
Setelah pelukan sambil saling mengutarakan isi hati, Ferry mengajak ku naik ke rooftop menara diatas sana ada restoran yang sangat nyaman. Kami bisa melihat seluruh negara M dari jendela kaca tanpa takut akan kehujanan. Dan saat menjelang Malam, kami menikmati sunset dari restoran dipuncak menara. Pemandangan yang sangat indah membuat suasana makin romatis.
"Kamu suka?" Aku hanya bergumam mengiyakan pertanyaan Ferry.
"Mau ikut aku ke negara SG?" tanya Ferry tiba-tiba membuatku sedikit terkejut. 'Terjadi masalah besarkah sampai dia harus kesana?, gimana kuliahku kalau ikut dia terus?' Peperangan bathin ku di mulai.
"Sayang, mau ikut tidak?" aku tak juga bergeming, diam karena bingung harus menjawab apa.
"Kenapa?" tanya Ferry lagi melihatku diam saja dan rangkulannya.
"Apa terjadi masalah besar di anak perusahan Goucher Corp?" tanyaku membuat Ferry mengelus lenganku menghilangkan kan kekhawatiran yang terasa dari getaran kalimat tanya ku.
"Iya, tapi masih harus diselidiki jadi aku harus kesana. Cuma aku nggak tau berapa lama aku disana dan aku juga pasti tidak bisa mengajak mu jalan-jalan seperti sekarang"
Penjelasan Ferry bikin aku makin galau. 'membiarkannya sendirian aku tidak tega, ikut dengannya aku akan mati kutu sendirian dan juga kuliahku, sisa dua minggu lagi aku ujian akhir semester, apa yang harus aku pilih?'
"Bagaimana,ikut tidak?" tanya Ferry untuk kesekian kalinya akhirnya aku angguki tanda aku mau ikut. membuat si bule mencium puncak kepalaku.
"Makasih ya mau nemenin aku kesana, Besok pagi-pagi kita langsung ke Negara SG. Sekarang aku akan temani kamu jalan-jalan sepuasnya di negara M".
"Kalau gitu, habis makan malam nanti kamu temani aku belanja di Mall pusat kota"
"Baik" sahut Ferry dengan cepat
Saat kami masih asik berpelukan ponsel Ferry yang ada diatas meja bergetar, sekilas ku lihat nama Jerry dilayar ponselnya.
Ferry mengambil ponselnya dan menjawab panggilan telphon dengan cepat, aku bemaksd bangun melepas pelukan ku pada Ferry agar dia nyaman bicara tapi justru ditahan oleh Ferry, saat aku mendongakn wajahku dia menggeleng memintaku untuk tidak melepas pelukannya dan diam dalam posisi yang sama sambil dia bicara.
"Ada apa?"
"Soal masalah di Negara SG sudah diselidiki ternyata benar artis Selena terkena alergi karena pakaian yang dia beli dari salah satu butik kita di negara SG"
"Sudah tau siapa yang membuat kesalahan sefatal ini?"
"Sudah tapi masih menunggu hasil pemeriksaan labiratorium untuk tau pasti zat apa yang membuat artis Selena terkena alergi kulit lumayan parah"
"Sudah ada yang menemui artis itu?"
"Sudah tuan muda, begitu kejadian ramai muncul di sosmed, manager kepala cabang langsung menemui artis itu"
"Apa permintaannya"
"Ganti rugi lima juta dollar"
__ADS_1
Lama Ferry terdiam, aku trus asik dalam pelukannya sambil menguping pembicaraan mereka yang terdengar sangat jelas ditelingaku.
"Pastikan dulu semuanya jika benar semua karena ulah kita ganti rugi sesuai maunya dan satu lagi tuntut perusahaan yang mensuplay bahan pada perusahaan jika terbukti bahan dari mereka yang berkualitas buruk"
"Baik" sahut Jerry
"Satu lagi, pastikan artis yang menjadi brand ambassador baju itu tidak terkena imbasnya".
"Sejauh ini belum sampai menyentuh artis kita, tapi akan saya pantau terus"
"Bagus, ada lagi?" tanya Ferry tak sabar ingin mengakhiri pembicaraan.
"sementara tidak ada lagi tuan muda, kalau begitu saya tutup telphonnya"
Ferry hanya berguman lalu mematikan panggilan telphon dan meletakannya kembali ke atas meja.
"Kamu mau makan apa? kita order sekarang, kan kita masih mau jalan-jalan ke mall pusat kota untuk shopping"
"Tidak usah makan disini, kita berangkat sekarang saja" sahut ku sambil duduk dan keluar dari pelukan Ferry.
