Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Kecelakaan


__ADS_3

Melihat Lia nampak sudah agak tenang Deni akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara dan bicara dengan Lia.


"Nyonya muda maaf sebelumnya apa nyonya muda sudah membaca chat dari tuan muda? jika belum anda sebaiknya membacanya karena tuan muda saat ini berada di rumah sakit. Tuan muda mengalami kecelakaan di negara S"


Mendengar penuturan Deni Lia awalnya tidak percaya dan tidak mau menggubrisnya sampai saat Lia membaca chat dari Leon dan David yang mengirim foto Ferry yang berlumuran darah terbaring diatas brankar rumah sakit.


"Deni atur keberangkatan ku ke negara S sekarang juga" ucap Lia mulai menangis dan mencoba menelphon Ferry tapi tak di angkat Ferry padahal dia sudah menelphon lebih dari lima kali.


"Maaf nyonya muda, tuan muda melarang saya mengatur keberangkatan nyonya muda ke negara S"


Lia hanya bisa menghembuskan nafas beratnya ketika mendengar penuturan Deni.


Lia pun akhirnya mulai membaca Chat dari Ferry tapi tidak satu pun chatnya berisi tentang kecelakaan yang dia alami, 'apa sebaiknya aku video call aja ya?' bathin Lia jadi ragu ini sebenernya Ferry kecelakaan atau hanya ulang para sahabat dan anak buahnya biar Lia berhenti nyuekin Ferry.


Begitu sampai di apartemen Lia langsung bergegas mandi dan sholat isya baru melakukan panggilan video call yang tidak butuh waktu lama langsung diangkat sang suami.


"Assalamualaikum bidadari dari syurga ku" sapa Ferry begitu wajah Lia muncul di layar ponselnya.


"Waalaikumsalam suami nyebelin dan sok manis" sahut Lia ketus membuat Ferry tertawa pelan.


"Deni bilang kamu masuk rumah sakit kecelakaan, bener nggak?" tanya Lia sambil menatap netra pekat sang suami.


"Bukan kecelakaan cuma ada accident sedikit tidak lama saat aku tiba di negara S tapi kamu tidak usah khawatir aku baik-baik aja koq beberapa hari lagi juga aku boleh keluar dari rumah sakit"


"Aku perlu ke negara S nggak?" tanya Lia yang langsung di tolak Ferry cepat. "Tidak usah yank, cuma luka kecil koq"


Aslinya Ferry pengen banget saat seperti ini ada Lia manjain dirinya tapi dia tau besok sang istri masih ada kuliah pagi dan lusa dia ada janji dengan nyonya Maghdalena jadi dia tidak terlalu berharap.


"Owh ya sudah kalau tidak perlu aku kesana, lagian besok aku masih ada kuliah pagi. Aku tidur dulu kalau gitu" ujar Lia lalu memutuskan panggilan telphonnya.


"Dasar suami nyebelin, bikin bete, sok kuat. Nggak bisa apa sekali aja kamu nunjukin butuh aku, aku kan istri kamu" gerutu Lia sambil meres bantal guling yang sudah dia pasangkan kemeja Ferry.

__ADS_1


kebiasaan Lia setiap ditinggal Ferry pergi.


Lia yang kesal dan juga sudah lelah seharian ini akhirnya tertidur pulas. Tapi tidak dengan Ferry di negara S, dia justru makin sibuk padahal sudah terbaring di rumah sakit, Ferry tetap saja mau mengerjakan proposal proyek relokasi resort dan taman wisata bersama Daniel tanpa campur tangan orang lain, karena makin banyak yang tau makin rentan informasi bocor keluar.


Sedangkan Leon yang sejak kejadian penyerangan terhadap Ferry jadi lebih sibuk. Sejak operasi Ferry selesai Leon belum datang lagi ke rumah sakit, dia hanya menempatkan banyak pengawal menjaga Ferry di rumah sakit, sedang dia sendiri sibuk mengintrogasi salah satu anak buah yang melakukan penembakan terhadap Ferry.


Disaat suasana hening di ruang rawat Ferry tiba-tiba pintu kamar terbuka membuat empat pasang mata menatap ke arah Pintu.


