
"Gimana keadaan Lia?" begitu David keluar dari ruang operasi bersamaan dengan suster yang mendorong brankar di mana Lia berbaring dengan kaki di gips.
"Seminggu ini istri mu harus di rawat disini untuk memastikan semuanya baik-baik aja. Dan ini salep oleskan pada luka-lukanya agar tidak ada bekas" ucap David sambil memberi kotak salem pada Ferry.
"Thanks ya Vid" ucap Ferry sambil meninggalkan David mengejar brankar yang membawa Lia ke ruang rawat khusus keluarga Goucher.
"Sayang, Gimana rasanya? sakit nggak?" tanya Ferry saat melihat kaki Lia bergips.
"Dokter David tadi bilang nggak ada yang serius, cuma ada tendon sama tulang agak geser sedikit dalam dua tiga hari aku udah bisa jalan lagi koq" jelas Lia sambil mengelus pipi sang suami yang terlihat lelah dan lusuh.
"David koq tadi bilangnya sama aku seminggu sih?" gumam Ferry yang terdengar Lia.
"Dia paling sengaja mau bikin kamu khawatir, udah suami ku mandi dulu sana. Sudah bau dan dekil banget gini" mendengar ucapan Lia, Ferry baru sadar kalau baju yang dia kenakan sudah kotor dan dekil karena terlalu khawatir dengan Lia sampai lupa kebersihan diri yang biasanya jadi prioritas utama.
"Emang aku kaya gini karena siapa, hah?" ucap Ferry sambil menyatukan hidungnya dengan hidung Lia.
"Kak Ferry, kak Lia lagi sakit masih aja mesum, tidak sabaran amat jadi cowo" celoteh Shella saat masuk ke dalam kamar Lia.
"Kamu, masih berani kesini? disuruh jagain kakak iparnya, malah ditinggal sendiri" Ferry mengomeli Shella dengan nada dingin acuh tak acuh tanpa menatap wajah Shella.
"Udah suam, bukan salah Shella. Aku yang minta Shella naik duluan sama Cindy lagian aku juga udah nggak kenapa-kenapa" bela Lia membuat Ferry jengkel.
"Sudah lah, bicara dengan kalian berdua aku juga tidak akan menang, mending aku mandi" ucap Ferry sambil mengambil paper bag dari tangan Shella dan masuk ke kamar mandi.
"Bilang makasih kek udah dibawain baju..huuffft" gerutu Shella sambil duduk di samping Lia.
"Sabar ya Shel, kak Ferry mu kan memang gitu orangnya tapi hatinya baik kaya hello kitty" Lia berusaha membela suaminya
"Hhhmm...cinta bener-bener buta, beruang kutup kulkas dua pintu di bilang hatinya hello kitty...ckckck" sahut Shella.
Lia hanya tertawa melihat mimik wajah Shella yang lucu manyun sambil menggerutu komat kamit.
"Jadi datang ke sini cuma mau marah-marah nih? bukannya harusnya menghibur kakak yang lagi sakit ya?" gumam Lia menggoda Shella.
"Iya ya, maaf kak, maafin aku ya ka, kalau tau kakak akan ngalamin kejadian menyeramkan kaya gini aku tidak akan pernah tinggalin kak Lia sendirian" "Pasti kaki kakak sakit banget ya sekarang, mana banyak banget luka memar di tubuh kak Lia". ujar Shella dengan wajah penuh rasa bersalah sambil menggenggam tangan Lia yg bebas dari infus.
"Bukan salah mu Shel, kalau tau akan kaya gini kakak juga pilih cepet-cepet naik atau tiduran aja di rumah. lagian sekarang sudah tidak terlalu sakit, cuma sedikit nyeri dan pegel-pegel aja kaya abis di tonjokin orang sekampung...hehehee" celoteh Lia berusaha menghibur adik ipar imutnya.
"Aku janji akan rawat kak Lia selama sakit sebagai penebusan dosa ku ag..."
__ADS_1
"Hahahaha...tidak usah yang ada nanti kamu malah mencelakai istri ku lagi" potong Ferry begitu keluar dari kamar mandi mengenakan kaos dan celana santai masih dengan rambut setengah basah.
"Iiissshhh...kak Ferry kapan sih nggak berfikiran jahat sama aku...huuffft" ucap Shella tak terima terus di pojokan.
"Kapan-kapan" jawab Ferry cuek bebek.
"Awas aja kalau suatu hari butuh bantun ku aku tidak akan mau nolongin" teriak Shella.
"Aku butuh bantuan mu?" sahut Ferry dengan nada tak percaya kalau adiknya bisa mengancam begitu, membuat hati Ferry jadi makin berang.
"Itu tadi minta bawain baju em..." belum juga Shella selesai bicara sudah dipotong lagi, kali mami lah yang memotong ucapan Shella.
kreeet...suara pintu kamar pasien terbuka dan wajah cantik mami muncul dari balik pintu.
"Kalian berdua ribut sampai terdengar keluar, ini rumah sakit bisa tidak jangan bertengkar?" mendengar ucapan mami Ferry tak lagi bersuara dia memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Shella pun langsung bungkam duduk dengan wajah di tekuk tak berdaya.
"Gimana ceritanya kamu bisa sampai kaya gini sih Lia?, kalian itu kenapa jalan-jalan koq bukannya seneng-seneng malah celaka gini. Kalau sampai mama mu tau aduh mau di taro mana muka mami anaknya baru sampe beberapa hari di sini sudah masuk rumah sakit" Celoteh mami panjang lebar, membuat Lia jadi merasa bersalah.
"Jangan kasih tau mama ya mi, Lia nggak mau buat mereka di sana khawatir lagian Lia nggak kenapa-kenapa" sahut Lia berusaha menenangkan ibu mertuanya.
