Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Kontrak Kerja Sama


__ADS_3

Setibanya di restoran saat Ferry menyebut namanya, seorang pelayan langsung mengantar kami ke sebuah ruangan VIP dimana di dalamnya sudah ada Nyonya Mahdalena dan juga Ami yang sedang asik mengobrol.


"Malam nyonya Mahdalena, Ami maaf kami terlambat membuat kalian harus menunggu" sapa ku saat masuk ke dalam ruang VIP restoran.


"Tidak apa, kami juga baru saja sampai. Duduk lah lalu kita pesan makan, selesai makan baru kita bahas bisnis" ujar nyonya Mahdalena.


Aku dan Ferry duduk bersebelahan tepat di depan nyonya Mahdalena.


"Tuan muda Goucher napaknya sedang kesal, wajah mu asam sekali senyum pun begitu terpaksa" ucap Nyonya Mahdalena membuat Ferry tersedak padahal dia tidak sedang makan ataupun minum.


"Kalian berdua sedang bertengkar?" tanya Nyonya Mahdalena membuatku jadi salah tingkah, bingung mau jawab apa?, anak muda cepat sekali berubah perasaannya, beberapa hari lalu ku lihat begitu saling mencintai hari ini seperti orang tak saling kenal bahkan bermusuhan....ckckckk"


Wajah Ferry makin muram, aura dingin makin menyeruak dari tubuhnya. Dia menghembuskan nafas kasarnya nampak berusaha keras menetralisir amarahnya.


"Maaf nyonya Mahdalena membuat anda tidak nyaman, saya minta maaf yang sebesar-besarnya". Ucap Ferry kemudian menundukan kepalanya ala-ala orang jepang.


'Wow...ternyata si bule bisa minta maaf juga ku pikir seperti di novel-novel CEO kaya yang arogan, ehh tapi tiap dia salah pada ku dia juga slalu minta maaf,,,sepertinya dia tidak searogan itu' bathin ku.


"Sudah lah...sudah tak perlu minta maaf padaku, ayo makan!" Ajak nyonya Mahdalena.


Kami pun makan malam dengan tenang, suasana tegang pun perlahan mulai mencair karena obrolan ku dan Ami tentang fasion dan gaun yang Ami pesan pada ku.


"Jadi gaun untuk benar sudah jadi juga, aku jadi tidak sabar mau melihatnya" ujar Ami antusias.


"Kenapa kamu lebih bersemangat melihat gaun pesta mu dari pada baju untuk karyawan hotel?" gumam nyonya Mahdalena acuh tak acuh melihat Ami begitu bersemangat.


"Nenek bukan begitu, aku hanya tidak menyangka designer Lia sudah selesai mendesign gaun pesta untuk ku karena sebelumnya aku telephone, designer Lia belum menyelesaikannya" Jelas Ami pada nyonya Mahdalena agar tidak salah paham.


"Hhhmmm...baiklah aku paham" sahut nyonya Mahdalena.


Ferry hanya diam menikmati makanan malam tanpa perduli keributan yang terjadi, sesekali dia menjepit daging atau udang dan meletakannya di piring ku tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.


'Suami ku kamu lagi marah tetap aja perhatian, bikin gemesh aja. Aku beneran nggak tau apa kesalahan ku kali ini yang bikin kamu manyun dan pasang muka angker trus..ckckck'. Gumam ku dalam hati ketika Ferry kembali meletakan udang goreng tepung ke piring makan ku.


Selesai makan para pelayan berdatangan merapikan meja dan Ferry mulai menyerahkan design ku pada nyonya Mahdalena dan juga mengeluarkan proposal serta kontrak kerja sama jika kedua belah pihak sudah deal dengan isi proposal yang di ajukan Ferry.

__ADS_1


Kini Aku banyak diam memperhatikan suamiku yang tampan melakukan presentasi, auranya bener-benar pemimpin banget kalau udah kaya gini nggak keliatan deh Ferry yang usia 19 tahun yang hobby ngambek dan manja setengah mati sama bininya.


Sesekali si bule melihat ke arah ku dan memberikan senyum manis, membuatku yang sedang memandanginya jadi salah tingkah. 'Aduh nih bule udah nggak ngambek ya koq senyum ke arah ku barusan, mataku nggak salah liatkan?' bathin ku heran melihat perubahan si bule tiba-tiba.


"Oke deal, senang bekerja sama dengan anda nyonya Mahdalena" ujar Ferry sambil menjabat tangan nyonya Mahdalena usai penandatanganan kontrak kerja sama.


"Semoga semua berjalan dengan lancar dan kamu benar dapat menyelesaikan semua pakaian sesuai dateline yang aku berikan" Sahut nyonya Mahdalena.


"Akan kami lakukan yang terbaik untuk melakukan semuanya sesuai isi kontrak" sahut Ferry penuh percaya diri.


"Aswir, kamu simpan kontrak ini dan siapkan dana sesuai isi kontrak dan segera transfer ke rekening perusahan YZ Collection!" perintah nyonya Mahdalena pada asistennya.


