara INd dan tak ingin kembali ke negara A, mami pasti merindukan mu".
"Lia kan akan kuliah di negara A dan juga kerja di YZ Collection mi, jadi Ferry pasti pulang mami jangan khawatir ya". Ucap si bule menenangkan sambil memeluk mami.
"Kamu putra mami satu-satunya, mami nggak mau kehilangan kamu. Janji ya apapun yang terjadi kamu akan baik-baik saja dan slalu jadi anak mami"
"Janji" sahut Ferry sambil larut dalam pelukan mami.
Aku senang melihat hubungan mami dan Ferry, setidaknya si beruang kutub slama ini mendapatkan cinta dan kasih sayang yang tulus dari mami, walaupun papinya seperti ditaktor dan monster yang menyeramkan.
"Kak Lia, ini selanjutnya gimana?" Tanya Shella membuyar lamunanku.
Aku pun kembali fokus mengajari Shella membuat sebuah dompet rajut. Shella anak yang pintar dan mudah untuk diajari jadi dalam waktu dua jam sebuah dompet rajut dengan gambar bunga matahari dibagian depan sudah selesai dia buat.
"Horeee...finally i'm done with this homework, I love you so much kak Lia" teriak Shella sambil jejingkrakan dan memeluk serta menciumi pipi ku.
"Udah selesai kan?, ayo kita balik ke bungalow" ajak Ferry sambil menggandeng tanganku tanpa memperdulikan jawabku maupun Shella.
"Sayang, itu Shella masa ditinggal gitu aja sendirian....ckckckk" Protesku karena tiba-tiba Ferry menarik tanganku dan mengajak ku kembali ke bungalow.
"Biarin aja" jawab si bule santai sambil tersenyum jahil.
__ADS_1