Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Kencan (Part 2)


__ADS_3

"Sayang, ngapain kita kesini?" tanyaku saat Ferry mau mengajaku masuk ke dalam butik branded.


'Gawatkan kalau beneran beli baju dibutik itu, bisa rstusan dollar lagi pasti abis' pikirku menghentikan Ferry dan mengajaknya langsung ke bioskop atau makan aja.


"Sayang Lusa aku harus menghadiri pertemuan di Negara M, dan aku mau kamu menemaniku diperjamuan itu, so kita butuh gaun untuk mu" Usai berucap Ferry pun menggandengku masuk ke dalam butik.


"Selamat Sore kakak, ada yang bisa saya bantu?" Lagi-lagi kami disambut dengan sangat ramah, kaya semua toko branded pelayannya memang dipersiapkan seramah ini karena yang mereka layani aja orang-orang berduit dari kalangan atas.


"Tolong carikan sebuah gaun untuk istri saya" ucap Ferry to the poin pada si pelayan.


"Ternyata suami istri, kirain teman kencan"


"Beruntung banget itu cewe'


'Tapi pantes sih, dia cantik kaya boneka barbie dengan rambut hitam pekat"


"Baik tunggu disini saya akan ambilkan beberapa pakaian yang sesuai untuk istrinya ya kak" ucap si pelayan lalu langsung berlalu meninggalkan aku dengan Ferry.


"Kamu pikir aku emang nggak punya gaun yang pas gitu buat ke acara perjamuan bisnis mu sampai harus beli yang baru?" tanya ku sambil melotot pada si bule.


"Tapi baju itu bukan pemberianku" jawabnya santai


Membuatku manyun dan menghentakan kaki sambil membuang wajahku ke arah lain karen kesal.


Siapa sangka si bule malah merangkulku dari belakng dan meletakan dagunya di bahuku.


"Memang aku sebagai suami nggak boleh ya membelikan istriku gaun dan barang-barang lainnya" ucap Ferry dengan nada lembut dan ada kesan sedih yang membuatku jadi tak enak hati.


"Bukan gitu, tapi masalahnya tadi aja kamu udah ngabisin banyak buat beliin aku tas, sekaran gaun pasti juga banyak deh...Mubazir tau" ucapku masih dengan nada sedikit kesal menimbang perasaan si bule yang mulai mellow.

__ADS_1


"Aku kerja mati-matian tiap hari trus uangnya mau buat apa kalau bukan menyenangkan istriku?, anak kita belum punya" nada Ferry mulai sedih, terlihat dia menginginkan anak dari ku, membuat aku yang mau kembali membantah ucapannya pun jadi terpaksa menelan kembali kata-kataku.


"Baiklah selama tuan Goucher senang, aku akan menurutin semua mau mu" ucapku sambil mengelus pipinya yang masih menempel di bahuku.


"Kakak ini beberapa gaun, mari ikut dengan saya keruang ganti" ajak si pelayan yang sudah membawa tiga buah gaun.a


Untuk gaun pertama Aku mencoba sebuah gaun berwarna merah cabe yang kontras dengan warna kulitku, gaun dengan ekor tidak terlalu panjang tapi cantik dibuat pita kecil dibagian belakang membuat makin manis sayangnya gaun ini telalu terbuka karena model kemben.


Saat aku keluar dari ruang ganti Ferry menatapku lekat, tapi alisnya mengerut dalam nampaknya dia tidak suka aku mengenakan gaun yang telalu terbuka, syukurlah kalau dia nggak suka karena aku juga kurang pas dengan gaun ini.


"Ganti" ucap Ferry tanpa basa basi langsung ke intinya. membuatku mau menangis juga tertawa.


"Padahal istrinya cantik dan seksi banget pake gaun ini, kenapa dia malah nggak suka?" gumam si pelayan yang masih terdengar oleh ku saat mendengar ucapan Ferry memintaku mengganti guannya.


Dia nggak tau betapa sulitnya mengenakan gaun, dia enak cuma bilang 'ganti'...gerutu ku dalam hati.


'Semoga si bule tidak suka yang ini' rasanya aku seperti cewe panggjlan memakai gaun model gini...huffft


Begitu aku membuka tirai si bule langsung ngucap "ganti". sampai akhirnya dari 3 gaun yang dipakai nggak ada yang sesuai dengan si bule, akhirnya si pelayan berlari lagi mencari gaun yang agak tertutup berharap kali ini sesuai dengan maunya si bule.


