
Tiba-tiba pintu tempatku bersandar terbuka, hampir saja aku terjatuh ke belakang. "Aaaaaa...."teriak ku sambil memejamkan mata, sudah pasrah jika harus merasakan sakit jatuh teejerembab. Tapi sakit yang ku tunggh tak jua ku rasakan, malah tangan kekar yang terasa menopang tubuhku. Pelan-pelan ku buka mataku, ternyata Ferry menahan tubuhku yang hampir terjatuh. Aku pun langsung bangun dan berdiri tegak dibantu Ferry.
"Makasih ya yank, kalau nggak kamu tangkep, bokongku saat ini pasti sakit banget sekarang" ucapku sambil mengelus bokong ku karena rasanya beruntung dia nggak perlu merasakan sakit karena kebodohanku.
"Kamu ngapain bersandar di pintu gitu, hah?" tanya Ferry sambil mengerutkan alisnya.
"Hehehehehe,,,,itu tadi karena shock Lia kamu jadi aku nggak fokus. Lupa kalau ternyata aku masih berdiri di depan pintu" jelasku sambil cengengesan. Ferry ngegusrak rambutku sambil berjalan keluar.
"Yank, kamu mau kemana?" tanyaku melihat Ferry berjalan keluar.
"Di depan ada Jerry asisten pribadiku, ada yang mau aku bicarakan terkait acara nanti malam". Kamu lanjutkan merapikan kamar mu sana, karena mungkin aku akan agak lama diluar bersama Jerry karena ada yang harus aku temui" ujar Ferry sambil pergi meninggalkan ku.
"Seperti yang Ferry katakan kamarku memang belum selesai ku rapikan karena tadi ada serangan cinta" gumamku sambil membayangkan kejadian tadi, lalu menepok jidatku. "Lama-lama aku bisa gila memang jika terus-terusan punya kesempatan berduaan dengan Ferry di dalam kamar". Bathin ku mengingat-ingat beberapa kejadian yang hampir saja merenggut kesucian ku. (Jadi gaes kalian kalau pacaran jangan dua-duaan di dalam kamar ya beneran deh orang ketiganya setan yang ngipasin kalian buat mesum...Denger pesen author ya gaes....heheehehe).
Aku melanjutkan menata foto-foto dan buku-buku ku dirak yang sudah ada di dalam kamar. Menyimpan alat-alat gambarku, Lalu merapikan baju-bajuku yang ternyata lemarinya tidak cukup menampung semua bajuku. "Sepertinya aku harus menshortir baju-bajuku, yang sudah tidak ku gunakan". gumamku Aku pun akhirnya memisahkan baju-baju yang masih bagus, ku masukan dalam dus. Niatku besok biar ku antar ke Charity, dan yang tidak layak biar ku buang atau ku jadi kain lap. "Done" ucapku karena akhirnya selesai juga aku merapikan lemariku. Dapat satu dus besar baju-baju yang layak pakai dan ada beberapa baju rumahan yang agak usang ku pisahkan untuk ku jadikan kain lap, lumayan kan buat bersih-bersih", pikirku.
Ada lemari kecil kaca sepertinya itu bisa ku gunakan untuk menyimpan tas-tasku dan laci bagian bawa untuk menyimpan koleksi sepatu dan juga sandal ku.
Akhirnya kamar ku sudah rapi tinggal merapikan dus-dus bekas barang-barang tadi dan juga membawa pakaian layak tadi keluar agar besok aku nggak lupa membawanya ke Panti. Kamarku sudah rapi dan bersih tapi Ferry tak juga ada kabar beritanya padahal hari sudah sore. Hampir empat jam dia Pergi, tiba-tiba perutku dangdutan....hehehe. "Aku kan belum makan siang tadi, Pantas saja rasanya perutku lapar sekali sampai terjadi konser".gumamku.
Dreeet...dreeet....dreeet
__ADS_1
Ada panggilan telphon masuk ke ponselku. aku bergegas mengambilnya. Nama "My lovely" yang tertulis dilayar ponselku, aku pun langsung menggeser icon hijau ke atas.
"Hallo" sapaku diujung telphon dengan penasaran siapa yang menelphon ku, pasalnya aku tidak pernah mensave nomer Ferry di ponsel ku. Tapi ternyata benar suara Ferry di ujung telphon.
"Sayang, dua jam lagi Jerry akan jemput kamu dan mama. Bimo, si mbok dan mang Ujang tetap di rumah saja. Cukup kamu dan mama saja yang hadir di pernikahan kita" ujar Ferry membuatku bingung.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Papi mengirim banyak orang memata-matai gerakan mu dan aku saat ini, jadi aku mohon kamu percaya padaku. Ini semua demi kebahagian kita berdua, kamu ikuti saja ucapanku, oke" jelas Ferry
"Baiklaah" jawabku singkat.
