Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Tidak ada Kuliah


__ADS_3

"Sayang aku pergi dulu ya, ada metting pagi ini dengan perusahan dari negara J"


Ferry pamit pada Lia yang masih meringkuk dalam selimut. "kalau masih mengantuk kamu tidur lagi saja, subuh masih setengah jam lagi" sambung Ferry sambil mencium kening sang istri lalu berlalu meninggalkan unit apartemennya.


Lia yang seluruh tubuhnya terasa pegal, lelah dan tak bertenaga karena ulah Ferry semalam.


"Aiishh,,,dia yang mengeluarkan begitu banyak tenaga semalam, malah terlihat segar bugar dan penuh energi sedangkan aku malah tak berdaya begini" gerutu Lia sambil berusaha bangun dari ranjangnya tapi saat hendak berdiri rasa kakinya lemas seperti tak ada tenaga sama sekali.


"Tau gini semalem aku nggak akan nekat pake cara ini untuk berbaikan dengan Ferry" gerutu Lia penuh sesal walau semua itu sudah tak lagi berguna lagi, karena nasi sudah jadi bubur.


"Semangat Lia, gaun mami harus selesai hari ini kalau tidak bisa di manyunin mami pas dateng ke kantor nanti"


Lia pun akhirnya berhasil menyeret kakinya yang terasa lemas dan berat untuk diajak melangkah menuju kamar mandi.


Sedangkan Ferry yang melajukan mobilnya dengan cepat dalam hitungan menit sudah tiba di lobby perusahaan.


"Pagi tuan muda" sapa Jerry begitu melihat sang bos turun dari mobilnya di depan lobby perusahaan.


"Gimana persiapan metting pagi ini? tanya Ferry sambil melangkah menuju lift khusus beriringan dengan Jerry.


"Semua sudah siap di ruanganan metting tapi barusan nyonya muda telphon katanya sebentar lagi Deni kesini buat anter sarapan dan obat tuan muda, dan nyonya muda meminta saya untuk memastikan tuan muda makan sarapan dan meminum obatnya"


Ferry hanya mengangguk dan masuk kedalam lift menuju ke lantai paling atas gedung perusahaan, dimana ruangannya berada. Ferry ingin menunaikan sholat subuh sambil menunggu jadwal metting yang harusnya sepuluh menit lagi di mulai tapi perwakilan dari perusahaan J belum juga menampakan batang hidungnya.


Lia yang selesai mandi baru ingat kalau sang suami belum sarapan dan juga minum obat karena berangkat ke perusahaan begitu pagi.


Lia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Deni.


"Deni kamu tolong keatas tapi sebelumnya beliin saya sarapan dua porsi bubur seafood di restoran samping gedung apartemen"


usai menelphon Deni Lia membuka lemari baju di dalam walk in closed

__ADS_1


"Aiishh...kenapa semua modelnya harus dress sih" gerutu Lia melihat tak ada satu pakaian santai pun yang biasa dia kenakan agar mudah bergerak untuk menyulam dengan cepat.


akhirnya Lia yang sedang malas mengenakan dress memutuskan mencari pakaian Ferry yang bisa dia kenakan.


"Nah kaya gini kan rasanya lebih bebas" gumam Lia saat melihat wujudnya di depan cermin.


sedangkan Deni yang langsung dengan sigap melakukan semua permintaan sang majikan. Tak menunggu lama Dia kini sudah ada di depan pintu unit apartemen sang majikan.


ting tong....ting tong


Bel pintu unit apartemennya berbunyi Lia pun bergegas keluar dari kamarnya menuju mini bar untuk mengambil obat Ferry untuk pagi dan siang hari.


Deni begitu terpesona menatap sang majikan yang membuka pintu. Pasalnya baru kali ini dia melihat istri sang tuan muda dalam balutan kaos oblong milik Ferry yang kedodoran tapi memberi kesan seksi karena Lia mengikat sisi kirinya sampai atas perut lalu bawahannya Lia padukan dengan hot pants yang menampakan kakinya yang putih mulus, dengan rambut di gulung ke atas menampakan leher jenjangnya. membuat Deni menelan salivanya dan buru-buru menundukan pandangannya, agar otaknya tak traveling kemana-mana.


