Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Meja Makan


__ADS_3

Keesokan harinya semua anak muda terlambat datang sarapan pagi kecuali Lia dan Ferry.


"Kenapa yang lain belum turun?" tanya nenek tua melihat hanya tetua saja yang sudah ada di meja makan termasuk papi dan mami Ferry.


"Mereka semua pulang hampir pagi nek dari acara perjamuan tuan Arjun Khan" sahut Ferry santai.


"Kamu sendiri pulang jam berapa?" Tanya nenek penasaran karena dari sore memang semuanya pergi tapi nenek tidak tau kalau Lia tidak ikut baru tau pagi tadi dari kepala pelayan.


"Sebelum jam sebelas malam aku sudah sampai rumah nek" sahut Ferry datar.


"Kamu keluyuran padahal istri sakit, kalau di suruh ke kantor bilangnya menemani istri yang sakit" gumam Papi yang terdengar semuanya.


Belum juga sempat Ferry menjawab kultum pagi sang papi, nenek tua langsung menyemburnya dengan meriam cabe rawit.


"Aku yang meminta Ferry menemani dan merawat cucu mantu ku, apa ada yang salah dengan keputusan ku?" sahut nenek tua emosi.


"Tidak ada bu, kamu paling benar. Aku yang salah punya anak tidak berbakti" ucap papi sarkas dengan datar.


"Ehh...kurang berbakti apa anak mu itu, di rumah pun dia tetap kerja. Jerry pun mondar mandiri membawakannya berkas dan tumpukan pekerjaan memang kamu pikir aku sudah tua jadi buta tidak tau semua yang terjadi" Nenek tua makin emosi, dia begitu kesal dengan papi Juan yang masih saja menyudutkan Ferry.


"Nenek tua tenang lah, Jangan emosi ingat jantung mu" bujuk kepala pelayan yang selalu menemani nenek.


"Pi, sudah jangan ribut lagi ini masih pagi" bujuk mami melihat papi juga makin asal jadi bicaranya karena nenek tua terus membela Ferry dan Lia, tidak pernah mendukung papi Juan setiap ada masalah terkait dengan Ferry dan Lia.


"Sudah...sudah, aku semalam bukan keluyuran tapi menghadiri acara perjamuan bisnis di villa tuan Arjun Khan, jadi papi tenang saja aku datang juga karena perusahaan kita banyak kerjasama dengannya di negara SG jadi aku datang memberinya muka sekaligus mau negosiasi soal pembelian beberapa area di dalam Mall yang sedang dia bangun" Jelas Ferry untuk menengahi nenek tua dan papi Juan yang terus saja adu mulut.


"Masalah selesai sampai di sini. Sekarang kita sarapan, jangan ribut lagi".


Usai kalimat nenek tua, suasana di meja makan jadi hening dan semua makan dengan tenang sampai Terry turun berlarian menuju meja makan.


"Nenek tua selamat pagi, oma opa semua selamat pagi, tante Lia dan Om Ferry selamat pagi. Maaf Terry datang terlambat" Ucapnya Sambil duduk di kursi meja makan membuat suasana tegang sedikit hangat.


"pagi sayang" ucap semua yang di meja makan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mami dan Papi kenapa belum turun Apa mereka belum bangun? Apa mereka mandi berendam sambil main bebek-bebekan hingga lupa waktu, seperti ku...ckckkck. Apa mereka lupa kalau mereka bukan anak-anak lagi". Oceh Terry sambil menunggu pengasuhnya menyendokan makanan ke piringnya.


Medengar Kelakar Terry semuanya tertawa kecuali Juan dan Ferry meraka berdua tetap dengan wajah datarnya.


"Tante rasa mereka bukan main bebek-bebekan seperti mu. Tapi mereka masih tertidur" sahut Lia sambil mengelus kepala Terry.


"Apa mereka tidur terlalu larut? orang tua kenapa tidak bisa menjaga diri dengan baik. Sudah tau bergadang itu tidak sehat, masih saja dilakukan..huuftt" ujar Terry sambil menarik nafas.


"Ehh...bocah kecil, kamu sedang mengutuk Papi dan Mami mu. Apa kamu mau jadi anak durhaka?" Ujar Dhaniel saat menuruni anak tangga bersama dengan Margaret.


"Papi, siapa yang mengutuk mu dan mami? aku hanya sedang membicarakan orang tua yang tidak bisa menjaga kesehatannya karena suka bergadang" sahut Terry bijak.


"Sudah...jangan ribut lagi. Kalian cepat duduk sarapan" ujar Nenek tua menengahi cucu dan cicitnya yang sudah mulai pintar adu mulut.


'Anak ini kenapa pintar sekali bicara, apa keluarga mereka memang semua seperti ini ya?' bathin Lia melihat tingkah Terry yang tidak seperti anak seusianya.


