
"Kak Lia, ayo kita mulai" teriakan Malika dan Aisyah menyadarkan ku dari lamunan.
"Ayo, Malika kamu pilih lah objek untuk dilukis bebas apa saja" ujarku pada Malika yang dianggukinya
Lalu aku mulai mengajari Aisyah teknik menyulam, dimana ada empat teknik menyulam, yaitu tusuk jelujur, tusuk tikam jejak, teknik tusuk silang dan teknik tusuk roll.
Pertama aku mengajari teknik tusuk jelujur, dimana teknik ini merupakan teknik dasar menjahit dan menyulam yang dibagi menjadi tiga cara tergantung pada jenis jahitan yang diinginkan. Aisyah anak yang cerdas dengan cepat dia bisa mengikuti apa yang aku ajarkan padanya. Dari mulai tusuk jelujur biasa, tusuk jelujur teratur dan tusuk jelujur renggang semuanya dia bisa ikuti dengan mudah.
Aku asik mengajari Aisyah menyulam sesekali aku melihat Malika yang sedang fokus melukis. Memberi tahunya tentang teknik melukis agar terlihat hidup dan nyata.
Tak terasa sang surya mulai menyingsing hendak berganti posisi dengan sang rembulan. Tapi dua anak ini masih asik dan sibuk dengan kerjaan masing-masing.
Saat aku hendak turun dari gazebo tiba-tiba ada sosok besar berdiri di depanku, membuatku mendongak melihat siapa yang muncul tanpa aba-aba.
"Sayang, kamu?" ucapku begitu tatapanku bertemu dengan manik mata biru milik Ferry.
Dia hanya tersenyum manis menatapku sambil mengelus kepalaku.
"Asik banget sih disini sampai lupa sama sama suami" goda Ferry sambil ikut duduk di gazebo
"Kak Ferry lihat Aisyah sudah bisa menyulam bentuk bunga sekarang" ucap Aisyah sambil menunjukan hasil sulamannya yang hampir selesai.
"Wah Aisyah hebat sekali, baru sehari belajar langsung bisa menyulam bentuk bunga" puji Ferry membuat wajah Aisyah terlihat sangat bahagia.
"Istri aku hebat banget sih ngajarnya bisa bikin muridnya cepet bisa ngerti dan langsung bisa praktek" Bisik Ferry ditelingaku sambil menggit kecil caping telingaku. Membuat mataku melotot padanya, yang diplototin malah senyum manis.
"Malika serius banget sih? sampe om ganteng disini gak disapa sama sekali" goda Ferry pada Malika yang terus fokus melukis.
Jiwa kepo Ferry pun tak kuasa ditahannya, rasa penasaran yang kuat membuat si bule bangkit berdiri mendekati Malika yang sibuk melukis.
"Boleh juga lukisan mu, untuk pemula ini keren terlihat hidup dan memiliki jiwa" ucap si bule sambil memegang bahu Malika.
Malika tersenyum bangga mendengar pujian dari Ferry. "Thanks kak buat pujiannya"
__ADS_1
"Gimana caranya kamu ngajar Malika bisa melukis sekeren itu?" tanya Ferry penasaran begitu dia duduk lagi di samping ku.
"Malika itu memang suka melukis dari masih SD, dia juga sudah masuk kelas melukis di sanggar lukis. Hanya kekurangan Malika dia belum bisa memasukan unsur Jiwa dalam Lukisannya walaupun selama ini lukisannya bagus tapi tak terlihat hidup dan memiliki jiwa.
"Tapi itu, terlihat memiliki jiwa dan hidup?" ujar Ferry makin penasaran karena apa yang ku ucapkan tak sama dengan apa yang barusan dia lihat.
"Itu karena tadi aku mengajari malika memberi guratan-guratan dan penajaman pada beberapa titik dalam lukisannya agar terlihat hidup dan memiliki jiwa" Jelasku membuat si bule mengangguk anggukan kepalanya
"Kamu sehebat itu, yakin kuliah baru semester enam?" ujar Ferry dengan muka nggak percaya.
"Kenapa? nggak percaya?" tanyaku dengan nada jutek, kesel juga abisnya diragukan orang gitu kemanpuanku.
"Bukan gitu sayang, kamu sensi banget sih?" ucap Ferry sambil tersenyum dan mengelus kepalaku. Aku mencibirkan bibirku.
"Kamu sedang menggodaku?" Ucap Ferry dengan tatapan mesumnya.
"Idiiih siapa yang menggoda mu? jangan geer deh" ucapku sambil berdiri dan pergi meninggal kan mereka bertiga di taman belakang.
