
"Hallo kak Ferry?" ucap Shella takut-takut.
"Kamu lagi sama Lia nggak? Soalnya kakak telphonin ponselnya nggak aktif diluar jangkauan" ucap Ferry sedikit khawatir.
"I...itu kak, kak Lia hilang" Sahut Shella takut-takut.
"Bagaimana bisa, aku kesana sekarang. Kabari aku terus" Ferry langsung menutup telphonnya dan meminta Jerry untuk ikut dengannya.
"Jerry kamu ikut aku sekarang, telphon tim SAR pantai Mindland katakan padanya ada seorang gadis berusia 22 tahun hilang saat menaiki bukit untuk melihat air terjun"
Jerry dengan sigap melakukan semua perintah tuan mudanya.
"Tuan muda biar saya saja yang menyetir, anda pasti saat ini tidak Fokus" Pinta Jerry yang di setujui Ferry.
Ferry benar-benar kalut, dia tidak habis pikir bagai mana mungkin cuma dalam beberapa jam istrinya bisa hilang.
'Sial, tau akan seperti ini aku tidak akan meninggalkan Lia sendirian bersama mereka' bathin Ferry kesal sekaligus menyesal.
"Hallo Shel gimana sudah ada perkembangan?" tanya Ferry to the poin.
"Aku nggak tau kak, terakhir aku disana tim SAR sudah berdatangan dan menyusuri lokasi terakhir kak Lia terlihat"
"Kamu dimana sekarang?" tanya Ferry mulai tak sabaran.
"Aku, Cindy, Terry dan kak Margaret di cottage dekat pantai. Kami di minta meninggalkan lokasi oleh Tim SAR, sedangkan kak Willy dan Kak Dhaniel ikut tim SAR nyari kak Lia" jelas Shella takut-takut.
Berkali-kali Ferry menelphon Shella karena perjalanan dari kantornya ke pantai mindland memakan waktu lumayan lama normalnya lima jam, tapi karena mobil sport Ferry dilajukan dengan cepat oleh Jerry dalam waktu tiga setengah jam mereka berdua sampai di pantai Mindland.
Ferry langsung berlari menghampiri tim SAR yang standby untuk menanyakan kelanjutannya karena sekarang hari sudah malam dan gelap.
"Selamat malam tuan Goucher, maaf kami sampai saat ini belum berhasil menemukan istri anda. Tapi anda jangan khawatir tim kami akan terus mencari" ucap salah satu anggota tim SAR yang standby.
"Terima kasih atas bantuannya, saya akan langsung ke lokasi. Permisi" pamit Ferry berlari menapakin anak tangga menuju lokasi terakhir Lia terlihat.
'Ya Tuhan sayang, semoga kamu baik-baik aja' doa Ferry dengan langkah cepat menyusuri lokasi terakhir Lia terlihat.
'Pasti terjadi sesuatu pada Lia tak mungkin dia tiba-tiba menghilang' Bathin Ferry sambil mengamati sekeliling.
__ADS_1
'Itu...itu seperti pita iketan rambut yang dipakai Lia tadi pagi' gumam Ferry mendekati pita yang tersangkut di ranting pohon agak kedalam hutan.
'Benar ini punya Lia' Bathin Ferry setelah dengan susah payah meraih pita dan menelitinya dia yakin ini milik Lia.
Ferry memperhatikan sekeliling dimaan dia menemukan pita milik Lia terlihat ada bekas ranting-ranting patah. 'Jangan-jangan Lia tergelincir ke bawah.
"Jerry cepat panggil Tim SAR untuk membantu ku turun ke bawah jurang ini" teriak Ferry panik memikirkan Lia terperosok masuk jurang.
Tim SAR berlarian menuju tempat Ferry dan mulai melakukan persiapan untuk menurunkan Ferry bersama dengan dua orang Tim SAR terlatih turun ke dasar jurang.
Sedangkan Lia tak pernah tau apa yang terjadi sedari jatoh hingga kini Lia masih pingsan.
"Komandan saya menemukan seorang wanita pingsan terbentur pohon, mohon turunkan tandu" Pinta salah satu anggota tim SAR.
Saat Ferry mendengarnya dia langsung mendatangi lokasi anggota tim SAR yang memberi informasi lewat intercom.
"Ya Tuhan Lia, sayang bangun yank" Ferry menepuk pipi Lia pelan untuk membangunkan Lia
"Suami koq kamu disini?" Tanya Lia bingung melihat suaminya yang terlihat berantakan.
Ferry tak menjawab pertanyaan Lia dia hanya memeluk sang istri. "Apa yang sakit?" tanya Ferry begitu dia mengurai pelukannya.
"Aku gendong kamu di punggung, pegangan yang erat" ucap Ferry sambil naik keatas.
