
"Sayang, are you oke?" tanya Ferry melihat wajah Lia nampak kelelahan.
"Hhhmm...sedik lelah" sahut Lia dengan suara lemah karena dia benar-benar mengantuk.
"Kalau begitu kamu istirahat lah, aku akan menemani mu di sini" ujar Ferry sambil memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Lia lalu mengecup keningnya.
Lia pun mulai memejamkan matanya, perlahan suara nafas Lia mulai teratur lembut tanda Lia mulai terlelap.
'Nampaknya prosedur pemeriksaan tadi membuatnya kelelehan, benar-benar nenek tua bikin kacau' gumam Ferry dalam hati.
Setelah Lia terlelap Ferry menghubungi Jerry untuk membawakan laptop juga baju ganti karena Ferry berniat menginap dan juga bekerja di ruang rawat Lia.
Baru juga Ferry meletakan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur Lia suara pintu dibuka dengan kasar membuat Ferry membalik tubuhnya dan menatap tajam ke arah pintu. Kalau saja bukan nenek tua yang berdiri di pintu saat ini pasti sudah habis di maki oleh Ferry.
"Kenapa wajah mu begitu seram?, tidak suka melihat ku" ujar nenek tua saat masuk melihat tatapan tajam dari cucunya.
"Bukan begitu nek, tidak bisakah nenek masuk dengan lebih lembut Lia baru saja terlelap" Sahut Ferry dengan suara lembut namun tetap memancarkan aura dingin.
Ferry menekan sekuatnya amarah yang membuncah di dadanya biar bagaimana pun itu neneknya tetua Goucher yang sangat di hormati.
"Aku sedang marah mana bisa lembut" ucap nenek tua dengan kesal lalu berjalan menuju sofa dan menghempaskan bokongnya di sana.
"Nenek tua ada masalah bicarakan baik-baik kenapa harus kesal begitu nanti keriput mu bertambah" ledek Ferry melihat aura marah neneknya. ' Sepertinya aku atau Lia buat kesalahan besar atau jangan-jangan kesehatan Lia tidak baik. Tapi itu tidak mungkin David bilang semua baik-baik saja' gumam Ferry dalam hati sambil ikut duduk di sofa depan nenek tua.
"Masih berani kamu meledeki setelah membutuh cucu ku?" ujar nenek tua.
"Membunuh cucu mu? Nenek tua kalau bicara jangan melantur, katakan yang jelas aku tidak mengerti" sahut Ferry bingung karena David tidak mengatakan kalau Lia keguguran atau melakukan aborsi.
"Iya kamu membiarkan Lia meminum obat anti hamil apa itu namanya tidak membunuh cucu ku?" ucap Nenek tua kesal.
"Haahahaha...memangnya aku begitu hebat sampai nenek yakin setiap aku menanam benih pasti menuai hasil" gurau Ferry sambil tertawa membuat nenek tua semakin jengkel.
"Dasar bocah tengik, aku mana tau kehebatan mu. Tapi kamu bodoh sudah tau tidak hebat masih membiarkan istri mu meminum pil-pil itu bagaimana aku akan punya cicit"
"Kelihatannya aku akan mati sebelum memiliki cicit karena ulah cucu dan cucu menantu ku yang slalu membunuh calon cicit ku" Nenek tua mulai memasang muka sedih.
'Aduh mulai lagi dramanya, akan sulit aku menghadapi ini sendirian' gumam Ferry dalam hati sambil menatap mami minta bantuan.
Tapi mami malah menatap Ferry acuh tak acuh. 'Enak saja minta bantuan, mami juga sudah pengen punya cucu tau' bathin mami.
'Ahh...sial mami tidak mau diajak kerja sama lagi...siapa yang akan menolong ku lepas dari cengkraman nenek' bathin Ferry mulai berfikir keras agar bisa keluar dari situasi yang dia sendiri tidak bisa memutuskannya. Lia sampai sekarang masih belum mau hamil seberapa keras pun Ferry berusaha merayunya, Lia masih kekeh mau menyelesaikan kuliahnya baru hamil.