"Nyonya ini pesanannya" ucap Deni berusaha bersikap normal dan menutupi kegundahan hatinya karena sudah berani lancang menatap istri sang tuan muda Goucher.


'kalau sampai ketawan habis aku bisa kena kebiri si bos' bathin Deni sambil bergidik ngeri sendiri membayangkan nasib buruknya kalau sampai sang tuan muda yang begitu posesif pada istrinya itu mengetahui bahwa dia sempat menatap istri si boss arogan nan posesif dengan pandangan penuh hasrat sampai hampir traveling kemana-mana otaknya.


"Deni kenapa ya? koq sikapnya agak aneh tadi. Ah sudah lupakan saja lebih baik aku sarapan agar bisa segera menyelesaikan gaun mami"


Gumam Lia sambil menuju ruang makan untuk menyantap sarapan paginya guna mengisi energi yang sudah terkuras habis semalam.


Usai sarapan sesuai rencana Lia ingin menyelesaikan sulamannya sebelum ke kampus, kebetulan jadwal kuliah hari ini memang siang dan hanya satu mata kuliah.


saat Lia sedang asik menyulam ponselnya terus berdering tapi karena posisi Lia yang sedang nyaman menyulam dia pun malas beranjak untuk mengambil ponselnya.


"Ahh...biarin aja lah itu kan nada dering untuk Jeni paling tidak ada hal penting" ujar Lia lalu kembali menekuri gaun mami dan lanjut menyulam.


Tapi tak lama kemudian ponselnya kembali berdering tanpa henti.


"Astaga, Ada apa sih Jeni sampai ngotot banget nelphon aku"

__ADS_1


ucap Lia yang akhirnya mau tak mau bangkit dan mengangkat panggilan telphon dari Jeni.


"Iya Jeni tersayang, ada apa?" ucap Lia penuh penekanan begitu sambungan telphon terhubung


"Hehehehe...maaf Lia aku pasti mengganggu mu ya?" sahut Jeni yang merasakan ada nada kesal dalam ucapan Lia


"Sudah cepat katakan ada apa? aku sedang mengerjakan project dari YZ Collection dan datelinenya sudah mepet"


"Kalau begitu harusnya kamu senang dengan kabar yang akan aku berikan" ucap Jeni antusia dan membuat Lia bertanya-tanya dalam hati


"Sudah jangan membuat ku banyak berfikir, cepat katakan afa berita apa sampai kamu begitu ngotot menelphon ku"


"Huh, benar teman tak tau terima kasih. Aku menelphon begitu ngotot karena perhatian. tapi malah kamu begitu enggan menerima telphon dari ku"


"Aiishh,,,Jeni ku mohon langsung saja pada intinya jangan banyak drama lagi" Lia mulai frustasi karena Jeni malah nampak sengaja memutar-mutar pembicaraan.


"Aku begini juga karena belajar dari mu"


"Baiklah, ratu drama...nona Jenifer Shark boleh katakan pada ku kenapa kamu menelphon ku?"


Lia mengucapakannya dengan nada semanis mungkin agar Jeni cepat mengatakan tujuannya menelphon dan berhenti main-main.


"Hahahahaha....nyonya Goucher benar-benar tak sabaran. Sudah lah aku tak main lagi dengan mu"


"Aku telphon karena takut kamu sudah bersiap untuk ke kampus, karena aku lihat kamu belum membaca informasi yang di share di WAG soal hari ini tidak ada kuliah di ganti hari senin"


"Sempurna, thanks Jeni buat info... I love you so much Jenifer Shark. Kalau gitu aku tutup telphonnya ya...bye"


ucap Lia sebelum memutus sambungan telphonenya dengan Jeni. Lalu kembali menekuri gaun milik mami mertuanya.


Jeni hanya bisa menerik nafas panjang dan bersabar dengna tingkah Lia yang memang sedang sibuk. berbeda dengan Jeni yang banyak memiliki waktu santai karena dia tak ingin buru-buru lulus dan menjalankan bisnis keluarganya.

__ADS_1


jangan lupa like, komen dan jadikan favorite kalian ya novel karya ku. maacih readers lophe u full


__ADS_2