"Kamarmu sudah selesai dirapikan?" tanyanya lagi.
"Sudah makan" tanya Ferry
"Belum, ini baru mau makan. Aku lupa tadi makan siang keasikan beres-beres". Jelasku.
"Mama tidak memanggil mu untuk makan siang memangnya?" tanya Ferry agak sedikit membuatku juga merasa aneh.
"Tidak" jawabku sambil berfikir, jangan-jangan mama sendiri dan Bimo belum makan siang masih beres-beres kamarnya.
__ADS_1
"Sayang aku tutup dulu telponnya bye" ucapku pada Ferry dan langsung berlari keluar kamar dan naik ke atas untuk mengecek keberadaan mereka dan benar saja, mama tertidur pulas di ranjangnya nampaknya mama kelelahan melakukan pekerjaan yang biasanya ART lakukan. "Maafin Lia ya ma, belum bisa kasih fasilitas terbaik untuk mama seperti yang biasa papa berikan pada kita selama ini" gumamku, Lalu aku menutup kembali pintu kamar mama dan menuju kamar Bimo.
"Astaga", Bimo" Teriak ku begitu masuk kamar Bimo bukannya rapi malah berantakan dan berserakan tidak jelas semua barang-barang. Sedangkan Bimo malah asik pake Headset maen games online.
"Anak ini kapan sih dia tuh bisa mandiri?" gerutuku sambil mulai merapikan barang-barang milik Bimo yang berserakan lalu menuju Bimo.
"Bimooo..." Ucapku sambil melepas headset yang menempel dikepalanya dan menutupi telingannya. Membuat Bimo mendongakkan kepala.
"Kamu itu ya, bukannya beres-beres malah asik maen games online....ckckkkkk". Gerutuku tak membuat Bimo bergeming.
"Cepat rapikan kamar mu!" perintahku pada Bimo.
"Kak, aku nggak ngerti mulai beresinnya dari mana...dari tadi aku udah coba pusing sendiri" keluhnya.
"Cepat bangun mulai dengan baju-baju mu saja masuk kan ke dalam Lemari, kamu pisah mana baju untuk hang out, mana baju untuk tidur dan mana baju untuk kamu gunakan sehari-hari, jaket, boxer dan traning bisa kamu pisah, jadi saat kamu butuh kamu bisa mengambilnya dengan mudah. Satu lagi baju yang sudah kekecilan atau nggak akan kamu pakai lagi masukan dalam kardus kosong tapi kamu pilah dulu mana yang layak pakai dan tidak. Biar nanti yang layak pakai kita sumbangin ke panti". Jelasku panjang lebar kemudian menyita ponselnya Bimo takut begitu aku tinggal dia balik maen games onlinenya. Baru lah aku keluar kembali ke kamar mengambil ponsel ku untuk mengorder makanan untuk kami makan. Aku order Pizza dan juga Lauk pauk di Restoran padang. lalu aku ke dapur untuk masak nasi. Semoga saja ada beras di rumah ini.
Begitu sampai dapur kuliah interiornya sangat elegan, barang-barangnya juga lengkap. "Papa benar-benar memudahkan istri kesayangannya untukb memasak di dapur". Gumam ku sambil tersenyum membayangkan papa yang sangat penyayang, hampir tidak pernah aku liat papa marah pada kami. Saat teringat papa yang kini terbaring tak berdaya tak terasa buliran bening itu bergenang. Tak mau larut dalam kesedihan, aku segera menghapus air mataku dan membuka kulkas. "Wow isinya penuh banget" gumam ku. Ada buah, sayur, minuman dingin, ayam daging, udang, cumi bahkan coklat dan ice cream. Ada juga beberapa makanan frozen yang cukup di goreng, kukus atau panggang saja sudah siap disantap.
"Siapa yang mengisinya?, bukan kah ART sudah diberhentikan oleh om Bram bulan lalu, artinya rumah ini sempat kosong hampir dua minggu".bathinku bingung.
Sambil berjalan memeriksa isi kabin-kabin di dapur apa saja. Ternyata alat-alat masak, peralatan makan dan lauk pauk semuanya tersedia lengkap. Namun Lagi-lagi aku dikejutkan ternyata tidak hanya mengisi kulkas lengkap tapi juga semua kebutuhan hari-harian seperti beras, minyak, gula, telur, margarin, tepung, telor dan bumbu-bumbu bubuk untuk memudahkan memasakan semua sudah tersedia.
__ADS_1
"Aku harus telphon om Bram untuk mengucapkan terima kasih sudah menyediakan ini semua" gumam ku sambil mengambil ponsel untuk menelphon om Bram.
Cukup lama nada panggilan itu berdering baru di angkat om Bram. Namun betapa herannya aku ternyata bukan om Bram yang melakukan semua ini. "Apa mama yang belanja semua ini?".Gumam ku karena tidak terpikir orang lain lagi yang melakukannya.