"Nenek, jangan desak kak Ferry lagi. Kak Lia dan kak Ferry kan masih mudah bagaimana mungkin kamu memaksa mereka untuk jadi orang tua" tiba-tiba suara Shella terdengar membela kakaknya.
"Siapa yang suruh anak kecil ikut komentar" sahut nenek tua tidak suka mendengar celotehan Shella yang merusak rencananya.
__ADS_1
"Nenek aku ini juga cucu mu, cucu paling cantik dan juga populer masa hal sepenting ini aku tidak boleh berkomentar. Hal ini juga nanti terkait dengan ku yang akan di panggil bibi sebelum usia ku delapan belas tahun". Balas Shella lagi.
"Kamu bisa diam tidak?" omel Nenek tua mulai tak sabar mendengar ocehan Shella.
"Aku mana bisa diam kalau nenek tua mau menindas kakak ipar ku" ucap Shella santai.
"Siapa yang sedang menindas kakak ipar mu? aku cuma mau seorang cicit apa itu juga tidak boleh?" jawab nenek tua berapi-api.
"Sabar nenek tua, ingat jantung mu" ucap kepala pelayan mengingatkan.
"Tahun depan kak Lia lulus, apa menunda setahun saja begitu lama?" oceh Shella tak mau mengalah.
"Shella cukup" ucap Mami tegas dengan mata melotot, membuat Shella akhirnya diam.
Ferry yang mendengar Shella membela Lia sangat lega tadinya dia sudah khawatir bocah rese itu akan membuatnya makin terpuruk. 'Ternyata dia benar-benar menyanyangi Lia' bathin Ferry melihat adiknya sekuat tenaga meyakinkan nenek kalau tidak masalah untuk menunda kehamilan saat ini.
Setelah lama terdiam nenek tua akhirnya mengucapkan sebuah kata yang membuat Ferry bisa bernafas lega untuk sesaatm
"Aku lepaskan kamu kali ini, lain kali kita bahas lagi. Ayo antar aku pulang" ucap Nenek tua pada kepala pelayan.
Mami pun ikut pamit pulang dan menarik Shella untuk pulang bersamanya walau awalnya Shella bersikeras masih mau di ruang rawat Lia.
'Akhirnya bisa tenang juga. Bagaimana cara ku menyampaikan pada Lia soal keinginan nenek tua?' gumam Ferry dalam hati sambil merebahkan kepalanya disandaran sofa.
Tak lama kemudian seseorang datang mengetuk pintu ruang rawat Lia.
Dan saat pintu terbuka ternyata Jerry yang datang membawa laptop, berkas dan peralatan perang Ferry lainnya untuk rapat online sejam lagi.
"permisi tuan muda" sapa Jerry saat masuk ke ruang rawat Lia.
"Mata mu fokus saja ke arah ku tidak usah melihat istri ku" ucap Ferry yang masih memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya.
'Dasar beruang kutub, kamu begitu sensitif sampai mata terpejam saja bisa tau aku melirik istri mu' bathin Jerry sambil menunduk dan melangkahkan kaki menuju sofa.
"Letakan saja semuanya diatas meja" ucap Ferry malas-malasan.
"Tuan muda, satu jam lagi ada metting penting dengan PT Diyahundai terkait pembangunan taman bermain di negara IND, ini proposal yang mereka kirim lewat email" ujar Jerry membuat Ferry bangkit dari sandaran sofa dan duduk tegak.
"Berikan proposalnya pada ku" pinta Ferry dan dengan sigap Jerry memberikan sebuah map biru berisi semua data lengkap dari A sampai Z soal proyek pembangunan taman bermain.
"Dan ini ada beberapa berkas yang butuh tanda tangan tuan muda" ucap Ferry sambil memberikan beberapa map berisi kontak kerja sama yang sudah disepakati tinggal menunggu tanda tangan Ferry agar bisa dilaksanakan.
"Letak saja di atas meja, nanti aku akan membacanya. Jika sudah ku tanda tangani kamu bisa mengambilnya kembali. Sekarang kamu lebih baik kembali ke kantor, semua urusan kantor beberapa hari kedepan aku serahkan pada mu. Jika ada yang urgent atau terkait dengan proses pembentukan perusahaan Ferlia Group di negara INd baru datang pada ku". ujar Ferry tegas membuat Jerry hanya bisa pasrah sebagai asisten.