"Suami aku pake tandu aja, nanti kamu kecapean. Ini lumayan jauh turun ke bawahnya" pinta Lia tak ingin sang suami ke lelahan.
"Tidak akan lelah, kamu diam lah peluk aku yang erat jangan banyak gerak nanti kaki mu makin sakit" sahut Ferry.
"nggak nyangka ternyata tuan muda seganteng itu mau susah-susah kaya gitu buat nyelametin istrinya" gumam salah seorang anggota tim SAR yang melihat Ferry tak ada sedikit pun rasa lelah menggedong Lia dari dasar jurang sampai ke dalam mobil ambulance.
"Iya emang lo nggak liat, bininya cantik banget gitu gue juga akan ngelakuin hal yang sama kaya dia" sahut yang lainnya.
"Sayang bini lo nggak secantik cewe tadi ya" timpal sang komandan tim SAR.
"Kampreet lo bang" teriak anggota tim SAR yang lagi di bully.
"Maaf mengganggu obrolan kalian, ini dari tuan muda Goucher, sekedar untuk menghilangkan rasa lelah kalian semua karena sudah bersusah payah menolong istrinya" ucap Jerry sambil memberikan sebuah amplop coklat yang lumayan tebal.
__ADS_1
Dengan cepat komanda tim SAR meraih amplop coklat dari tangan Jerry. "Aduh jadi repot-repot, makasih banyak ya om. Sampein terima kasih kita juga buat perberiannya". Jerry hanya mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan kerumunan tim SAR menuju mobil menyusul Ferry yang naik ambulance menemani Lia.
"Gila banyak banget duitnya" gumam sang komandan. Dia pun membagi rata uang pemberian Ferry kepada seluruh tim SAR yang turun hari ini.
"Mantap kita bisa senang-senang dulu nih di BAR" ucap salah satu anggota tim SAR.
Di dalam Ambulance Ferry duduk diam memperhatikan dokter membersihkan luka-luka pada wajah, tangan Lia. Lia meringis kesakitan.
"Kamu minggir, biar saya saja yang melakukannya" ucap Ferry tak tahan melihat Lia terus meringis kesakitan.
Dengan lembut Ferry membersihkan luka-luka Lia dan mengolesinya salem untuk luka sambil meniup-niup pelan agar Lia tak kesakitan.
'ini Suami udah ganteng, perhatian banget walau serem banget sorot matanya' bathin si dokter memperhatikan Ferry dengan telaten mengolesi obat pada luka-luka di wajah dan tangan Lia.
Nampaknya saat Lia berguling-guling banyak ranting yang melukai kulit mulus dan halusnya.
"Aku pasti jelek banget ya sekarang?" ucap Lia tiba-tiba, membuat Ferry menatapnya lekat-lekat.
"Kamu kenapa bisa sampai jatuh ke jurang begitu?" tanya Ferry agak kesal, karena memang istrinya ini agak ceroboh setiap bertindak.
"Hehhhehe....itu karen pas aku abis nolongin kelinci tiba-tiba ada ular mendekat aku mau usir pake batang pohon ehh,,malah kepleset sampai jurang" ujar Lia sambil terkekeh.
"Sudah kaya gini masih bisa tertawa" sahut Ferry kesal.
"Abis aku seneng, saat sadar wajah kamu yang ku lihat. Aku sampe lupa rasa sakitnya saat terjatuh" gombal Lia membuat bibir Ferry tersenyum tapi Ferry buru-buru memasang wajah kesal agar lain kali Lia lebih hati-hati.
"Sayang udah dong, jangan marah lagi. Gantengnya jadi ilang low nanti, iya kan bu dokter?" si dokter yang sedang memperhatikan interaksi mereka berdua langsung tergagap saat Lia menyebut dirinya.
"Iya benar, yang penting sekarang istrinya tuan muda ketemu,dan hanya mengalami luka ringan walau kaki nampaknya terkilir" ucap sang dokter membuat hati Ferry sedikit lega.
"David kamu dimana?" ucap Ferry mengawali pembicaraan di telphon dengan David Dokter Ortopedi terbaik di negara A, walaupun dia masih muda.
"Kamu ke rumah sakit central sekarang, istri ku mengalami cidera kaki karena jatuh ke jurang" Pinta Ferry
"Gila, koq bisa sampai jatuh ke jurang?" gumam David agak kaget mendengar cerita Ferry.
"Jangan banyak tanya, cepat ke rumah sakit central sekarang" perintah Ferry sesaat sebelum dia mematikan sambungan telphonnya.
__ADS_1
'Wah, kurang asem nih tuan muda. Orang belum selesai ngomong main matiin aja. Ahhh,, lebih baik aku ke rumah sakit central sekarang kalau sampai si angker yang duluan sampe bisa abis kena omelannya' gumam David lalu dengan cepat menuju parkiran untuk pergi ke rumah sakit Central.
jangan luka Like and komennya kakak