"Kaki sudah sampe di gips dan seluruh tubuh luka-luka masih bilang tidak apa-apa....ckckckk" mami berdecak kesal tak sanggup lagi berkata-kata pada menantunya yang terlalu tegar.
"Kamu juga sama aja, bukannya kakak ipar mu di jagain malah ditinggalin sendirian, sudah tau Lia baru di sini. Dia belum tau daerah sini" mami langsung mengomeli Shella begitu mendengar ucapan Shella dan menyentil jidad Shella.
"Aduh mami sakit tau" keluh Shella sambil mengelus jidadnya.
"Bagus kalau masih tau sakit" sahut Mami agak kesal dengan anak gadisnya.
Tiba-tiba diluar kamar gaduh ntah ada apa sampai saat pintu terbuka banyak dokter berdatangan bersama dengan nenek tua dan kepala pelayan masuk mendekati ranjang Lia.
"Nenek tua" "Ibu" ucap Shella, Ferry dan Lia bersama saat melihat nenek tua masuk dengan tongkatnya.
"Kalian kenapa melihat ku seperti itu? tidak suka aku datang?" ujar Nenek kesal tanpa menunggu jawab nenek langsung menerintahkan dokter yang dibawanya memeriksa Lia.
"Kalian periksa cucu menantu ku jangan biar sesuatu terjadi padanya pasti semuanya baik-baik saja dan periksa rahimnya terluka tidak" teriak nenek tua memberi perintah.
"Baik" sahut para dokter langsung mendekati ranjang Lia dan meminta mereka yang ada di dalam ruangan keluar agar alat-alatnya bisa di bawa masuke dalam kamar.
"Nenek apa-apaan sih? ini terlalu berlebihan. Lia sudah di tangani David sejak tiba di sini?" ucap Ferry berbisik pada sang nenek.
__ADS_1
"Dasar bodoh, Apa yang berlebihan? ini demi masa depan keluarga Goucher aku harus memastikan cucu menantu ku sehat-sehat. Memangnya kamu mau menikahi wanita lain, hah?" sahut nenek kesal sambil memukul kaki Ferry pakai tongkai.
"Hehhee...baiklah aku ikut aturan nenek saja, nenek memang yang terbaik" ujar Ferry lembut pada sang nenek.
"Bagus, itu baru cucu ku. Kamu duduk lah jangan mondar-mandir tidak jelas di depan ku" ucap nenek menegur Shella yang tidak bisa dia menunggu terus saja berjalan bolak balik tak tentu arah.
"Ehh...kenapa jadi aku?" ucap Shella sambil menunjuk hidungnya.
"Kenapa bukan kamu?" tanya nenek balik.
"Baik lah,,,baik lah aku duduk" sahut Shella langsung duduk manis. 'Dasar nenek tua aneh tukang ngatur' gerutu Shella dalam hati.
Mereka pun akhirnya menunggu dokter keluar dengan tenang. Walau nenek tua duduk tenang tapi hatinya terus gelisah. Biar bagaimana pun Lia harapannya untuk memberi cicit penerus keluarga Goucher, jika sampai terjadi sesuatu pada rahimnya Lia putus sudah harapannya karena Ferry pasti akan tetap setia pada Lia.
"Tenang lah nenek tua, nyonya Lia akan baik-baik saja. Jangan terlalu cemas" hibur kepala pelayan yang paham kegelisahan nenek tua karena dia lah yang dua puluh empatnya bertahun-tahun menemani nenek tua.
"Aku harapan ucapan mu benar" sahut nenek tua. "Ini kenapa sudah sejam lebih mereka masih belum keluar?" gerutu nenek tua mulai tak sabaran.
"Nenek tua kan minta seluruhnya di cek wajar kalau lama" ucap kepala pelayan ramah dan sabar.
Setelah hampir dua jam akhirnya para dokter keluar dari ruangan Lia. Nenek tuan langsung berdiri di bantu kepala pelayan sedanga Ferry langsung masuk ke dalam kamar menemui sang istri dia malas mendengarkan laporan dokter karena dia yakin jika ada bahasa atau penyakit David pasti sudah memberi taukan sejak awal.
"Hei, bocah tengik kenapa kamu malah masuk bukannya mendengarkan informasi dari dokter tentang istri mu?" teriak nenek tua melihat Ferry malah berjalan melewatinya masuk kedalam kamar Lia.
"Sudah bu, biar kan saja. Sekarang kita dengar penjelasan dokter ya" ujar mami menenangkan nenek tua.
"Cepat kata bagaimana kondisi kesehatan cucu menantu ku?" tanya nenek tua dengan tegas, aura pemimpin masih kentara jelas walau usia telah lanjut.
Satu persatu dokter memberikan informasi tentang kondisi kesehatan Lia secara Fisik, mental dan biologis semuanya dijabarkan dengan jelas.
"Bagus kalau semua baik-baik saja dan kaki akan segera pulih". "lalu kenapa cucu mantu ku belum hamil juga sampai sekarang?" tanya nenek penasaran.
"Dalam kandungan darah terdapat zat etinil estradiol dan levo norgestrel dengan kata lain nyonya Lia selama ini mengkonsumsi pil pencegah kehamilan" jelas sang dokter menunduk takut nenek tua akan marah.
"Dasar anak ini, apa yang dalam pikirannya sampai tidak mau hamil anak dari cucu ku?" gumam nenek tua pelan tapi masih terdengar orang di dekatnya tapi tak ada yang berani menyahuti ucapan nenek semuanya hanya diam.
"Ya sudah kalau begitu kalau semua bubar" ucap nenek tua sambil berjalan menuju pintu kamar Lia.
jangan lupa like and komen ya kakak
__ADS_1