"Baik, kalau begitu aku kembali ke kantor sekarang" pamit Jerry yang diangguki Ferry.
__ADS_1
Ferry yang tadinya berniat membaca proposal proyek taman bermain melihat Lia bergerak malah bangun mendekati sang istri.
'Aku pikir kamu bangun, ternyata masih terlelap padahal ruang rawat mu ini sudah dikunjungi dan dibuat gempar nenek tua tadi' bathin Ferry sambil merapikan rambut Lia yang berantakan.
"Tidurlah yang nyenyak, cepat pulih sayang. Aku akan sangat merindukan tidur memeluk mu" ucap Ferry kemudian mencium kening Lia dan kembali duduk di sofa menekuri pekerjaannya.
Beberapa jam kemudia Lia terbangun dia mendengar suara Ferry terdengar serius membahas pekerjaan. Jadi Lia hanya diam saja tak bersuara hingga sang suami selesai metting dan menghampirinya.
"Eh...sayang ku udah bangun?" ucap Ferry melihat Lia sudah membuka mata.
"Sudah dari tadi cuma aku dengar kamu sedang bicara serius mengenai pekerjaan, tapi kena menggunakan bahasa melayu?" tanya Lia heran.
"Hehehe...karena itu aku metting online dengan perusahan negara IND" jawab Ferry sambil terkekeh.
"Owh gitu, kalau kamu masih ada pekerjaan kamu pergi sibuk saja aku disini menunggu baik-baik" ucap Lia tak ingin menghalangi pekerjaan suaminya.
"Tidak ada pekerjaan lagi, sekarang kamu butuh apa bilang sama aku?" ucap Ferry serius.
"Aku haus" ucap Lia malu-malu, tapi tangannya tak mampu menjangkau gelas dari tadi.
"Tunggu aku ambil kan" Ferry dengan sigap memberikan Lia air minum menggunakan sedotan agar Lia mudah meminumnya.
"Kamu sudah lapar belum? tadi Jerry kesini bawa makanan kesukaan mu cumi calamari, udang saos padang dan tumis baby kailan"
Mendengar ucapan Ferry cacing di perut Lia langsung bereaksi dan suara lapar dari perutnya pun tak mampu dia tutupi.
"Tuh kan sudah lapar, aku siapkan makanannya jadi kamu bisa makan dengan lahap" ucap Ferry sambil mendorong meja makan pasien ke depan Lia dan menaikan ranjang Lia agar posisi duduk.
"Terima kasih suami, aku akan makan kamu pergilah sibuk" ucap Lia lagi
"Kami senang sekali mengusir suami mu" ucap Ferry dengan mimik sedih.
"Bukan begitu, aku yakin kamu punya banyak pekerjaan dan aku tidak mau menghalangi mu bekerja" sahut Lia cepat.
"Baik lah aku akan percaya ucapan mu dan segera pergi jika kamu mencium ku" ujar Ferry manja.
"Kemarilah" ucap Lia "Aku mana bisa mencium mu dengan jarak sejauh itu" Ferry pun langsung mendekatkan wajahnya. dan Lia mengecup pipi kiri Ferry.
"Pipi satunya lagi minta dikecup juga kalau tidak dia akan menangis" rengek Ferry membuat Lia geleng kepala.
'Beruang kutub, kulkas dua pintu. Siapa yang akan menyangka kalau kelakuannya akan kekanak-kanakan saat bersama ku' bathin Lia sambil mengecup pipi kanan suaminya.
"Biar adil aku pun mencium kamu" ucap Ferry sambil mencium bibir Lia. Awalnya hanya ingin melakukan sebuah kecupan di bibir ehh tau-tau malah jadi saling bertau dan membalas.
"Karena kamu seorang pasien aku melepas mu saat ini. Tapi begitu kamu sehat aku akan merapelnya"
__ADS_1
jangan Lupa like and komen kakak