Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Ferry pun Mengalah


__ADS_3

"Tunggu dok, ada yang mau aku tanyakan? Dokter ada waktu?"


"tentu saja ada waktu untuk nyonya muda Goucher"


"Panggil aku, Lia aja dok sangat aneh kedengerannya dipanggil begitu"


Mendengar ucapan Lia, alis Ferry sudah terangkat satu. 'Gadis ini slalu saja cepat akrab dengan siapa saja. Menjengkelkan sekali'. Bathin Ferry merutuki sikap Lia yang mudah sekali akrab dengan orang baru dikenalnya berbeda jauh dengan Ferry yang slalu saja insecure dengan orang baru.


"Baik lah, kalau begitu aku tidak sungkan lagi. Jadi ada yang aku bisa bantu Lia?" tanya Gavin dengan senyum manis terkembang di wajahnya, membuat Ferry makin jengkel melihat interaksi mereka berdua.


"Hhmmm...Sayang aku bicara disana sama doktee Gavin dulu ya?" pamit Lia pada Ferry langsung ditolak Ferry.


"Bicara saja di sini aku tau yang mau kamu tanyakan ke Gavin, aku tidak masalah kamu bebas bertanya apapun aku tidak akan mengintrupsi sedikit pun, tapi bicara di sini saja".


"Takut banget sih Lia berduaan sama cowo lain, ya harus takut lah ya...secara dokter Gavin ganteng, ramah, cerdas, baik hati dan lembut pada setiap wanita....hahahahaha"


Lia langsung menggelengkan kepala mendengar ke narsisan akut dokter Gavin. "Ada orang narsis kebangetan...ckckk. Besok aku beliin kaca biar jadi orang tidak terlalu narsis". Celetuk Ferry to the poin.


"Auuu...sayang aku kenapa di cubit sih?" teriak Ferry saat mendapat cubitan di lengannya dari Lia.


"Kamu diam sebentar, kalau kalian berdua sahut-sahutan terus kapan aku bicaranya" Lia mulai kesal melihat tingkah dua orang pria bule di depannya ini.


"Emang kamu tidak geli apa mendengar ke narsisannya?" Bisik Ferry di telinga Lia membuat bulu kuduk Lia berdiri karena hembusan nafas Ferry di telinganya ditambah lagi Ferry menggigit lembut daun telinga Lia. Membuat tubuh Lia makin kaku karena hasratnya terpancing oleh ulah Ferry.


'Sial banget kenapa jadi gini sih, aduh jadi pengen cepet pulang kan kalau kaya gini' bathin Lia, efek seminggu ngejablay alias nggak ada yang belai...hehehehe.


"Lia, kamu demam? kenapa wajah mu mendadak merah sekali?" Tanya Gavin khawatir karena tiba-tiba wajah Lia memerah.


"Gavin, ruang kerja mu di mana?" tiba-tiba Ferry menanyakan ruang kerja Gavin membuat Lia dan Gavin bingung.


"Ada di ujung koridor sebelah poli penyakit jantung, kenapa memangnya?" Tanya Gavin heran.

__ADS_1


"tidak apa-apa, aku hanya mau mastiin kamu bisa bergegas ke ruang ICU jika terjadi sesuatu pada papa?"


"Selama Mr Aghata ada di ICU aku menggunakan ruangan dokter di dalam ruang ICU"


"Owh begitu, bagus lah kalau begitu" Ujar Ferry santai dan tersenyum pada Lia yang sudah bisa menormalkan kondisinya.


Ternyata Ferry hanya sedang mengalihkan pembicaraan agar Lia bisa mengontrol dirinya dari hasrat yang mulai naik karena ulah suami tengilnya yang tampanya kebangetan.


"Lia, kamu jadi mau bicara dengan ku tidak? kalau tidak aku mau ke ruangan ku dulu untuk mandi".


"Kalau begitu nanti saja dok, dokter mandi saja dulu nanti kemaleman malah sakit".


"Oke lah kalau begitu aku pergi dulu" pamit Gavin kemudian langsung berjalan cepat menuju ke ruangannya.


"Sayang, aku tidak suka ya kamu terlalu akrab dan perhatian sama Gavin kaya gitu" Ferry langsung ngedumel tidak terima Lia memperhatikan pria selain dirinya.


"Udah deh jangan mulai lagi, cemburu liat-liat juga kali yank, masa iya aku mau macem-macem sama dokter Gavin? ckckck"


"Aku tau yank kamu tidak akan macem-macem sama Gavin cungkring dan lembek gitu, cuma aku tetep tidak suka lihat kamu perhatian sama pria lain".