"Baik nyonya" lalu Aswir sang asisten pun melakukan semua yang di perintahkan dan memberikan bukti transfer dana pada Ferry.


"Tuan Goucher silahkan diterima bukti transfernya agar bisa di cross check" pinta Aswis sang asisten pada Ferry sambil menyerahkan bukti transfer dana pertama sesuai dengan isi perjanjian dalam kontrak kerja sama dimana pembayaran dilakukan tiga tahap.


"Baik, terima kasih" sahut Ferry sambil menyimpan bukti transfer dan juga kontrak kerja sama dalam tasnya.


"Kalau semua sudah selesai aku tinggal dulu kalian anak muda jika masih ada urusan lanjutlah tanpa ku" Ujar nyonya Mahdalena sambil bangkit berdiri di bantu Ferry dan juga Aswir sang asisten.


Sepeninggal nyonya Mahdalena aku dan Ami mulai mendiskusikan design gaun pesta untuk Ami. "Designer Lia ini gaun cantik sekali apa kamu yakin jika aku yang memakainya akan cantik?" tanya Ami tidak percaya diri.


"Tentu saja, tubuh mu indah walau dada dan bokong mu tidak terlalu besar tapi dengan gaun ini kamu akan makin cantik dan dada mu akan terlihat lebih besar begitu juga bokong mu, satu lagi jangan lupa lepas kaca mata mu pakai lah kontak lens saat ke pesta agar makin sempurna penampilan mu". jelas ku membuat wajah Ami merona.


"Design Lia kamu terlalu blak-blakan, aku jadi malu" ucap Ami sambil menundukan kepalanya.


"Tidak perlu malu, kamu cantik Ami kamu harus percaya diri, kamu juga pintar jangan merendahkan diri mu sendiri, oke" Ucap ku meyakinkan Ami.


Si bule duduk di single sofa jauh asik dengan ponselnya sendiri tanpa menggubris kami sama sekali.


"Baiklah akan aku coba, jadi berapa aku harus membayar mu untuk design ini?" tanya Ami pada ku


"Kamu mau membeli design ini lalu meminta orang lain menjahitkannya untuk mu atau kamu mau aku yang membuatnya sampai jadi?" tanya ku memastikan apa mau Ami.


"Kamu bisa membuatkannya untuk ku sampai jadi?" tanya Ami balik pada ku.

__ADS_1


"Tentu saja, dateline nya satu setengah bulan bukan?" tanyaku memastikan lagi waktunya.


"iya aku akan memakainya pada acara ulang tahun hotel nenek" sahut Ami malu-malu.


"Baik lah kalau begitu aku akan membuatkan gaun ini sampai jadi untuk mu, kita ketemu lagi di negara A nanti, soal bayaran kita bahas saat gaunnya sudah jadi saja" ucap ku yang langsung di anggukan Ami.


"Apa kalian sudah selesai?" tanya Ferry tiba-tiba, membuat Ami jadi salah tingkah. Kelihatannya gadis ini masih menaruh hati pada suamiku.


"Ami apa masih ada lagi yang mau kamu bahas dengan ku?" tanya ku pada Ami yang langsung mendapat gelengan cepat dari Ami.


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu, sampai jumpa di negara A" ucapku sambil mencium pipi kiri dan kanan Ami.


"Sampai jumpa" sahut Ami


Aku dan Ferry meninggalkan Ami sendirian di restoran. "Sayang, bisakah kamu jalan lebih cepat?" pinta Ferry membuatku melotot karena jalan ku sudah sangat cepat kalau lebih cepat lagi itu artinya dia meminta ku berlari.


"Aaaaa.." teriak ku karena kini tubuhku melayang di udara karena Ferry menggendongku.


"Suamiku turunkan aku, ini tempat umum" ucapku sambil menyembunyikan wajahku karena malu semua orang di sana pasti menatap kami saat ini.


"Kamu terlalu lama jalannya, kalau terus seperti ini kita akan ketinggalan pesawat" Uajr Ferry membuatku mendongak menatapnya


"Pesawat?" ulang ku memastikan kalau aku tidak salah dengar.


"Iya sayang, kita kembali ke negara IND malam ini. Pesawat akan lepas landas dua jam lagi" jelas Ferry membuat ku shock dan tak mampu berkata-kata.


"Barang-barang kita di bungalow semua sudah di bawa ke bandara jadi kamu tidak perlu khawatir"


"Aku bukan khawatir soal itu, tapi kita belum pamit dengan papi, mami dan shella" ucapku dengan suara pelan.


"Soal itu mereka sudah menunggu kita di bandara, karena aku sudah memberi tahu mereka soal ke pulangan kita malam ini ke IND" ucap Ferry membuatku ingin marah, semua sudah dia beri tahu, kenapa aku justru baru tau...hhggff. Tentu saja marah ini hanya bisa ku simpan dalam hati.


Ferry menurunkan ku dari gendongannya tepat diatas jok mobil disebelah supir, setelah dia memasangkan safetybelt padaku dia pun dengan sigap berjalan menuju sisi supir untuk melajukan mobilnya dengan cepat karena jarak restoran dengan bandara lumayan jauh.


Dalam perjalanan kami hanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2