"Sayang tunggu aku" teriak Ferry sambil berjalan mengejarku.
"Lia kamu lihat Malika dan Aisyah?" tanya om Pras begitu melihatku.
"Mereka di taman belakang om, Malika sedang melukis sedangkan Aisyah sedang menyulam, dari selepas makan siang tadi mereka sama Lia disana" Jelasku yang langsung mendapat respon sebuah dianggukan.
"Pantas saja om cari mereka nggak ada yang kelihatan satu pun" ujar Om Pras dengan wajar lega karena sudah tau keberadaan anak-anaknya.
"Kalau gitu Lia masuk dulu ya Om, mau bantu si mbok nyiapin makan malam" pamitku pada Om Pras sambil langsung berjalan cepat.
'Semoga Om Pras menghentikan langkah Ferry agar dia tak terus mengejarku'. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Apa yang aku harapkan terkabul, om Pras mengajak Ferry ke teras samping. Wajah Ferry nampak ingin menolak tapi tak sanggup berkata-kata dia hanya mampu menuruti saja saat diajak om Pras main catur di teras samping.
Saat Dia melihat kearah ku, aku langsung menjulurkan lidahku sambil goyang pinggul menggoda si bule. Wajahnya Ferry memerah sepertinya dia menahan kesal padaku atau menahan hasratnya, ntah lah aku tak tau.
Aku kembali melangkah menuju dapur seperti niatku awal untuk membantu si mbok menyiapkan makan malam.
__ADS_1
Begitu sampai di dapur tercium aroma siomay dirongga hidungku.
"Mbok bikin siomay?" tanyaku sambil memindai dapur mencari keberadaan siomay.
"Iya neng, udah mateng dari tadi cuma si mbok cariin satu orang pun nggak kelihatan batang hidungnya, jadi nggak mbok suguhin deh buat snack sore" ujar si mbok
"Ya ampun mbok Lia lupa bilang tadi, Lia sama Malika dan Aisyah lagi di gazebo taman belakang. Padahal dari tadi tuh Lia aus dan laper nemenin mereka" keluh ku sedikit bete nggak bisa makan siomay sore tadi.
'Kalau makan sekarang itu sama artinya aku nggak akan makan malam'.
"Ya sudah mbok buat cemilan nanti malam aja kalau pada begadang" ucapku pada si mbok. "Sekarang Lia bisa bantu mbok apa buat nyiapin makan malam?" tanyaku karena nggak tau si mbok niat masak apa untuk makan malam.
"Nggak usah neng, sudah rapi semuanya tinggal goreng bakwan jagung sama tempe aja nanti kalau sudah deket jam makan malam biar masih anget" jelas si mbok.
"Emang mbok nyiapin makan malam apa?" tanyaku penasaran karen tak ku lihat wadah saji makananndi mini bar.
"Si mbok bikin soup buntut neng, masih di panci soupnya, sambel terasi sudah jadi" ucap si mbok sambil menunjuk wadah makanan yang berisi sambel terasi.
"Wah sedap tuh mbok, makan soup buntut pke bakwan jagung dan tempe goreng plus sambel terasi..the best deh si mbok" ucapku sambil memberi si mbok dua jempol.
Kemudian aku mengambil dua buah piring ukuran sedang untuk menyajikan siomay buat Ferry dan om Pras. Aku juga membuat juice mix barry untuk Ferry dan kopi untuk om Pras.
Begitu siap, aku meminta si mbok mengantarnya ke teras samping tempat Ferry dan om Pras main catur, sedangkan aku naik keatas menuju kamar tapi sebelum aku masuk ke kamar aku pergi ke kamar Bimo.
'Anak ini kenapa seharian ini banyak menghabiskan waktunya menyendiri di kamar'
"Bimo, boleh kakak masuk?" tanya ku sambil mengetuk pintu. Tapi tak ada sahutan dari dalam sudah beberapa kali aku memanggilnya. Akhirnya aku pun membuka pintu kamar Bimo, namun tak kulihat batang hidung anak itu.
Hanya kamar yang terlihat berantakan, banyak kertas-kertas berserakan dilantai, buku-buku juga tak karuan letaknya, kaleng-kaleng minuman soda dab kopi yang sudah kosong dimana-mana.
'Tumben banget anak ini bisa sejorok ini? Dia kenapa ya?" Jiwa kepo ku pun mulai meronta minta dipenuhi hasrat ingin taunya.
Kira-kira Bimo kenapa ya readers? penasaran yuuk terus baca novel tulisan ku.
__ADS_1
jangan lupa like, coment dan votenya ya kakak