"Ngeliatinnya biasa aja dong, berasa artis nih diliatin gitu" oceh Leon begitu muncul dari balik pintu.


"Jadi siapa yang melakukan semua ini?" tanya Ferry begitu dia Leon berdiri di samping ranjangnya.


"Belum ada petunjuk yang pasti" sahut Leon sambil menggeleng.


"Bukannya kamu berhasil menangkap salah satu anak buah pelakunya" tanya Ferry sambil mengerutkan alisnya.


"Dia lebih pilih mati bunuh diri dengan racun dari pada buka mulut" mendengar penjelasan Leon, Ferry menghembuskan nafas beratnya.


"Sudah, dia pembunuh bayaran profesional jaringan hitam" sahut Leon


"Datangi mereka lakukan penyelidikan lebih dalam"


"Sudah boss tapi gerakan mereka benar-benar sulit dilacak bahkan markas mereka berpindah-pindah"


"Tapi bos tenang aku sedang melakukan penyelidikan dan dapat informasi kalau pemimpin jaringan hitam itu yang ternyata dia itu anak dari pemimpin macan tutul dari negara IND yang merebut perusahaan ayah nona Lia"


"Maksud mu ini semua saling berkaitan?" wajah Ferry terlihat jadi suram dan mematikan.


"Sepertinya tidak, tapi ini karena proyek relokasi yang sedang boss kerjakan. Dia juga menginginkannya. Jika informasi ku benar dia itu Musa"


"Musa?" ujar Daniel yang sedari tadi hanya duduk diam mendengarkan.

__ADS_1


"Kamu mengenalnya?" tanya Ferry penasaran melihat reaksi Daniel.


"Dia itu saingan yang lumayan harus kita perhitungkan karena dia di negara S baru dua tahun ini muncul setelah mengakuisisi perusahan multi nasional yang sempat di terpa kredit macet tapi sayapnya sudah mulai berkembang tinggal menunggu waktu untuk terbang"


"Selidiki semua hal yang terkait dengan Musa, awasi terus pergerakannya dua puluh empat jam. Jangan lengah"


"Satu lagi selidiki bagaimana berita kedatangan ku bisa bocor? disaat tidak banyak yang tau kepergian ku bahkan Lia saja baru ku beri tahu pagi saat sudah akan berangkat" ujar Ferry membuat wajabnya semakin suram.


"Dan tempatkan sebanyak mungkin pasukan bayangan di sisi Lia, aku tidak ingin terjadi apapun padanya"


"Soal nyonya muda, boss bisa tenang aku sudah menempatkan pasukan bayangan di sisi nyonya muda saat aku mendapat berita tentang mu disini" Mendengarnya Ferry bisa bernafas lega dan sedikit tenang.


"Bagus dan tutup akses Lia untuk datang ke negara S, aku tidak ingin dia datang kesini menantang maut"


"Boss yakin tidak membutuhkan nyonya muda disini?" bukannya menjawab pertanyaan Leon, Ferry malah menatap Leon dengan tatapan ingin membunuh.


"Baik akan aku tutup akses nyonya untuk bisa ke negara S" Sahut Leon yang merinding di tatap Ferry dengan tajam.


'Isssh....kalau tidak suka jangan pasang wajah serem gitu juga kali dan ngeliatinnya biasa aja sih, ngeri banget diliatin kaya gitu' bathin Leon yang bergidik ngeri di tatap Ferry.


"Jerry, kamu juga sudah tutup semua akses kan baik media ataupun pihak rumah sakit untuk merahasiakan apa yang terjadi pada ku?"


"Sudah tuan muda, bahkan Nyonya tua dan tuan besar pun tidak akan mendapat informasi ini"


Ferry mengangguk puas mendengar laporan dari anak buahnya walau masih ada yang mengganjal di hatinya.


"Boss kalau begitu aku pamit dulu, cepat sehat jangan terlalu sibuk. kasih Jerry saja semua pekerjaan mu buat apa dia dikasih gaji besar" cerocos Leon sebelum meninggalkan kamar rawat Ferry.


Setelah kepergian Leon, mereka berempat kembali sibuk membahas proposol tender relokasi resort dan taman wisata.


jangan lupa like, komen dan jadikan favorite yess

__ADS_1


__ADS_2