Akhirnya baju ke tujuh yang ku coba si bule baru tersenyum.


Baju ini tidak terlalu terbuka juga tidak terlalu terturup. Gaun tanpa lengan dengan model leher camisol yang diatas tile warna kulit terdapat pola-pola sulaman bunga-bunga halus yang dipadukan dengan kristal swarovski memberi sentuhan yang elegan pada gaun ini serta warna peach yang cantik dan soft membuat aku yang mengenakannya jadi terlihat lembut dan anggun. Aku saat memandangnya pun sudah langsung jatuh cinta.


Melihat binar mata Ferry aku yakin dia juga menyukai gaun ini. Dan benar saja dia benar suka aku mengenakan gaun ini.


"Cantik, bungkus gaun ini mba dan tolong carikan sepatu yang cocok dengan gaun tadi Jangan terlalu tinggi 5cm aja, saya suka dia tetap terlihat mungil saat disamping saya" pinta Ferry pada si pelayan ketika aku masuk ke ruang ganti untuk mengganti gaunnya dengan baju tomboy ku lagi.


"Turunkan ikatan rambut mu!" suara bariton itu tiba-tiba berbisik ditelinga ku. Tatapan mataku mungkin terbaca oleh Ferry. "Aku nggak suka liat kamu wara wiri di mall dengan memamerkan leher jenjangmu atau kamu sengaja memancing hasratku?" mendengae ucapannya aku malas berdebat langsung ku buat kuncir kuda lagi rambutku.

__ADS_1


"Ini kak, silahkan di cobq sepatunya" si pelayan menyerahkan sepasang sepatu padaku.


"Beli ini juga?" tanyaku sambil geleng kepala dan pasrah saja toh duit dia ini. suka-suka dia lah jadinya. ucapku dalam hati.


"Ini nomer berapa mba?" tanyaku sebelum melangkah ke sofo dekat kaca besar untuk mencoba sepatunya.


"no 5 kak, sesuai info dari suaminya" ujar si pelayan


"Baiklah" tau aja dia ukuran sepatuku, aku aja nggak tau ukuran sepatunya. Dia kan memang tau semua informasi tentangku, lupa aku kalau sebelum kita ketemu dia terus mencari informasi tentangku.


"oke pas", ucapku saat mencoba berdiri dan berjalan terasa sangat nyaman. 'ternyata pake sepatu harga puluhan juta sama jutaan bedanya jauh banget ya' lumayan lah nambah koleksi tas, baju dan juga sepatu' gumamku.


Begitu selesai membayar dan Ferry menerima dua paper bag lagi. total sudah empat paperbag dia jinjing dengan tangan satu sedangkan tangan satunya menggandeng tanganku.


Saat keluar dari toko Ferry menatapku. "Kita ketoko perhiasan" ucapnya yang langsung ku tolak.


"Nggak usah, mahar dari kamu aja ya yang aku pake sayang itu belum ku gunakan, masa mau beli lagi. next time aja ya" ucapku mencoba merubah Pikiran Ferry tapi dia tak bergeming


"Sayang, lagian trio bocil pasti udah selesai nontonya" begitu ucapanku selesai telphon ku berdering.


Aku melepas gandengan tanganku dengan Ferry lalu mengambil ponselku. "Tuh benerkan ucapanku Bimo telphon pasti mau ngasih tau kalau mereka udh selesai nontonya"


Dan persis sesuai dugaanku Mereka minta di jemput. tapi Ferry menyuruh mereka turun sendiri langsung ke toko alat lukis dilantai tiga karena kebetulan aku dan Ferry ada di lantai tiga tidak jauh dari toko alat-alat lukis.


Akhirnya menjelang maghrib hunting alat lukis fan juga sulam selesai dan kami pergi ke restoran untuk makan malam usai sholat maghrib.


Selesai makan kami pun pulang ke rumah mama. Selama perjalanan trio bocil yang duduk dibelakang tak terdengar suaranya ternyata yang dua orang sudah pulas tidur sedangkan Malika asik dengan earphonenya.


Aku dan Ferry banyak diam, perjalanan pulang lebih tenang dan terasa lebih lama.

__ADS_1


__ADS_2