"Sayang, kenapa bengong. Apa sudah kenyang?" tanya Ferry sambil mengelus pipi Lia membuat Lia sandar dari lamunannya.


"Hehhe...Suam" cengir Lia lalu lanjut makan sarapannya.


"Baik, terima kasih" sahut Lia sambil menggerutu dalam hati. 'Ayo kaki cepatlah sembuh agar kita bisa bebas dari sini dan tak perlu lagi minum ramuan yang aromanya begitu kuat dab rasanya pahit.


"Tunggu, tolong ambilkan madu untuk Lia menghilangkan pahit setelah minum ramuan ini" ucap Ferry pada sang pelayan.


"Baik tuan muda" lalu sang pelayan pun berlalu ke dapur untuk mengambil madu dan memberikan-nya pada Lia setelah diletakan diatas wadah kecil untuk sekali minum madunya.


Semuanya kembali makan dengan tenang sampai nenek tua selesai makan dan para tetua mengikuti nenek tua untuk meninggalkan meja makan baru lah Dhaniel berani buka suara lagi.


"Fer, semalam kamu pulang jam berapa? kenapa aku tidak melihat mu saat kami pulang" tanya Dhaniel membuat alis Ferry mengkerut dalam.


"Tidak lama setelah Arjun turun dari panggung aku langsung pulang, wajar kamu tidak melihat ku kalian sibuk BBQan di taman" ujar Ferry.


"Kamu melihat kami?" sahut Margaret agak kaget.

__ADS_1


"Iya, sebelum pulang aku memastikan dulu keadaan dua bocah itu baik-baik saja karena Willy ku lihat minum dengan teman-temannya" jelas Ferry.


"Andai kamu tidak pulang lebih dulu, kamu pasti akan bertemu dengan kak Sandra di perjamuan semalam" Jawab Willy tiba-tiba saat menuruni tangga.


'Sandra? dia benar-benar sudah pulang ke negara A, kenapa dia tidak memberi tahu ku?' bathin Ferry.


"Kenapa malah bengong? sedang mengenang masa lalu yang indah bersama Kak Sandra ya" Goda Willy santai sambil meletakan bokongnya di kursi bersiap untuk sarapan.


"Diamlah kamu akan membuat istri ku salah paham" sahut Ferry memandang Lia yang kini sedang berusaha menenangkan hatinya yang cemburu karena lagi-lagi nama itu muncul.


"Kak Lia jangan salah paham, Kak Sandra memang tergila-gila dengna kak Ferry dari dulu tapi suami kak Lia dari dulu hanya memuja mu seorang"


Mendengar celoteh Willy hati Lia yang kesal menghangat ditambah lagi perlakuan sang suami yang penuh cinta dan kasih sayang yang melimpah untuk Lia.


'Apa yang ku ragukan? aku tidak boleh menjadi istri pencemburu, suami ku memang tampan akan banyak wanita di luar sana yang memujanya, maka aku harus menjaga cinta kami tetap hangat agar wanita-wanita itu tak memiliki kesempatan untuk merusak rumah tangga kami.


'Apa aku harus benar-benar hamil saja untuk mengikat Ferry makin kuat di sisi ku?'


'Ahh...tidak...tidak aku harus bisa menyelesaikan kuliah ku secepatnya dulu baru pikir kan soal hamil'


Akhirnya Lia mantap akan mengambil banyak mata kuliah di semester ini dan memanfaatkan liburan semester untuk ikut kuliah semester pendek sehingga dia bisa secepatnya menyelesaikan kuliahnya.


'Aku pasti bisa...semangat Lia' bathin Lia penuh keyakinan.


"Sayang, are you oke?" tanya Ferry sambil menyentuh pipi Lia yang terlihat memikirkan sesuatu.


"Kamu melamun? apa yang kamu pikirkan?" tanya Ferry agak penasaran melihat istrinya sedikit berbeda sikap dari biasanya.


"Aku baik-baik saja suam, sedang memikirkan soal kuliah ku yang besok di mulai tapi aku masih belum dapat izin berjalan terlalu lama" sahut Lia sekenanya.


"Besok kita pulang ke apartemen ya lusa biar David memeriksa kaki mu lagi. Kalau dia bilang kamu sudah bisa jalan kamu sudah bisa mulai ikut kuliah dan awal bulan depan kamu bisa mulai melapor pada bagian HR YZ Collection untuk mulai bekerja, aku jamin waktu kuliah mu tidak akan terganggu karena bekerja" jelas Ferry membuat senyum di wajah Lia terukir sempurna.


'Sial dia cantik sekali jika tersenyum seperti ini. Aku jadi ingin menciumnya' bathin Ferry.

__ADS_1


Melihat tatapan Ferry yang Lia yakin itu berbau mesum dia segera mengalihkan wajahnya ke arah Shella dan Cindy yang sedang turun bersamaan.


"Pagi semuanya" sapa kedua gadis bule yang sedang menuruni anak tangga.


__ADS_2