"Baiklah kalau begitu, aku bayar dulu" ucap Ferry sambil berdiri dan memasukan ponselnya kedalam saku celana.
"Kamu tunggu disini saja" ucap Ferry saat melihatku mau bangkit dari duduk juga.
"Aku mau ke toilet dulu" ucap Ferry lalu berjalan meninggalkan ku yang masih mencerna ucapannya.
Saat melihat Ferry pergi kearah toilet baru lah aku tersadar ternyata Ferry Melarangku ikut mau buang hajat dulu baru bayar billnya. Aku manggut-manggut baru sadar,,hahhaaha.
Aku menelphon Mira memastikan dia membantuku untuk absen dari dosen-dosen dengan alasan yang masuk akan dan bisa diterima.
"Hallo" suara Mira terdengar lelah sekali.
"Mira ini aku"
"Sudah tau, mau apa?"
"Kamu habis makan cabe berapa kilo? Pedas sekali ucapannya"
"Kamu mau apa? bukannya sedang honeymoon masih ingat aku?"
Sepertinya Mira kesal karena dari sejak dua hari ini aku tidak menelphon atau pun mengirim pesan padanya.
"Maaf Mira sayang, aku akan membawakan mu oleh-oleh apapun yang kamu mau, bagaimana baik kan aku"
__ADS_1
"Pasti tidak gratis kan semua itu?"
"Mana ada begitu, tentu saja semua gratis kamu tidak perlu keluar uang. suamiku kan sangat kaya"
"Sombong betul, karena kamu yang berucap aku akan mengirimi mu apa saja barang yang aku inginkan"
"Baik, tapi kamu harus mengabsenkan aku terus ya pada dosen-dosen itu dan kirimi aku kabar jika ada tugas...bagaimana begitu baik tidak?"
"Baik, tapi kamu bemar membelikan semua barang yang aku inginkan ya?"
"Tentu saja jangan khawatir"
"Oke deal"
"Kalau begitu aku tutup dulu telphonnya"
Dan tidak beberapa lama pesan Mira masuk, dia memberi list barang yang dia inginkan beserta foto barangnya. 'Anak ini berniat merampok ku, ahh biar saja lah yang penting absen ku aman'
"Sayang, ayo" suara Ferry menyadarkan ku, melihatnya mengulurkan tangan, aku langsung menyambutnya dan berdiri setelah memasakn ponselku dalam tas.
Saat berdiri di depan kasir Ferry menanyaiku abis telphonan dengan siapa. "kamu abis telphonan dengan siapa?"
"Mira" mendengar jawabanku dia tidak melanjutkan kepertanyaan lain kembali hening.
"Tuan total semuanya 510$" ucap kasih restoran, Ferry langsung memberinya kartu untuk digesek.
"Terima kasih, jangan lupa datang lagi" ucap si kasir sopan sambil memberikan nota bill dan mengembalikan kartu milik Ferry.
"Ayo" ucap Ferry sambil mengulurkan tangannya.
Kami berjalan bergandengan tangan dengan mesra dan sambil mengobrol ringan tentang hal-hal receh yang kami jumpai sepanjang perjalanan menuju lift di seberang menara yang mengarah ke parkiran mobil.
Sesampainya di mall aku langsung mencari barang pesanan Mira dan juga Bimo.
"Sayang buat siapa barang-barang ini?" tanya Ferry mulai penasaran karena terlihat bukan seleraku dan yang lainnya buat cowo.
"Pesanan Mira dan Bimo" Ferry hanya mengangguk saja. "Ada lagi yang mau dibeli?, kalau tidak kita nonton yuk?" ajak Ferry membuatku yang mendengarnya tak percaya, si bule arogan nan tengil ini ngajakin nonton kemajuan sekali.
"masih ada satu clutch lagi itu tokonya disebrang" ucapku sambil menunjuk sebuah toko dengan daguku.
"Kamu duluan ke bioskop beli tiket film conjuring" ucapku lagi. Mendengarku yang mengusirnya si bule langsung mengerutkan alisnya.
"Kenapa?" tanyaku bingung, si bule menunjukan ponselnya.
__ADS_1
Dia sudah memesan tiket filmnya ternyata, lalu 'kenapa tadi pake nanya mau nonton tidak?' Dasar ditaktor, untung saja semua aturannya menyenangkan kalau pun sda yang tidak menyenangkan tidak merengek aturan akan direvisi karena kekuatan air mata....wkwkwkkwk