
#POV Lia#
Dreeet....Dreeet....Dreeeet
"Ahhh...sial si bule pake telpon kondisi lagi nggak kondusif gini, dari pada ribet mending nggak usaha di angkat aja deh". Bathin ku males ribet berurusan dengan Ferry karen kalau sampai dia tau aku dipeluk sama cowo lain dan cowo itu sekarang masih menempel mengikutiku biasa panjang urusannya.
"Kenapa tidak kamu angkat telphonnya?" tanya Mira padaku.
"Apa aku bisa terima telphon sementara kalian berdua bertengkar seperti kucing dan anjing disini?" tanyaku balik pada Mira, yang di jawab hanya dengan cengirannya sedangkan Rendy menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lama kami bertiga hening sampai akhirnya Mira memanggil penjaga kantin untuk order makanan diikuti Rendy yang juga order makanan. Kami bertiga makan dengan tenang, tapi hatiku yang jadi tak tenang sekarang.
"Pasti Ferry saat ini kesal pada ku karena sudah tau aku sedang tidak ada kelas tapi masih tidak mengangkat telphon darinya, alasan apa nanti yang aku gunakan jika dia bertanya....ahhhhggghhh,,,benar-benar sial betul aku hari ini" gerutuku dalam hati sambil mengaduk-aduk mie ayam karena sudah lenyap rasa laparku berganti dengan cemas
"Apa aku telphon balik Ferry sekarang ya? tapi sebelumnya aku menjauh dulu dari mereka berdua" Pikirku. "Tapi jika Ferry bertanya kenapa sebelumnya aku nggak angkat telphon, aku harus jawab apa?", Setelah lama berfikir akhirnya aku berdiri meninggalkan Mira dan Rendy berdua di kantin.
"Jangan ikuti aku, aku butuh waktu sendiri saat ini" ucapku saat Mira hendak buka suara melihatku berdiri.
"Dan kamu juga, jangan ikuti aku. Aku pasti akan memberi mu penjelasan tentang semua hal yang ingin kamu tanyakan, tapi beri aku waktu" pintaku pada Rendy melihat dia akan ikut berdiri.
Mereka berdua hanya diam tak bergeming dan aku pun berlalu meninggalkan mereka berdua menuju taman dekat perpustakaan yang tak jauh dari kelas ku berikutnya.
Masih ada sisa satu jam lagi sebelum kelas berikutnya di mulai. Jadi ku putuskan untuk menelphon Ferry. Telphon pertama ku tak diangkatnya, kedua pun tak diangkatnya. Baru telphon ketiga setelah dering telphon lama baru diangkat Ferry.
"Hallo sayang, lagi sibuk ya?" sapa ku mengawali pembicaraan.
"Lumayan" jawabnya singkat dengan nada datar. "Hhmm..sepertinya benar si bule ngambek ini mah" bathinku begitu mendengar suara suamiku yang tak biasa.
"Sayang, kamu marah sama aku?" tanyaku selembut mungkin agar si bule tak makin tersulut emosinya.
"Menurut mu?" bukannya di jawab Ferry malah tanya balik.
__ADS_1
"Kalau dari nada suaramu sih lagi ngambek dan kesal. Aku bikin salah ya?" tanyaku pura-pura bodoh.
"Memang kamu merasa bikin salah padaku?" lagi-lagi bukan dijawab pertanyaanku malah Ferry balik nanya.
"Sayang aku minta maaf ya, dari sejak sampai kampus aku nggak sempet pegang ponselku. Begitu keluar kelas aku langsung membalas pesan mu, tapi kamu tidak membalasnya jadi aku pikir kamu sedang sibuk mempersiapkan diri untuk metting, Aku nggak mau dibilang menghambat karier suami karena terlalu manja tiap telphon atau kirim pesan harus segera kamu balas, jadi aku tak mengganggumu lagi dengan pesan atau telphonku". Ucap ku dengan nada mulai sedih karena membayangkan papinya Ferry yang tak kunjung merestui pernikahan kami.
"Kamu tidak pernah menggangguku dengan pesan atau juga telphon mu, justru aku terganggu sekali jika kamu tidak membalas pesanku dan mengangkat telphon ku" ujar Ferry dengan nada tegas. Aku berasa jadi bawahannya yang sedang diintimidasi karena melakukan kesalahan dalam proyek. Lama aku terdiam tenggelam dalam pikiranku sendiri sampai suara Ferry menyadarkan ku.
"Sayang, kamu baik-baik aja? kenapa diam saja" ucap Ferry dengan nada mulai khawatir.
"Aku baik-baik saja, cuma sedikit sedih" jawabku sambil menyeka buliran bening yang hampir terjun bebas.