Ferry terpaksa menelan kata-kata yang sudah ada di ujung lidahnya usai mendengar permintaan Lia untuk stop melanjutkan debat unfaedah yang nantinya berujung dengan pertengkaran. Ferry juga tentu saja tak ingin bertengkar dengan istri tercintahnya.


"Sayang, kamu mau nanya soal penyakit ku sama Gavin ya?" tanya Ferry membuat Lia terbatuk padahal Lia sedang tidak makan atau minum saat mendengar pertanyaan Ferry.


Ferry menebuk pelan punggu Lia agar berhenti batuknya. "Are you oke baby?" Lia hanya mengangguk kemudiawngatur nafasnya usai batuknya mereda.


"Suami, bisa nggak kalau mau nanya sesuatu jangan ngagetin banget gitu....huuuffft" Lia mendengus kesal karena tenggorokannya lumayan terasa pedas, panas usai keselek dan terbatuk rasanya hot pot pedas yang Lia makan tadi tertinggal di tenggorokannya.


"Ini, minum lah dulu" Ferry memberikan Lia air mineral botol yang tadi di bawa Ferry usai makan malam.


"Terima kasih" ucap Lia kemudian menenggak air mineral sampai tenggorokannya benar-benar adem kembali.

__ADS_1


"Jadi benar kan kamu mau tanya penyakit ku ke Gavin?" goda Ferry setelah Lia terlihat baik-baik saja setelah minum.


"iya benar, aku mau mastiin kalau kamu bohong atau tidak sama aku soal penyakit mu". sahut Lia ketus


"Galak amat sih istri ku, suaminya kan nanya baik-baik. Lagian aku tidak melarang mu bertanya ke Gavin soal penyakit ku. Aku malah seneng kamu tanya Gavin langsung, biar jelas semuanya jadi kamu tidak ngatain aku lagi mengarang cerita"


"Hhhmm....sedih tau udah berbesar hati cerita kelemahan diri sendiri, ehh malah nggak di percaya trus dikatain lagi mengarang cerita...ckckckk"


Mendengar ucapan Ferry dan raut wajah sedih si bule membuat Lia jadi tak enak hati.


"Bukan gitu yank maksud ku, tapi aku mau mastiin aja ke dokter Gavin sekalian minta ajarin dokter Gavin kalau hal itu terjadi aku harus apa"


Lia berusaha meyakinkan Ferry bahwa prasangka Ferry pada Lia yang 100% benar itu, tidak benar.


"Hhmmm...begitu" Akhirnya Ferry pun mengalah, dia memilih untuk mengikuti Lia dan berpura-pura bodoh karena tak ingin berdebat dengan wanita yang amat dia cintai.


"Iya sayang, aku mana mungkin meragukan kejujuran mu aku hanya butuh di yakinkan lagi dengan pernyataan dari dokter Gavin, sekalian cari solusi buat nyembuhinnya".


Lia terus saja bertahan dengan statment nya untuk meyakinkan Ferry. Padahal Ferry sudah tak ambil pusing, dia males ribut dengan wanita satu ini.


"Oke, tidak usah di bahas lagi. Nanti saja kalau sudah ketemu Gavin lagi baru dibahas".


Ferry lalu menarik tubuh kecil istri kesayangannya masuk dalam pelukannya. Mereka pun menikmati pelukan dalam diam sampai Gavin muncul membuat suasana yang lagi nyaman dan menyenangkan buat Ferry, karena memeluk Lia seperti ini sangat dia rindukan seminggu terakhir ini.


"Kalian berdua...ini rumah sakit sempet-sempetnya pelukan...ckckck"


Ucap Gavin sambil duduk di kursi kosong samping Lia, membuat mata Ferry melotot tajam pada Gavin. Sialnya yang di plototin cuek aja membuat Ferry makin kesal sampai keubun-ubun.


"Lia, kamu jadi mau bicara dengan ku? cepatlah tiga jam lagi aku ada jadwal menemani operasi"


"Jadi dong" sahut Lia sambil duduk tegak dan melepas pelukan Ferry, membuat alis si bule sudah mengerut erat.

__ADS_1


"Oke tanyakan lah, aku akan menjawab sejujur mungkin"


"Jadi sebenarnya Apa penyakit Ferry?". Tanya Lia to the poin.


__ADS_2