"Aku ke kampus mu sekarang ya?" ucap Ferry membuatku membelalakan mata karena shock dengan respon Ferry.
"Ehhh...jangan-jangan, aku baik-baik aja koq. Lagian kamu ada metting nanti sore, kerjaan kamu pasti banyak sekarang. Aku sedih karena kamu bicara dengan ku dengan nada dingin seperti dengan orang asing tambah lagi aku ingat penolakan papi pada pernikahan kita". ucapku sambil terus menyeka air mata yang mulai berjatuhan.
"Maafin aku ya sayang, aku memang lagi kesal karena ada orang mengirimi ku foto kamu dipeluk pria lain dikampus" jelas Ferry lagi-lagi membuatku shock dan membuat mulutku terbuka lebar.
"Owh jadi nama pria itu Rendy, siapa dia berani memeluk istriku?" tanya Ferry dengan nada rendah menekan emosi.
"Dia teman sekolah ku sejak SMP, begitu lulus SMA kita tidak pernah bertemu atau pun komunikasi, nah tadi tau-tau aku bertemu dengannya di kampus. Dan dia langsung peluk aja aku juga kaget...heehehe" jelasku berharap si bule nggak ngambek lagi.
"Yakin cuma teman sekolah aja? nggak ada perasaan apa-apa selama bertahun-tahun deket?" Tanya Ferry dengan nada selidik.
"Perasaan? perasaanku sudah habis buat kamu semuanya" jawabku spontan.
"Hahahahaa...kamu sedang menggombaliku", tawa Ferry pecah mendengar jawabku.
"Kalau tidak percaya ya sudah, aku bisa apa?" ucapku dengan nada cuek.
__ADS_1
"Percaya sayang, percaya. Aku percaya cinta mu hanya untuk, seperti aku hanya mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku" ucapnya manis.
"Ya Tuhan suamiku, ini masih siang dan kamu sudah menggobaliku seperti ini...hahahaaha". tawaku diikutin tawa Ferry. Suasana tegang diantara kami sudah mencair, cinta memang ajaib bisa membuat orang ceria jadi sedih, orang sedih jadi ceria.
"Sayang, kamu sudah makan?" tanya Ferry usai tawa lepasnya.
"Hampir" jawabku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.
"Hampir?maksud mu?" tanya Ferry bingung mendengar jawaban ku.
"Iya tadi aku dikantin hampir makan mie ayam, tapi karena Mira dan Rendy terus bertengkar dan telphon mu yang tak ku angkat membuatku jadi kepikiran, jadi hilang nafsu makan ku". Jelasku membuat Ferry berbecak kesal.
"Pergilah makan sekarang, aku sudah tidak kesal lagi sekarang, atau mau aku bawakan makan ke kampus mu?" Ucapan Ferry membuat senyum diwajahku mengembang.
"Tidak usah sayang, Mira sedang menuju ke sini membawa makanan untuk ku", Jelasku saat ku liat Mira dari kejauhan menunjukan tentengan ditangannya.
"Baik betul sahabat mu itu, dia sendiri atau bersama pria itu?" tanya Ferry dengan nada mulai aneh lagi.
"Suamiku, boleh tidak jangan terlalu cemburu dengan Rendy, dia sahabatku dari aku masih belia. Sulit bagiku untuk menjauhinya apa lagi bermusuhan dengannya, satu yang pasti aku sangat mencintaimu, cuma kamu nggak akan pernah ada yang lain. So Please beri aku kepercayaan ya" pintaku pada Ferry dengan nada memohon.
"Hhhhmmmm...Istriku sekarang makin pandai menggombal ya....ckckckk" ujar Ferry diikutin dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
"Hehheehe....aku kan kan berguru dengan mu" jawabku sekenanya
"Wkwkwkwkwkk....sayang kamu benar-benar menggemaskan" kelakar Ferry sambil tertawa.
"Sayang udah dulu ya, Mira sudah dekat. Aku juga sudah lapaaar" rengek ku ingin mengakhiri pembicaran dengan Ferry.
"Oke makan yang kenyang, kalau ada kesempatan untuk membalas pesanku atau menelphonku kamu jangan ragu-ragu melakukannya karena itu sama sekali tidak menggangguku.
__ADS_1
"Oke siap boss,,bye suamiku love you...muuaacchhh" ucapku sebelum memutus sambungan telphon dengan Ferry tanpa mendengar jawabnya karena Mira sudah berdiri di depan ku.
"Ini Makan lah sebelum kelas di mulai, aku tau kami dari tadi belum makan apapun" ucap Mira sambil menyodorkan tentengan yang dia bawanya padaku lalu mendudukan bokongnya di kursi taman sebelah ku setelah aku menerima tentengannya sedangkan Rendy hanya diri mematung.